
Tukk! Tuk! Tukk!
Suara langkah kaki seorang laki-laki, membuat keadaan menjadi tegang. Sam bukanlah bos sombong, arogan dan dingin. Tapi, semua para pekerjanya menghormati dia. Saat dia melewati para pekerjanya, semua hening, hanya menundukkan sedikit kepala mereka, sebagai penghormatan mareka.
Namun, langkah kaki Sam pagi ini terasa berbeda, bukan suaranya, tapi aura wajah bos besar mereka itu. Tidak ada yang berani menyapa atau bertanya. Kecuali satu orang yang begitu usil pada Sam. Yaitu Dirga, sepupu Sam. Dia orang kepercayaan Sam, dan memegang jabatan yang lumayan tinggi di Ozage Cryton Group. Laki-laki itu terus tersenyum melihat wajah Sam yang begitu masam
"Pagi Tuan Sam," sapa Dirga.
"Hem," Sam hanya menjawab dengan dehamannya.
"Kenapa wajah Tuan? Apakah selama sebulan ini Nona Vania tidak pulang?" Ejek Dirga.
"Kau beruntung, karena sepupuku, kalau tidak sudah lama kau kutendang dari sini," gerutu Sam. Sam kesal, karena Dirga selalu menggodanya, jika dia sedang kesal seperti ini.
"Anda tidak akan mampu menendang saya Tuan, saya adalah obat penawar darah tinggi Anda."
Pintu lift terbuka, Sam lebih memilih masuk kedalam lift, daripada meladeni Dirga, yang tidak akan pernah ada habisnya. Dirga mengikuti langkah kaki Sam masuk kedalam lift. Lift terus naik ke lantai tujuan mereka.
"Ada apa Tuan yang tidak muda lagi?" Canda Dirga.
"Tidak ada, hanya sedikit kesal pada ibu," jawab Sam.
Dirga menganggukkan kepalanya, sambil membulatkan bibirnya.
"Ibu tidak pernah mengganggu aku dan Vania. Tapi, pertanyaan ibu sungguh membuat hatiku tidak karuan," gerutu Sam.
"Apa Pertanyaan tante?"
"Ibu bertanya padaku. Kebahagiaan apa yang aku dapat bersama Vania?" Jawab Sam.
"Kalau Anda bahagia, pasti sangat mudah anda menjawabnya, misal … Anda bertanya padaku, kenapa aku setia dan patuh pada Ozage Crypton Group. Jawabannya mudah!" Dirga tersenyum pada Sam.
"Apa jawabanmu?" Sam menatap tajam pada Dirga.
"Pegawai di sini cantik-cantik, bisa ku pandang. Tapi tak bisa ku sentuh, karena aturan darimu. Emm … gajih bekerja di sini juga sangat besar, aku setia pada perusahaan ini bukan karena gajih yang besar. Tapi, berkhianat pada perusahaan ini, sama saja aku bunuh diri, pengkhianat Ozage Crypton Group, tidak akan diterima di perusahaan manapun,"
"Jawabanmu kepanjangan!" Gerutu Sam.
Ting!
Pintu lift terbuka, tujuan mereka sudah sampai.
Dirga masih mengikuti langkah kaki Sam. Hingga mereka masuk kedalam ruangan Sam.
"Kau tidak bekerja? Kenapa kau mengikutiku?" Bentak Sam.
"Aku ingin tahu jawaban Anda Tuan," ucap Dirga dengan mudahnya.
"Aku tidak tahu, tapi aku bahagia bersama Vania," jawab Sam.
"Ku rasa masih ada yang kurang," gerutu Dirga.
__ADS_1
"Apalagi?
"Cinta Anda pada Vania tidak pernah terbalas. Aku mengenal Vania lebih dulu, maaf bukan membuka kembali lembaran usang kehidupan Vania. Aku tidak pernah suka pada Vania, karena dia hanya mencintai dirinya sendiri. Kebahagiaan apa yang Anda dapat dari wanita yang hanya mementingkan dirinya sendiri? Apa Anda tidak pernah bertanya itu pada diri Anda? Apa Anda tidak masalah akan hal itu? Andai anda tahu, Kalau mendapatkan cinta dari seseorang itu hal yang paling indah!"
Sam terdiam mencerna kata-kata Dirga.
"Begini saja, berkorbanlah sedikit, Anda alergi dengan susu sapi, minum susu sebanyak yang anda bisa, kita lihat … saat Anda sakit, mana yang Vania pilih. Menjaga Anda atau meneruskan karirnya. Dari situ Anda bisa melihat dan merasakan, apa perasaan Anda."
"Sedikit saja susu itu menyiksa ku! Apalagi banyak!" Sam geram dengan ide Dirga.
"Susu cair itu menyiksa Anda. Tapi susu yang menggantung---"
Plakkk! Sam melempar kalender meja kearah Dirga, namun tidak kena, Dirga berhasil menghindar.
"Kalau tidak mau ya sudah …." Dirga pergi dari ruangan Sam.
Sam melamun, dia terus memikirkan Vania. Dari awal menikah hingga kini, Vania tidak pernah berubah. Sam mengusap kasar wajahhya, dia menepis semua lamunannya, dan melanjutkan pekerjaannya.
****
Di Rumah Sakit.
Dokter tengah memeriksa Marina. Senyuman terukir di wajah dokter. "Sihir apa yang Nyonya Ramida berikan? Keadaan Nyonya Marina sangat bagus! Bahkan kalau kalian mau, hari ini boleh pulang," terang dokter.
"Kalau hari ini boleh pulang, ayoo segera pulang, aku lelah berada di sini," seru Marina.
"Tunggu bu, aku bicara sama dokter dulu ya …." Pinta Ramida.
"Baiklah bu, kita akan segera pulang," seru Ramida, dia menandang kearah Mawan dan Tony.
"Mawan, temani aku keruangan temanku, Tonny … jaga Nyonya besar sebentar," pinta Ramida.
"Iya, Nyonya." Jawab Tony dan Mawan bersamaan.
Ramida dan Mawan langsung pergi dari ruangan Marina, mereka berdua memacu langkah kaki mereka begitu cepat, menuju ruangan ibu Resa.
***
Di ruangan ibu Resa.
Tokkkk tok tokkk!
Tokkkk tok tokkk!
Suara ketukan pintu terus berulang, namun pintu itu tidak kunjung di buka kan.
Dalam ruangan.
"Resa sayang, bangun …." Hayati menempuk bahu Resa.
Resa menggeliat, matanya masih ingin berpejam rapat. "Iya mama …." Jawab Resa.
__ADS_1
"Itu, ada yang mengetuk pintu, ayoo bukain sayang …."
"Iya mah …." Perlahan Resa bangun dan menurunkan kakinya. Kedua kakinya berpijak sempurna di lantai, dia menyeret kakinya yang begitu malas melangkah, berjalan menuju pintu.
Ceklakkk! Pintu terbuka, rasa kantuk Resa lenyap seketika, saat melihat dua sosok yang berada di depan pintu.
"Nyonya …." Sapa Resa.
"Boleh kami masuk?" Tanya Ramida.
"Maaf Nyonya, mari silakan masuk Nyonya," Resa membuka pintu selebar-lebarnya. Setelah Ramida dan Mawan masuk, Resa kembali menutup pintunya.
Hayati heran dengan kedatangan dua orang asing yang berjalan kearahnya.
"Nyonya Ramida, ini mama saya." Resa menujuk kearah Hayati yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Oh, Anda majikan Resa?" Hayati senang, ternyata Resa tidak membohonginya.
"Iya bu, saya yang berkesepakatan dengan Resa. Bagaimana keadaaan ibu?" Tanya Ramida.
"Mulai lebih baik, sepertinya saya bisa pulang secepatnya," jawab Hayati.
"Saya kemari untuk menarik sesuatu," ucap Ramida.
"Menarik apa Nyonya?" Tanya Resa.
"Menarik jatah liburmu, maaf, kerena ibuku terus menanyakan kamu." Terlihat raut kesedihan di wajah Ramida. Dia harus mengajak Resa pergi, padahal ibu Resa juga membutuhkan Resa.
Ramida memandang ke arah Hayati. "Bu … apa ibu keberatan kalau Resa harus ninggalin ibu? Maaf bu, karena saya, Resa tidak bisa menjaga ibu," ucap Ramida.
"Saya tidak keberatan sama sekali Nyonya," jawab Hayati.
"Sebagai ucapan terima kasih saya, saya sudah sediakan kontrakan baru buat ibu nanti, di sana juga saya sediakan pembantu yang akan menemani ibu, Resa memang tidak bisa di ganti. Tapi, saya berharap, bantuan saya bisa membantu ibu," ucap Ramida.
"Mimpi apa Resa, hingga dia bisa bertemu dengan orang sebaik Anda," ucap Hayati.
"Anak ibu yang baik, sampai-sampai mertua saya menyukai dia," terang Ramida.
Obrolan hangat Ramida, Hayati dan Resa, terus berlanjut. Sedang Mawan hanya diam, dia duduk lesehan di lantai, menunggu urusan majikannya selesai.
"Besok jam 9, kamu saya tunggu di depan Rumah Sakit, maafkan saya, karena kamu harus bekerja, padahal ibu kamu masih membutuhkanmu," ucap Ramida.
"Tidak apa-apa Nyonya, saya bahagia, Resa punya majikan yang sayang padanya," sela Hayati.
Selesai keperluannya dengan Resa, Ramida dan Mawan langsung pergi dari ruangan Hayati.
******
Bersambung.
*****
__ADS_1