
Samuel Ozage POV
Rumah ini terasa sangat sepi, padahal baru seminggu rumah ini di tinggalkan ibu dan Nenek, ini bukan rumah. Tapi, rasanya ini hutan belantara yang tidak berpenghuni.
Vania, aku bingung menilai wanita ini, dia seperti tanpa beban, dengan mudahnya, dia mulai ber aktivitas syuting iklan dan lainnya. Aku kagum dengan janin yang di kandung Vania. Dia begitu kuat, padahal ibunya sama sekali tidak memikirkan perkembangannya. Aku lelah berdebat, hanya untuk mengingatkan dia makan dan lainnya. Ujung-ujungnya, kami hanya ribut.
Tidak ada kedamaian lagi di rumah ini. Pikiranku melayang kemana-mana. Bekerja pun aku tidak bisa. Keadaan ini sungguh menyiksa hati dan perasaanku.
Lamunanku buyar, saat mendengar bunyi pintu mobil yang tertutup. Tidak lama, muncul dua orang yang berjalan ber iringan. Dia Nanaz dan Vania.
"Sudah selesai syuting sayang?" Sapaku. Aku heran, ini masih pagi. Tapi, dua orang ini sudah kembali kerumah.
Wajah Vania nampak muram. Aku yakin, pasti ada masalah dengan pekerjaannya. Dia tidak menjawab sapaanku. Asisten setianya juga, melongos begitu saja, lewat di depanku. Terlihat mereka berdua berjalan kearah ruangan yang menyimpan segala keperluan Vania, yang ada di lantai Dasar.
Aku melangkahkan kaki menyusul mereka berdua. Sesampai di ruangan itu, terlihat Vania berbaring di sofa panjang.
"Kenapa semua orang, mengatakan kalau aku tidak sehat? Apakah wanita hamil tidak boleh terlihat cantik seksi!?" Gerutunya.
Astaga! Itu lagi! Apakah di otak wanita itu cuma hal itu saja yang dia pikirkan? Aku sungguh geram mendengar perkataannya barusan. Dengan rona wajah yang penuh emosi aku masuk kedalam ruangan itu.
"Vania, sekarang aku memberi pilihan padamu. Jalani kehamilan ini, bersamaku, atau jalani kehamilan ini dengan caramu dan kebebasanmu?" Tanyaku.
"Kalau aku pilih, pilihan yang kedua, kau mau apa?" Dia bertanya padaku. Mungkin tepatnya, dia menantangku.
"Kalau kau pilih yang kedua, maka aku akan menyusul ibu, jujur Vania, aku sangat tersiksa melihat kamu seperti ini," ucap ku.
"Lebih baik aku sendirian di rumah ini, daripada harus makan dengan peraturanmu kamu tahu kalau berat badan sudah naik, menurunkannya itu, seperti main perosotan, dan ingin naik kembali lagi keatas. Tapi, lewat jalur perosotan, bukan lewat tangga." Ucapnya.
__ADS_1
"Itu per ibaratan, kalau sangat susah untuk menurunkan berat badan!" Sambungnya.
"Baiklah, Vania. Jika ini pilihanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jika suatu saat kau berubah pikiran, panggil aku, aku akan segera kembali padamu," ucapku.
Dia hanya melambaikan tangannya padaku. Sial! Sedikitpun dia tidak takut kehilanganku. Dia hanya takut kehilangan pesonanya dan karirnya. Dengan perasaan sesak, aku pergi dari ruangan itu.
Ada yang tercekik, tapi bukan leher, ada yang terasa sesak, tapi bukan karena penyakit asma, ada yang sakit, tapi bukan karena luka badan. Kenapa hal ini baru aku rasakan sekarang. Aku lelah menahan kekecewaan di hatiku atas sifat Vania. Aku terus melangkah menuju kamar.
Sesampai di kamar, ku masukkan beberapa lembar pakaianku kedalam tas kecil. Sambil menahan emosi, aku segera pergi dari rumah ini.
Setelah pergi dari rumah, aku tidak punya tujuan. Tiba-tiba aku memikirkan sesuatu, Villa di desa yang ada di tepi danau, tempat nenek dan ibu sekarang. Ku lajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju villa itu. Perjalanan menuju desa sedikit sulit, jalanan yang meliyuk-liyuk. Di tambah lagi, dengan medan yang licin. Karena jalanan basah, karena baru di guyur air hujan. Embun sisa-sisa tetesan air hujan masih tampak. Membasahi kaca mobil.
Perjalanan panjangku selesai. Matahari semakin meninggi, suasana desa yang begitu tenang. Setelah memarkirkan mobil dengan sempurna. ku terus melangkahkan kaki ini, menuju kedalam Villa. Setelah masuk, aku tidak menemui siapapun. Terdengar suara sendok beradu dari arah dapur.
Segera kakiku melangkah menuju dapur. Di sana terlihat wanita yang asyik menikmati makanannya di meja makan. Seketika aku mengkhayalkan Vania. Andai saja itu dia, aku sangat bahagia. Tapi, itu Resa.
"Ibu sama nenek di mana?" Tanyaku.
Dia terbatuk, saat menyadari kehadiranku. Aku segera berlari mendekatinya.
"Maafkan aku, bukan maksudku untuk membuatmu kaget," ucapku. Sambil mengusap punggungnya. Ada perasaan damai ketika dekat dengannya.
Tapi, dia malah menjauh dariku. Terlihat dia menjaga jarak denganku. Dia meraih gelas air putih yang ada di dekatnya. Dengan wajah yang masih nampak memerah, dia minum dengan santainya.
"Nyonya Ramida dan Nenek, melayat kerumah Tuan Arnaff, istrinya meninggal." Ucapnya.
Aku sangat terkejut mendengar kabar, kalau istri Arnaff meninggal. Arnaff adalah sahabatku, dia menghabiskan waktu di desa ini, bersama wanita yang dia nikahi dua tahun yang lalu.
__ADS_1
Aku segera mengalihkan pikiranku. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya ku.
"Saya baik Tuan," jawabnya.
Aku terus memandangi wajah sayu itu. "Resa, maafkan aku, aku mungkin tidak bisa mencintaimu sebagai istriku. Tapi, aku janji. Aku akan memberimu perhatian sebagai seorang suami," ucapku.
"Tuan, lebih baik Anda jangan di sini, jika Anda di sini dan memperhatikan saya, saya takut," ucapnya.
"Takut kenapa?"
"Saya takut, kalau saya tidak bisa mengontrol perasaan saya. Anda tahu? Saya sangat bahagia bisa jauh dari Anda, jujur saya cemburu melihat kebersamaan Anda dengan Nona Vania, sedang saya ... siapa saya? Saya tidak punya hak untuk cemburu," ucapnya.
Aku sengaja menahan senyumanku. Ini pertama kali aku merasa senang, dan tahu bagaimana rasanya dicemburui.
"Tuan, tolong jangan baik pada saya. Saya takut, nanti hati saya menginginkan Tuan." Ucapnya lagi.
"Memangnya kenapa kalau hatimu menginginkanku?" Godaku. Aku sengaja terus mendekatinya. Hingga dia terpojok di sisi meja makan.
"Jika hati saya menginginkan Tuan, maka suatu saat akan sangat berat untuk pergi dari Tuan," ucapnya.
Pergi? Maksud dia, dia akan meninggalkanku. Ku tatap tajam kedua bola matanya.
"Apa kau memang tidak berniat untuk berada di sampingku selamanya?" Tanyaku.
"Saya merasa Tuan tidak menginginkan saya," ucapnya.
Aku ingin berkata lagi. Namun, deringan ponsel miliknya mengejutkan kami berdua.
__ADS_1
***
Bersambung.