
Rasa sakit karena melahirkan tidak membuat rasa kasih sayang Vania tumbuh dari lubuk hatinya. Untuk bayi yang baru dia lahirkan. Setelah merasa lebih baik. Dia lebih memilih fokus dengan naskah-naskah film yang akan dia bintangi. Berulang kali perawat meminta Vania untuk memompa asi buat bayi itu, tetap saja Vania tidak perduli.
Emosi Sam kian memuncak. Tapi, berusaha dia tahan. Dia hanya meminta perawat untuk membawa bayinya keruangan khusus.
Sam memandang tajam kearah Vania. "Ingat Vania, kau yang meninggalkan kami, dan pergi menuju dunia kamu, bukan kami yang pergi meninggalkan kamu!" Ucap Sam. Sambil menahan kegeramannya.
"Kalau ingin pergi, pergi saja sana. Itu anakmu bawa saja."
Sam ingin berkata lagi. Tapi, tangan Ramida yang menahan pundaknya, membuat Sam tidak melanjutkan kata-katanya. Sam dan Ramida lebih memilih pergi dari ruangan Vania. Bersama bayi kecil itu.
Sam dan Ramida mendatangi ruangan dokter, Sam meminta izin agar bayinya bisa di bawa keruangan Resa. Setelah bicara panjang lebar, di dukung pula keadaan yang sudah lengang. Tidak ada lagi mata-mata kamera di Rumah Sakit itu. Bayi Vania pun di bawa menuju ruangan Resa.
Sam dan ibunya saling pandang.
"Apakah Resa bersedia mengurus anak Vania?" Tanya Ramida.
"Dia sosok yang penyayang, aku yakin. Resa akan menyayangi bayi malang itu, seperti anaknya sendiri."
Sam dan Ramida melanjutkan langkah kaki mereka, menuju ruangan Resa.
*******
Resa terus memandangi bayinya. Walau masih kecil. Tapi, seakan dunia Resa berpindah pada bayi itu. Kekaguman Resa buyar. Saat mendengar pintu kamar perawatannya terbuka. Mata Resa melotot, saat melihat seorang bayi yang berada dalam Inkubator. Para perawat menempatkan Inkubator itu di tempatnya. Sebelum pergi, mereka memeriksa kembali, keadaan bayi itu.
Resa masih bingung. Dia membisu memandangi hal itu. Beberapa orang perawat itu pergi. Setelah memastikan keadaan bayi itu. Sam mendekati Ramida. Dia membisikkan sesuatu di telinga Ramida. Ramida tersenyum. Dia membuka tas kecil yang selalu menggantung di bahunya. Tangan Ramida mengambil benda kecil yang nampak tidak asing. Yaitu, cincin nikah Sam dan Resa dulu.
Sam menerima kembali cincin nikah yang selama ini, Ramida simpan. Sam berjalan mendekati Resa. Resa terpaku di tempatnya. Dia masih bingung dengan keadaan ini.
"Resa, aku ingin meng akhiri semuanya." Ucap Sam. Sam memberikan cincin nikahnya, pada Resa.
Entah kenapa hati Resa terasa sesak mendengar ucapan itu. "Aku tau, setelah melahirkan aku akan kamu lepaskan. Tapi, setidaknya izinkan aku memberi ASI eksklusif pada bayiku, sebelum kau melepaskan aku," pinta Resa.
"Siapa bilang ingin melepaskan kamu, aku ingin meng akhiri statusmu, sebagai istri kedua yang dirahasiakan. Aku ingin kau jadi istriku satu-satunya dan tidak di rahasiakan. Bersediakan kamu menerima duda dua anak yang terlantar ini?"
__ADS_1
"Bagaimana Vania? Aku tidak ingin jadi perebut!"
"Dia membuangku, apakah kamu juga ingin membuangku?"
"Va-Vania?!"
"Vania membuang kami, lihat bayi itu, dia butuh ibu. Karena ibunya sama sekali tidak perduli dengannya." Sam menunjuk kearah Inkubator.
Wajah Resa nampak sedih melihat kearah inkobator itu. Bayi Vania nampak begitu lemah.
Ramida masih diam menyaksikan hal itu. "Dia butuh ibu, butuh ASI dan butuh kasih sayang." Sela Ramida.
Resa merubah pandangan matanya, dia memandang sayu wajah Sam.
"Aku sudah berusaha mempertahankan Vania. Di luar kendaliku, dia kekeh ingin pergi. Aku tidak bisa menahannya. Aku dan Vania menempuh jalan kami masing-masing." Terang Sam.
"Aku belum siap memanen hujatan orang. Semua orang pasti mengatai aku yang bukan-bukan."
Sam mendekati Resa. "Resa, jadilah istriku yang sebenarnya. Demi kedua anak kita, dan demi aku."
"Pakaikan ini dengan niat dan cara yang benar dan tanpa rasa terpaksa lagi!" Resa memberikan cincin nikahnya pada Sam.
Sam tersenyum melihat hal itu. Dia mengambil cincin itu, lalu segera menyematkan cincin itu ke jari manis Resa. Resa pun melakukan hal yang sama. Sam sangat bahagia. Dia menarik Resa kedalam pelukannya.
"Maukah berkorban satu lagi?" Tanya Sam.
"Apa?" Tanya Resa.
"Maukah kamu menerima anakku yang lahir dari rahim Vania, sebagai anakmu, tanpa membedakan keduanya?"
"Tentu saja, dia juga anakku. Aku akan memberikan ASI eksklusif, untuk keduanya dan menyayangi mereka." Resa membalas pelukan Sam. Dia semakin mengencangkan pelukannya pada tubuh Sam.
"Lalu?" Tanya Sam.
__ADS_1
"Lalu apa?" Resa melepaskan pelukannya pada Sam.
"Lalu, kapan giliranku dapat ASI?" Tanya Sam, sambil mengedipkan matanya.
"Awhhh!" Ringis Sam. Dia kesakitan, ada yang menjewer daun telinganya.
"Siapa yang mengajari mu untuk nakal seperti ini?" Ramida semakin keras menarik ujung daun telinga Sam.
"Nyonya, sudah, kasian Tuan Sam." Resa menyudahi tarikan tangan Ramida dari telinga Sam.
"Huhuhuuuu, aku terharu disayang istri. Selama ini aku belum pernah disayang." Sam menarik kembali Resa kedalam pelukannya.
Ramida menggeleng melihat kelakuan Sam. Dia lebih memilih menghampiri bayi Resa, dan menggendong bayi mungil tersebut.
"Sekarang pikirkan panggilan yang indah buatku, sedang aku, akan memikirkan nama untuk kedua anak kita." Sela Sam.
Resa berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Sam. Dia melangkah mendekati bayi Vania, yang berada dalam tabung kaca tersebut.
Sam memeluk Resa dari belakang. Mereka berdua memandangi bayi Vania. "Aku sangat berterima kasih padanya, karena kehadirannya, telah membangunkanku, dan membuka lebar kedua mataku."
"Dia terlihat sangat lemah," guman Resa.
"Saat pertama melihatnya tadi, aku sangat sedih. Tapi, melihat dia bisa bertahan sampai sekarang, aku bangga padanya."
********
Urusan Sam dengan Vania sudah selesai. Vania tetap bersikukuh untuk pergi. Sam lega, akhir hubungannya dengan Vania, bukan karena kesalahannya. Melainkan kemauan Vania, yang memilih meng akhiri hubungannya dengan Sam.
Sam meminta Pak Bim, membereskan semua barang Vania, dan mengantar semua barang itu, ke Apartemen Vania. Suasana malam yang hening. Sangat membantu Pak Bim mengarahkan pekerjaan para pelayan. Karena Nyonya besar mereka pasti sudah terlelap tidur di kamarnya.
Malam itu, malam yang sangat berat bagi para pelayan. mereka mengemas semua barang-barang milik Vania yang tidak sedikit. waktu hampir subuh. Tapi, barang-barang itu belum selesai juga.
Pak Bim meng istruksikan, agar barang yang sudah di kemas, segera di antar ketempat yang dia minta. Sedang para pelayan. Diminta Pak Bim untuk istirahat, dan melanjutkan pekerjaan mereka besok malam lagi.
__ADS_1
*********