
Melihat Resa kesakitan sambil memegangi perutnya, Dirga panik, dia langsung menggendong Resa, dan membawanya ke mobilnya. Perlahan Dirga mendudukkan Resa, di kursi depan bagian mobilnya. Resa terus meringis menahan rasa sakit yang dia rasa. Dirga berlari kearah kemudi, sambil terus berusaha menelpon Sam. Namun, nihil. Karena tidak diangkat Sam. Dirga hanya mengirim pesan pada Ramida. Selesai dengan ponselnya. Dirga segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Rumah Sakit terdekat.
***
Di Villa
Ramida berusaha santai, saat membaca pesan dari Dirga. Dia tidak mau mertuanya tau, kabar menegangkan ini. Ramida membuat otaknya bekerja lebih cepat, membuat alasan yang tepat, agar dia bisa tidak pulang ke rumah besar, bersama mertuanya.
"Astaga! Aku harus pergi bu. Ada pekerjaan penting yang harus aku kerjakan, kalian pulanglah lebih dulu," Ramida mendaratkan ciumannnya di pipi kanan Marina.
"Hati-hati," ucap Marina.
"Iya bu, aku harus menyelesaikan semuanya. Karena Sam sudah jadi anak baik, maka dia akan mengurus semuanya, jadi aku bisa santai mengurus kedua cucuku nanti," seru Ramida.
"Ayo sana pergi, cepat selesaikan pekerjaanmu. Kalau kamu kembali kami tidak ada, artinya kami sudah pulang." Seru Marina.
"Iya bu, aku mengerti.
Ramida segera berlari keluar rumah. Dia menyetir sendiri menuju Rumah Sakit. Di tengah-tengah perjalanan dia berhenti, dia teringat. Dia tidak menyiapkan satupun persiapan untuk bayi. Ramida meraih ponselnya. Langsung menelpon Mawan.
"Mawan! Kamu datangi toko perlengkapan bayi, beberapa setel baju, tolong kamu Laundry. Sisanya, kamu suruh para pelayan toko mengantar ke rumah besar. Yang kamu Laundry, tolong secepatnya antar ke Rumah Sakit yang aku kirimkan nanti alamatnya." Pinta Ramida.
Tidak menunggu jawaban dari Mawan. Ramida menutup teleponnya dan langsung mengirim pesan pada Dirga, menanayakan ke Rumah Sakit mana, dia membawa Resa. Tidak lama notif ponsel Ramida berbunyi. Ramida langsung memeriksanya. Terlihat nama Dirga. Dia langsung membuka pesan itu. Ramida mengirimkan alamat Rumah Sakit itu pada Mawan. Selesai dengan ponselnya. Ramida langsung tancap gas menuju rumah sakit.
*********
Di Rumah Sakit.
Resa langsung ditangani petugas Medis. Resa tengah berada di ruangan bersama dokter dan para perawatnya. Sedang Dirga, dia di luar menunggu, dia terus menerus mencoba menghubugi Sam.
"Suami ibu Resa?"
Sapaan itu, membuat perhatian Dirga yang ter arah pada layar ponselnya, berubah arah memandang kesumber suara itu.
"Suaminya pergi keluar kota, dia tidak bisa pulang. Ini saya sudah bicara," jawab Dirga.
"Ibu Resa, harus melahirkan dini. Ketubannya sudah pecah, pembukaan rahimnya juga sudah diatas 3cm, dia bisa melahirkan normal," ucap.dokter, yang menangani Resa.
"Ini baru 7 bulan, dok!" Dirga nampak cemas.
"Beberapa hal yang membuat ibu terpaksa melahirkan prematur." Dokter mulai menjelaskan hal-hal yang membuat seorang ibu melahirkan prematur.
"Apakah harus di ceasar dok?"
Dokter menoleh kearah sumber suara itu. "Anda siapa?" Tanya dokter.
__ADS_1
"Dia tante saya, dia yang bertanggung jawab atas Resa," sela Dirga.
"Tidak perlu ceasar bu, pembukaan rahim ibu Resa, bagus. Dia bisa menjalani kelahiran secara normal," jawab dokter.
Setelah menyampaikan keadaan Resa, dokter mengajak Ramida masuk kedalam ruang penanganan. Ramida mengikuti dokter. Terlihat Resa berbaring, di atas ranjang besi khusus untuk melahirkan. Tim Medis terus melakukan tugas mereka. Agar ibu dan bayi itu selamat.
Perjuangan besar Resa, untuk melahirkan dini, penerus keluarga Ozage, dimulai. Bermacam rasa menghampiri Resa. Ramida berusaha tenang di samping Resa. Menyemangati menantu keduanya itu.
*****
Di Rumah Sakit sana, Resa berjuang untuk melahirkan. Sedang di salah satu Villa megah. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Villa Sam. Sam tengah berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Vania. Di Villa itu sangat banyak teman-teman Vania yang hadir. Sam masih mencari-cari sosok Vania diatara kerumunan itu.
"Hai, Tuan Sam!"
Sam menoleh kearah suara itu berasal.
"Nanaz? Di mana Vania?" Tanya Sam.
"Nona sedang berias diri di salah satu kamar yang ada di Villa itu." Nanaz menunjuk kearah Villa.
"Terima kasih Naz." Sam langsung melangkahkan kakinya secepat yang dia bisa, menuju Villa itu. Tapi, kadang langkah kakinya terhenti. Karena, beberapa Tamu Vania mencegatnya, untuk menyalami dan memberi ucapan selamat padanya.
Sam undur diri secara sopan pada tamu-tamu Vania. Dia kembali melanjutkan langkahnya menuju Villa itu. Tepat di depan pintu utama Villa itu. Sam berpapasan dengan Manager Vania, Arini.
"Arini, tolong antar aku kekamar Vania," pinta Sam.
"Ini acara istriku, dia mengadakan Baby shower begitu meriah, aku harus hadir walau sebentar." Sam berusaha menutupi rencanany untuk bertemu Vania.
"Anda sangat luar biasa, Vania beruntung mempunyai suami seperti Anda. Ayo ikut saya."
Sam lega, akhirnya Arini mau mengantarkannya menemui Vania. Sam dan Arini berjalan menuju kamar khusu Vania.
Tokkk! Tok tok!
Arini mengetuk pintu kamar Vania, terdengar suara sahutan dari dalam. "Masuk saja!"
Perlahan Arini, memutar gagang pintu kamar itu. Terlihat di meja rias itu, Vania nampak sibuk dengan alat tempur make up nya.
"Kapan kamu jujur Vania? Kamu bilang Sam sibuk, lihat! Dia datang, kehadiran Sam di pesta ini, sangat mendukung lho, Vania." Seru Arini.
Vania merubah arah pandangannya kearah Arini. Benar saja Sam, ada berdiri di samping Arini.
"Arini, terima kasih. Aku hanya sebentar Arini, karena pekerjaanku menumpuk. Kamu silakan lanjutkan pekerjaan kamu, aku hanya ingin bicara sebentar dengan Vania," ucap Sam.
Arini hanya tersenyum. Dia segera pergi menuju pintu, meninggalkan Vania dan Sam, berduaan di kamar itu. Melihat Arini pergi, Sam langsung berjalan kearah pintu, dan menguncinya, agar tidak ada yang mengganggu pembicaraanya dengan Vania.
__ADS_1
"Vania, kenapa kau mengadakan acara Baby Shower, tanpa izin dariku?" Tanya Sam dengan nada yang lembut.
"Siapa bilang? Walau aku tidak dapat izin lisan darimu, Tapi, aku sudah dapat izin tertulis darimu, ingat beberapa kertas yang kamu tanda tangani waktu itu? Salah satunya izin untuk acara ini."
Sam mendekati Vania, dia duduk lesehan di lantai, tepat dihadapan Vania. Sam meraih tangan Vania.
"Vania, apa cintaku dan pengorbananku masih kurang? Kenapa kau selalu membohongiku?" Wajah Sam tampak memelas.
"Aku tidak pernah membohongi kamu, sayang." Vania menyentuh kepala Sam, dan membelai lembut bagian telinga Sam.
"Vania, selama ini aku mengutus orang-orang ku untuk mengawalmu, tanpa sepengatahuan kamu, aku tau apapun yang kamu lakukan di luar sana, bukan cuma itu, aku juga tau semua poin yang aku tanda tangani waktu itu."
Vania langsung menarik tangannya. Wajahnya nampak tegang.
"Aku tahu acara ini, karena aku tahu lembaran ketiga dari akhir dari perjanjian itu. Kalau aku menyetujui acara live hari ini, yang menyiarkan pestamu, sekarang. Aku menanda tangani itu, karena aku berharap saat waktunya nanti, kamu jujur padaku. Tapi apa?" Kau terus membohongi aku, Vania. Apa salahku? Yang kutahu, kesalahanku hanya sangat mencintai kamu."
"Terus kau mau apa?! Kau sudah tahu akhir dari 2 lembarnya?"
"Tahu, sebab itu aku kemari,"
"Terus apa lagi? Kau sudah tau, jika kau menentang sisa rencanaku, maka kertas akhir yang kau tanda tangani, akan segera ku layangkan!" Ancam Vania.
"Surat-surat yang aku tanda tangani, adalah surat keterangan yang menyatakan kalau aku menyetujui syuting Reality Show yang selama ini kamu jalani, aku pura-pura tidak tau, kalau kamu menghilang setiap pagi, selama ini karena Syuting."
Vania tersenyum. "Oh, jadi selama ini kamu tahu kalau aku syuting."
"Aku tahu, aku berharap kamu jujur. Tapi nyatanya, kamu terus berbahagia dengan kebohonganmu."
"Kamu sudah tau semua poin, sini aku perjelas lagi. Kesimpulannya kalau kamu tidak akan menghalangi siaran televisi yang akan menayangkan acara Reality Show yang aku jalani selama ini, terus menyatakan kalau kamu tidak akan mengancam media atau Rumah Produksi yang bekerjasama denganku, banyak lagi sih. Tapi poin selanjutnya, kamu tidak keberatan atas acara Baby shower, yang aku adakan hari ini, di tayangkan live di televisi. Selesai perjanjian kita sayang." Vania tersenyum penuh kemenangan.
"Ada 2 poin terakhir." Sam bangkit dari posisinya. Dia berdiri dihadapan Vania.
"2 poin terakhir, halaman terakhir menyatakan kalau kita akan bercerai, jika aku tidak setuju dengan poin sesudah ini."
Vania tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Sam, barusan. "Kamu tidak setuju, aku tidak perduli!" Vania juga berdiri, dia membalas pandangan sayu dari kedua bola mata Sam. Dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.
*****
Bersambung.
*****
Mohon maaf ya sobat online ku. Aku juga mau crazy up sepeerti karya-karya aku sebelumnya. Tapi sekarang bisa up 1 episode pun perjuangan yang berat bagi aku. Tidak mudah mengetik 500 kata untuk Penulis dadakan sepertiku. Selesai 1 eps 800 atau kadang lebih 1000 kata, itu perjuangan yang sangat menyita banyak hal. Rela gak nyuci, rela gak masak, demi lancar update walau hanya satu.
Tapi, Terima kasih, telah menjadi bagian dalam story ini.
__ADS_1
Buat yang cewek : peluk online semua sobatku 🤗🤗🤗🤗
Buat yang Cowok : Tos online sobat 🙏