Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 24 Kecewa


__ADS_3

Ramida langsung turun kebawah, berjalan ber iringan dengan pelayan yang tadi memanggilnya. Pak Bim dan Sam, juga tidak mau ketinggalan kabar. Mereka segera turun, untuk melihat keadaan Resa.


Sesampai di kamar Resa, Ramida nampak terkejut, melihat Dirga ada di kamar Resa. "Dirga?" Sapa Ramida.


Dirga segera mendekati Ramida, dan memeluk tantenya itu.


"Pelayan tante pingsan, maaf aku lancang masuk ke kamar pelayan, karena semata ingin membantunya," ucap Dirga.


"Sam, kamu juga harus ikut ke Rumah Sakit, untuk memeriksa keadaan kamu, kamu belum pernah sakit seperti ini, bukan?" Tanya Ramida.


Sam terlihat mendengus, wajahnya juga cemberut. Namum, dia tetap melangkahkan kakinya, menuju lantai atas.


Sedang di tempat tidur sana, wanita itu perlahan mengerjapkan matanya.


"Mbak Resa, sadar Nyonya," seru salah satu pembantu.


Resa nampak bingung, dia terus memijat alisnya.


"Pak Bim, sebentar lagi Tony datang, jika dia sudah datang pinta Tony, menyiapkan mobil," pinta Ramida.


Kepala keamanan itu langsung pergi. Menjalanlan titah majikannya.


"Yang lain, tolong semuanya keluar," pinta Ramida.


Perlahan yang ada dalam ruangan itu segera melangkahkan kaki mereka menuju pintu. Hanya tinggal Ramida dan Resa, berduaan di kamar itu. Ramida memandangi Resa, dia memberikan senyuman manisnya buat Resa.


"Ayoo, bersiaplah, kita ketempat dokter Alvian."


Resa hanya mengangguk, perlahan dia berdiri, dan mulai melangkah menuju kamar mandi. Melihat Resa menghilang di balik pintu kamar Mandi, Ramida segera keluar dari kamar Resa.


Di ruang tamu, Dirga nampak santai, ada senyuman yang terukir di wajahnya. Melihat Ramida berjalan kearahnya, Dirga segera berdiri, memberi hormat pada Nyonya rumah tersebut.


"Tumben kamu kemari," sapa Ramida.


"Ada berkas yang harus ditandatangani Tuan Sam," ucap Dirga.


"Berikan saja padaku, kalau Sam merasa lebih baik, akan kuberikan padanya, sekarang kami ingin pergi ke Rumah Sakit, memeriksa keadaan Resa."


Dirga meraih berkas yang dia letakkan di atas meja, segera dia berikan pada Ramida.


"Terima kasih, aku keatas dulu menyimpan berkas ini." Ramida langsung melangkah menuju tangga, tujuannya, adalah kamarnya, untuk mengamankan berkas yang diberikan Dirga.

__ADS_1


"Tante, mau aku antar ke Rumah Sakit?" Tawar Dirga.


Ramida menghentikan langkahnya, dia memutar arah tubuhnya kearah Dirga. "Tidak perlu, kamu boleh pergi, jika ingin pergi, kalau ingin santai di sini juga boleh," ucap Ramida, dia melanjutkan langkah kakinya kembali.


****


Setelah semuanya siap, mereka segera menuju Rumah Sakit, di mana dokter Alvian praktek. Ramida juga sudah mengatur pertemuan dengan dokter kepercayaannya.


Sam duduk di depan, di samping Tony, sedang Ramida duduk di bagian belakang bersama Resa. Wajah Resa masih nampak pucat, berulang kali Ramida menggenggam tangan wanita itu.


Sesampai di Rumah Sakit, mereka langsung menuju ruangan dokter Alvian. Ramida nampak begitu antusias, entah kenapa dia sangat yakin dengan kata hatinya.


Ramida menghentikan langkah kakinya, dia menoleh kearah Sam. "Kamu ikut ke ruangan dokter Alvian dulu, ibu sudah atur janji, dengan dokter yang akan memeriksa kamu nanti," Ramida berbicara pada Sam.


Namun, yang di ajak bicara nampak cuek. Ramida melanjutkan kembali langkahnya. Ramida begitu semangat, dia memutar gagang pintu ruangan dokter itu, merasa sangat mengenal dokter Alvian, dia masuk begitu saja, tanpa mengetuk pintu ruangan dokter itu lebih dulu. Samar terdengar suara perdebatan dari balik tirai itu. Yang lebih mengejutkan, mereka mengenali suara perempuan yang berdebat dengan dokter Alvian.


"Dok, tolong gugurin!" Pinta wanita itu.


"Kamu gila Vania! Aku tidak ingin karirku hancur, karena membunuh calon penerus keluarga Ozage," ucap Alvian.


Sam, Ramida, dan Resa terkejut saat mendengar perkataan dua orang barusan. Mereka masih membisu mendengarkan perdebatan dua orang itu. Apalagi Sam, ada yang remuk di dalam dirinya, saat mendengar Vania ingin menggugurkan janin yang terlanjur hadir di rahimnya.


"Mereka tidak tahu kalau aku hamil," rengek Vania.


"Aku tidak mau hamil, ini cuma kecolongan, aku telat melakukan suntik KB yang biasa aku lakukan!" rengek Vania.


"Vania, sebaiknya jaga anakmu, ini buah cinta kalian," dokter Alvian berusaha membuka mata wanita itu.


"Aku tidak mau hamil! Nanti tubuhku rusak!" Rengek Vania.


"Vania, masalah tubuh, kamu punya uang yang banyak, sangat mudah mengembalikan bentuk tubuhmu, seperti sedia kala, kamu artis dan kamu tahu itu."


"Tolong, gugurkan saja, mumpung masih muda dan mereka belum tau," pinta Vania.


"Maaf, aku tidak mau!" Jawab dokter Alvin.


"Aku datang ketempat yang salah!" Rengek Vania.


"Hanya demi bentuk tubuh, kamu rela dan begitu tega ingin membunuh anak kamu!" Bentakkan Ramida membuat dua orang itu terkejut.


Kedua mata Vania melotot, saat melihat kehadiran tiga orang di ruangan dokter Alvian. Dia semakin panik, saat melihat raut wajah Sam, yang begitu menatap tajam pada dirinya.

__ADS_1


"Hanya bentukmu saja yang manusia, ternyata kamu lebih keji dari binatang!" Bentak Ramida. Kemarahannya terus memuncak mendengari permintaan Vania pada dokter Alvian, yang meminta untuk menggugurkan kandungannya.


Sam sangat kecewa, atas apa yang dia dengar dan dia lihat di depan matanya. "Apa karena hal ini, yang membuatmu berteriak pagi tadi?" Sam membuka suaranya.


Vania menganggukkan kepalanya perlahan, menjawab pertanyaan Sam.


"Gugurkan saja, ku jamin, setelah ini, kau bukan hanya kehilangan statusmu sebagai istri Samuel Ozage, tapi juga karirmu, kujamin itu!" Bentak Sam.


Wajah Vania nampak panik mendengar ancaman Sam.


Sial! Dia mengancam karieku lagi.


Ringis hati Vania.


"Vania segera berdiri, dia meraih tasnya, dan berjalan begitu saja melewati Sam, Ramida dan Resa. Dia pergi dari ruangan itu tanpa pamit pada siapapun.


"Terima kasih dok, karena tidak menuruti permintaan Vania," ucap Sam. Sam melangkah menuju kursi, perlahan dia menghempaskan tubuhnya di kursi. Tangannya terus memijat kedua keningnya. Dia masih syok mendengar Vania yang mementingkan bentuk tubuh daripada keturunannya sendiri, yang terlanjur hadir.


Ramida mendekati dokter Alvian, dia langsung berbisik pada dokter Alvian. Alvian mengangguk, dia menoleh kearah Resa.


"Mbak Resa, tolong berbaring di sini," pinta dokter Alvian.


Resa patuh, dia langsung menuju brangkar dan segera membaringkan tubuhnya di sana.


"Maaf ya, buka sedikit bagian perut anda," pinta dokter Alvian. Dokter itu mengoleskan gel pada permukaan kulit bagian perut Resa.


"Ada apa ini?" Sela Sam.


"Ibu hanya ingin memastikan, kalau Resa hamil atau tidak," jawab Ramida.


"Apa?!" Ucap Sam dan Resa bersamaan.


"Jangan main kompak gitu, aku jadi iri," goda dokter Alvian.


Dokter langsung meraih satu alat kecil dengan sebelah tangannya, sedang tangannya yang lain, memainkan tombol-tombol kecil pada alat, yang ada di sampingnya. Layar yang ada di sampingnya pun, mulai menujukan keadaan Rahim Resa, saat alat kecil yang menyentuh permukaan kulit Resa itu mulai bekerja.


Dokter Alvian nampak tersenyum. Dia mengatur napasnya untuk berbicara pada Ramida dan Sam.


***


Bersambung.

__ADS_1


***


Mohon maaf, karena up nya sedikit, 🙏


__ADS_2