
Resa sangat geram mendengar hal ini. Namun dia tahan. Setidaknya dia sudah tahu, apa penyebab dirinya dan ibunya dibuang oleh papanya.
"Bisa kita selesaikan masalah perusahaan?" Sela Dirga.
"Kita selesaikan masalah ini, masalah pribadi kalian, nanti kalian lanjutkan," seru Sam.
"Aku tidak bisa menerima perusahaan ini. Perusahaan ini dari awal memang aku dirikan untuk istri dan anakku." Garie menoleh kearah Resa.
"Resa, perusahaan ini memang papa bangun untuk kamu dan mama kamu, sekarang milik kamu sayang." Garie memandang kearah Resa, tatapannya begitu sendu. Rasa bersalah menyelimuti hati Garie. Setelah mengetahui kebenaran ini.
"Itu impian papa, aku tidak butuh pah." Jawab Resa.
"Impian papa, adalah kebahagiaan kamu dan mama kamu, terima saja, sayang. Papa akan pergi, papa hanya butuh 30 persen dari saham itu, sisanya, semua hak kamu."
Sri maupun Nazla tidak berani bicara. Terungkapnya fitnah yang dia ciptakan untuk Hayati, membuat Sri kehilangan keberaniannya.
"Baiklah, urusan perusahaan, selesai, hak milik perusahaan itu, semuanya atas nama Resa." Sela Dirga.
"Tolong, jangan bebani punggungku dengan tanggung jawab lain," pinta Resa.
"Bagaimana, kalau perusahaan kalian, di beli oleh Ozage Crypton Group? Jadi perusahaan itu milik Tuan Sam." Usul Dirga
Ucapan Dirga di jawab dengan anggukan kepala, oleh Garie dan Sam.
Sri dan Nazla terus saja menunduk, walau hati mereka ingin bicara. Tapi, mereka sungguh tidak berani menegakkan kepalanya. Usaha Sri selama ini menyingkirkan Hayati, sia-sia. Karena Garie sekarang tahu kebenarannya.
Sam segera berdiri. Dia merapikan bagian bawah jas nya. "Baiklah, semua urusan sudah selesai. Tapi, saya harap. Semuanya bersedia menginap di sini, sampai perayaan ulang tahun saya." Pinta Sam.
Sam memandang kearah Resa, ada gurat kesedihan di wajah cantik itu. Namun, Sam menahan diri agar tidak mendekati Resa, walau batinnya sangat menginginkan memeluk wanita itu.
"Resa sayang, ikut mama," pinta Hayati.
Resa melangkahkan kakinya mendekati Hayati, mereka berdua meninggalkan ruang kerja Sam lebih dulu. Sedang Sam melanjutkan urusan perusahaan milik Garie, semua penjualan perusahaan akan masuk kedalam rekening pribadi Resa nantinya.
Selesai menanda tangani semua berkas, Garie memberanikan diri untuk bicara. "Tuan, Sam. Bisakah saya meminta 1 ruangan untuk saya sendiri? Mengingat perbuatan wanita itu, saya takut, kalau saya tidak bisa menahan diri agar tidak menyakiti orang itu."
"Baik Pak Garie, kami akan sediakan satu kamar buat Anda," sela Dirga.
Garie berjalan mendekati Sri dan Nazla. "Kita urus semua urusan kita nanti," ucap Garie penuh penekanan. Garie segera pergi dari ruangan itu. Dia berjalan lebih dulu menuju kamar yang di sediakan untuk mereka bertiga.
Di ruangan itu, tinggal Nazla, Sri, Dirga dan Sam.
"Kalian beruntung. Karena Resa, tidak mengizinkanku menyakiti kalian. Kalau tidak, aku sudah memberi perhitungan dengan kalian!" Ucap Sam.
"Kalian boleh pergi," sela Dirga.
__ADS_1
Sri dan Nazla segera keluar dari ruang kerja itu. Sedang Sam dan Dirga melanjutkan beberapa pekerjaan mereka.
Sri dan Nazla terus melangkahkan kaki mereka, menuju kamar yang mereka tempati. Walau sangat banyak pertanyaan di batin mereka, kenapa Sam begitu mendengarkan dan memihak Resa.
*******
Jam makan siang, biasanya semua orang berkumpul di meja makan. Tapi, hari ini, para pelayan sedikit lebih sibuk, mereka punya tugas tambahan, mengantarkan makanan buat penghuni rumah ini, ke kamar mereka masing-masing.
Entah angin apa yang berhembus di dalam rumah itu, sampai jam makan malam pun, semua orang masih betah mengurung diri mereka di kamar.
Di kamar Gavin dan Gilang.
Resa menciumi Gilang cukup lama, bahkan air matanya membasahi wajah Gilang. Merasa sedikit lega, Resa memberikan Gilang pada babysitter, lalu menggendong Gavin. Lumayan lama dia memeluk Gavin, sesekali menciumi Gavin. Sambil menggendong Gavin, Resa membuka lemari es tempat penyimpanan Asi. Memastikan Asi untuk Gavin dan Gilang.
"Yang mana putramu?"
Pertanyaan itu membuat Resa sedikit tersentak.
"Keduanya putraku, mama."
Kedua babysitter hanya diam di pojok ruangan. Melihat pemandangan yang nampak menyedihkan.
"Yang kamu lahirkan," Hayati mengulangi pertanyaannya.
"Susui dia untuk yang terakhir kali!" Perintah Hayati.
Resa menciumi Gavin, lalu mulai menyusui putranya. Sekuatnya dia menahan tangisannya, agar tidak mengeluarkan suara. Hanya isakkan yang amat memilukan lolos yang samar terdengar. Air matanya terus menetes. Rasanya tidak rela melepaskan pelukan ini.
Sam ... maafkan aku, tadinya aku ingin mengerjaimu berpura-pura marah padamu. Tapi sekarang ... aku malah akan pergi meninggalkanmu. Jerit batin Resa.
Melihat Gavin yang berhenti menyusu, Resa memberikan Gavin pada pengasuhnya.
"Mari kita pergi." Pinta Hayati.
"Mamaaa." Resa sungguh tidak rela pergi dari sini.
"Resa!" Suara Hayati sedikit meninggi.
Resa pasrah mengikuti kemauan Hayati. Dia dan Hayati pergi dari rumah besar itu. Sesampai di pintu utama, di halaman luas itu, satu mobil taksi sudah menunggu mereka. Hayati menarik Resa, langkah Resa tertatih, karena tarikan ibunya. Setelah dua orang itu masuk kedalam mobil. Sang supir taksi segera melajukan mobilnya. Perlahan mobil itu meninggalkan kediaman Keluarga Ozage.
Sepanjang perjalanan, bayangan indahnya bersama Sam dan bayangan kedua bayinya selalu berputar di kepala Resa. Sehingga dia tidak kuat menahan tangisannya.
*****
Sejak pertemuan di ruang kerjanya. Sam belum bertemu dengan Resa lagi. Dia berjalan kesana kemari mencari Resa. Tapi, tidak menemukan perempuan itu. Tujuan terakhir Sam, adalah kamar bayinya. Dengan langkah kaki yang semangat, Sam melangkah menuju kamar bayi. Setelah membuka pintu. San melihat ibunya yang tampak murung.
__ADS_1
"Ibu .…" sapa Sam.
Ramida menoleh kearah Sam. Pandangan mata Ramida terlihat sangat sendu.
"Resa, mana bu?" Sam mengedarkan pandangannya pada ruangan itu, mencari sosok Resa.
"Dia pergi." Suara Hayati terdengar sangat lemah.
"Ibu jangan bercanda!" Sam terlihat cemas.
"Dia pergi bersama ibunya." Ramida tidak bisa menahan air matanya. Dia segera pergi meninggalkan Sam.
"Apa yang terjadi sebelumnya?" Sam bertanya pada kedua babysitter yang sedar tadi memperhatikannya.
"Tidak tahu, Tuan. Tadi Nona Resa terus menangis sambil memeluk Gilang, kemudian menyusui Gavin. Kata wanita yang satunya, susui putramu, untuk yang terakhir kali."
Penjelasan babysitter itu, membuat Sam sangat hancur. Dia ingin berteriak. Tapi, di kamar ini ada dua jagoannya yang terlihat nyaman dengan dot mereka. Sam berusaha menahan ledakkan dalam dirinya. Dia berjalan begitu tergesa-gesa keluar dari kamar itu.
"Pak Bim!!! Kerahkan semua keamanan kita, cari istriku sampai ke lubang semut sekalipun!" Teriakan itu menggema di ruangan itu.
Sontak beberapa pelayan langsung berkumpul. Garie, Sri dan juga Nazla keluar dari kamar mereka.
"Ada apa Tuan?" Tanya Pak Bim.
"Resa dan ibunya kabur! Cari mereka sampai dapat!" Suara Sam terdengar sangat menakutkan.
"Hahahahaaaa!" Sri tertawa begitu lepas.
"Setelah dapat uang hasil penjualan perusahaan mereka kabur mah!" Nazla ikut tertawa.
Sam berjalan kearah Nazla dan Sri. "Uang penjualan perusahaan belum aku kirim, satu lagi! Jangan mengira yang bukan-bukan! Resa adalah istriku! Sudah cukup kalian membuat kehidupan Resa sulit di masa lalu, andai bukan karena dia, sudah aku cincang-cincang kalian!"
Mata Nazla dan Sri langsung melotot, mendengar ucapan Sam barusan. Mereka baru sadar, bayi yang satunya yang mereka lihat di rumah sakit waktu itu, adalah bayi Resa dan Sam.
"Apa maksud Anda?" Garie juga sangat terkejut mengetahui hal barusan.
"Nanti saja ceritanya, saya ingin mencari ibu mertua dan istri saya dulu." Sam berjalan melewati mereka begitu saja.
Suasana malam yang tenang, terasa mencekam. Tugas dadakan yang Sam beri. Membuat istirahat para pekerja keamanan terusik, karena harus mencari wanita yang bernama Resa.
******
Bersambung.
Padahal mau up tadi, tapi belum sempat mengecek. Ini pun mata dah sepet. Maaf gantung lagi.
__ADS_1