
Entah lelah dengan pertanyaan mamanya, atau pasrah dengan keadaan. Arnaff menyetujui perjodohan yang Leti tawarkan. Tanpa melihat siapa yang akan di jodohkan dengannya, Arnaff meng-iyakan perjodohannya. Arnaff tidak pernah melihat kebahagiaan sebesar ini dari raut wajah ibunya.
"Sebenarnya andai kamu menolak calon yang ini. Ibu masih ada lagi stok. Andai kamu menolak lagipun, masih banyak daftar yang antre ingin jadi istri kamu, Naff." Rasanya Leti ingin sekali berteriak. Dia sangat bahagia Arnaff mau menikah lagi, belum lagi dia bisa menjodohkan anaknya dengan salah satu putri teman kuliahnya dulu. Dia memilih gadis yang bernama Mayfa putri keempat dari pasangan Pak Said dan Rosalina.
Arnaff tersenyum. Kali ini dia tidak ambil pusing siapa wanita yang akan menjadi ibu sambung Nadira. Pilihan ibunya adalah yang terbaik. Itu keyakinan Arnaff.
Seminggu berlalu. Wajah ceria Leti seakan luntur. Arnaff tidak terima kebahagiaan yang dia lihat seminggu ini yang sering dia lihat hilang begitu saja. Tanpa memerdulikan keadaan sekitar, Arnaff meraih kedua telapak tangan ibunya. "Ada apa ma?"
"Wanita yang akan di jodohkan denganmu, katanya kabur dari rumah." Gurat kesedihan terlihat jelas di wajah Leti.
"Jangan sedih … kalau gadis itu keberatan, batalkan saja perjodohan ini. Aku tidak apa-apa. Bukankah mama banyak stock gadis untukku?" Arnaff berusaha menghibur mamanya.
"Mama tidak enak kalau membatalkan sekarang, seakan mama marah dengan keadaan ini. Bagaimana kalau kita menunggu kabar dari sana. Jika dalam waktu dekat mereka tidak menemukan anak gadis mereka, mama akan putuskan pejodohan nanti."
"Aku ikut apa kata mama."
Melihat mamanya membaik, Arnaff segera pergi menuju kantor, untuk menjalankan tugasnya.
Di sudut kota lain. Senyuman terukir jelas di wajah pemuda tampan. Karir bagus, wajah mendekati sempurna. Hanya saja nasib masih kurang beruntung. Sampai detik ini belum ada wanita yang berhasil membuat Dirga jatuh cinta. Tapi hidup harus semangat! Dirga menjalani kehidupan ini dengan caranya sendiri.
Hidupnya sudah bahagia. Tapi kebagiaannya hari ini semakin bertambah. Saat dia mengetahui Sam menjalin kontrak kerjasama di pulau Kalimantan. Di mana itu adalah tempat tinggal sepasang suami istri yang dulu bekerja di rumah keluarga Ozage. Banyak pembantu bekerja di keluarga itu. Tapi sepasang suami istri itu sangat Dirga sayangi. Dari mereka Dirga seakan menemukan sosok kedua orang tua. Tapi, sayang … kedua orang itu berhenti bekerja dan mereka pulang ke kampung halaman mereka yang ada di bagian pulau Kalimantan Selatan. Setiap waktu Dirga selalu merindukan mereka. Hingga keajaiban hari ini datang. Dirga berharap bisa menemukan kontak mereka saat berkunjung ke Kalimantan nanti.
"Haruskan aku harus berterima kasih pada Sam. Karena dia menyetujui salah satu kontrak di sudut kota kecil yang ada di Propinsi Kalimantan Selatan?" Dirga sangat bahagia. Dengan semangat dia menuju gedung Ozage Crypton Group.
Kebahagiaan yang Dirga Rasa, seakan memancar kepada siapa saja yang memandanginya. Senyuman masih betah bertahan di wajah tampan itu. Setelah sampai di lantai tempat ruangan Sam berada. Dirga segera mengetuk pintu Ruangan itu.
"Masuk!" Samar terdengar suara itu.
Perlahan Dirga memutar knop pintu. Saat pintu terbuka, terlihat jelas sosok Samuel Ozage sudah berkutat di balik layar laptop itu.
"Tuan …." Dirga melajukan langkah kakinya, tanpa permisi dia menghempaskan pantatnya di kursi empuk yang ada di depan meja kerja Sam.
"Pagi-pagi kau sudah ingin mengajak aku gelud?" Tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptopnya.
__ADS_1
"Tuan, kapan Anda menyetujui kontrak perumahan di pelosok Kalimantan Selatan?"
"Sudah lama, aku lupa kapan. Aku ingat sosok pembantu rumah tangga yang sangat dekat denganmu. Berharap membangun kerja sama di wilayah itu, kamu bisa menemukan keluarga itu." Mata itu masih fokus pada layar laptopnya.
"Perumahan yang Anda bangun, berada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Jaraknya lumayan jauh dari Propinsi kota." Terang Dirga.
"Aku sengaja. Karena perumahan Elit sudah banyak di Ibukota Propinsi. Saat aku baca data diri paman Ardhin. Aku melihat dia berasal dari sudut kota Barabai. Apa yang aku mau, itu yang berlaku."
"Ya ya ya, Zultan memang bebas."
3 bulan berlalu.
Proyek perumahan yang berjalan di kabupaten Hulu Sungai Tengah, yang di naungi perusahaan raksasa Ozage Ctypton group mulai berjalan. Dirga mempersiapkan keberangkatanya menuju Hulu Sungai Tengah. Tujuan utamanya bukan memantau pembangunan proyek saja. Tapi berharap bisa mengunjungi pelayan keluarga Ozage yang memiliki tempat khusus di hatinya.
Di kediaman Arnaff. Wajah tampan itu terlihat muram. Mendengar penjelasan ibunya. Kalau perjodohannya dengan seorang gadis bernama Mayfa anak teman ibunya kuliah dulu, Batal.
"Kamu tidak apa-apa 'kan sayang?"
"Kamu ingat paman Ardhin dan bi Kamalia?"
Arnaff nampak berpikir. "Mereka dua pelayan setia keluarga Ozage, bukan?"
"Benar sekali. Nah … mama dengar dia punya keponakan, mama pengen melamar keponakan Ardhin buat kamu." Senyuman lebar menghiasi wajah Leti.
"Mama punya kontak mereka? Setau aku Dirga sangat merindukan mereka."
"Mama baru dapat, pas kemaren mama telepon, dia bercerita banyak hal. Dia berhenti bekerja di keluarga Ozage, semata ingin merawat keponakan yang selama ini mereka nafkahi. Ternyata keponakan yang mereka kira masih kecil, sudah mandiri. Bekerja menjadi pelayan Restoran katanya."
"Terus?"
"Saat mama melihat fotonya, mama jatuh hati. mama pengen melamar dia buat kamu."
"Nanti dulu lah, ma. Aku ingin selesaikan bebebrapa tugas dulu." Pikiran Arnaf, dia ingin mengenali keponakan Ardhin dulu sebelum menyetujui perjodohan. "Ma, aku mau istirahat dulu."
__ADS_1
Leti tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Terus berusaha menahan kekesalan. Arnaff melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Langsung mengunci pintu agar rencananya tidak diketahui kedua orang tuanya. Setelah jari jemarinya berselancar lama dengan keayboard ponselnya. Akhirnya tujuannya tercapai. Menemukan orang yang tepat untuk tugas pengintaian. Kesepakatan dirinya dan orang dia percaya pun disepakati.
Arnaff penasaran dengan sosok gadis yang blak-blakkan menolak perjodohan dengan dirinya. Tiga bulan yang lalu gadis itu kabur. Saat mendengar kalau gadis itu di temukan. Dia malah mendapat jawaban pembatalan perjodohan mereka. Arnaff menelpon orang yang dia percaya.
"Baik, Tuan. Kami langsung menuju Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang Tuan maksud."
Arnaff merasa puas. Dia hanya ingin mengetahui gadis yang terang-terangan menolak dirinya. Selama ini malah para karyawan kantor yang berusaha mengejar dirinya.
"Seperti apa kamu? Kenapa kamu sok-sok-an menolakku?" gerutu Arnaff.
Sejak dia mengutus mata-mata yang bisa bekerja di daerah itu. Arnaff mendapatan laporan dari orang suruhannya tentang gadis yang menolak perjodohan dengannya.
Melihat foto seorang gadis yang duduk santai bersama Pak Said, Arnaff tersenyum. Ternyata gadis itu biasa-biasa saja. Rafa adalah teman kuliah ibu Arnaff. "Pekerjaan jadi pelayan Restoran aja belagu!" omel Arnaff.
Niat untuk istirahat batal, Saat membaca pesan dari sahabat perempuannya. Arnaff melangkah ke ruang ganti pakaian. Tidak lama dia keluar dari ruang ganti dengan setelan kemeja lengan panjang, bagian lengannya dia lipat. Arnaff meraih kunci mobil dan segera keluar dari kamarnya.
Saat menuruni anak tangga, dia berpapasan dengan ibunya.
"Mau kemana, Naff?"
"Mau jalan sebentar, mumpung badan fit, dan ada waktu."
"Hati-hati, ya sayang."
Ciuman lembut mendarat di pipi Leti. "Iya, bu."
Langkah kaki terus dia pacu. Hingga dia sampai di parkiran mobilnya. Arnaff segera masuk kedalam mobil. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Berpikir bagaimana menemui sahabatnya ini. Kalau hanya berdua Arnaff merasa risih. "Ah, ke rumah Dirga dulu. Rasanya lama gak godain tu jomblo," gumamnya.
Arnaff meraih ponselnya. Mengetik pesan untuk Dirga, bertanya di mana Dirga. Mendapat balasan dari Dirga kalau dirinya ada di Apartemen. Arnaff segera melajukan mobilnya menuju rumah Dirga.
__ADS_1