
Hai sobat onlineku, maaf baru menyapa kembali, aku kasih bonus chapter ini untuk karya ini, tapi hanya sedikit. Mohon maaf kalau bonus Chapternya tidak sesuai harapan sobat. Peluk online semua sobatku 🤗🤗🤗
***************
Hari besar perusahaan Ozage Crypton Group. Membuat Resa harus tampil kedepan umum sebagai istri Sam. Resa masih belum siap tampil lagi kedepan umum. Tapi tuntutan sebagai Nyonya Ozage, membuat Resa mau tidak mau harus tampil mendampingi Sam.
Resa sudah selesai di rias oleh petugas make up artis ternama di Negara ini. Kini di kamar rias itu hanya tinggal Resa dan Hayati.
"Mama … bagaimana penampilanku?"
"Kamu sangat cantik sayang. Sana pergi. Sam pasti sudah lama menunggu." Hayati meyakinkan putrinya.
"Gavin dan Gilang, gimana Mah?"
"Ini sudah malam, mereka gak akan nyariin kamu, sudah sana pergi, nikmati pestanya, sayang."
Resa berulang kali menarik napasnya begitu dalam, dan menghembuskannya perlahan. Setelah merasa sedikit lega, dia segera menemui Sam yang pastinya sudah menunggunya di ruang tamu.
Di ruang tamu kediaman keluarga Ozage, di sana ada Arnaff dan Dirga. Semua mata langsung memandang kearah tangga, di sana seorang perempuan cantik begitu anggun melangkah menuruni anak tangga.
Melihat istrinya jadi pusat perhatian. Sam langsung menutup mata kedua sahabatnya dengan berkas yang dia pegang. "Jaga pandangan kalian! Dia istriku! Tidak boleh memandanginya terlalu lama!"
Pak Bim yang setia berdiri di samping majikannya hanya bisa menahan senyumannya.
"Selamat malam semuanya." Resa menyapa orang-orang yang duduk di sofa tamu itu.
"Selamat malam Nyonya." Hanya Pak Bim yang berani menjawab.
"Sayang, kapan kita berangkat?"
__ADS_1
"Kenapa kau berdandan secantik ini?" Wajah Sam sangat tidak senang melihat penampilan Resa.
"Kalau aku tidak tampil cantik, paling Fans berat Vania akan menyandingkanku dengan idola mereka itu, lalu menghujatku dan memuji-muji junjungan mereka." Senjata ampuh Resa agar Sam berhenti mengomentari penampilannya.
Resa memandang kearah Arnaff. "Tuan Arnafff. Nadira sama siapa?"
"Nadira sama ibuku." Jawab Arnaff.
Sam terkejut dengan jawaban Arnaff. Setahu Sam. Saat Arnaff menikahi Ismi, dia melepas semua sahamnya dan hubungan Arnaff dengan kedua orang tuanya renggang. Sebab kedua orang Tua Arnaff tidak merestui pernikahan Arnaff dan Ismi.
"Kapan kamu baikan sama ibumu?" Tanya Sam.
"Mau bahas di sini apa sambil jalan?" Dirga menyela.
Sam melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kita berangkat sekarang!" Seru Sam.
Mereka pun berangkat bersama dengan satu buah mobil. Dirga bertugas menyetir. Sedang Arnaff duduk di depan di samping Dirga. Sedang Tuan dan Nyonya itu duduk berdampingan di kursi belakang. Perlahan mobil itu meninggalkan rumah besar Ozage, menuju gedung Ozage Crypton Group.
Dirga menggenggam begitu kuat setiran mobilnya. Sumpah demi apapun,dia sangat menyesal menyetujui permintaan Arnaff agar pergi satu mobil dengan pasangan suami-istri ini.
Sedang Arnaff berusaha melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya. Dia baru faham, kenapa Dirga menjaga jarak dengan Sam. Jika Sam bersama istrinya. Tapi perjalanan sudah terlanjur di mulai.
Satu laki-laki jomblo yang belum beruntung mendapatkan tambatan hati yang tepat. Sedang yang satu, duda anak satu, yang belum berani membuka lembaran baru untuk sebuah pernikahan.
"Berhenti!" Resa tidak tahan lagi dengan ulah Sam yang sungguh tidak tahu malu.
Sam segera menggeser tempat duduknya, dia sungguh bahagia, Resa istri yang sangat patuh dan penurut.
"Kapan kau berbaikan dengan kedua orang tuamu, Naff?" Sam berusaha membuka topik pembicaraan.
__ADS_1
"Saat mendengar Ismi meninggal. Ibu datang ke desa, lalu mengajakku untuk kembali ke rumah. Awalnya aku menolak. Tapi melihat Nadira yang butuh keluarga, aku setuju untuk pulang," jawab Arnaff.
Sam faham kalau Resa tidak mengerti. "Pernikahan Arnaff dan alamarhum Ismi, tidak direstui oleh kedua orang tua Arnaff." Sam menepuk telapak tangan Resa yang berada dalam genggamannnya.
"Ibu datang, mengetahui Ismi telah tiada. Andai Ismi masih hidup. Aku yakin, ibu tidak akan datang memintaku untuk pulang." Arnaff mengeluarkan rasa sesak yang memenuhi hatinya.
"Belum tentu juga Tuan, mungkin Ibu Leti rindu Anda, apalagi saat beliau tau, kalau beliau punya cucu." Dirga menyela pembicaraan Arnaff dan Sam.
"Dirga benar. Andai Ismi masih hidup. Pasti Tante Leti akan datang dan menerima kalian semua." Sam menepuk pundak Arnaff.
"Selama hamil, Ismi sangat merindukan kehangatan keluarga, dia terus menceritakan sosok adik perempuannya yang bernama Rian dan Reshi. Dia sangat menyayangi keluarganya. Tapi saat itu, keluarga Ismi belum bisa datang, karena Rian dan Reshi tidak bisa meninggalkan kuliah mereka. Sedang kedua orang tuaku, tidak mau menerima dirinya. Selama hamil sepertinya dia stres--" Arnaff tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
"Di mana keluarga ibu Nadira? Kenapa saat Anda dinas keluar kota, Anda bingung siapa yang merawat Nadira." Resa mengingat selama seminggu dia merawat Nadira yang baru lahir.
"Saat itu, keluarga Ismi baru dapat kabar kalau Ismi meninggal, perjalanan mereka cukup jauh, tempat tinggal Ismi desa yang begitu tertinggal. Untuk keluar desa saja, perlu waktu sehari. Al-hasil, dari desa mereka sampai ke desa kami, perlu waktu 3 hari. Sebenarnya kedua orang tua Ismi di hari keempat sudah sampai. Tapi aku meyakinkan mereka, kalau Nadira dua asuh oleh keluarga yang tepat." Arnaff teringat saat dia pertama kali bertemu Resa, yang saat itu tengah hamil.
"Jauh juga. Di mana Anda dan Ismi bertemu?" Tanya Resa.
"Ismi, bekerja sebagai office girl, di kantorku." Arnaff tersenyum, terbayang akan kisah cintanya dengan wanita yang bernama Ismi, yang kini telah pergi untuk selama-lamanya, dan meninggalkan seorang putri cantik untuknya.
Pembicaraan mereka terhenti. Kini mereka sampai di gedung Ozage Cryton Group. Sam dengan bangga menggandeng lengan istrinya memasuki ruangan megah itu. Sorot pandangan mata tamu yang ada di ruangan itu, terfokus pada Resa dan Sam. Bukan hanya pandangan mata para tamu. Tapi, juga sorot kamera yang ada di ruangan itu. Mereka mengabadikan momen langka ini.
Acara perusahaan berjalan lancar. Suar riuh tepukkan tangan menggema di ruangan itu. Ada perasaan kosong dalam diri Arnaff, ketika melihat Resa dan Sam berdansa romatis di depan sana. Belum lagi pemandangan indah yang dia lihat, para pegawai perempuan yang mengenakan gaun pesta yang terbuka. Membuat jiwa lelakinya bangkit.
"Kenapa Bro? Sesak ya?" Goda Dirga, saat dia menangkap basah Arnaff yang berulang kali menelan saliva-nya melihat pemandangan indah di depan mata mereka.
"Memangnya kamu enggak? Secara kamu juga butuh pasangan, bukan?"
"Aku mah, memang butuh, tapi aku belum tau rasa yang satu itu, sedang kamu sudah khatam. Melihat gitar spanyol yang bernyawa, pasti kamu menjerit. Bukan?" Dirga tidak mau kalah.
__ADS_1
Arnaff kekurangan Amunisi jika melawan Dirga. Dia membiarkan Dirga terus menggodanya.
Â