Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 43 Kekurangan


__ADS_3

Keduanya masih saling pandang.


"Vania, tolong jangan memaksa diri untuk ceasar dini, aku tidak setuju dengan sandiwaramu setelah ini, seolah kamu terpaksa Ceasar, padahal itu memang niatmu. Kamu tidak punya masalah dengan kehamilanmu. Untuk apa kamu ingin ceasar dini? Bahaya sayang. Aku rela kehilangan anak kita. Tapi, aku tidak rela kehilangan kamu." Sam berusaha membujuk Vania, agar membatalkan rencananya.


"Aku lelah Sam! Aku ingi cepat-cepat mengeluarkan hama ini!"


"Apa? Anak kita kamu sebut hama?" Hati Sam sangat hancur dengan keegoisan Vania.


Vania sama sekali tidak perduli, dia begitu santai sambil memandangi kuku-kuku jemari tangannya.


Sam melepaskan cincin nikah dia dan Vania, yang tersemat di jari manisnya. Cincin itu dia letakkan ditelapak tangan kanannya, dia mengulurkan telapak tangan kanannya, di mana cincin nikah itu di letakkan.


"Bukan maksudku untuk membuka ingatan masa lalumu, bukan maksudku mengingatkanmu tentang pedihnya masa lalu mu. Kamu ingat? Tangan ini yang mengulur saat kamu masih berjuang di tempat yang penuh dengan debu kehinaan. Tangan yang sama, mengulur kembali. Tolong raih, sematkan kembali cincin itu." Pinta Sam.


"Kalau aku sematkan?"


"Jalani kehamilan ini seperti biasa, dan melahirkan memang pada saatnya, bukan dipaksakan, lalu batalkan kontrak kerja sama dengan Film luar negri, aku dan anak kita butuh kamu. Silakan berkarier. Tapi jangan terlalu berlebihan seperti dulu, karena sekarang ada anak kita, yang juga butuh kamu."


"Sudah kuduga!" Sela Vania, Vania tersenyum licik.


"Kalau aku menolak menyematkan cincin itu?" Vania menantang Sam.


"Itu artinya, kamu meninggalkan aku dan anak kita, memilih duniamu dan membawa cincin ini pergi bersama kamu."


"Baiklah, aku memilih mengambil cincin ini. Maaf Sam, dunia hiburan ini adalah hidupku. Aku tidak bisa berpisah walau sehari. Baik aku ambil cincinnya." Dengan entengnya Vania mengambil cincin yang ada di telapak tangan Sam.


Sam mengulurkan telapak tangannya, berharap Vania mau meraih kembali tangan itu. "Bersamaku bukan berarti kamu berpisah dengan duniamu, Vania."


"Tapi, aku ingin jadi selebrity yang mendunia, tenang saja Sam. Setelah aku melahirkan, aku akan berikan anak ini padamu. Aku tidak suka anak kecil. Oh ya, jangan lupa, kau jangan mencoba mengancam para pruduser seperti waktu itu, kalau kau nekat, awas saja, aku akan melawanmu!" Gertak Vania.


Sam terpaksa menurunkan tangannnya. Karena Vania ngotot menolaknya. "Tidak adakah rasa di hatimu untukku? Kenapa kau sangat mudah memutuskan hubungan yang hampir tiga tahun ini?"

__ADS_1


"Boleh aku jujur? Aku tidak pernah mencintai kamu, Sam!"


Ucapan Vania barusan bagaikan plestar yang membekap mulut Sam. Sam tidak bisa lagi mengucapkan kata-kata. Dia hanya diam, sambil menahan rasa sakit yang berkecamuk didalam batinnya.


"Ingat, surat cerai aku layangkan setelah aku melahirkan. Tolong bersandiwara lah, seolah hubungan kita baik-baik saja." Vania kembali becermin, memastikan penampilannya.


Merasa puas dengan dandanannya, Vania meninggalkan Sam yang masih mematung.


"Kau mengenakan bikini itu untuk acaramu?"


"Kenapa? Lagian mereka hanya bisa melihat. Tapi, tidak bisa menikmati," jawab Vania, begitu entengnya.


"Vania, tawaran menjadi Istri Samuel Ozage, masih berlaku sampai kamu melahirkan."


"Oh Sam, harusnya aku yang berkata. 'Tawaran memiliki Vania Angela, berlaku sampai aku melahirkan!' Pikirkan sayang, aku adalah mahluk yang paling langka, kau lepas aku. Maka ribuan tangan di luar sana, berlomba untuk memilikiku." Vania meneruskan langkah kakinya meninggalkan Sam.


Sam teringgal seorang diri di kamar Vania, dia menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di samping meja rias Vania.


Sam meraba sakunya, untuk meraih ponselnya. "S**t ponsel ketinggalan di dalam mobil!" Gerutu Sam.


Sam segera pergi dari kamar Vania. Dia terus memacu langkah kakinya menuju mobil. Tanpa menghiraukan sapaan orang-orang yang dia lewati. Suasana luar Villa megah itu sangat meriah. Apalagi suara dari arah samping. Suasana begitu meriah. Terdengar teriakan dan sorak sorai para tamu-tamu Vania.


Sesampai di dalam mobilnya. Sam segera mencari ponselnya untuk menelpon Dirga. Kedua mata Sam melotot, saat melihat banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari Dirga dan ibunya.


Sam langsung menelpon Dirga. Panggilannya pun langsung diangkat Dirga.


"Tuan, di mana Anda!?" Pertanyaan itu langsung terlontar dari ujung telepon sana.


"Ada apa?" Tanya Sam


"Resa di Rumah Sakit, dia terpaksa harus melahirkan dini."

__ADS_1


"Arggggt! Kenapa kedua anakku harus lahir sebelum saatnya!" Sam meringis sambil memukul setiran mobilnya.


"Karena kedua istri Anda kekurangan! Yang pertama kurang aj*r! Yang kedua kurang kasih sayang karena dirahasiakan!" Sindir Dirga.


"Di Rumah Sakit mana Resa?"


Dirga langsung mengatakan alamat Rumah Sakit, di mana Resa melahirkan.


"Apa pilihan Vania?" Tanya Dirga.


"Dia memilih meninggalkanku dan memperjuangkan kariernya."


"Sudah kuduga!" Seru Dirga.


Sam langsung memutuskan panggilan teleponnya. Dia segera tancap gas menuju Rumah Sakit tersebut. Sedang di Villa itu keseruan masih berlangsung. Vania sangat larut dengan kebahagiaannya.


Di samping kolam renang, beberapa Tamu menggeleng melihat Vania yang begitu energik. Mereka khawatir akan bayi yang ada dalam kandungan Vania.


Berulang kali Arini mendekati Vania, mengingatkan kalau ada sesuatu yang harus dia jaga dan juga sorotan mata camera yang selalu ter arah padanya. Tapi, Vania tidak perduli. Dia sangat menikmati pestanya. Apalagi pestanya di liput langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta.


********


Di Rumah Sakit.


Dirga sangat sibuk dengan ponselnya. Dia meminta Pak Bim, agar para pelayan atau siapapun, untuk tidak membuka televisi, hingga beberapa hari kedepan. Karena mengkhawatirkan nenek Sam.


"Saya mengerti Tuan, Dirga." ucap Pak Bim.


"Terima kasih, Pak. Sepertinya nenek masih dalam perjalanan. Pastikan itu saja, jangan sampai siapapun membuka televisi." Pinta Dirga.


Dirga terus memberikan instruksi pada Pak Bim. Sedang di dalam ruangan sana seorang wanita, bertaruh nyawa untuk melahirkan keturunan keluarga Ozage.

__ADS_1


__ADS_2