Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 39 Terbakar


__ADS_3

Melihat Vania keluar dari kamarnya. Membuat Dirga gelagapan. Dia bisa menduga, aktivitas apa, yang dilakukan oleh dua orang yang berada di ruangan tengah itu. Apalagi diatas matras yang empuk. Pikiran Dirga, menduga hal yang satu itu. Dirga berusaha santai.


"Selamat sore, Nona Vania!" Teriak Dirga. Teriakan Dirga, membuat Nadira menangis. Dirga berusaha menenangkan bayi itu, sambil menepuk-nepuk lembut bagian bawah paha Nadira, bayi mungil itu. Dirga berharap dua orang yang berada di ruangan tengah sana mengerti kodenya.


"Waw, ada yang belajar menjadi Ayah, di sini." Sapa Vania.


"Aku menebar kegantenganku, wanita yang aku suka, tidak tertarik padaku, barang kali, kalau aku menebar perhatian seperti ini, yaitu perhatian, ketulusan, kedewasaan, bagian dari dalam diriku, yang penuh kasih sayang ini, mungkin nanti ada yang tertarik padaku," ucap Dirga.


"Beri wanitamu, uang yang banyak, dia akan menerimamu!" Ucap Vania.


"Wanita jenis itu, aku tidak suka," jawab Dirga.


"Mana Sam?" Vania sengaja merubah topik pembicaraan.


"Tuan, berjalan kearah dapur." Dari arah Dapur, Resa berjalan kearah Dirga membawa botol bayi di tangannya.


Mendengar kalau Sam ada di dapur. Vania segera melangkah menuju dapur. Resa melempar senyumannya pada Vania. Saat mereka berpapasan. Belum sampai Vania berjalan melewati ruang tengah. Sam juga datang dari arah sebaliknya, membawa segelas susu coklat di tangannya. Resa mendekasi Dirga, sedang Sam mendekati Vania.


"Ini, aku buatkan susu buat wanita istimewa," ucap Sam. Sambil memberikan segelas susu pada Vania.


"Aku tidak mau minum susu sekarang," rengek Vania.


"Apa bedanya, sekarang dan nanti?" Resa menyela.


"Ya sudah, buatku saja," seru Sam. Sam mulai mendekatkan gelas itu ke muluytnya.


"Jangan gila! Itu susu buat ibu hamil, berikan sana pada Resa!" Seru Vania.


"Susu ini aku buat dengan penuh cinta, aku tidak mau memberikan cintaku pada orang lain," rayu Sam.


"Jangan lebay!" Bentak Vania.


"Ya sudah." Sam berjalan kearah Resa. Dia memberikan gelas yang berisi susu khusus wanita hamil pada Resa.


"Buatmu dan Anak---" Sam mengecilkan suaranya. "Anak kita," bisik Sam.


Resa tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sempat-sempatnya Sam seperti itu di depan Vania. "Terima kasih, Tuan." Ucap Resa.


"Resa, ayo sana duduk dan minum susumu," sela Dirga.

__ADS_1


Resa segera duduk, di sofa panjang. Dengan entengnya Dirga juga duduk di samping Resa. Resa tidak bisa berpindah, karena dia sudah tersudut di pegngan sofa. Resa berusaha minum lebih cepat, agar dia bisa menjauh dari Dirga. Dirga pura-pura tidak melihat sorotan tajam kedua bola mata Sam, yang ter arah buatnya.


"Vania, kenapa kau betah berdiri di sana? Ayolah duduk juga di sini," pinta Dirga.


Vania berjalan kearah sofa, saat dia melewati Sam. Dia meraih tangan Sam, lalu menarik Sam kearah Sofa. Vania mendorong Sam ke salah satu sofa yang untuk satu orang, dengan enetengnya, Vania duduk di pangkuan Sam. Melihat hal itu, Resa hanya menunduk, dan fokus menghabiskan susu yang tersisa di gelas itu.


"Dirga, di samping kamu itu, dia sudah bersuami!" Bentak Sam.


"Aku tau, lagian suaminya tidak ada di sini, aku cuma ingin membuka mata Resa, kalau dia bisa bahagia, tanpa suaminya." Jawab Dirga


"Apa yang bisa membuat Resa bahagia, menurutmu?" Tanya Sam.


"Tinggalkan suaminya, dan menikah denganku," jawab Dirga.


Resa sudah menghabiskan susu pada gelas itu, dia meletakkan gelas diatas meja. Melihat sorot mata Sam. Resa faham, kalau suaminya tidak suka. "Sini, berikan Nadira padaku," pinta Resa, pada Dirga.


"Kalau kau menjadi pasanganku, maka gambaran rumah tangga kita nanti, seperti ini. Dirimu, diriku dan anak kita," rayu Dirga.


Ada sesuatu yang terbakar dari dalam diri Sam. Tapi, api dan asapnya tidak terlihat.


"Resa, apa kamu tidak ingin, hidup bersama orang yang mencintaimu?"


"Resa, kamu susah payah hamil sendirian--"


"Aku tidak hamil sendirian, semua ini terjadi karena perbuatan kami," Resa memotong perkataan Dirga.


"Iya, prosesnya bersama, tapi yang menjalani kamu seorang diri. Lihat apa suamimu juga ikut hamil?" Tanya Dirga.


Dirga mengumpulkan napasnya, dia mengehembuskan perlahan napas yang dia tarik begitu dalam. "Kamu susah payah hamil sendirian, saat bayi itu lahir. Bayi itu milik keluarga Ozage. Apa yang kamu dapat selain materi? Resa, kamu bisa membagun sebuah mahligai seperti sepasang manusia itu." Dirga menunjuk kearah Sam yang masih memangku Vania. Saat Resa menegakkan wajahnya dan memandang kearah Sam. Vania dengan nyamannya menyandarkan kepalanya di bahu Sam.


"Maaf Tuan Dirga, selama suami saya tidak melepaskan saya, selama itu pula saya akan setia," Resa langsung menepis tangan Dirga yang memegang lengannya, yang dari tadi menahan pergerakkannya.


Dirga mengalah, dia melepaskan pegangannya. Resa berjalan kearah dapur, membawa Nadira dalam gendongannya.


"Sudah Dirga, cari perempuan yang belum ada yang punya," sela Sam.


"Gimana lagi, aku merasa tertantang Sam. Ternyata benar apa kata orang, perawan memang manis, janda menarik, istri orang sangat menantang!" Seru Dirga.


"Tidak boleh mengambil istri orang Dirga!" Bentak Sam.

__ADS_1


"Siapa tahu Resa mau, usaha kan gak ada yang larang, lagian suaminya bodoh! Istri seperti Resa di anggurin, mending buat aku."


"Nenek juga setuju. Jika suami Resa, suatu hari melepaskan dia, nenek dukung kamu, Dirga. Untuk bersama Resa. Sulit mencari wanita yang tulus, di zaman sekarang." Dirga menoleh kearah sumber suara. Dia melihat Ramida, Marina dan Jena berjalan ber iringan.


Melepas Resa mungkin aku bisa, kalau melihat Resa menjadi milik Dirga, oh tidakkk! Aku tidak bisa. Gerutu hati Sam.


Sam menyadarkan dirinya. "Sayang, kamu mau makan sesuatu?" Tanya Sam, pada Vania.


"Aku ingin jeruk sayang," jawab Vania.


"Ya sudah, turun dulu, aku ke dapur ambilin buah buat kamu," pinta Sam.


Vania segera turun dari pangkuan Sam. Sedang Sam segera bangkit, dan melangkahkan kakinya kearah dapur. Saat Sam sampai di ruang makan, terlihat seorang wanita duduk di salah satu kursi, yang berbaris di meja makan itu, sambil memangku bayi. Siapa lagi ... dia Resa.


Sam mendekati Resa. Dia menyentuh bahu Resa. "Maafkan aku," ucap Sam.


"Aku yang minta maaf, aku terlalu dekat dengan Dirga."


"Apa kau sakit, melihat Vania duduk di pangkuanku?"


"Tidak sama sekali, Tuan." Senyuman manis menghiasi wajah Resa.


Sam mengusap pucuk kepala Resa.


Dia meninggalkan Resa, melangkah kearah dapur. Sedang Resa kembali fokus pada Nadira. Tidak berselang lama, Sam datang dari arah dapur membawa dua buah piring. Dia mendekati Resa. "Aku tidak bisa membagi cintaku untuk dua wanita sekaligus. Tapi, aku bisa membagi perhatianku," Sam memberikan satu piring yang berisi bermacam potongan buah pada Resa. Sam mendaratkan satu ciuman di pucuk kepala Resa.


Sam melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu. Dia membawa piring yang berisi jeruk yang sudah di kupas, untuk Vania. Resa tersenyum sendiri. Dia menusuk potongan buah itu dengan garpu yang terletak di piring itu. Lalu menghantarkan potongan buah yang tertancap di garpu itu kedalam mulutnya.


Di ruang makan Resa menikmati potongan buah sendirian, sedang di ruang tamu. Semua orang berbincang santai.


"Sudah sore, Dirga. Kamu menginap apa pulang, kalau pulang baiknya sekarang, jalanan meliyuk-liyuk, tidak aman kalau kamu pulang malam-malam. Tapi, kalau kamu mau menginap juga boleh," seru Ramida.


Sam menatap tajam kearah Dirga. Berharap yang di tatap mengerti akan kodenya.


"Aku pulang saja tante, PDKT sama Resa, nanti saja setelah dia melahirkan." Seru Dirga. Dia langsung berlari kearah pintu. Tanpa menoleh kearah Sam.


*****


Bersambung.

__ADS_1


Maaf ya, aku bisanya cuma 1 eps aja. Terima kasih semuanya 🙏


__ADS_2