Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bonus Chapter 3


__ADS_3

Moresa PoV


Apakah suamiku ini gila atau tidak tau malu? Dia seperti tidak punya mata. Di mana saja, jika dia tidak ada pekerjaan, dia selalu menempel padaku bagai perangko. Tanpa ada rasa malu dan risih pada orang-orang yang ada di sekitar kami. Yah … walaupun itu keluarganya.


Aku seakan memiliki 3 bayi yang tidak bisa lepas dari tubuhku. Gavin, selesai memberikan dia ASI sam langsung memberikan Gavin pada babysitter, begitu juga Gilang. Tidak bisa lama-lama bersama dua bayi manis ini. Papanya ingin berkuasa seorang diri dengan ibu dari Gavin dan Gilang.


Aku mesti bahagia atau kesal? Sam terlewat manja. Tapi … tak bisa kupungkiri, aku juga menyukai Sam seperti ini, tapi jika ini dilakukan di tempat rahasia kami. Sam selalu menempel walau di luar kamar, ini yang membuat malu dan risih.


Lima tahun berlalu, Sam masih saja seperti biasa. Tidak berubah sedikitpun. Sore ini aku merasa seperti anak kecil. Duduk di pangkuan Sam. Sam juga mengurung tubuh ini dengan tangan yang dia lingkarkan di pinggangku. Rasanya aku kehilangan muka, melihat ibu dan nenek senyum-senyum melihat kami.


Kupukul pelan bagian dadanya.


"Awww!" Sam meringis.


"Lepaskan aku!" Pintaku.


Dia menggeleng, malah semakin memper erat pelukannya. Astaga … maafkan kami bu …. jerit batinku.


"Santai saja Resa, ibu dan nenek maklum, laki-laki itu baru merasakan bagaimana punya istri sesungguhnya," ucap ibu.


Ini yang membuatku mengalah. Mendengar bagaimana dua tahun pernikahan Sam dan Vania, membuat batinku begitu tersiksa, kasihan pada laki-laki yang kini memangku diriku.


Author POV


Jena merubah posisi duduknya. Dia membelakangi Sam dan Resa. Melihat Sam yang mengurung Resa dalam pangkuannya, juga melihat Resa yang mengalungkan sebelah lengannya di punggung Sam, membuat darahnya berdesir melihat pemandangan itu. Bukan tidak mampu melihat karena dirinya jones, tapi menjaga mata sucinya dari pemandangan yang aduhai.


Membelakangi sepasang suami istri itu  strategi ampuh, dia terus menjaga majikannya yang duduk di kursi roda.


Sam benar-benar bahagia. Rasanya dia baru terlahir kembali. Melihat Resa yang begitu menyayangi dua bayi laki-laki itu, walaupun yang satunya bukan putra kandungnya. Tapi, Resa tidak membedakan diantara keduanya. Kini Gavin dan Gilang bukan Bayi lagi. Mereka anak-anak tampan yang mewarnai kediaman keluarga Ozage semakin berwarna.


Sam masih memangku ibu dari dua anaknya.


Ting tong!


Suara bel pintu, membuat semuanya menoleh kearah pintu. Melihat tidak ada pembantu yang berjalan kearah pintu. Ide muncul di kepala Resa.


"Sayang … lepas sebentar." Resa berusaha lepas dari tubuh Sam.


"Ada pembantu, kamu diam saja." Sam kekeh tidak mau melepaskan tubuh Resa.


"Sayang … pembantu mungkin sibuk, Pak Bim mungkin masih di belakang, kalau Jena, dia menjaga Gilang.

__ADS_1


Ting tong!


Bel pintu berbunyi kembali.


Marina dan Ramida hanya mengulum senyuman mereka. Mereka sungguh bahagia melihat tingkah Sam seperti itu.


"Ya sudah …." Sam pasrah, dia melepaskan Resa.


Resa berjalan kearah pintu, setelah membuka pintu. Terlihat tiga orang dewasa dan seorang anak perempuan cantik yang seumuran Gavin dan Gilang.


"Nadira sayang …." Resa membungkukan sedikit badannya dan membuka kedua tangannya, menyambut anak perempuan cantik itu.


"Onty Resa … apa kabar?"


"Onty baik. Cantik." Resa melepaskan pelukannya pada Nadira.


"Silakan masuk semuanya." Resa menegakkan tubuhnya, dan mengajak tamunya masuk kedalam rumah.


Melihat siapa yang datang, membuat senyuman terukir begitu indah di wajah Marina dan Ramida.


"Nak Arnaff, apa kabar sayang?" Ramida berjalan mendekati Arnaff.


"Kami semua sedang santai Arnaff, ayok semuanya duduk." Sam mengajak tamunya untuk duduk.


Resa mengerti apa maksud Arnaff. "Mbak-mbaknya, ayok ikut saya, kita bawa Nadira kedalam. Dia pasti lelah."


"Resa sayang … kamu sini!" Sam menepuk sofa disebelahnya yang masih kosong.


"Iya sayang, nanti aku balik sekalian ke dapur minta mbak bikin minuman buat kita semua." Resa mengajak dua pengasuh Nadira menuju ruangan bermain Gavin dan Gilang.


Diruangan lain Gavin dan Gilang asik bermain, dijaga oleh dua pengasuh mereka.


"Sayang … lihat siapa yang datang!" Resa berucap begitu semangat.


"Ada kak Nadira, ayok main sini kak!" Ajak Gavin.


"Mama mau temenin papa sama papa Nadira, kalian temenin kak Nadira ya," pinta Resa pada dua putranya.


"Iya mah." Sahut Gavin dan Gilang bersamaan.


"Mbak, titip anak-anak ya." Resa undur diri dari sana.

__ADS_1


Di ruang tamu.


Ramida langsung mendekatkan kursi roda Marina mendekat kearah sofa tamu. Sedang dia duduk di sofa yang terdekat dengan mertuanya.


"Ada apa Arnaff?" Tanya Ramida.


"Ibu saya, nenek Nadira, meminta saya menikah lagi." Suara Arnaff begitu berat.


Sam menepuk lembut bahu Arnaff. "Aku mengerti bagaimana perasaan kamu, kamu sangat mencintai Ismi, dan sangat sulit untuk menikah lagi. Karena aku pernah di posisi seperti ini, saat aku masih sangat mencintai Vania, tiba-tiba ibu memintaku menikah lagi." Sam teringat kilas balik pernikahannya dengan Resa.


"Bagaimana aku bisa menikah lagi? Hatiku hanya penuh dengan Ismi." Arnaff membiarkan air mata lepas dari pelupuk matanya.


"Arnaff, pikirkan Nadira. Apa kamu rela selamanya Nadira tumbuh hanya bersama neneknya dan dua pengasuhnya?"


"Menikahlah demi Nadira sayang. Nadira butuh figur seorang ibu." Marina menimpali.


"Perasaan akan muncul di belakang. Dulu aku sangat benci pada Resa. Berharap setelah dia hamil dan melahirkan, dia pergi jauh dariku. Ternyata keadaan berkata lain. Aku malah tidak bisa jauh dari Resa. Sekarang saja aku mau jadikan Resa sekretaris keduaku." Senyuman nakal terukir di wajah Sam.


Arnaff meneruskan ucapannya. "Aku tidak mau menikah, karena aku takut jatuh cinta lagi, lalu aku melupakan Ismi. Aku juga takut kalau tidak bisa menerima istri baruku. Bagaimanapun, seorang istri butuh kasih sayang dari suaminya."


"Sayang … Ismi sudah pergi. Kamu tau, saat orang itu meninggal, dia ingin orang yang dia tinggalkan itu meraih kebahagian yang baru. Percayalah sayang. Kalau kamu dan Nadira bahagia. Ismi di alam sana juga bahagia."


Kedatangan Resa bersama dua pembantu yang membawa minuman dan cemilan menghentikan obrolan Arnaff dan yang lainnya. Para pembantu langsung pergi dari sana. Sedang Resa langsung duduk di samping Ramida, dengan nyamannya dia menyandarkan kepalanya di bahu Ramida.


"Resa … kau dan Sam, saat awal pernikahan, diantara kalian tidak ada perasaan apa-apa. Bagaimana perasaanmu waktu itu?"


"Aku hanya pasrah. Aku tidak menyalahkan Sam, karena tidak bisa menerimaku sebagai istrinya, dan aku kagum padanya, dia laki-laki yang setia, sedang aku ... aku hanya pasrah dengan garisan hidup yang tergaris untukku."


"Kenapa kau bertanya hal itu pada Resa!" Sam geram karena Arnaff mengajak Resa bicara. Sam tidak suka istrinya ber interaksi dengan orang lain.


"Kau ini, ingin menjadikan Resa sekretaris, melihat Arnaff bicara dengan Resa saja kau Marah." Ramida menggeleng sendiri.


"Tidak apa-apa Tante. Maafkan aku Sam. Aku hanya ingin tahu, bagaimana perasaan wanita yang dinikahi tanpa cinta." Arnaff menepuk punggung Sam.


"Menurut nenek, setujui saja permintaan ibumu. Menikahlah demi kebaikan Nadira. Pandang dan nilai dengan hatimu. Apakah dia perempuan yang tepat untuk jadi ibu Nadira? Kalau kamu tidak suka, kamu boleh membatalkannya. Lalu beri alasan yang tepat untuk menolaknya." Marina akhirnya memberikan pendapatnya.


Arnaff langsung bertanya. "Bagaimana kalau aku menyukai perempuan yang akan di kenalkan ibu?"


"Ya nikahi saja dia!" sela Sam.


Mendengari segala masukan dan nasehat dari Ramida dan Marina. Membuat Arnaff yakin untuk membuka lembaran baru, yang akan menjadi ibu sambung bagi Nadira.

__ADS_1


Selesai dengan maksudnya. Arnaff pun langsung pulang bersama Nadira dan dua pengasuhnya.


 


__ADS_2