
Vania sangat puas, karena mendapatkan tandatangan Sam. Selesai Sam membubuhkan tandatangannya. Dia memberikan berkas itu pada Vania kembali. Sam menarik Vania agar duduk bersila diatas tempat tidur itu. Mereka berdua saling berhadapan. Sam menangkup wajah Vania dengan kedua telapak tangannya. Terlihat wanita itu akan membuka mulutnya.
"Tenang, tanganku sudah bersih!" Sam tahu, apa yang akan di lontarkan Vania. Perkataannya berhasil membuat Vania diam.
Sam memandangi wajah Vania lekat.
"Sayang, aku sangat cinta sama kamu, perempuan seperti apapun tidak akan mengalihkan rasa cintaku. so jangan memikirkan bentuk tubuhmu, seperti apapun kamu, aku tetap cinta.
"Heleh! laki-laki memang begitu, katanya suka perempuan yang alami. Alami menurut kalian itu, tidak buluk, tidak kucel, tidak jerawatan, tidak gendut, tidak dekit, tidak kusam, wangi--" Vania tidak bisa meneruskan ucapannya. Sam sekilas menyatukan bibir mereka.
"Stop sayang, kapan kamu percaya padaku? Kamu tahu sendiri dan melihat sendiri, ibu dan nenek saja aku kesampingkan, demi mengutamakan kamu, apakah itu masih kurang? Sayang, segala hal yang aku berikan bukan untuk memanjakan kamu. Tapi, untuk menyampaikan, kalau kamu sangat berharga bagiku." Sam menarik napasnya begitu dalam. Untuk mengupulkan energi, agar lebih tenang untuk melanjutkan perkataannya.
"Sayang, aku menuruti semuanya, apapun yang kamu mau, bukan aku takut padamu. Aku selalu menyetujui kemauanmu walau terkadang selalu berlawanan dengan keinginan hatiku. Tapi demi kebahagiaanmu, aku rela memotong kebahagiaanku. Kamu jadi publik figur. Sebenarnya aku tidak rela, kecantikan istriku, dinikmati oleh semua orang. Tapi, hal itu membuat kamu bahagia. Aku setuju, karena itu kebahagiaan kamu. Kebahagiaan kamu diatas kebahagiaanku, demi kamu, aku rela melepas apa saja."
Vania menggaruk kepalanya yang tidak gatal wajahnya nampak bosan mendengari ucapan Sam.
"Sayang, sekarang kita akan punya anak, demi anak kita. Aku tidak memintamu berhenti dari dunia Intertaiment. Tapi, kurangi. Apa yang kamu dapat di sana? Kamu sudah punya segalanya. Kamu juga sudah punya keluarga yang mencintai kamu. Ibu, nenek dan aku."
Sam meneruskan kembali ucapannya. "Uang? Kamu istri seorang Samuel Ozage. Segalanya kamu punya. Kesenangan? Semua itu tidak ada habisnya sayang."
"Dari kata-katamu yang panjang kali lebar itu, apa maumu?" Bentak Vania.
Astaga! Wanita ini ….
Ringis hati Sam.
"Aku ingin perhatian dari kamu, jangan sampai aku mendapatkan perhatian dari wanita lain." Ucap Sam.
Vania melepaskan tangan Sam yang masih menangkup wajahnya.
"Memang wanita seperti apa yang bisa menarik perhatianmu?" Vania mendorong Sam. Hingga membuat Sam tertelentang diatas tempat tidur. Vania naik keatas sambil melakukan kemahirannya.
Sam langsung mendorong Vania kearah samping.
"Laki-laki tidak cuma butuh hal ini sayang, kami juga butuh cinta, kasih sayang, perhatian, pengertian dari pasangan kami."
"Heleh!" Rengek Vania.
Sam melepaskan dirinya. Dia bangun dari posisinya dan duduk di sisi tempat tidur. Sam terus memutar otaknya terus bekerja untuk menyadarkan Vania. Sam sangat takut, saat ini hatinya mulai goyah. Tapi, Vania. Sama sekali tidak berubah.
"Sudah selesaikan pembicaraan kita? Aku mau mandi dulu!" Seru Vania. Dia langsung pergi meninggalkan Sam.
Vania … aku sama sekali tidak ingin melepaskan kamu, tolong raih uluran tanganku ini, Vania.
Gerutu Sam.
*****
Suasana di luar Villa itu sangat ramai. Karena para pekerja mulai melakukan tugas mereka. Di sela-sela sore yang menegangkan bagi para pekerja. Sebuah mobil memasuki halaman Villa itu. Tampak seorang pemuda turun dari mobil itu. Dia melempar senyumannya kearah Beberapa orang yang duduk di teras villa itu. Langkah kakinya dia percepat. Agar sampai lebih cepat pula.
"Selamat sore, tante, nenek, Jena ...." Sapanya.
"Selamat sore juga Dirga." Sahut Ramida dan Marina bersamaan.
Dirga memandang kearah bagian dalam Villa itu. Ada sesuatu yang dia cari.
__ADS_1
"Ada apa, Dirga?" Tanya Marina.
"Pelayan nenek, yang satunya mana?" Tanya Dirga langsung, tanpa basa-basi.
"Resa?" Tanya Jena.
"Iya." Jawab Dirga. Tapi, pandangan mata itu masih melirik kearah pintu.
"Dia tidak akan keluar, karena di sini ramai, banyak pekerja," jawab Jena.
Marina dan Ramida, diam. Keduanya memandangi wajah Dirga dengan tatapan sendu.
"Kau menyukai Resa?" Tanya Ramida.
Dirga tersenyum kecil, telunjuk tangan kanannya menggaruk sisi telinga kanannya. "Tapi, dia tidak suka padaku, tante," jawab Dirga, langsung.
"Dia bukan tidak suka pada Anda, Tuan Dirga. Kurasa dia hanya setia dengan suaminya." Sela Jena.
"Jena benar, dia hanya setia, Dirga." Marina menambahi.
Sekilas terdengar suara tangisan bayi. Namun, hanya sebentar. Tangisan itu tidak lagi terdengar. Marina tersenyum sendiri mendengar hal itu.
"Resa memang wanita luar biasa. Andai suaminya masih tidak menginginkan dia. Ku harap, dia mau bekerja di sini, untuk merawat kedua cucu kita." Seru Marina.
"Kita lihat nanti, bu." Jawab Ramida.
"Anak siapa itu?" Tanya Dirga.
"Bayi Arnaff, Arnaff terpaksa tugas keluar kota. Kasian dia, padahal istrinya baru meninggal kemaren." Ucap Ramida.
"Istri Arnaff meninggal?" Dirga terkejut mendengarnya.
"Boleh aku melihat bayi Arnaff?" Tanya Dirga.
"Masuk saja, bayi Arnaff ada di ruangan tengah, dia bersama Resa." Jawab Ramida.
Dirga langsung masuk kedalam Villa. Dia terus melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Dari jauh sudah terlihat, seorang wanita duduk lesehan di atas matras yang lumayan tebal. Pandangannya fokus memandangi bayi yang ada dalam dekapannya, sambil memegang botol bayi. Yang berisikan cairan putih itu.
"Kasihan sekali bayi manis itu."
Resa tersentak, saat mendengar suara itu. "Tuan Dirga, maaf saya tidak menyadari kedatangan Anda," jawab Resa.
"Ck! Ck! Ck! Tuan? Pangkatmu lebih tinggi dariku, kenapa kau memanggilku Tuan?" Dirga langsung duduk di sisi matras tebal itu. Sambil memandangi bayi mungil itu.
"Siapa namanya?"
"Nadira." Jawab Resa.
Resa merasa risih, karena di ruangan ini hanya ada dia dan Dirga. Terlebih pandangan Dirga yang selalu tertuju kearahnya.
"Sejak kapan kau di sini?" Pertanyaan itu membuat Dirga dan Resa kaget. Tapi, Resa merasa lega. Saat melihat kedatangan Sam. Sam berjalan kearah mereka.
"Baru saja, aku hanya ingin melihat bayi Arnaff." Jawab Dirga.
Sam berjalan kearah Resa. Dia duduk di samping Resa. "Sini, berikan Nadira padaku." Pinta Sam.
__ADS_1
Perlahan bayi mungil itu berpindah tangan. Setelah Nadira berada dalam gendongannya. Sam memberikan Nadira pada Dirga.
"Kek--kenapa!" Dirga bingung, karena tiba-tiba Sam memberikan bayi Arnaff padanya.
"Lakukan tugasmu, majikanmu ini ingin bersama istrinya," ucap Sam.
Dirga pasrah menerima bayi itu. Dengan senyuman masam yang menghiasi wajahnya, Dirga perlahan berdiri, dia melangkah menuju ruang tamu sambil menggendong bayi Arnaff yang bernama Nadira itu.
Sam kebali duduk di samping Resa. Dia menarik Resa kedalam pelukannya. Tangannya yang satunya menyentuh perut Resa. Sedang Resa bersandar dengan nyamannya di dada bidang suaminya.
"Mungkin bagi orang lain, sangat bahagia punya dua istri. Tapi, aku tidak."
"Aku tahu, karena kamu laki-laki setia." Jawab Resa.
"Bagaimana perasaanmu jadi yang kedua?"
"Aku jadi yang kedua karena keadaan, bukan karena cinta. Andai karena cinta, mungkin aku akan berusaha mati-matian menyingkirkan istri pertama Anda."
Sam tersenyum sendiri mendengar jawaban Resa.
"Resa, kenapa kau memanggilku Tuan? panggil aku honey, sayang, cinta atau apa saja," pinta Sam.
"Saya tidak mau, nanti keceplosan memanggil Anda dengan sebutan itu, di tengah orang banyak."
Sam menghujani kepala Resa dengan ciuman
Resa menarik napasnya begitu dalam dan membuang kasar napasnya. "Jika hati Anda memang mantap untuk bersama Vania. Lepaskan saja saya. Sebagai perempuan, jujur … saya sangat merasa bersalah, bersama suami orang, di belakang istrinya seperti ini."
"Kenapa kamu tidak berusaha merebut hati dan perhatianku?"
"Sudah tadi saya katakan!" Rengek Resa.
"Selain itu?"
"Saya benci pelakor, saya benci istri kedua. Tapi, keadaan menempatkan saya sebagai istri kedua. Tapi, saya bukan istri kedua yang ingin mengambil alih kemudi kapal ini."
"Bicara bahasa santai saja, jangan terlalu formal."
Resa meneruskan kembali ucapannya. "Aku pasrah sebagai penumpang. Jika Anda memintaku bersama, aku akan bertahan bersama Anda. Jika Anda memintaku untuk turun, aku akan turun. Tanpa dendam. Aku ihlas untuk turun."
Tangan Sam yang satunya membelai pucuk kepala Resa.
Kenapa kita terlambat bertemu Resa? Sudah seperti ini, melepaskanmu berat. Bersamamu juga sulit.
Gerutu Sam dalam hati.
"Terima kasih, karena mau menerimaku sebagai istri. Itu sudah lebih dari cukup." Resa menikmati posisi ini. Ada kenyamanan yang dia rasa.
"Selamat sore Nona Vania!"
Terdengar jelas teriakan Dirga.
Resa langsung melepaskan diri dari dekapan Sam. Sedang Sam langsung beridiri, dan berlari kearah dapur.
****
__ADS_1
Bersambung.
Maaf telat ya,