Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 20 Pilihan


__ADS_3

Ramida dan Resa saling pandang. Suasana mendadak hening.


"Suapi dia," pinta Ramida.


Resa meraih mangkuk yang ada di tangan Ramida, dia segera duduk di samping Sam, dan mulai menyuapi Sam kembali. Melihat pemandangan di depan matanya, Ramida sangat ingin melepas tawanya, namun terus dia tahan.


Teriakan nada dering ponsel Ramida memecah keheningan, Ramida meraih benda yang berdering itu, terlihat nama pemanggil Tony, segera Ramida menggeser icon yang berwarna hijau.


"Sudah kau temukan di mana Vania syuting?" Tanya Ramida langsung.


"Sudah Nyonya. Tapi, dia tidak mau pulang."


Wajah Ramida tiba-tiba berubah, tanpa bicara pada Tony, Ramida langsung menggeser icon warna merah. Wajahnya nampak kesal.


"Vania melakukan apa saja aku tidak perduli. Ku biarkan dia melakukan apapun yang dia mau. Tapi sekarang, ibu benar-benar marah!" Gerutunya.


Sam yang tadi menikmati buburnya, memberi isyarat cukup dengan tangannya, pada Resa. Resa pun berhenti menyuapi Sam


"Ada apa lagi bu," ucap Sam.


"Istrimu! Sudah tau kau sakit. Tapi, dia tidak mau pulang!" Ramida menahan kegeramannya.


"Bu---"


Belum selesai Sam berkata, suara dering ponsel Sam, membuatnya batal melanjutkan kata-katanya.


"Resa, ambilkan ponselku," pintanya.


Resa menaruh mangkuk bubur di nakas yang ada di sampingnya. Dia segera melangkah mengambilkan ponsel Sam. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Resa menyerahkan ponsel yang dia ambilkan pada Sam.


Sam tersenyum melihat nama pemanggil, dengan santai dia menggeser icon warna hijau, dan menempatkan benda pipih persegi itu di samping telinganya. "Sayang …." Sapa Sam.


"Kamu sakit apa?" Pertanyaan itu terucap dari seseorang yang berbicara di ujung telepon sana.


"Kepala aku sayang, sangat sakit, belum lagi perutku terasa sangat tidak enak, aku butuh kamu sayang," rengek Sam.

__ADS_1


"Jangan manja deh! Aku syuting! Aku gak bisa pulang!" Bentak Vania.


Ada sesuatu yang remuk di dalam diri Sam. Mendengar Vania berkata seperti itu padanya. "Sayang, aku butuh kamu," rengek Sam lagi.


"Kamu itu bukan anak kecil! Pinta ibu panggilin dokter dan istirahat yang cukup."


"Sayang, kamu milih karir kamu daripada aku?"


"Kamu apa-apaan?"


"Kalau kamu milih aku, pulang sayang, aku butuh kamu, kalau kamu pilih karir kamu, lanjutkan saja, dan jangan kembali lagi," ucap Sam. Dia langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Sam memandangi ibunya dan Resa. "Kalian pergi saja, aku ingin sendiri," pinta Sam.


Resa dan Ramida, langsung keluar dari kamar Sam. Melihat Resa dan Ramida pergi, Sam melanjutkan makannya, suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya. Dia terus makan, sambil menahan rasa kesal di hatinya. Selesai menghabiskan bubur yang ada dalam mangkok, Sam meraih ponselnya kembali, dia mengetik pesan di ponselnya.


Melihat pesan yang dia kirim di baca oleh orang yang di maksud. Sam menyadarkan punggungnya, di sandaran tempat tidur.


*****


Arini, manager Vania nampak panik, setelah menerima pesan dari beberapa rumah production yang bekerjasama dengan Vania, dia berlari kearah Vania.


"Minta waktu break sebentar!" pinta Arini. Acara Syuting pun di hentikan. Arini langsung menarik Vania kesisi lain. Vania sangat heran, melihat expresi wajah Arini yang nampak cemas.


"Ada apa mba?" Tanya Vania.


"Kamu berantem sama Tuan Sam?" Tanya Arini, langsung.


Vania menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan Arini.


"Ini pertama kalinya, Tuan Sam memakai kekuasaannya mengganggu karir kamu, pasti ada sesuatu yang mengusik hati Tuan Sam."


"Maksud mba Arini apa?"


"Kalau kamu ingin karir kamu masih bersinar, cepat pulang! Sam mengancam beberapa rumah production, jika mempekerjakan kamu sebagai model mereka," bisik Arini.

__ADS_1


Vania menarik napas begitu dalam. "Cari gara-gara dia!" Vania menahan suaranya.


"Saran aku sebagai teman, istirahat dulu dari dunia entertaiment, fokus pada kehidupan rumah tangga. Baru kali ini Sam, mengancam kamu, sebelumnya dia selalu mendukung kamu. Vania, penuhi permintaan Sam, sebelum kamu menyesal!"


"Okey aku pulang, sana urus izin, katakan suamiku sakit!" Pinta Vania.


Arini segera berjalan mendekati sutradara. Mendengar nama Samuel Ozage, secepat kilat Sutradara memberi izin pada Vania. Arini kembali lagi pada Vania.


"Ayok kita pulang, sudah di kasih izin sama Sutradara," seru Arini.


Vania, Arini, dan Nanaz, segera bersiap untuk pulang. Nanaz yang bertugas menyetir. Sepanjang perjalanan wajah Vania nampak kusut. Tidak ada yang berani bertanya. Mereka saling diam. Lumayan lama waktu yang ditempuh, akhirnya mobil Vania, sampai di kediaman Sam.


Vania melepas sabuk pengamannya. "Kalian bawa saja mobilku, lakukan pekerjaan lain," ucap Vania. Dia segera keluar dari mobil.


Nanaz dan Arini saling pandang. Melihat punggung Vania menghilang di balik pintu, Nanaz segera mengemudikan mobil Vania. Perlahan mobil itu melaju meninggalkan kediaman Sam.


Di dalam rumah Sam.


Vania mempercepat langkah kakinya. Dia tidak perduli dengan sapaan para pelayan yang menyapanya. Vania membuka dengan kasar pintu kamarnya dan menutupnya dengan membanting sekuat tenaganya. Membuat laki-laki yang duduk bersandar di sandaran tempat tidur, tersentak. karena kaget.


"Kamu apa-apaan! Kenapa kamu mengusik karirku!" Teriak Vania.


Mendengar suara teriakan, Sam berusaha membuka matanya dengan sempurna. "Kau yang apa-apaan, suami sakit, bukannya segera pulang, malah---"


"Mau kamu apa! Kamu itu bukan anak kecil!"


Sam menegakkan punguungnya. "Vania, selama ini aku selalu menuruti permintaan kamu. Sekarang aku hanya butuh kamu, aku minta kamu menemani aku, kamu gak mau, permintaan aku gak sulit Vania."


"Kenapa mengancam karirku segala!" Teriak Vania.


"Aku tidak mengancam, aku hanya memberi pilihan padamu. Pilih aku apa kariermu?" Ucap Sam.


***


Bersambung.

__ADS_1


***


__ADS_2