Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 40 Bulan Ketujuh


__ADS_3

Keesokan harinya, Vania benar-benar berangkat sendirian ke dokter kandungan. Dia ngotot tidak mau ditemami Sam, dia hanya mau pergi bersama Asisten dan Managernya yang baru datang, untuk menjemputnya. Sam pasrah, dia sudah tau, kalau Vania melakukan pemeriksaan kehamilan hanya karena Reality Show.


Sam memandangi kepergian ketiga orang itu. Sam hanya menarik napasnya begitu panjang. Menahan sesak di hati karena kelakuan Vania.


"Andai tidak ada kerjasama dengan acara seperti ini, apakah kamu masih mau menjalani kehamilan ini, Vania?" Gerutu Sam.


Sam masih di teras Villa, dia belum beranjak sedikitpun dari posisinya, saat melepaskan kepergian Vania. Pembicaraan beberapa orang dari arah belakangnya membuat Sam, tersadar dari lamunannya tentang Vania.


"Maafkan aku Resa, kamu harus mengurus bayi."


"Tidak apa-apa, Nyonya. Lagian saya sangat suka anak kecil.


Sam memutar arah tubuhnya. Terlihat Ramida, Resa, Marina, Jena, dan bi Masri. Berjalan kearahnya. Ramida mendekati Sam.


"Sam, jaga nenek ya. Ibu harus menyelesaikan tugas, kira-kira, seminggu baru selesai." Ucap Ramida.


"Ibu jaga diri." Sam memeluk ibunya.


Terlihat satu buah mobil, perlahan memasuki halaman Villa. Ramida langsung melepaskan pelukannya pada Sam. Lalu, pamit pada semuanya. Dia segera pergi, dengan supir yang menjemputnya.


"Jena, ayo kita jalan-jalan ke danau. Udara pagi ini, sangat sejuk Jena." Pinta Marina. Jena pun perlahan mendorong kursi Ramida kearah danau. Sedang Resa segera masuk kedalam Villa.


Di teras, tinggal bi Masri dan Sam. Bi Masri merasa canggung dekat dengan manjikannya itu.


"Saya izin ke dapur Tuan."


Sam menganggukkan kepalanya, menanggapi ucapan pelayan itu. Sam juga segera masuk kedalam Villa, dia menutup pintu utama. Samar terdengar suara tangisan bayi dari arah kamar Resa. Sam tersenyum. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar Resa. Perlahan dia membuka pintu kamar itu. Terlihat seorang perempuan, tengah berusaha menenangkan bayi, yang menangis dalam gendongannya.


"Kau sangat suka anak kecil?" Tanya Sam.


Resa sedikit tersentak. Dia kaget mendengar suara Sam.


"Tuan, kenapa Tuan kesini? Bagaimana kalau ada yang melihat nanti?"


"Resa, aku butuh teman."


Resa melihat wajah Sam yang terlihat kusut. Setelah Nadira tenang. Resa menempatkan bayi itu kedalam box bayi yang ada dalam kamarnya. Dia berjalan mendekati Sam.


"Apa yang bisa saya bantu?"


Sam meraih tangan Resa. Dia menarik Resa berjalan kearah tempat tidur. Sam mendudukkan Resa di sisi tempat tidur. Sedang Sam, duduk leseh di lantai dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Resa.

__ADS_1


"Vania." Suara Sam terdengar sangat berat.


"Bukankah Anda sudah tahu, seperti apa Nona Vania."


Terdengar tarikan napas Sam yang begitu berat. "Dia menjalani kehamilan ini, bukan karena aku, ataupun bahagia akan kehadiran janin yang hadir di rahimnya. Tapi, demi kerja sama dengan salah satu stasiun televisi."


Resa bingung harus menanggapi ucapan Sam, dia hanya membelai rambut suaminya.


"Cinta itu seperti apa? Aku memberikan dan mengabulkan apapun yang Vania inginkan. Tapi, kenapa Vania tidak pernah membalas perasaanku?"


"Aku tidak pernah jatuh cinta, Tuan. Bagaimana aku bisa menjawab?"


"Aku memberi Vania satu kali lagi kesempatan. Kalau dia memilih mengutamakan karir, maka aku akan melepasnya."


"Aku lelah Resa, lelah menghadapi Vania, lelah mengalah dengan Vania, juga lelah menyembunyikan dirimu. Hatiku makin kacau, saat nenek merestui Dirga, bersamamu."


Resa diam. Suasana kamar itu hening. Sam menikmati bersandar di pangkuan Resa.


"Aku tidak tahu apa ini, Resa. Tapi, aku tersiksa saat melihat Dirga berusaha mendekatimu."


"Aku sudah berusaha menghindar, karena aku seorang wanita yang bersuami."


*******************


Sam selalu sibuk di ruang kerjanya. Melakukan tugasnya dari Villa itu. Terkadang curi-curi waktu, untuk menggoda Resa, dan bermain dengan perut Resa yang sedikit menyembul. Mengajak bayi yang tumbuh di sana komonikasi. Sedang Vania. Wanita itu setiap pagi menghilang. Karena menjalani syutingnya, yang tidak terlalu jauh dari Villa.


Sam santai di Villa, menjalani pekerjaannya, dan menanti laporan orang suruhannya yang memantau setiap kegiatan Vania. Tanpa Vania ketahui.


Semingu berlalu. Arnaff datang menjemput kembali bayinya. Ibu juga datang dari kota. Kehidupan di Villa perlahan normal kembali.


Samuel Ozage POV.


Waktu terus berjalan, keseruan bersama Resa semakin hari semakin terasa indah. Tapi, dengan Vania? Kehamilan Vania saat ini, membuat mataku yang selama ini, mencintai Vania dalam keadaan terpejam, perlahan terbuka. Rasanya tidak adil, jika aku melepaskan Vania, hanya karena merasa nyaman dengan Resa. Namun, bersama Vania, semakin hari, semakin membuat leherku terasa tercekik atas segala kebohongannya.


Andai Vania tidak hamil, maka selamanya aku mencintai Vania seperti orang gila. Karena mata yang tertutup. Tidak bisa melihat wujud asli Vania. Kehamilan Vania, membuat mata ini terbuka. Kalau dalam hidup Vania, hanya ada dirinya, pesonanya, kecantikannya, dan karier. Jangan harap Vania mengutamakan keluarga. Perasaan sesak ini, kembali mencuat, saat teringat berkas laporan yang aku terima dari Dirga, hati ini mulai mengerti. Dalam dunia Vania, kami tidak pernah punya tempat.


Saat pertama kali dia tahu kalau hamil, bukannya bahagia. Vania, malah ingin menggugurkan bayi kami, karena tidak mau hamil.


Tapi kenapa tiba-tiba dia datang dan menyetujui menjalani kehamilan ini. Ternyata dia tidak mau makan dengan porsi normal, hanya memikirkan dirinya dan bentuk tubuhnya. Dia sama sekali tidak memikirkan bayi yang dia kandung. Anaknya sendiri tidak dia sayang, dia hanya terobsesi dengan karir dan kecantikan.


Aku kembali dia bodohi. Dia datang dan setuju untuk menjalani kehamilan ini lebih baik. Huh! Tapi, ini semua dia jalani hanya demi kontrak kerja sama. Aku memberi dia izin syuting kembali, karena bahagia atas kehamilannya. Tapi, ternyata? Teringat hal itu, hati ini semakin sesak. Sekarang … dia syuting setiap pagi, demi acara impiannya.

__ADS_1


Kini, usia kehamilan Vania dan Resa memasuki bulan ketujuh. Perut keduanya sangat jelas terlihat. Setiap bulan, Resa pergi bersama ibu, untuk cek kehamilannya. Sedang Vania? Seperti biasa, dia cek kehamilan sendiri. Oh, tidak! Bukan sendiri. Tapi, bersama Tim yang meliput yang akan di tayangkan di acara di sebuah televisi, juga Asisten dan Managernya. Tapi, Nanti, setelah Vania melahirkan, baru hasil syuting dari beberapa bulan lalu ditayangkan.


"Kamu bodoh Sam! Di waktu yang sangat berharga ini, Vania sama sekali tidak membaginya bersamamu." Gerutuku.


Astaga, aku lupa. Kehamilan ini bukan berharga baginya, hanya berharga bagiku.


*******


Moresa Pov


Aku harus bahagia atau sedih? Semakin kesini. Hubungan Nona Vania dan Tuan Sam, terlihat begitu dingin. Tuan Sam sangat fokus dengan pekerjaannya. Begitu juga Nona Vania. Setiap hari dia pergi dari Villa ini.


Aku bahagia, Tuan Sam sangat perduli padaku. Bahkan sering kali kami curi waktu hanya untuk merajut kasih, di sudut Villa yang dirasa Aman.


Entah kenapa aku sangat menyukai hal ini, satu kode saja aku mengerti. Kami pun berpacu napas dengan kegiatan gila ini.


Tapi ... sebagai perempuan, aku merasa ini tidak adil bagi Vania. Sering kali hati ini dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan. Bercinta dengan suaminya di belakangnya.


Tapi ... aku juga istrinya. Semoga saja hubungan Tuan Sam dan Nona Vania kedepannya bisa membaik, setelah aku pergi nanti.


****


Samuel Ozage Pov


Pagi menyapa kembali.


Aku tahu hari ini, Vania memulai syutingnya lagi. Dia sudah tidak terlihat di kamar kami. Aku pergi kearah danau. Sambil olah raga pagi dan menikmati udara pagi yang sangat sejuk.


"Bulan ketujuh," gumamku.


Aku teringat akan, isi salah satu surat yang Vania beri waktu itu, yang aku tanda tangani, tanpa membacanya.


Aku terus berlari di sisi danau. Sambil membayangkan wajah Vania dan Resa. Keputusan berani ini harus ku ambil. Demi keadilan buat kami bertiga.


Lelah berlari, aku duduk di salah satu bangku panjang yang ada di sisi danau itu. Sambil menormalkan kembali detakkan irama jantung yang masih berpacu. Saat mata ini memandang kearah Villa. Bukannya detakkan ini normal. Tapi makin memburu, saat melihat Dirga berjalan kearah Villa. Dia pasti ingin tebar pesona lagi.


*****


Bersambung.


Maaf ya sobat, aku bisanya up 1 episode perhari.

__ADS_1


__ADS_2