
Dokter Alvian melakukan USG pada Resa, selesai melakukan USG, dia mengukir senyuman indah di wajahnya. Dia menoleh kearah Ramida.
"Sam, kamu hebat! Kedua istrinya di buat hamil bersamaan," godanya.
"Resa hamil?!" Pertanyaan yang sama keluar dari mulut Sam dan Ramida.
"Iya, bahkan usia kehamilan Resa dan Vania tidak jauh, kisaran tiga mingguan. Hasil pemeriksaan Vania sebelumnya juga, usia kehamilan Vania, kisaran tiga mingguan," ucap dokter Alvian.
Sam nampak gusar, sedang Ramida nampak sangat bahagia, dia langsung mendekati Resa, dia membungkukkan badannya, lalu memeluk Resa yang masih berbaring di brankar.
Huh, aku tida tahu harus apa. Tapi, setidaknya hal ini bisa membuat Nyonya Ramida dan Nyonya Marina bahagia. Nasibku? Kita lihat saja nanti.
Gumam hati Resa.
"Apa yang kamu mau, ibu akan kabulkan, ibu bahagia sayang," Ramida terus memeluk Resa, begitu gemas.
"Saya tidak menginginkan apa-apa lagi, Nyonya. Pertolongan Anda pada mama saya, sudah sangat besar," ucap Resa.
Ramida menegakkan tubuhnya. Dia membelai pucuk kepala Resa.
Dokter Alvian tersenyum, melihat pemandangan yang ada di depan matanya. "Saya akan buatkan resep untuk kedua wanita hamil ini, nanti Tuan Sam yang menjelaskan pada Vania, aturannya nanti." Alvian berjalan menuju meja kerjanya. Dia meraih buku kecil dan mulai sibuk menulis di sana. Sedang Sam, dia berjalan mendekati Resa dan Ramida. Melihat Sam mendekat. Ramida tersenyum pada Sam.
"Andai ibu sedikit bersabar, kita tidak perlu mengikat Resa dalam hubungan rahasia ini, andai Resa tidak hamil, aku sangat mudah melepaskannya. Karena Vania juga sekarang hamil. Tapi …," Sam menatap wajah Resa.
"Tapi, Resa juga hamil, kehidupannya akan rumit, karena menjadi seorang istri rahasia, dari laki-laki yang tidak akan pernah mencintainya." Sambung Sam.
Deggggg!
Jantung Resa seakan berhenti berdetak. Melihat Sam, sama sekali tidak menginginkan kehamilannya.
Bagaimana nanti nasib anakku nanti?
Ringis hati Resa.
Resa mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara. "Kalau Tuan tidak menginginkan saya, lepaskan saja saya. Saya tidak akan dendam pada Tuan. Nyonya Ramida sudah memberi banyak hal pada saya, melahirkan anak Tuan muda ke dunia ini, masih tidak sebanding dengan pertolongan, Nyonya Ramida, pada saya" ucap Resa. Wajahnya seolah tegar, namun di dalam dirinya, ada kehancuran yang terpaksa dia sembunyikan dengan raut ketegarannya.
Ramida menatap tajam pada Sam. Dia sangat sedih mendengar ucapan Sam, barusan. "Kamu jangan terlalu percaya diri Sam, ibu tidak yakin, janin yang di kandung Vania bisa hadir kedunia ini, kehadirannya saja, disembunyikan Vania dari kamu, bahkan dia ingin menggugurkannya, di belakangmu," sindir Ramida.
Terlihat dokter Alvian selesai dengan tugasnya, mereka semua berhenti membicarakan pembicaraa barusan.
__ADS_1
Selesai dengan Resa, kini giliran Sam yang menemui dokter yang akan memeriksanya. Hasil pemeriksaan juga membuat semuanya lega, Sam tidak mempunyai masalah dengan kesehatannya. Setelah semua urusan mereka beres di Rumah Sakit. Mereka semua segera kembali ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang bicara, semuanya larut dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah mobil yang di kendarai Tony, terparkir sempurna di depan rumah Sam. Mereka segera turun, dan melangkahkan kaki, memasuki rumah mereka.
Di dekat pintu utama, terlihat Pak Bim. Yang tengah memberikan tugas pada beberapa pelayan. Melihat Sam berjalan kearahnya. Pak Bim, langsung memberi isyarat pada pelayan yang berdiri di hadapannya untuk pergi. Pelayan itupun pergi, dari hadapan pak Bim.
"Pak Bim. Vania sudah pulang?" Tanya Sam.
"Belum tuan."
"Cari miss beauty and the narsis itu ke klinik-klinik dokter kandungan, aku yakin dia masih berusaha untuk hal yang tadi," sela Ramida. Dia terus berjalan mengandeng Resa, masuk kedalam rumah mereka.
Sam mencerna perkataan ibunya, dia hafal betul bagaimana kelakuan Vania, Sam memutar arah tubuhnya, dia berlari menuju mobil, tanpa berkata apa-apa, dia menarik kasar tubuh Tony keluar dari mobil. Tony yang tadinya duduk santai di dalam mobilnya terkejut dengan ulah Sam.
Sam menghidupkan mesin mobilnya, dan langsung melajukan mobil itu meninggalkan kediamanannya. Melihat Sam pergi terburu-buru seperti itu, Pak Bim, langsung pergi untuk melapor pada Ramida.
****
Flash Back Vania.
Vania berteriak histeris, saat dia menyadari. Kalau dirinya melewatkan KB selama tiga bulan ini, teriakan yang keluar dari mulutnya begitu keras. Kedatangan Sam yang menanyakan perihal keadaannya, langsung dia jawab dengan alasan berat badan yang bertambah.
Setelah mendapakan izin, dari Sam, Vania segera tancap gas, menemui dokter Alvian. Setelah periksaan, ketakutan Vania terbukti, dia hamil. Vania meminta agar segera di gugurkan. Namun, harapannya sia-sia, dokter Alvian menolak untuk membantunya menggugurkan janin yang baru bertumbuh di rahimnya.
Kekacauan Vania semakin memuncak, saat mengetahui kedatangan suami dan mertuanya, saat dia memohon, untuk melakukan Aborsi. Apalagi Sam mengancam kariernya, jika dia tetap Aborsi. Vania tidak menemukan jawaban atas penawaran Sam. Dia pun memilih mengambil langkah seribu, meninggalkan mereka semua.
Setelah masuk kedalam mobilnya, Vania hanya diam. Dia terus mengatur napasnya. Ancaman Sam sangat berpengaruh pada kariernya. Vania bingung harus bagaimana, dia samasekali tidak menginginkan kehamilan ini. Vania teringat Managernya. Di segera menghidupkan mesin mobilnya. Perlahan mobil yang dia kendarai mulai melaju meninggalkan area Rumah Sakit.
Di Apartemen Arini.
Ting tong!
Suara bel terdengar, Arini segera melangkah menuju pintu. Saat dia membua pintu, terlihat sosok Vania di depan matanya.
"Vania?" Arini sangat terkejut dengan kedatangan Vania. Dia mempersilakan Vania masuk. Vania masuk kedalam Apartemen. Arini masih nampak bingung, dia segera mengunci pintu.
Setelah mengunci pintu dia berjalan kedalam, terlihat Vania seperti orang stres.
"Duduklah Vania," ucap Arini.
__ADS_1
Vania segera mengehempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di ruang tamu, di Apartemen Arini.
Vania memandang sayu kearah Arini. "Aku hamil!" Ucapnya.
"Waw, aku senang mendengarnya!" Seru Arini.
"Tapi, aku tidak senang, aku tidak mau hamil!" Ringisnya.
"Apa?!" Arini menatap Vania, penuh keheranan.
"Aku tidak mau hamil, proses kehamilan pasti akan membuatku menderita, bentuh tubuhku akan berubah, belum lagi nanti, bagaimana sakitnya saat melahirkan, oh tidakkk!" Vania meringis membayangkan betapa sakitnya proses melahirkan.
Arini mendengus, dia sangat ingin menjambak dan menampar orang yang menjerit di hadapannya ini.
"Saranku, jika kau ingin kehidupan yang indah serta keluarga yang lengkap, terima kehamilan ini, bukan hanya Sam dan keluarganya yang bahagia, tapi juga kariermu. Kalau kamu tidak percaya, coba saja posting testpack atau foto hasil USG di media sosial kamu. Ku jamin, awak media akan memburumu. Bukankah itu bagus untuk kariermu?"
Vania meraih tasnya, dia mengambil ponselnya dan mencari foto USG di internet. Setelah mendapatkannya. Vania segera mendonwload dan memposting foto USG hasil donwloadnya yang dia tambah dengan tanda hati, di laman Instagram miliknya.
Hanya beberapa menit kemudian, ponsel Arini terus berdering. Bahkan notif pesan terus berbunyi. Begitu juga ponsel Vania yang dia khususkan untuk di hubungi oleh manajemen keartisannya. Vania sengaja tidak mengangkat panggilan teleponnya. Dia hanya membaca beberapa pesan yang masuk.
Terlihat sungingan senyuman di wajahnya, setelah membaca pesan tersebut.
"Lihat Vania, itu dampaknya positif yang lain, setelah positif yang satu itu, ayolah … terima saja kehamilan ini," bujuk Arini.
Vania sungguh kaget, tidak menyangka sama sekali, kalau berita kehamilannya akan mendongkrak kariernya. Dia meraih poselnya yang dia khususkan untuk keluarga dan orang terdekat. Dia menelepon seseorang.
Tuttttt!
"Kamu di mana?" Pertanyaan itu terlontar dari ujung telepon sana.
"Aku akan terima kehamilan ini. Tapi dengan beberapa syarat, Sam!" Ucap Vania.
"Apa Syaratmu?"
Vania mengatur napasnya dan mulai berbicara. "Maafkan Author, karena sampai di sini dulu story bab ini.
*******
Bersambung ....
__ADS_1
Maaf ya sobat, karena aku ngetiknya pakai hape, saat ini terkendala karena sekarang batrai hape aku boros, dulu tidak seperti ini, selain ada tuga RL di tambah dengan erornya jempol, otak dan batrai ponselku. Maafken ya …