Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 61 Bernyanyi


__ADS_3

Dirga berusaha menahan rasa nano-nano yang dia rasa. Rasa sedih, rasa senang dan rasa mual melihat akting Vania. Dirga memberikan tisu pada Vania. Vania menerima tisu yang Dirga berikan, dan langsung mengusap air matanya.


Rekan-rekan media yang ada di ruangan itu, hanya diam. Mereka turut sedih melihat raut wajah Vania. Salah satu wartawan perlahan mengangkat tangannya, untuk bertanya. Rekan wartawan yang lain memberikan mik yang dia pegang pada wartawan yang mengangkat tangannya barusan. Melihat isyarat tangan dari Dirga, kalau dia boleh mengajukan pertanyaan. Dia segera mendekatkan mik pada mulutnya.


"Di mana Tuan Sam? Mengapa dia tidak ikut dalam acara ini?"


Vania terus akting dengan wajah sedihnya. "Saat istrimu pergi tiba-tiba, apakah kamu akan merasa baik-baik saja?" Vania balik bertanya.


Wartawan itu kembali duduk ketempat duduknya. Dia merasa bersalah dengan pertanyaannya.


"Ada pertanyaan lagi?" Tanya Dirga.


Salah satu wartawan mengangkat tangannya. Dirga mempersilakan dia bicara.


"Anda baru melahirkan, bayi Anda akan tinggal dengan siapa Mbak Vania?"


Vania langsung meraih mik nya. "Bayiku, akan tinggal bersama Sam. Cukup nama Sam yang aku bawa dalam hatiku, dan aku merelakan buah cintaku dan Sam, bersama Sam. Ini keputusan yang tepat. Karena ibu kedua bayiku, orang yang penuh cinta."


Keadaan hening kembali. "Ada pertanyaan?" Sela Dirga.


Para wartawan hanya diam. Acara pun selesai. Perlahan awak media membubarkan diri. Sedang Vania mengikuti Dirga, untuk mengambil berkas kerja sama, yang di janjikan Dirga. Setelah mendapatkan apa yang dia dapat. Dengan entengnya Vania melenggang pergi begitu saja dari rumah besar keluarga Ozage. Tanpa menengok keadaan bayinya.


*******


Acara sudah selesai. Urusan dengan Vania juga selesai. Dirga perlahan mendekati Sam.


"Bagaimana acaranya?" Tanya Sam. Dia menyadari kedatangan Dirga.


"Sudah beres, tinggal itungan jam. Berita ini akan mengemuka." Jawab Dirga.


"Vania?"


"Vania sudah pergi Tuan. Wanita seperti Vania, yang masih tebuai dengan angan dan obesesinya. Dia tidak akan menyesal, dia baru menyesal saat dia merasa sendirian. Saat sendiri, kita baru sadar, kalau keluarga dan sahabat terasa lebih berarti dari apa yang ada dalam genggamannya." Terang Dirga.


"Vania sudah bahagia dengan mimpinya, sedang aku? Aku punya impian baru, Resa dan anak-anak kami. Tapi, Resa malah pergi meninggalkan kami." Sam pergi dari tempatnya saat ini. Dia melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Persiapan ulang tahun Sam, terasa hambar. Karena rumah besar itu di selimuti kesedihan. Tapi, persiapan sudah selesai, undangan juga sudah tersebar. Acara malam ini tetap akan berlanjut.


************

__ADS_1


Di hotel tempat Resa dan Hayati menginap. Dari tadi Hayati mencari mobil untuk di sewa. Tapi, sampai sekarang dia belum dapat. Hayati tidak menyerah, akhirnya, dia mendapatkan 1 unit mobil dan sopirnya, untuk membawa dia dan Resa pergi dari kota ini.


Hayati mempersiapkan semua keperluan mereka. Sedang Resa, menunggu kurir khusus yang akan mengantarkan Asi yang dia pompa dari tadi malam. Setidaknya bisa menambah sedikit stok untuk Gavin dan Gilang.


Semua persiapan selesai, kurir khusus sudah meluncur, mobil rentalan pun sudah menunggu. Selesai mengurus semua sisa pembayaran dengan pihak hotel. Akhirnya Resa dan Hayati memulai perjalanan panjang mereka. Hayati memilih jalur sepi. Untuk menghindari dari petugas yang pastinya, berkeliaran di jalana raya. Yang Sam utus untuk mencari mereka.


Jalanan yang di lalui sangat sepi. Kiri kanan hanya ada hutan yang lebat. Membuat Resa ketakutan.


"Mah …." Resa memegang bahu Hayati erat.


Mobil yang membawa Resa dan Hayati berhenti di tengah perjalanan.


"Ada apa Pak?" Tanya Hayati.


"Kalian berdua turun!" Bentak sopir itu.


"Apa-apaan ini!" Teriak Hayati


Tiba-tiba dua orang laki-laki muncul dari arah kursi belakang, dan langsung membekap Hayati dan Resa. Mereka langsung menurunkan Resa dan Hayati. Hayati berusaha berontak.


Resa tidak berani berontak, mengingat tenaganya kalah kuat, terlebih dia merasa masih rentan. Karena baru beberapa bulan turun mesin. "Mama! Sudah! Biarkan mereka membawa semuanya!" Teriak Resa. Resa tidak bisa membantu ibunya yang melakukan perlawanan. Karena dirinya juga di tahan orang satunya.


"Mamaaaa!" Teriak Resa.


Mobil yang mereka sewa langsung pergi meninggalkan Hayati dan Resa di tengah jalanan yang sepi. Resa menangis. Dia melepas Cardigannya untuk menahan darah yang keluar dari bekas tusukkan itu.


"Mamaaa, kenapa mama melawan? Biarkan saja harta kita hilang, asal kita selamat!" Resa terus menangis sambil memeluk ibunya.


"Mama ingin mempertahankan walau sedikit. Kalau kita tidak punya apa-apa, nanti kamu melakukan cara yang sama lagi." Napas Hayati terdengar sedikit memburu


"Mamaaa." Resa hanya bisa menangis. Pikirannya kosong, bagaimana meminta pertolongan. Jalanan ini sangat sepi. Ponselnya dia tinggal di rumah Sam. Sedang ponsel mamanya di bawa oleh perampok itu, bersama harta benda mereka yang lain.


Hampir satu jam mereka duduk di tengah jalan. Dari kejauhan nampak sebuah mobil dengan bak terbuka melintas di jalan itu. Resa segera berdiri, untuk meminta bantuan pada pengemudi itu. Perlahan mobil itu menurunkan kecepatannya.


Resa segera melangkah mendekati sang sopir. "Pak! Tolong kami Pak! Mama saya terluka."


Tanpa menjawab permintaan Resa, tiga orang yang ada dalam mobil itu langsung turun memeriksa keadaan ibu Resa.


"Neng, apa neng keberatan duduk di bak belakang?" Tanya salah satunya.

__ADS_1


"Tidak masalah Pak, yang penting mama saya bisa di bawa ke Rumah Sakit terdekat."


Setelah naik keatas bak terbuka mobil itu, Resa memangku ibunya. Di temani salah satu laki-laki teman sopir itu. Perlahan mobil itu melaju meninggalkan jalanan itu.


Pikiran Resa seakan kembali pada pertemuan pertamanya dengan Ramida. Saat yang sama terulang lagi. Tanpa uang sepeserpun, dia harus membawa ibunya ke Rumah Sakit.


Perjalanan lumayan panjang, akhirnya mobil yang di tumpangi Resa sampai di Rumah Sakit. Resa hanya bisa mengucapkan terima kasih pada tiga penolongnya.


Hayati langsung di tangani di UGD, perasaan Resa sungguh kacau. Bagaimana dia membayar semua ini. Uang mereka dibawa kabur rampok itu. Keadaan UGD sedikit ramai. Santar terdengar ada kecelakaan di sana. Resa memilih duduk di ruang tunggu, menanti tim medis menangani ibunya.


"Bagaimana ini? Malam ini kita harus pentas! Sedang artis kita kecelakaan!" Orang yang berada di samping Resa memaki-maki seseorang yang berbicara di telepon dengannya.


"Saya tidak mau tau! Carikan penyanyi pengganti! Saya tidak mau malu! Akan saya bayar berapapun! Asal dia bisa mengisi acara malam ini!" Orang di samping Resa masih betah memaki-maki lewat telepon itu.


"Apa?! Di kota seluas ini, tidak ada yang bisa mengganti!" Orang itu menendang sesuatu, Membuat tubuh Resa sedikit terlonjak. Resa menoleh kearah orang itu, orang itu menyimpan ponsel kedalam sakunya. Sedang wajahnya terlihat sangat muram.


Bernyanyi? Di bayar berapapun? Geritik hati Resa. Ide muncul dalam pikirannya.


"Saya bisa sedikit kalau menyanyi, dengan syarat, Anda membayar pengobatan mama saya." Resa memberanikan diri untuk bicara.


"Coba saya dengar!" Pinta orang itu.


"Tidak baik menyanyi di sini, di sini banyak yang sakit." Sela Resa.


"Satu bait, saya bisa mengenali kamu bisa bernyanyi atau tidak!" Pinta orang itu.


^Kini Tiada lagi … yang dapat kurasakan~~ Tulus Cinta, dari dirimu, sayang~~~


Aku telah kau sisihkan, tanpa ada kesalahan, dan terpaksa~~ ku harus merelakan~~~^


Orang itu terpaku mendengar nyanyian Resa.


"Bagaimana Pak?"


Orang itu terlonjak saat mendengar pertanyan Resa.


"Heru!" Orang itu mengenalkan diri, sambil mengulurkan tangannya.


"Resa!" Resa menyambut uluran tangan laki-laki itu sambil mengenalkan diri.

__ADS_1


__ADS_2