
Setelah menutup pintu kamarnya, Sam menelungkupkan wajahnya di tembok, tepat di sisi pintu kamarnya. Napasnya terdengar begitu berat, gurat kesedihan dan kekecewaan terlihat di wajahnya. Berulang kali Sam memukul tembok dengan telapak tangannya.
"Harusnya kabar kehamilan Vania, adalah kabar yang paling indah dalam hidupku, mempunyai anak dari wanita yang aku cintai. Tapi, kenapa aku sedih dan sangat sesak melihat Vania?"
Sam mengumpulkan sisa energinya. Dia berusaha nampak tegar. Dia melangkahkan kakinya menuruni tangga. Sesampai di depan pintu kamar neneknya, terdengar suara tawa dari dalam sana.
Sam menahan langkahnya.
Kapan aku dan Vania bisa bicara dan bercanda dikala waktu santai?
Perlahan Sam membuka pintu kamar tersebut. Terlihat Resa, ibunya, dan neneknya yang sama-sama memandang kearahnya.
"Halo jagoanku …." Seru Marina.
Sam tersenyum, dia langsung memeluk neneknya. Setelah melepaskan pelukan pada neneknya, Sam duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping Resa. Resa ingin menjauh. Tapi jaraknya sudah mepet dengan Ramida yang duduk di sisi yang lain. Resa berusaha santai, walau dentuman irama jantungnya tidak mau berdamai dengannya.
Ramida tersenyum sendiri, melihat rona wajah Resa yang tiba-tiba memerah, saat Sam duduk di sampingnya. Ramida sengaja tidak bergerak, agar Resa tetap pada posisinya.
Sam menarik kursi roda neneknya mendekatkan kursi roda itu padanya. "Apa nenek bahagia?" Tanya Sam.
"Nenek sangat bahagia, nenek minta satu cucu, kamu malah akan kasih dua," seru Marina.
Sam meraih tangan Resa. Dia menggenggamnya begitu erat. "Aku tidak tau harus apa. Tapi, terima kasih, karen kamu mau mengandung anakku, sedangkan kau tau kalau aku---"
"Ini memang tugas saya Tuan," sela Resa. Dia langsung menarik tangannya yang di pegang Sam.
Ramida tidak tahan lagi menahan Resa, dia kasihan melihat rona wajah yang semakin nampak memerah itu. "Resa … kamu istirahat saja, biar ibu, aku yang jaga," ucap Ramida.
Resa segera berdiri, dia pun pergi dari kamar Marina, dan lupa berpamitan pada yang lain. Tepat di depan pintu, Resa berbalik. "Nyonya, vitamin saya tadi mana?"
"Astaga, aku lupa. Eh, itukan sama kamu Sam. Kamu pergi tadi, kamu belikan punya resa juga kan?" Tanya Ramida.
"Iya, aku belikan keduanya. Punya Resa ada di meja tamu, aku letakkan di sana, saat aku datang tadi." Ucap Sam.
"Meja tamu? Ceroboh sekali kamu! Bagaimana kalau ada pembantu yang membuka kantong itu!" Bentak Ramida.
"Biar saya bisa ambil sendiri sekarang, Tuan, Nyonya." Resa melanjutkan langkahnya kembali.
Ramida terus memandangi Resa yang kini sudah menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Sedang Marina terus memandangi wajah cucunya tersebut. "Sam …." Panggilnya.
Sam memandang wajah neneknya. "Iya nek …."
"Sam, nenek dan ibumu tidak memintamu untuk mencintai istri keduamu. Tapi, setidaknya kamu bertanggung jawab pada istrimu, kamu memang tidak bisa mencintai Resa. Tapi, bisakah kamu memberi sedikit perhatian pada Resa? Terlebih saat ini dia hamil anakmu," bujuk Marina.
"Aku akan coba, nek." Ucap Sam.
**********
Vania dan Resa mengalami hal yang berbeda. Vania selalu nampak segar, dia tidak mengenal dan tidak mengenali morning sickness, dia bisa ber aktivitas seperti hari-hari biasanya. Sedang Resa, dia tidak bisa keluar dari kamarnya. Bahkan di sampingnya tersedia wadah untuk menanai muntahannya, jika dia tidak mampu lagi melangkah ke toilet. Hal ini Resa alami semenjak satu minggu yang lalu.
Di kamar Sam.
Vania duduk bersila di atas matras yoga, kedua telapak tangannya dia letakkan di atas lekukan lututnya, kedua matanya masih berpejam.
"Sayang …." Rengekan suara itu terus berulang. Namun yang di panggil-panggil tidak merespon.
"Sayang …." Rengek Sam.
Vania membuang napasnya kasar, dia membuka kedua matanya. "Sam! Aku ini tidak bisa olah raga berat! Setidaknya biarkan aku yoga, tolong … kalau kau tidak suka, keluar sana!" Vania memejamkan matanya kembali, melanjutkan aktivitas yoga nya.
Sam mendengus. Dia beridiri tepat di depan Vania.
Vania membuka matanya kembali. "Sepertinya ada yang lupa dengan perjanjian, bukankan seminggu yang lalu aku ajukan syarat ini?"
Sam mendengus, dia segera pergi dari kamarnya. Melihat Vania, emosinya selalu meninggi. Sam melangkah menuruni anak tangga, keadaan nampak hening. Sam memutuskan untuk menemui neneknya. Saat dia melewati kamar Resa. Terdengar suara muntah.
Sam mengehentikan langkahnya, dia memandangi ke arah kanan dan kiri. Merasa sepi, tidak ada yang melihatnya. Sam langsung masuk kekamar Resa. Tidak nampak Resa di tempat tidur. Tapi, pintu kamar mandi terlihat terbuka lebar. Sam memandangi kamar Resa. Di nakas yang terletak dekat tempat tidur Resa. Tersusun bermacam vitamin dan satu toples serbuk berwarn putih. Sam tersenyum. Entah kenapa hatinya senang melihat semua vitamin dan susu kehamilan yang tidak ber label lagi.
"Ibu memang pintar," gumam Sam.
Uwekkkkk!
Terdengar suara itu lagi dari arah kamar mandi. Kekaguman Sam buyar. Dia segera melangkah menuju kamar mandi. Terlihat seorang wanita membungkuk di depan westafel.
Sam merasa iba, di luar kesadarannya, dia mendekati wanita itu dan mengusap punggung wanita itu.
Resa merasa lebih baik, dia membuka air kran, segera berkumur dan membasuh wajahnya. Saat dia menegakkan tubuhnya dia sangat terkejut, menyadari siapa yang tadi mengusap punggungnya. Dia mengira itu Ramida, ternyata Sam.
__ADS_1
"Tu--tu-Tuan?" Resa tergagap.
"Maafkan aku, kamu menderita seperti ini, karena ulahku."
Resa menunduk, bingung harus berkata apa. Dia ingin melangkah menuju kamarnya, namun tubuhnya terasa lemas, hingga dia kehilangan keseimbangannya. Namun, tangan kekar itu siaga menahan tubuhnya. Resa tidak berdaya, dia pasrah jatuh dalam dekapan Sam.
Sam membantu Resa berjalan menuju tempat tidur. Wajah wanita itu nampak pucat. Sam merasa lelah menahan tubuh wanita itu, dia menggendong Resa agar sampai lebih cepat menuju tempat tidur. Perlahan Sam membaringkan tubuh Resa di tempat tidur.
"Kamu mau sesuatu?" Tanya Sam.
Resa berusaha mengatur napasnya. Dia bangun dari posisinya. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.
"Maaf Tuan, bukan maksud saya memerintah, tapi gelas susu itu jauh, bisakah?"
Sam tersenyum, dia meraih gelas yang dimaksud Resa. Segera dia berikan gelas yang berisi air susu itu pada Resa.
"Susu apa ini?" Tanya Sam.
"Susu untuk wanita hamil," jawab Resa. Dengan santainya dia menegak habis susu yang ada dalam gelas itu.
Sam kagum dengan Resa. Wanita ini tahu kalau janin yang ada dalam rahimnya suatu saat akan di ambil. Tapi, wanita ini menjaga janin itu dengan sepenuh hati.
Resa menaruh gelas kosong di nakas yang ada di sampingnya. Dia mengukir senyuman di wajahnya.
"Terima kasih Tuan, saya tidak tahu bagaimana saya kalau tidak ada Tuan tadi," ucap Resa.
Sam duduk di samping Resa, dia menyandarkan wajah Resa pada dada bidangnya. Jemari tangannya mengusap rambut kepala Resa. Sedang tangannya yang satu, mengegenggam telapak tangan Resa begitu erat.
"Kamu wanita luar biasa Resa. Hanya saja kehidupan ini kejam, kenapa kamu harus menjadi istri dari laki-laki yang tidak bisa mencintaimu?" Ucap Sam.
Menyadari hal itu Resa menarik dirinya dari dekapan Sam. Namun, gerak tubuhnya tertahan. Perlahan Sam memegang tengkuk Resa. Keduanya saling pandang. Tatapan sayu dari mata Resa membuat Sam kehilangan kendalinya. Kedua wajah itu semakin mendekat. Di luar kesadaran Sam. Dia mempertemukan bibirnya dengan bibir Resa. Pertemuan hangat dan lembut itu, semakin lama semakin dalam.
Ceklakkk!
Pintu kamar di buka seseorang.
"Resa bagaimaaaa---" orang itu tidak bisa melanjutkan perkataannya, saat matanya melihat dua orang yang ada di depannya larut dalam persilatan lidah.
********
__ADS_1
Bersambung lagi ya,
Huhuuu aku sangat bahagia lihat like dan komen kalian, mudahan aku bisa rajin up. Terima kasih semua sampai jumpa di epesode mendatang.