
Tugas Dirga memang tidak pernah ada habisnya. Sekarang dia fokus mempersiapkan keberangkatan menuju pulau Kalimantan, untuk melihat bagaimana perkembangan pembangunan perumahan yang di bangun di salah satu sudut yang ada di Kalimantan. Proyek perumahan itu berada di kabupaten Hulu Sungai Tengah. Lumayan jauh jaraknya dari Banjarmasin. Sedang tujuan utamanya ke Kalimantan berharap bisa menemui Ardhin dan Kamalia.
Ponsel Dirga berdering. Melihat yang memanggilnya Sam. Dia langsung menggeser icon bewarna hijau. "Iya, Tuan."
"Kamu jadi berangkat menuju Kalimantan?"
"Iya, ini persiapan sedang saya lakukan."
"Kamu tidak harus memantau proyek di sana. Jaraknya 4 jam perjalanan menuju Kabupaten itu. Lebih baik kamu habiskan waktu untuk mencari paman Ardhin saja, semakin cepat bertemu, semakin cepat kamu bisa melepas rindu. Semakin cepat pula kamu kembali."
"Saya hanya ingin melihat keadaan proyek di sana, Tuan."
"Untuk proyek, kamu minta saja video yang merekam pembangunan di sana. Setelah melihat perkembangan di sana, terserah kamu. Mau lanjut ke sana atau tidak," usul Sam.
"Baik, Tuan."
"Kamu hubungi saja kepala yang memimpin di sana."
"Iya, Tuan."
"Aku tidak tau. Kenapa aku menyetujui pembangunan di sana. Padahal banyak tempat yang strategis. Ah … biarlah. Semoga ada sesuatu yang indah karena pembangunan di sana. Misal … kau jatuh hati nanti, kata orang wanita dari Banjarmasin cantik-cantik. Eh maaf, semua wanita memang cantik. Tapi yang paling cantik hanya Resa, istriku."
"Terima kasih, Tuan. Saya sangat merindukan Pak Ardhin dan bu Kamal. Semoga pas saya menginjakkan kaki di tanah Kalimantan, saya bisa menemukan mereka."
"Anggap saja ini keajaiban. Aku juga tidak menyangka, kenapa aku begitu mudah menyetujui proyek di sana. Ya sudah. Semangat Dirga."
Obrolan mereka via telepon ber akhir. Dirga segera meminta anak buahnya untuk mencarikan nomer telepon orang yang Sam maksud. Tidak sulit, beberapa menit kemudian, Dirga langsung mendapatkan nomer yang dia maksud. Dia segera menelpon orang tersebut.
"Selamat malam, bisa saya bicara dengan Pak Adian Winata?" ucap Dirga.
"Saya sendiri," sahut di ujung telepon.
"Saya Dirga Dirga Pramudja."
"Maafkan saya Pak. Saya tidak menyimpan kontak Bapak. Mohon maaf Pak." Suara di ujung telepon sana terdengar panik dan gemetaran.
"Santai saja Pak Adian. Saya dan bapak sama-sama bagian dari Ozage Cryton Group."
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Saya ingin rekaman pembangunan di sana. Saya tunggu ya Pak."
"Saya minta waktu Pak. Akan saya kirim secepatnya," ucap Adian.
Setelah sama-sama mengucapkan salam penutup, Dirga menyudahi panggilan teleponnya.
***
Di belahan bumi lain.
Adian tidak menyangka petinggi Ozage Crypton Group menghubungi dirinya untuk meminta video yang merekam pembangunan perumahan. Tangannya masih gemetaran, setelah sadar berbicara dengan siapa. Adian meng otak atik laptop mencari file video tersebut.
"Abah …." Panggilan manja dari sang istri.
"Iya mah …." Namun matanya fokus pada layar laptopnya.
"Abah, tolong jagain Fariz sebentar, mama sakit perut," rengek istrinya.
Adian melepaskan tangannya dari keayboard laptop. Menyambut anaknya, kini sang putra berpindah dari gendonga ibunya ke pangkuan Adian. Sedang sang istri sudah ambil jurus langkah seribu menuju kamar mandi.
__ADS_1
Adian melanjutkan tugasnya, mencari video itu sambil bermain dengan putranya yang ber umur dua tahun.
"Yes, ketemu!" Adian meng-klik video itu untuk dia kirim pada Dirga. Merasa tugasnya selesai, Adian meraih gelas kopi yang tersisa separuh gelas. Tanpa Adian ketahui, tangan mungil putranya bermain pada keayboard laptopnya. Video yang terkirim bukan video pembangunan. Melainkan video yang lain.
***
Di kediaman Dirga.
Mengintip layar laptopnya, ada sesuatu yang masuk. Dirga segera membukanya. Lalu memutar video yang baru masuk itu.
Bukan video pembangunan yang masuk. Tapi video seorang gadis duduk santai sambil memegang mic. Dirga mematung melihat gadis itu. Irama musik mulai terdengar, Dirga semakin serius menonton video yang baru masuk. Selain penyanyinya menyita perhatiannya, lagu yang bermain juga lagu kesukaannya. Melukis senja dari budi Doremi.
..…..
Aku mengerti
Perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap
Meski berat, kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang
Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah
Biar ku menemanimu
Membasuh lelahmu
Izinkan kulukis senja
Mendengar kamu bercerita
Menangis, tertawa
Biar kulukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
'Tuk temanimu yang terluka
Hingga kau bahagia
*****
Dirga sama sekali tidak mengalihkan pandangan matanya dari layar laptopnya. Hingga tidak terasa lagu itu selesai.
"Terima kasih semua, karena tidak muntah mendengar suara saya," ucap penyanyi itu.
Senyuman terukir dari wajah Dirga.
Apa yang terjadi pada hatiku? Ini sungguh aneh. Dulu saat pertama melihat Resa aku merasa seperti ini. Oh tidak … jangan-jangan aku jomblo karena hatiku yang aneh, dan cara aku jatuh cinta juga aneh. Gumamnya.
Tokkk tok tok!
Suara ketukkan pintu membuyarkan lamunan Dirga. Dia segera melangkahkan kaki menuju pintu. Saat pintu terbuka, terlihat sosok Arnaff.
"Arnaff …." sapa Dirga. Dia menepikan tubuhnya kebelakang pintu, mempersilakan Arnaff memasuki Apartemennnya.
__ADS_1
Mata Arnaff menyisir memandangi keadaan Apartemen Dirga. Ada koper besar yang terletak dekat sofa tamu. "Mau liburan?"
"Dibilang liburan, bukan. Tapi di bilang kerja juga bukan." Dirga langsung menutup pintu Apartemennya.
"Maksudnya?" Arnaff masih penasaran.
"Sam membangun perumahan di Propinsi kalimantan Selatan. Aku akan pergi kesana. Tapi bukan untuk proyek tapi mencari Paman Ardhin. Kamu ingat, dia pelayan setia keluarga Ozage?"
Mendengar nama Ardhin dan Kalimantan. Arnaff langsung teringat dua hal. Wanita yang menolak perjodohan dengannya, juga wanita yang akan di jodohkan dengannya. Yang katanya wanita itu keponakan Ardhin.
"Paman Ardhin?" Arnaff memastikan.
"Iya, aku sangat rindu pada paman dan bibi. Aku akan kabarkan kedatanganku di media Kalimantan. Semoga paman dan bibi mau menemuiku, aku mencari mereka sulit."
"Mamaku punya kontak dengan paman Ardhin. Kalau kau mau, aku akan minta sama mama."
"Kau bodoh! Kenapa kau tanya 'kalau aku mau' tentu aku mau!"
Arnaff tersenyum. Jemarinya mengetik pesan pada ponselnya. "Sebagai imbalannya. Aku ikut kamu ke Kalimantan. Siapa tahu calon mama sambung buat Nadira keselip di pulau itu."
"Ngapain kamu ikut? Lagian aku ke Kalimantan semata untuk melepas rindu sama paman Ardhin."
"Mama aku mau jodohin aku sama keponakan Ardhin. Sebelum kami setuju, alangkah baiknya aku mengenal dia dulu."
"Waw, ada yang siap menata hati," goda Dirga.
"Boleh ikut gak?"
"Tanya sama Sam. Kalau boleh, aku mah hayukkk aja."
"Jalan yuk," ajak Arnaff.
"Kemana?"
"Ingat Arvi? Dia dalam masalah, katanya adik dia di fitnah. Kita hibur dia, tadi dia chat aku, ngajak ketemuan di tempat biasa."
"Oke, aku bersiap dulu." Dirga langsung pergi kearah kamarnya. Hanya butuh waktu sebentar, dia sudah siap dengan setelan santainya. Keduanya segera pergi.
Di salah satu caffe,terlihat seorang gadis yang tidak asing bagi Arnaff dan Dirga. Dia Alvita, teman kuliah Arnaff, sempat mengejar Dirga. Tapi, sayang usahanya sia-sia. Hingga dia memilih berteman dengan Dirga. Dirga pun menerima hubungan pertemanan dengan Alvita. Arnaff dan Dirga segera menempakan diri mereka di meja yang sama dengan Alvi.
"Selamat maalam, Vi," sapa Dirga.
"Malam juga Dirga." Alvi berusaha memberikan senyuman pada Dirga.
"Maaf telat, karena aku tadi ngajak Dirga dulu," ucap Arnaff.
"Iya, gak apa-apa, makasih Naff, aku senang kamu mau datang. Aku gabut. Aku butuh teman." Wajah wanita itu terlihat sendu.
"Ada apa Vi?" Arnaff berusaha mengajak Alvi bicara.
Alvita memulai ceritanya. Dari awal hingga akhir. Dirga dan Arnaff hanya menyimak cerita Alvita.
"Berat juga Vi, aku gak bisa bantu apa-apa." Arnaff sedih dengan keadaan Alvi.
"Makasih sudah mau teman berbagi aku," ucap Alvi.
"Kalau kamu, apa yang buat kamu sedih kemaren?" Tanya Alvi pada Arnaff.
Arnaff mulai menceritakan perempuan yang membatalkan perjodohan dengannya. Mendengar cerita Arnaff, Dirga bukan sedih. Malah tertawa, menertawakan nasib sahabatnya.
__ADS_1