
Garie pulang dengan wajah yang nampak kesal. Dia terus melangkah masuk kedalam rumahnya. Di ruang keluarga, terlihat Nanaz dan mamanya nampak santai, sambil menonton televisi.
"Kesepakatan apa yang kalian buat dengan Tuan Sam?" Tanya Garie.
Nanaz dan mamanya nampak terkejut dengan kedatangan Garie.
"Kesepakatan biasa papa," jawab Nanaz dengan santainya.
"Apakah kalian membaca isi surat-surat yang kalian tanda tangani?" Suara Garie semakin meninggi.
"Karena membaca papa, hingga kami bahagia seperti ini, artinya papa hanya buruh di perusahaan mama," seru Nanaz.
"Mama nggak nyangka, perusahaan papa sekarang milik mama," seru Sri.
"Kalian bahagia sekali rupanya, karena merasa memiliki perusahaan itu?" Garie kembali bertanya.
"Hem …." Seru Nanaz.
"Kalian bodoh atau apa!? Kamu lupa Sri! Kalau di surat itu tertulis milik isti Garie Harahap!" Seru Garie.
"Kami baca kok, artinya milik mama dong … sudah sana papa kerja yang benar," seru Sri.
"Apa-apaan kamu, main perintah begitu!" Garie semakin kesal dengan dua wanita itu.
"Kan mama bosnya, pah." Seru Nazla.
"Kamu lupa Srie? Istri Garie Harahap itu Hayati, ibu Resa!" Teriak Garie.
Sri dan Nanaz saling pandang. Mereka lupa segala surat menyurat Property Garie masih nama Hayati.
"Siapkan barang-barang kalian! Sebentar lagi kita akan keluar dari rumah ini. Rumah ini, milik perusahaan, maka kita pulang kedesa kamu Sri." Seru Garie.
"Bagaimana perusahaan papa?" Tanya Sri.
"Aku akan mengundurkan diri, dan menarik 30 persen sahamku, cukuplah itu untuk kehidupan kita di desa." Seru Garie.
Nanaz tampak tidak terima akan hal ini. Dia sangat geram, kenapa dia seceroboh ini. Dia lupa, kalau istri pertama papanya masih terikat dalam surat menyurat property kekayaan Garie.
********
Di kediaman Hayati.
Pelayan yang ditugaskan Ramida, untuk menemani Hayati, berjalan begitu cepat menghampiri majikannya itu. "Bu Hayati, di luar ada tamu?" Ucapnya.
"Siapa Tini?"
__ADS_1
Saya tidak tahu, Bu."
Keadaan Hayati yang semakin hari semakin membaik, membuat dirinya terlihat lebih segar dan bertenaga. Dia melangkah menuju ruang tamu bersama Tini. Pelayan yang selama ini menemaninya.
"Ada perlu apa mencari saya?" Tanya Hayati.
"Anda ibu Hayati, istri dari Pak Garie Harahap, pemilik Green Corporation Group?" Tanya orang itu.
"Tepatnya, saya mantan istrinya," jawab Hayati.
"Oh, maaf. Saya Roman. Asisten kepercayaan Tuan Samuel Ozage, pemilik perusahaan besar Ozage Crypton Group. Perusahaan kami menanam banyak modal pada perusahaan ibu." Seru Roman.
"Bagaimana mungkin? Itu perusahaan suami saya, eh maaf, mantan suami saya," sela Hayati.
"Tapi, di surat ini, pemilik perusahaan itu adalah Nyonya Garie Harahap, dan kami teliti di catatan sipil, Anda adalah istri Garie Harahap." Terang Roman.
"Bisa di tinggal dulu berkasnya? Agar saya bisa mempelajarinya," pinta Hayati.
Ramon memberikan berkas itu, dan menerangkan beberapa poin dalam berkas limpahan tersebut. Hayati hanya diam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Hayati hanya membolak-balik kertas yang dia pegang. Berulang kali membaca isi surat-surat teesebut.
********
Seminggu berlalu, Vania benar-benar pergi dari Negara ini, bersama Managernya, Arini. Vania dan Arini menetap di luar Negri, karena syuting mereka di negara itu.
Sedang di Rumah Sakit. Keadaan Gilang semakin membaik, berat badannya pun semakin bertambah. Akhirnya Sam bisa membawa istri dan kedua bayinya pergi dari Rumah Sakit, dan tinggal sementara waktu di rumah yang di sediakan Dirga. Sam memulai kehidupan baru, di rumah baru itu, bersama istri dan dua anaknya. Sedang Ramida, dia terpaksa pulang ke rumah besar keluarga Ozage, karena terlalu lama pergi.
"Mbak, saya titip Gavin dan Gilang," ucap Resa.
Kedua babbysitter itu hanya menjawab dengan anggukkan kepala mereka. Sedang Resa keluar dari kamar bayinya. Dia melangkah menuju ruang kerja Sam. Perlahan dia membuka pintu ruang kerja itu. Terlihat Sam nampak stres sambil memandangi layar laptopnya. Sam sama sekali tidak menyadari kehadiran Resa. Sedang Resa terus melangkah mendekati Sam. Dia berdiri dibelakang Sam. Resa melihat jelas apa yang ada di layar laptop Sam.
Foto seksi Vania, dengan lampiran berita-berita tentang Vania. Resa berusaha untuk santai. Dia memijat bahu Sam. Hingga membuat tubuh laki-laki itu terlonjak.
"Sayang?" Sam sangat terkejut dengan kehadiran Resa. Tangannya segera menutup laptopnya.
"Kau rindu dia?" Tanya Resa, lembut.
"Tidak, aku hanya ingin tahu, seberapa besar kebahagiaan dia tanpa aku," jawab Sam.
"Sebelum keinginanmu untuk mengenalkanku pada publik, sebaiknya pikirkan dulu."
"Keputusanku sudah bulat. Aku akan mengumumkan pernikahan kita. Tapi, sebelum itu, kita harus jujur pada mamamu," usul Sam.
Resa membisu, hatinya sangat merindukan ibunya. Dia segera menepis perasaan rindu itu.
"Melahirkan itu sakit. Tapi kenapa Vania benar-benar melupakan bayinya? Bahkan dia tidak pernah menengok keadaan Gilang."
__ADS_1
"Jangan bahas Vania, dia sudah bahagia dengan pilihannya." Sam menarik Resa kepangkuannya. Resa terpaksa menurut. Dia duduk dengan nyaman di pangkuan Sam, sambil menyandarkan wajahnya di bahu Sam. Sedang Sam, kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Sebab apa kamu dulu, jatuh cinta pada Vania? Rasa cintamu padanya, saat kita pertama kali bertemu dulu, terlihat sangat besar."
"Aku tidak tahu, aku hanya merasa nyaman bersamanya." Jawab Sam.
Resa menegakkan tubuhnya. Matanya dan mata Sam, saling beradu pandang. "Apakah kau merasa nyaman bersamaku?"
"Aku tidak tahu. Tapi, yang pasti aku tidak bisa jauh darimu." Sam bermanja pada Resa.
"Cukup! Nanti bablas!" Pinta Resa.
Sam menghentikan kegiatan nakalnya. "Maafkan aku," Sam kembali menyandarkan kepala Resa bersandar di bahunya.
******
Di rumah besar keluarga Ozage,
Pak Bim sudah memperbolehkan semua pelayan menonton televisi. Seperti yang diceritakan Dirga, kalau televisi beberapa minggu kedepan hanya menyiarkan tayangan tentang Vania. Acara Reality Show yang Vania jalani beberapa bulan lalu, mulai menghiasi layar pertelevisian. Acara yang dibintangi Vania sukses besar.
Marina hanya memandangi televisi yang selalu menayangkan wajah Vania. "Bagaimana keadaan Resa dan Vania?" Tanya Marina, pada Ramida.
"Keduanya baik bu, mereka akan kembali setelah melahirkan nanti." Jawab Ramida. Ramida berusaha menutupi kelahiran prematur kedua cucunya, demi kesehatan ibu mertuanya.
Sedang di sudut lain.
Sam tidak pernah menyangka hidupnya akan penuh warna seperti ini. Selama ini kehidupannya hanya bekerja, bekerja dan uhukkk yang satu itu. Bersama Resa, seakan dia mendapat kehidupan dan dunia baru. Mendapat perhatian penuh dari Resa, entah kenapa membuat Sam merasa sangat di hargai.
Resa lebih memilih menyerahkan bayinya, saat melihat Sam datang padanya. Perhatian yang selama ini tidak Sam dapat dari Vania, dia dapat dari istri kedua, yang dulunya sama sekali tidak dia inginkan.
"Kapan kita akan kembali ke rumah? Nenek pasti sangat rindu denganmu, dan nenek pasti sangat bahagia jika mengetahui kedua cicitnya sudah lahir."
"Rasanya aku tidak ingin kembali," Sam menarik Resa kedalam pelukannya.
"Aku baru faham, kenapa Arnaff memilih melepas sahamnya, dan hidup sederhana di desa bersama istrinya. Ternyata, kebahagiaan Arnaff seperti ini, sangat menyenangkan. Rasanya aku tidak ingin kembali, agar bisa memelukmu, setiap saat seperti ini."
"Tapi, aku ingin kembali, aku rindu mama, merasakan bagaimana sakitnya melahirkan, rasa rinduku pada mama semakin besar." Rengek Resa.
Sam tersenyum, dia semakin mengencangkan pelukannya.
*****
Uhukkkk hanya satu kata, tapi bisa mewakili banyak kata yang sulit untuk di jabarkan. Seperti kata Anu! Satu kata, namun bisa mewakili hal yang panjang maupun yang pendek. Tergantung kalimat apa yang mengawali, dan meng akhiri.
Bersambung.
__ADS_1
Aku ada tugas lain sobat, sebab itu aku hanya mampu up 1 episode per hari. 💝