
Samuel Ozage POV
Setelah Vania dan pelayan itu pergi, Resa mulai menutup pintu utama. Aku tidak mau buang-buang kesempatan ini. Langsung kaki ini melangkah mendekatinya. Lalu melingkarkan tangan ini di pinggangnya.
"Tuan---" ringisnya.
"Maafkan yang tadi," bisikku.
Kuputar arah tubuhnya agar menghadap kearahku. Ku sudutkan dirinya, hingga dia terpojok bersandar di pintu.
"Tuuutt---" tidak kuberi kesempatan dia bicara. Langsung kubungkam mulutnya.
Kami menghangatkan pagi yang dingin ini, dengan kegiatan santai kami.
Dia mendorong tubuhku, agar menjauh darinya. Hingga apa yang menyatu terlepas. "Anda mau makan apa? Biar aku masak sekarang, nanti apa kata Nona, kalau dia kembali, Tuan belum makan."
Dia bertanya, berusaha untuk meng-akhiri kegiatan ini, sepertinya. Tidak 'ku hiraukan pertanyaannya. Aku tetap pada kegiatanku. Namun tangan ini berpindah pada yang lain.
'Ku berhenti sejenak, memberi dia jeda untuk mengatur napas. "Mulai sekarang, aku akan bekerja dari sini, saat ada kesempatan, kamu harus melayaniku," pintaku.
Dia hanya diam, entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Maaf, bukan maksud saya---" terlihat dia menahan sesuatu, karena aktivitasku.
Aku langsung berhenti berkegiatan . Untuk memberi kesempatan dia berbicara.
"Apa?" Tanyaku lembut.
"Bayi kita lapar," bisiknya.
Aku berjongkok di depannya. Wajah ini tepat berada di depan perutnya yang terlihat sedikit menyembul. Tanganku meraba perutnya.
"Kamu lapar sayang?" Aku berbicara dengan janin yang bertumbuh di rahimnya. Ku dongakkan wajahku memandangi wajahnya. Dia nampak tersenyum.
Kuciumi perutnya dengan gemas. Entah dari mana datangnya. Ada rasa hangat yang menjalar keseluruh tubuh. Lebih indah dari aktivitas yang satu itu. Hati ini semakin berbunga, saat jemari tangan Resa membelai rambut kepalaku.
Aku segera menegakkan tubuhku. "Setelah anak ini lahir, ku mohon tetaplah di sisiku." Pintaku pada Resa.
Hei, dari mana kata-kata itu. Tapi itu kata-kata yang murni keluar dari lubuk hatiku.
"Lihat nanti, aku tidak berani berjanji. Jika aku benar berharga bagi Tuan, aku akan setia pada Tuan, walaupun aku hanya istri kedua Tuan, selamanya," ucapnya.
Sial! rasanya tubuhku seakan di pengaruhi obat biru itu. Aku tidak bisa menahan gejolak yang hadir begitu saja. Entah darimana. Apa karena aku dan Vania, lama tidak melakukan hal itu berulang kali, selama Vania hamil, kami hanya melakukannya sekali sehari, atau karena tubuh Resa yang seakan menjadi candu bagi diriku.
Olah raga pagi kami Berakhir dengan mandi bersama, di kamar mandi yang ada di kamar Resa. Aku seperti orang gila. Rasanya ... tidak rela melepas begitu saja wanita itu. Selesai mandi, aku hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggang, kaki ini melangkah menuju kamarku dan Vania.
Dengan pakaian santai, dan celana panjang. 'Ku tatap wajahku dari pantulan cermin, ada sesuatu yang berbeda, dari gurat wajah itu. Dengan senyuman yang selalu terukir, aku keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur.
Sesampai dapur, terlihat di sana, seorang perempuan sibuk memasak. Ternyata aku tidak bisa untuk mengejutkannya, dia sudah menyadari kehadiranku.
__ADS_1
"Pagi, Tuan." sapanya.
Huh! Nada suaranya yang memanggilku "Tuan" membuat bulu kuduk merinding. Teringat kembali akan suaranya indahnya saat bergelut bersama, yang selalu mengucapkan kata 'Tuan.'
Ku tepis semua pikiran nakal itu. "Masak apa?" Tanyaku.
"Hanya nasi goreng, karena yang tersisa hanya ayam dan telur," jawabnya.
"Sini ku bantu," ucapku.
"Sudah selesai."
Terlihat sunggingan senyuman terukir di wajahnya. Dia menata masakan yang dia masak ke piring. Aku tidak bisa tinggal diam.
Tidak aku izinkan wanita yang mengandung keturunanku bekerja lebih keras lagi.
"Tuan, jangan Tuan. Biar aku saja." rengeknya.
Kusambar dengan kilat bibirnya, seketika dia diam.
"Kamu duduk di sana, biar aku yang melayanimu," pintaku. Sambil membelai pucuk kepalanya.
Dia menggelengkan kepalanya.
"Owh, kau lebih suka aku melayanimu dengan hal ini," tanganku nakal, mulai membuka gesperku.
Seketika kedua matanya melotot. "Tidak lagi!" Kedua tangannya melambai begitu cepat tanda tidak setuju. Dia segera melangkah menuju meja makan, dan duduk di salah satu kursi yang berjejer mengelilingi meja makan tersebut.
Sial! Ternyata kebahagiaan itu kadang simple. Makan berdua seperti ini saja, membuat hatiku merasakan hal baru, yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Selesai sarapan, dia mencuci piring bekas sarapan kami. Sedang aku, aku mengunci pergerakkan tubuhnya, dengan melingkarkan tanganku di perutnya yang besar karena ulahku. Berdua seperti ini, rasanya seperti pengantin baru saja.
"Tuan, duduk saja di sana," pintanya.
"Emm," aku menenggelamkan wajahku di lekukan lehernya.
"Tuan …." Rengeknya.
"Lakukan saja tugasmu, aku hanya mengawalmu," godaku.
Dia pasrah, karena aku selalu menempel di tubuhnya.
"Kau sudah minum susu untuk kamu dan bayi kita?" Bisikku,"
"Belum." Jawabnya.
Aku langsung melepas pelukanku. Kaki ini melangkah menuju tempat, di mana box susu itu berbaris. "Mau rasa apa?" Tanyaku.
"Aku bisa buat sendiri," jawabnya.
__ADS_1
"Kau tidak ingin aku layani?" Ku tatap tajam kearahnya.
"Baiklah, Tuan. Aku mau rasa coklat," jawabnya, pasrah.
Ku raih box berwarna coklat. Lalu meraih gelas dan sendok, dan mengikuti aturan pakai pada box itu. Selesai! Aku segera melangkah membawa segelas susu itu kearahnya.
Dengan senyuman yang mengambang di wajahnya. Dia menerima gelas yang aku berikan. Dengan mudahnya, dia langsung meminum susu itu.
Dia berhenti menegak susu itu, dia memandang sayu kearahku. Membuat hatiku ketakutan. "Tidak enak ya?" Tanyaku.
"Tidak. Tapi, lebih enak dari biasanya," ucapnya. Membuat hatiku kembali merasa bahagia. Dia begitu semangat menghabiskan susu yang ada dalam gelas itu.
Dia menaruh gelas kosong itu di atas meja. Tangannya meraih tisu untuk menyapu sisa susu yang menempel di sisi bibirnya.
"Beneran enak?" Godaku.
Dia mengangguk santai sambil tersenyum.
"Aku juga mau, ah." Godaku.
"Hey! Itu khusus ibu hamil!" Bentaknya.
"Siapa bilang mau yang itu, aku mau yang ini." Jemariku nakal, membuka satu per satu kancing bajunya.
Setelah dia berdiri, ku angkat sedikit tubuhnya. Posisi yang sempurna. Pemandangan itu sangat indah. Langsung saja aku melakukan keinginanku.
Sesekali, kutinggalkan bintik merah di bagian itu. Agar saat dia bercermin, dia akan kembali ingat, kalau dia milikku.
Sial! Ada yang meledak lagi. Tapi, apakah aman jika aku memintanya lagi? Sedang dia saat ini tengah hamil. Kami berdua larut dengan kegiatan kami. Kami lupa akan keadaan sekitar.
Apa ini? Kenapa sangat indah? Tangan lembut Resa mencengkram lembut rambut kepalaku. Semakin indah rasanya.
****
Author POV
Matahari semakin menampakkan cahayanya. Embun-embun yang membasahi dedaunan mulai menguap, karena kehangatan sang surya. Tapi, keadaan di meja makan itu, seakan terasa begitu terik. Yang tadinya susasana santai dan ringan. Sepertinya keadaan itu tidak terkondisikan lagi.
"Apakah di Villa ini tidak ada orang--"
Seketika Resa langsung mendorong Sam, saat menyadari ada orang lain yang melihat kegiatan mereka.
Orang itu mematung, mulutnya juga terbuka lebar, saat melihat sekilas kegiatan dua orang itu. Sam langsung menarik Resa. Agar bersembunyi di belakangnya.
*****
Bersambung,
alapiyu all, like dan komen kalian membuatku panas dingin. Sebenarnya pengen up banyak, kalau ngetik pake hape tau sendiri lah syulitnya gimana.
__ADS_1
Besok aja ya, lanjutannya 😄😄😄😄