Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 48 Serasi


__ADS_3

Resa hanya mengurung diri di dalam kamar mandi. Dia tidak berani keluar dari tempatnya sekarang. Kalau papanya melihat keadaannya sekarang, dia takut segala rahasia ini terbongkar. Resa lebih memilih duduk diatas closed yang tertutup.


*****


"Silakan duduk di sana." Sam menunjuk kearah Sofa. Mereka semua pun mengambil posisi duduk. Sam duduk di sofa tunggal. Sedang Nanaz dan kedua orang tuanya duduk di sofa panjang. Ramida lebih memilih mendekati cucunya yang lahir dari rahim Resa. Karena Nanaz dan kedua orang tuanya, ingin ber urusan dengan Sam.


"Ada apa Pak, Garie?" Tanya Sam. Langsung.


"Anak saya, Nazla terikat kontrak kerja sama dengan istri Anda, Vania. Vania mengharuskan Nazla ikut dengan dia. Jika Nazla menolak, maka kami diminta Vania, untuk membayar pinjaman kami. Tuan Sam, kami mohon jangan bawa anak kami, kami akan berusaha membayar pinjaman kami. Kalau perlu ambil saja perusahaan kami. Asal anak kami jangan dibawa." Garie memohon.


"Saya akan bicara dengan Vania untuk urusan ini." Jawab Sam.


"Saya hanya diberi Nona Vania waktu, satu minggu. Tuan." Nanaz menambahi.


"Kenapa kamu tidak ikut dengan Vania? Gajih nya pasti besar," seru Sam.


"Memang gajihnya besar. Tapi, saya tidak bisa jauh dari keluarga. Saya rela menganggur. Asal terus bisa bersama ibu," jawab Nazla.


"Kalian pulang saja, nanti akan aku usahakan untuk bantu kalian, bagaiman caranya? Nanti aku pikirkan." Ucap Sam.


Nazla dan kedua orang tuanya sangat lega. Mereka kembali berjabat tangan dengan Sam.


"Terima kasih banyak Tuan. Semoga Tuan diberikan pendamping yang lebih baik dari Nona Vania." Seru Nazla.


"Vania dan Tuan Sam---"


"Mama!" Potong Nazla.


"Saya dan Vania sepakat untuk berpisah. Visi dan misi kami berbeda. Dia akan melanjutkan impian dan kariernya. Sedang aku, aku tetap bertahan dengan impianku," jawab Sam. Tidak terlihat kesedihan di wajah Sam. Bahkan senyuman itu terlihat sangat manis menghiasi wajahnya.


Merasa urusan mereka selesai, Nazla dan kedua orang tuanya pun pergi dari ruangan itu. Tanpa bertanya apapun lagi, walau mereka penasaran dengan dua bayi mungil yang ada di kamar itu. Satu bayi dalam inkubator, dan satu bayi di gendong Ramida.


Setelah tamunya pergi. Sam melangkah kearah kamar mandi.


Tokkk tok tok!


"Sayang …." Ucap Sam.


Perlahan pintu kamar mandi itu terbuka. Terlihat wajah Resa yang nampak cemas, diatara pintu itu.


"Tamu nya sudah pergi?" Tanya Resa.


Sam tersenyum, dia menarik tangan Resa, agar si punya diri keluar dari kamar mandi. "Sudah, kenapa kamu sembunyi?" Tanya Sam.


"Aku cuma takut."


"Kenapa takut? Kau adalah istri Samuel Ozage, sebentar lagi, aku akan mengumumkan pada dunia, kalau aku punya istri yang selama ini kurahasiakan. Istri Sam. Tidak boleh penakut!"


"Siapa tadi?" Resa berusaha mengubah arah pembicaraan Sam.


"Nanaz dan kedua orang tuanya," jawab Sam.


Resa membisu. Jadi? Nanaz anak si nenek sihir itu? Gerutu hati Resa.


"Kenapa? Cuma Nanaz," Sam menyentuh dagu Resa.


"Ti--tidak apa-apa, ada perlu apa Nanaz? Tumben datang bersama kedua orang tuanya?"


"Kita bicara di sana, gak enak bicara di depan kamar mandi gini." Sam menggandeng Resa menuju sofa.

__ADS_1


Sam dan Resa duduk di sofa panjang. Sam menarik tubuh Resa agar bersandar di badannya. Sam memulai cerita, tetatang tujuan Nanaz dan kedua orang tuanya, menemui dirinya. Resa bangun dari posisi nyamannya, dia memandangi wajah Sam.


"Jadi? Jadi kamu yang memberi dana talangan pada perusahaan papa?" Resa keceplosan. Dia langsung menutup mulutnya.


"Papa?" Sam terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mukut Resa.


Resa merasa tidak bisa lagi menutupi hal ini. "Laki-laki tadi, yang berjabat tangan denganmu. Garie Harahap, papa kandungku." Terang Resa.


"Kamu anak seorang pengusaha?" Sam nampak terkejut. Dia sedikit kenal siapa Garie Harahap.


"Pengusaha bangkrut!" Sela Resa.


"Jadi? Kamu dan Nanaz saudari tiri?" Ramida mendekat sambil mengendong bayi Resa.


"Untuk hal itu saya tidak tahu Nyonya. Saya saja terkejut kalau papa saya adalah papa tiri Nanaz," jawab Resa.


Resa memulai ceritanya, dari dia di buang oleh papanya. Hingga dia dan ibunya selama beberapa tahun terakhir sebelum bertemu Ramida. Mereka hidup di pinggiran kota. Tinggal di rumah kontrakan, dan menjadi buruh cuci untuk menyambung kehidupan mereka.


Sam nampak geram mendengar cerita Resa. Dia menarik Resa kedalam pelukannya. "Kalau begitu, aku tidak akan membantu mereka!" Sam menahan kemarahannya.


"Jangan, aku mohon bantu saja mereka." Pinta Resa.


"Ini saatnya kamu balas dendam pada wanita itu," ucap Sam.


"Tidak, mamaku melarang aku untuk jahat atau membenci mereka." Resa memandang kearah Ramida.


"Nyonya, bukankah Nyonya pernah menawarkan pada saya, apapun yang saya mau akan Nyonya berikan. Saya menagih hal itu Nyonya. Bantu Nanaz, dengan membantu Nanaz, saya telah membantu papa saya." Pinta Resa pada Ramida.


"Kamu ini, terlalu baik, apa terlalu bodoh Resa!" Gerutu Sam.


"Pertanyaan itu untuk dirimu sendiri Sam! Selama ini kamu itu setia dalam cinta? Apa bodoh dalam cinta!" Bentak Ramida.


"Astaga! Bodoh tapi bangga, apa-apaan ini." Ramida memilih menjauh dari sofa itu.


*****


Tiga hari berlalu.


Kamar perawatan Resa, selalu terlihat sepi, apabila perawat sudah selesai dengan tugasnya, memeriksa keadaan bayi Vania. Suasana sepi lagi. Jika perawat itu pergi. Ramida dan Sam, sibuk dengan laptop mereka masing-masing. Sedang Resa, dia sibuk dengan dua bayinya.


Sesekali Sam curi-curi padang, melirik Resa yang nampak asyik dengan bayinya. Awalnya Sam ragu akan perasaannya. Salah dalam meng artikan cinta, membuat Sam, tidak berani mengakui kalau debaran yang saat ini dia rasa, adalah Cinta. Tapi, melihat bagaimana perjuangan Resa merawat dua bayi itu. Membuat Sam semakin yakin. Ini adalah cinta. Bukan obsesinya.


Sam hanya terus memandangi, bagaimana telatennya Resa merawat dua bayi itu. Keadaan bayi Vania juga mulai semakin lebih baik. Sam mendekati Resa yang berdiri di samping inkubator bayi itu.


"Berkat cinta dan kasih sayangmu, dia nampak lebih baik." Gumam Sam.


Resa hanya tersenyum mendengari ucapan Sam.


"Kapan kau merawat bayi besar yang sangat lemah ini." Goda Sam.


Resa menghela napasnya begitu panjang, sambil menggelengkan kepalanya. Dia lebih memilih menjauh dari Sam, dan duduk di samping Ramida yang duduk di sisi tempat tidur. Ramida terlihat asyik memangku bayi Resa.


"Hei, kau tidak kasihan padaku? Aku ini sangat lemah, aku baru bangun dari tidur panjangku." Rengek Sam.


Tapi dua orang wanita yang tengah duduk itu, pura-pura tidak mendengar perkataan Sam, barusan.


"Aku sudah punya nama untuk dua bayiku," seru Sam.


Perkataannya berhasil menarik perhatian dari dua wanita yang tadinya tidak perduli padanya.

__ADS_1


"Siapa namanya?" Tanya Resa dan Ramida bersamaan.


"Nanti saja, aku ngantuk, aku mau bobo." Sam melangkah menuju sofa panjang. Dan merebahkan diri di sana.


Resa melangkah mendekati Sam dan duduk di sisi Sofa, tempat Sam berbaring. "Siapa namanya?" Tanya Resa.


"Lengkapnya nanti, panggilannya saja. Yang itu Gilang." Sam menunjuk kearah Inkubator.


"Yang itu Gavin." Sam menunjuk kearah bayi yang dipangku Ramida.


Resa tersenyum, dia perlahan berdiri, dan melangkah kearah Ramida kembali. Resa duduk di samping Ramida, sambil memandangi bayinya.


********


Di kediaman Garie.


Matahari kian meninggi. Ketegangan di dalam rumah itu, semakin terasa. Nanaz semakin bingung. Dia dan mamanya duduk di ruang keluarga, dia hanya memeluk mamanya. Matanya terus memandangi ponselnya. Tapi, ponsel itu tidak kunjung berdering. Terkadang berdering karena ada pesan dan panggilan yang masuk. Tapi, bukan dari orang yang di tunggu Nazla.


"Bagaimana ini mah? Perusahaan papa juga penting untuk menyambung kehidupan kita," rengek Nazla.


"Mama juga bingung, mama juga takut kalau papa menjual rumah ini, atau perusahaan. Tapi, mama juga nggak mau pisah sama kamu." Sri memper erat pelukannya pada Nanaz.


Seorang pembantu berjalan mendekati Nazla dan mamanya. "Nyonya, ada tamu di luar." Ucapnya.


"Siapa Bi Minah?" Tanya Sri.


"Nggak tau Nyonya. Itu tamu nya, di luar."


Sri segera melepaskan pelukannya pada Nazla. Dia melangkah sendirian menuju pintu. Di depan pintu itu terlihat punggung seorang laki-laki dengan postur tubuh yang terlihat sempurna. Mengenakam setelan jas yang rapi.


"Anda siapa? Dan cari siapa?" Tanya Sri.


Laki-laki itu memutar arah tubuhnya. "Saya Dirga, utusan Tuan Sam."


Sri sangat terkejut, menyadari utusan Sam datang kerumahnya. "Silakan masuk, Tuan." Sri langsung mempersilakan Dirga masuk kedalam rumahnya. Dirga pun langsung memasuki rumah itu.


Sri mempersilakan tamunya untuk duduk di ruang tamu.


"Nanaz! Kemari sayang!" Panggil Sri.


Tidak lama Nazla keluar dengan raut wajah betenya. Tapi, saat melihat sosok yang berada di ruang tamu. Wajah bete Nanaz seketika berubah.


"Tuan Dirga?" Sapa Nazla.


Dirga hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi sapaan Nanaz.


"Keburuntungan apa yang tergaris buat kalian? Sam mau membantu kamu Nazla!" Seru Dirga.


Nanaz sangat bahagia. Dia langsung memeluk erat ibunya.


"Selesaikan dulu urusan ini, setelah ini selesai, aku ingin mengerjakan pekerjaan lain!" Seru Dirga.


Dengan perasaan lega. Nanaz dan Sri menyelesaikan urusannya dengan Dirga. Nanaz sangat bahagia. Dia terus tersenyum sambil menanda tangani berkas-berkas yang diminta Dirga.


*******


Bersambung.


********

__ADS_1


Hari ini cuma 1 episode saja, maafken daku sobat online ku 🙏


__ADS_2