
Kedua bayi itu selalu bersama Babysitter mereka. Resa hanya sesekali mengurus kedua bayi itu. Karena bayi besar itu mulai manja. Membuatnya harus melepas tanggung jawab pada dua bayi mungil itu, demi bayi besar yang meminta dirinya untuk selalu menemani si bayi besar.
Keadaan hening. Kedua bayi itu bersama Babysitter mereka, di kamar bayi itu. Resa melangkahkan kakinya, menuju ruang kerja Sam. Resa sangat ragu untuk masuk kedalam ruangan itu. Kalau dia masuk menemani Sam. Sudah terbayang apa yang akan terjadi di dalam sana. Sam bukan bekerja pada keayboard laptopnya lagi. Tapi, malah bekerja di setiap lekuk tubuhnya.
Resa memantapkan hati, untuk masuk keruang kerja Sam. Siap dengan reseko yang akan dia terima, jika dekat dengan Sam. Perlahan Resa membuka pintu kerja ruangan Sam. Dia menghembuskan napasnya begitu lega. Saat melihat sosok Dirga duduk di salah satu kursi yang ada di depan meja kerja Sam. Dua orang yang tadi asyik mengobrol, mata mereka langsung memandang kearah Resa.
Resa merasa gagap menyadari dua orang itu memandang kearahnya."Apa aku mengganggu?" Tanya Resa.
"Tidak sayang, masuklah." Pinta Sam. Senyuman terukir menghiasi wajah Sam.
"Kamu saja yang kemari," pinta Resa, bibir Resa sedikit manyun.
Sam tersenyum melihat reaksi wajah Resa. "Dirga, kamu keluar, istriku membutuhkan aku." Perintah Sam.
Dirga segera bangkit dari posisinya.
"Tidak perlu, aku hanya ada perlu sebentar dengan Anda." Sela Resa.
Dirga bingung mematuhi perintah siapa.
Sam mengalah. "Dirga, kamu tunggu di sini." Sam bangkit dari poisisi duduknya, dan melangkahkan kakinya, mendekati Resa. Sam dan Resa berbicara di depan pintu ruang kerja Sam.
"Ada apa Sayang?" Sapaan itu sangat lembut. Seakan meluluh lantahkan hati yang mendengarnya.
Resa sedikit berjinjit, untuk mendekatkan wajahnya pada Telinga Sam. Namun, masih saja belum mencapai tujuannya. Sam tersenyum. Dia sedikit membungkukkan badannya. Resa tersenyum dia segera berbisik di telinga Sam.
Mendengar bisikkan Resa, Sam tersenyum. Dia merogoh sakunya. "Ini, pakai saja ponselku." Sam memberikan poselnya pada Resa.
Dengan senang hati Resa menerima ponsel Sam.
"Berjanji padaku, kalau Anda tidak akan memeriksa pembayaran apa yang aku lakukan!" Pinta Resa.
"Aku berjanji." Ucap Sam.
Resa segera melakukan transaksi online lewat ponsel Sam.
"Sudah selesai, terima kasih, papa ...." Ucap Resa dengan nada yang manja. Dia mengembalikan ponsel Sam.
"Hanya ini? Ada lagi?" Tanya Sam. Sedang tangannya menerima ponsel yang Resa serahkan.
"Ini saja, maaf aku menganggu waktu Anda bekerja."
"Tidak menganggu. Aku hanya meminta Dirga mengatur pesta untuk ulang tahunku nanti."
"Aku pergi, makasih untuk semuanya!" Seru Resa.
Sam hanya tersenyum. Dia membiarkan Resa pergi begitu saja. Karena ada Dirga di dalam ruangan kerjanya. Sam kembali kedalam. Meneruskan obrolannya dengan Dirga.
__ADS_1
******
Pagi-pagi, seorang kurir datang ke rumah Hayati. Setelah Tini menerima amplop dari Kurir itu, dan menanda tangani kertas tanda terima. Sang kurir itu langsung pergi. Tini memandangi amplop yang dia pegang. Sambil membaca tulisan yang tertera di bagian luar amplop itu.
"Ada apa Tin?" Pertanyaan itu membuat fokus Tini pada amplop itu ter alihkan. Tini memandang kearah suara itu ber asal.
"Oh, ibu. Ini bu, tadi kurir antar ini buat ibu." Tini memberikan amplop yang dia terima sebelumnya.
Amplop itu berpindah ketangan Hayati. Perlahan Hayati merobek sisi atas amplop itu. Mengeluarkan isi amplop tersebut. Kening Hayati sedikit mengedut, saat membaca tulisan dengan Font yang lumayan besar. 'Undangan wajib dibawa'. Hayati membuka undangan tersebut.
"Undangan acara ulang tahun, Samuel Ozage." Hayati membaca bagian atas undangan itu.
"Apa itu pemilik perusahaan Ozage Crypton Group, bu?"
"Hem, sepertinya Tin. Ya sudah nanti kita penuhin undangannya. Kamu temani saya." Pinta Hayati.
"Siap bu!" Sahut Tini.
Wajah Hayati seketika berubah, saat membaca bagian bawah undangan yang bertuliskan 'Untuk.1 orang.' Artinya dia tidak bisa mengajak Tini.
"Untuk satu orang saja Tin," keluh Hayati.
"Gak apa-apa Bu. 'Kan di sana ada Nona Resa." Tini meyakinkan Hayati, agar Hayati berkenan memenuhi undangan tersebut.
*****
Gari beridiri di sisi tangga, di lantai dua rumahnya. Dari lantai atas itu, dia memandangi setiap sudut rumahnya. Sebentar lagi, rumah ini akan dia tinggalkan. Entah kenapa hatinya terasa sesak. Rumah ini hasil perjuangannya bersama Hayati, dan saksi bisu pertumbuhan Resa.
"Hayati, kalau kamu tidak mau menerima Sri sebagai madumu, kenapa kamu harus menikahkan aku?" Garie menggerutu sendiri.
"Aku tidak pernah menginginkan Sri, aku menikahinya, karena aku sayang padamu. Tapi apa balasanmu? Kamu memanfaatkan Sri, sebagai dalih sakit hati kamu, dan kamu selingkuh karena alasan itu." Garie terus berguman.
Bayangan Hayati dan Resa yang biasa bercanda di bawah, seakan hal itu terlihat jelas di mata Garie.
"Tuan …." Minah memanggil majikannya dari bawah, sambil memperlihatkan amplop yang dia pegang.
Mendengar suara yang memanggil namanya, lamunan Garie buyar. Dia segera melihat kearah sumber suara itu. "Iya bi Minah, sebentar!" Sahut Garie. Laki-laki itu segera turun, menemui Minah.
"Ada apa bi?"
"Ini, Tuan. Ada surat atau apa, baru saya terima." Minah memberikan Amplop yang dia pegang, pada Garie. Minah langsung pergi meninggalkan majikannya itu.
Perlahan Garie membuka amplop tersebut. Wajah Garie terlihat bingung melihat tulisan 'Undangan wajib dibawa.' Perlahan Garie membuka undangan tersebut.
"Apa maunya pemilik perusahaan Ozage Cryton Group ini." Gerutunya.
Nanaz terlihat di lantai dua rumah itu, dia memandangi papa tirinya, yang tampak bingung memandangi sesuatu yang dia pegang, Nanaz segera melangkahkan kakinya menuruni anak tangga tersebut. "Ada apa, pah?" Tanya Nanaz.
__ADS_1
Garie menoleh kearah suara tersebut. "Apa maunya Tua Sam? Beberapa waktu lalu, dia membuat perusahaan papa jadi milik Hayati. Terus, ada lagi utusannya datang, kalau perusahaan untuk sementara milik Ozage Cryton Group. Sekarang … dia mengirim undangan, untuk acara ulang tahunnya." Garie memperlihatkan undangan yang dia pegang.
Nanaz mempercepat langkahnya, dia segera mengambil undangan yang di perlihatkan Garie. Dengan cermat, Nanaz membaca semua tulisan yang tercantum.
"Jarang sekali, Tuan Sam mengadakan acara ulang tahun di rumahnya." Nanaz bergumam.
"Biasanya, mana pernah mereka mengundang kita sekeluarga, dua tahun ini, cuma kamu kan, yang di undang? Karena kamu Asisten pribadi istrinya."
Nanaz memandang wajah ayah tirinya. "Kita hadiri saja, pah. Barangkali, berkaitan dengan perusahaan." Usul Nanaz.
"Baiklah, kita akan menghadiri pesta ulang tahun Samuel Ozage."
*******
Moresa POV
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu, semakin dekat. Suasana rumah ini sedikit berbeda. Beberapa barang penting milik Sam, sudah diangkut oleh para pekerja. Untung saja, Sam sangat sibuk. Hingga dia tidak melihat kurir datang mengantarkan barang belanjaan, yang aku beli via Online. Segera aku menyimpan paket ini, di kamar. Sebelum Sam mengetahuinya.
"Apa yang kamu lakukan?" Pertanyaan itu membuat jantungku seakan terlempar dari posisinya.
Untung saja, paket itu sudah aku sembunyikan. "Tidak ada, hanya ingin mengemas pakaian kita, kan kita akan segera kembali," elakku, berharap Sam percaya padaku.
"Tidak perlu bawa apapun dari sini, semua keperluan kamu untuk di rumah. Sudah ibu persiapkan." Ucapnya.
Aku segera menutup lemari, kemudian berjalan kearahnya. "Bagaimana semua pekerjaan? Apa sudah selesai?"
"Beberapa sudah selesai. Ayo kita kekamar bayi kita, biar kedua pengasuh kita, membereskan keperluan mereka," ajaknya.
Kami melangkahkan kaki kami menuju kamar bayi. Setelah kedua bayi itu berada dalam gendongan kami. Sam meminta kedua Babysitter itu, untuk bebenah. Kami segera pergi dari kamar itu. Gilang ada dalam gendonganku, sedang Gavin ada dalam Gendongan Sam. Kami melangkah ber iringan menuju kamar pribadi kami.
"Papa …." Ucapku.
Sam menoleh kearahku. Ya Tuhan. Kenapa sorotan matanya itu seakan menguras seluruh energi yang ada dalam diriku.
"Iya, ada apa?" Jawabnya.
"Kenapa mereka pulang lebih dulu? Kenapa tidak sama-sama saja?" Aku keberatan dengan keputusan Sam. Dia mengizinkan dua bayi mungil ini pulang lebih cepat, bersama dua Babysitter yang akan dijemput Mawan dan Tony.
"Pulang sama-sama tidak mungkin, mereka dua, pengasuh dua, perjalanan kita, jauh sayang. Lebih baik mereka pulang lebih dulu bersama Tony, sedang kita akan menyusul."
Aku pasrah dengan rencananya.
********
Bersambung.
Maaf sobat online, aku baru bisa up. Hari ini juga cuma 1. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1