
Hayati memandangi Resa dan Ramida bergantian. Dia sangat bingung dengan perkataan Ramida sebelumnya.
"Bohong tentang apa?" Hayati bertanya pada Resa dan Ramida.
"Resa sayang, kamu atau aku yang bicara?" Ramida menunggu jawaban Resa.
"Nyonya …." Resa belum siap untuk jujur pada ibunya. Resa hanya menunduk, tidak mampu memandang wajah ibunya.
***********
Flash back Resa dan Ramida.
Ramida membawa Resa kedalam ruangan, di sana hanya ada mereka berdua. Ramida meminta Resa duduk di dekatnya.
"Resa, ibumu sedang dalam perjalanan menuju kemari. Saatnya kita jujur pada ibumu, Resa."
"Nyonya, saya belum siap." Resa nampak keberatan dengan rencana Ramida.
"Lebih baik ibumu, tahu kabar ini, dari kamu dan dari kita, kamu tahu kenapa banyak wartawan di luar? Karena mereka sudah tahu tentang kabar perceraian Sam dan Vania, juga sudah tahu tentang pernikahan kedua Sam."
"Bagaimana jika mama saya marah, dan meminta saya untuk meng akhiri semua ini?" Resa tidak mampu menahan air matanya.
"Itu keputusanmu, memilih bersama Sam, atau bersama mama kamu, saat ini. Yang terpenting kejujuran kita pada mama kamu."
"Sudahlah, saat ini, kita jujur dulu pada mama kamu, apa kedepannya kita lihat nanti.
Flash back off
********
Keadaan kamar yang Hayati tempati seketika hening. Hayati masih tidak mengerti kebohongan apa yang Ramida maksud. Ramida berjalan mendekati Hayati, dia meminta Hayati duduk di sisi tempat tidur, bersebelahan dengannya.
"Selama ini, Resa bukan pelayan kami."
Kedua bola maya Hayati seakan melompat dari tempatnya mendendengar pernyataan itu. Ada sesuatu yang bergemuruh dalam dirinya.
Ramida memegang telapak tangan Hayati. "Resa tidak salah, aku yang salah memanfaatkan kelemahan Resa waktu itu. Resa adalah istri kedua putraku, yang kami rahasiakan dari semua orang."
Ramida mulai menceritakan kesepakatannya dengan Resa, hingga akhirnya Resa menikah dengan Sam.
Hayati melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ramida. Dia berjalan mendekati Resa.
"Resa! Pulang sama mama! Lebih baik kita hidup susah, daripada kamu membayar semua ini dengan tubuh kamu!" Hayati menarik Resa agar mengikutinya.
"Mama …." Resa berusaha menahan tarikan ibunya.
"Kamu pilih mama! Atau pilih mereka!" Hayati melepaskan tangan Resa, dia memberi kesempatan pada Resa untuk memilih.
Ramida segera meraih ponselnya. Meminta orang yang dia telepon datang kekamar itu. Tidak berselang lama terdengar suara ketukkan pintu. Ramida berjalan kearah pintu, dia membukakan pintu itu, terlihat dua babysitter yang menggendong Gavin dan Gilang.
__ADS_1
"Masuk," pinta Ramida.
Dua babysitter itupun masuk. Ramida menutup pintu itu kembali, dia berjalan memdekati Hayati.
"Resa adalah ibu dari dua dia bayi kecil ini. Anda tega membuat seorang ibu memilih? Bagaimana Resa memilih antara anaknya atau ibunya."
"Tujuan kalian sudah tercapai bukan? Resa ku sebentar lagi tidak kalian butuhkan lagi."
Suasana sedikit terganggu, saat suara ketukan pintu membuyarkan semuanya. Resa menyapu air matanya dengan jemari tangannya. Dia berjalan kearah pintu dan membukakannya. Terlihat sosok laki-laki yang sering berkeliaran di rumah ini.
"Iya, Pak Bim," sapa Resa.
"Anda, ibu Anda dan Nyonya Ramida, di tunggu Tuan Sam di ruang kerjanya."
"Kami segera kesana Pak, Bim. Tapi, kami menyelesaikan 1 masalah dulu."
Pak Bim menganggukkan sedikit kepalanya, tanda setuju, dia segera pergi untuk menjalankan tugas yang lain.
"Resa, kamu pompa Asi kamu sana!" Perintah Hayati.
Sedang Ramida meminta kedua babysitter itu pergi meninggalkan dia dan Hayati, di ruangan itu. Ramida berusaha membuat Hayati percaya, obrolan panjang lebar terasa alot. Hayati sangat kecewa dengan dirinya. Karena kelemahannya, Resa memilih jalan ini untuk menyelamatkan nyawanya.
******
Di ruang kerja Sam.
Ceklakkk!
Pintu terbuka. Terliahat sosok Pak Bim yang terlihat diatara pintu yang terbuka. Pak Bim membuka pintu selebar-lebarnya. Terlihat tiga orang masuk kedalam ruangan itu.
Garie berdiri saat melihat putrinya. Dia menghampiri Resa dan memeluknya. "Papa lama tidak melihat kamu sayang."
Resa hanya diam. Dia tidak menjawab dan tidak membalas pelukan Garie.
Nazla menyenggol lengan ibunya. "Mama, kenapa papa memeluk pelayan Nyonya Besar?"
"Dia anak papa tiri kamu!" Jawab Sri.
Nazla ingin berkata lagi. Namun melihat isyarat pandangan mata ibunya yang meng isyarat kearah Sam. Membuat Nazla batal bertanya lagi.
"Maaf, bisa kita selesaikan urusan kita yang semula?" Tanya Dirga.
Garie melepaskan pelukannya. Mereka berjalan kearah Sofa, dan duduk di sana, bergabung dengan yang lain.
"Mari kita mulai." Seru Dirga.
"Bu Hayati, kenapa Anda ingin mengembalikan perusahaan ini?" Tanya Sam.
"Bagi saya, bisa bersama Resa sudah cukup. Lagian saya tidak mengerti bagaimana menjalankan perusahaan, di tangan saya, perusahaan itu mungkin akan bangkrut lagi." Hayati menjawab pertanyaan Sam.
__ADS_1
"Kenapa tidak kamu berikan pada Parman saja?" Sela Garie.
"Parman?" Hayati bingung dengan pertanyaan Garie.
"Satu hal. Pasti kalian ingin tahu bukan? Kenapa aku membantu perusahaan kalian? Semua ini karena Resa. Tadinya aku ingin mengembalikan hak Resa. Tapi wanita ini dan ibunya malah menolak." Terang Sam.
"Tuan membantu kami, bukan karena Nazla?" Garie buka suara untuk bertanya.
"Bukan, Resa tahu kalau Nazla anak tiri Anda, dia memohon pada ibu saya, Agar kami membantu perusahaan Anda." Sam menjawab pertanyaan Garie.
Nazla dan ibunya setia menundukkan kepala mereka.
"Resa, ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" Tanya Sam.
"Papa, apa salah aku dan mama? Kenapa papa membuang kami? Pertanyaan ini dari dulu ingin aku tanyakan pada papa." Resa memandang papanya, dengan tatapan penuh harap.
"Kenapa papa membuang kamu dan ibumu? Karena ibumu selingkuh, dan kamu malah membantu perselingkuhan ibumu." Jawab Garie.
"Selingkuh?" Hayati bingung dengan jawaban Garie.
Resa memandang kearah Sam. "Bolehkah kami menyelesaikan urusan pribadi kami, di sini?" Tanya Resa.
"Selesaikan saja, agar kehidupan kita kedepannya lebih tenang." Sam memberikan senyuman manis pada Resa.
"Coba jelaskan, selingkuh apa? Aku tidak mengerti?!" Hayati tidak sabar menunggu jawaban Garie.
Garie memandang kearah Hayati. "Kau kira aku buta? Kamu memberi laki-laki itu uang, kamu membiayai selingkuhan kamu dengan uang suami kamu. Oh, apa sebab ini kamu meminta Sri untuk jadi istri keduaku? Agar kamu bisa bebas bersama selingkuhan kamu?" Tatapan Garie sungguh tajam.
"Aku sungguh tidak mengerti, oke aku tidak masalah kamu buang. Karena aku penyakitan. Tapi, masalah selingkuh aku tidak tahu." Hayati terlihat bingung.
"Halah, aku tahu, kau sering bertemu selingkuhan kamu, si Parman di Rumah Sakit!" Ucap Garie.
"Parman? Di Rumah Sakit?" Hayati mengingat siapa Parman.
"Apakah dia Om Arman?" Sela Resa.
"Arman? Dia bukan selingkuhanku, dia adik Sri. Uang yang aku berikan pada Arman, itu uang Sri yang dia titip padaku, untuk di berikan pada Arman." Hayati mengingat, kalau sering bertemu adik laki-laki Sri, di Rumah Sakit.
Garie memadang tajam pada Sri, selama ini Sri selalu mengatakan kalau Parman alias Arman selingkuhan Hayati. Dia semakin percaya, saat beberapa kali dia memergoki Hayati memberikan amplop pada laki-laki itu.
Garie menghempaskan tubuhnya begitu kasar, saat menyadari kebodohannya dan kesalahannya, dia tidak pernah mau tau siapa saja anggota keluarga Sri di desa. Kemarahan dan kecemburuan yang teramat besar, menutup matanya untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya, dia malah membuang dua wanita yang tidak bersalah.
Resa sedikit lega, setidaknya pertanyaan yang selama ini bergelut di batinnya sudah terungkap. Papanya tidak membuang karena penyakitan. Tapi, karena hasutan dan fitnah dari nenek sihir itu.
******
Bersambung.
Maaf telat, 1 dulu, kalau sempat 1 nya menyusul. Sayang kalian semua 🤗
__ADS_1