
Dirga masih menikmati kuenya. Sudah 40 menit dia duduk sendirian di ruang tamu itu. Tapi, tidak ada tanda-tanda atasannya itu keluar dari kamar mereka. Suara deringan ponsel mengejutkan lamunannya. Dirga meraih ponselnya. Terlihat identitas pemanggil adalah orang kantor Ozage Crypton Group. Dia segera menggeser icon bewarna hijau.
"Ada apa Pak?" Tanya Dirga, langsung.
"Saya sudah di depan, tadi Tuan Sam meminta saya untuk menjemput Anda di alamat yang Tuan Sam, kirimkan sebelumnya, ini saya sudah sampai."
Astaga! Sam malah mengusirku secara halus! Gerutu hati Dirga. Dirga pasrah. Dia segera bersiap menemui supir itu. Sambil melangkah menuju pintu, Dirga terus mengetik pesan untuk Sam.
[Terima Kasih, aku pulang duluan.]
Dirga langsung mengirimkan pesan itu, pada Sam. Dengan perasaan kesal! Dirga terpaksa pulang bersama sopir. Daripada dia menunggu Sam, tanpa kepastian yang jelas, kapan acara itu selesai.
*********
Di kediaman Ozage Cryton Group.
Waktu berjalan masih seperti biasanya. Tapi, entah kenapa hari ini terasa sangat lambat bagi Marina. Matanya terus memandangi kearah pintu.
"Nyonya besar, ayoo makan siang dulu," bujuk Jena.
"Iya bu, ayoo makan siang dulu kalau ibu tidak makan siang, bagaimana ibu memangku bayi Sam nanti?" Rayu Ramida.
"Baiklah, aku makan. Tapi, di sini saja," jawab Marina.
"Jena, siapkan makan siang buat ibu," pinta Ramida.
Jena segera pergi untuk menyiapkan makan siang buat Nyonya besarnya. Selesai menyiapkan semuanya. Jena kembali mendekati Nyonya besarnya, dengan sabar, Jena menyuapi Nyonya besarnya itu makan.
Marina menahan suapan dari Jena dengan isyarat tangannya. "Apakah mereka pulang hari ini, Ramida?" Tanya Marina.
"Iya bu, mereka pulang hari ini." Ramida berusaha sabar, pertanyaan yang sama terus terlontar sejak pagi tadi.
Sedang Jena hanya tersenyum, dia terus melanjutkan tugasnya. Kini tugasnya menyuapi Nyonya besar, makan, akhirnya selesai. Jena memberikan nampan yang ada di depannya pada pembantu yang lewat, di depannya.
"Selamat siang semuanya, maaf kami terlambat." Suara itu bagaikan angin segar bagi Marina.
Marina sangat bahagia melihat Tony datang. "Akhirnya kalian datang. Mana cucuku?" Tanya Marina.
Melihat dua orang wanita muda yang berdiri di samping Tony, dua wanita muda itu mengenakan seragam babysitter, dua wanita itu masing-masing menggendong satu bayi di gendongannya. Mata Marina memandangi dua babybsitter itu.
"Dua?!" Marina bergumam. Dia sangat takjub melihat dua bayi itu.
"Ayooo, kemari. Nenek buyutnya sudah tidak sabar bertemu mereka pinta Ramida.
Dua babysitter itu mendekat. Marina masih terpaku melihat hal itu. Dua babysitter itu berdiri di dekat Marina.
"Bu, ibu mau gendong yang mana?" Tanya Ramida.
__ADS_1
"Dua?" Marina masih kaget, dia memandang kearah Ramida.
"Iya, bu. Kita dapat dua!" Seru Ramida. Ramida mengedipkan sebelah matanya, memberi kode pada mertuanya. Kalau yang satunya anak Resa.
"Berikan yang masih tidur itu padaku!" Pinta Marina.
Salah satu Babysitter yang di maksud Marina, mendekati Marina, perlahan bayi itu berpindah kepangkuan Marina.
"Yang ini, namanya Gavin. Nyonya," ucap babbysitter itu.
Marina tersenyum, dia memandangi Gavin yang ada dalam gendongannya.
"Berikan Gilang padaku," pinta Ramida.
Babysitter yang satunya memberikan Gilang pada Ramida.
"Kalian sudah makan siang?" Tanya Ramida.
"Belum, Nyonya. Tidak mungkin kami makan siang di luar."
Suara itu ber asal dari arah pintu. Terlihat Mawan, melangkahkan kaki mereka memasuki rumah itu.
"Nyonya, dalam bok itu, stok ASI buat Gilang dan Gavin, di mana Nyonya lemari es buat menyimpan itu?" Tanya salah satu babysitter yang berdiri di dekat Ramida.
"Mawan, langsung saja bawa ke kamar itu." Ramida menunjuk kamar yang dia maksud. "Itu kamar Gavin dan Gilang. Di kamar bayi sudah ada lemari es buat menyimpan Asi," ucap Ramida.
Mawan dan Tony, segera melangkah menuju kamar yang di maksud Ramida.
Ramida memandang babysitter itu. Dia tersenyum dan mengangukkan kepalanya.
Sedang Marina, tidak mengalihkan pandangannya dari bayi yang ada dalam pangkuannya.
"Aku ingin memangku keduanya," gerutu Marina.
"Satu-satu, dulu bu." seru Ramida.
***
Sore hari, dua bayi itu berbaring di kasur khusus bayi, yang mereka tempatkan di lantai. Beberapa dari penghuni rumah itu, duduk mengelilingi kedua bayi itu. Marina, dia terus memandangi dua cicitnya, sedikitpun pandangan itu tidak ter alihkan.
Suasana terasa lebih ramai. Di tambah lagi, dengan suara tangisan bayi yang menggema di rumah besar Ozage. Marina terlihat sangat bahagia. Sedang Ramida hanya memandangi mertuanya. Dia merasa lega. Usahanya untuk membahagiakan mertuanya terwujud.
Jam sudah menunjukkan jam lima sore. Tapi, Sam dan Resa belum juga datang. Ramida memandang kearah Mawan dan Tony yang duduk santai di sofa tamu.
"Kapan Sam kembali?" Tanya Ramida.
"Tidak tau, Nyonya. Setahu kami, Tuan Sam. Menghadiri pertemuan terlebih dahulu." Jawab Mawan.
__ADS_1
"Sam, pulang besok juga tidak mengapa!" Seru Marina.
*******
Di sudut kota yang lain.
"Kapan kita kembali?" Tanya Resa.
"Besok saja, ya …." Rayu Sam. Sam seakan tidak rela melepas kebersamaan ini. Jika pulang sekarang. Akan sedikit sulit menghabiskan waktu untuk bersama Resa.
"Bagaiman anak kita?" Wajah Resa sedikit cemberut.
"Anak kita ada yang menjaga. Ada ibu, ada nenek, ada dua babysitter. Apalagi yang kamu pikirkan? Terlebih Asi buat mereka juga banyak."
"Aku rindu mereka." Rengek Resa.
Sam bangkit dari posisi tidurnya, dengan memasang wajah cemberut, Sam berjalan menuju kamar mandi. Melihat perubahan rona wajah Sam. Resa sangat khawatir, melihat perubahan Sam.
"Anda marah?"
"Tidak! Aku hanya mengasihani diriku sendiri!" Sam membanting pintu kamar mandi dengan keras. Membuat tubuh wanita cantik itu sedikit terlonjak. Karena kaget mendengar suara bantingan pintu.
Resa merasa sangat bersalah. Dia menyusul Sam kedalam kamar Mandi. Sesampai di dalam sana, terlihat Sam berdiri di bawah guyuran Shower.
"Maafkan aku." Rengek Resa.
"Bukan salahmu! Memang nasibku saja yang tragis. Punya istri pertama, dia lebih memikirkan karir daripada diriku. Punya istri kedua, dia lebih memikirkan anaknya dari pada aku!" Gerutu Sam.
Resa mendekati Sam. Tanpa ragu dia langsung memeluk Sam. "Maafkan aku, bukan maksudku begitu …."
Sam berusaha menahan senyumannya. Niatnya mengerjai Resa berhasil. Tapi, Sam masih memasang wajah kesalnya.
"Sudah! Lupakan saja aku. Nanti kamu pulang bersama supir! Tinggalkan saja aku di sini sendirian!" Sam menepis tangan Resa yang melingkar di tubuhnya.
"Sayang … bukan begitu, kamu dan anak-anak kita sama-sama sangat berati bagiku." Resa kembali memeluk Sam.
"Kalau kau sayang padaku, kita pulangnya besok saja. Aku ingin menghabiskan malam ini, hanya berdua sama kamu."
Tanpa melepaskan pelukannya, Resa mengalah. Dia menganggukkan kepalanya. Sam sangat bahagia. Akhirnya acara potong kuenya, bisa berlanjut sampai besok pagi.
Reka ulang adegan di atas tempat tidur, kembali terulang di dalam kamar mandi, di bawah guyuran air Shower. Suara percikan air, semakin indah mewarnai irama ritme suara yang lain.
*****
Bersambung.
****
__ADS_1
Oh tidak!
Otakku ternoda! Uhukkkkkkk!