
Sam mematung melihat penyanyi yang saat ini bernyanyi di atas panggung itu. Sedang penyanyi itu begitu mendalami lagunya, bahkan terlihat dia berulang kali mengusap air matanya. Penyanyi itu tidak menyadari tatapan tajam yang tertuju padanya.
Tepukan yang mendarat di bahu Sam, membuat Sam terlonjak.
"Happy Birthday, sayang. Itu hadiah dari ibu dan mertua kamu."
Sam menoleh kearah samping. Kedua matanya melotot, saat melihat ibu Resa dan ibunya berada tepat di sampingnya.
"Ini?!" Sam masih tidak percaya dengan apa dia lihat.
"Surprise!!!" Seru Hayati dan Ramida bersamaan. Sam melangkah begitu cepat kearah panggung. Dia tidak rela Resa bernyanyi untuk semua orang yang hadir malam ini.
Lagu terus berlanjut.
🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Adakah keikhlasan
Dalam palung jiwamu mengetukku?
Ajarkanmu bahasa perasaan
Hingga hatimu tak lagi membeku
Haruskah 'ku mati karenamu?
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah 'ku relakan hidupku?
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku
Hentikan denyut nadi jantungku
Tanpa kau tahu betapa suci hatiku untuk-----
🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Resa tidak bisa meneruskan nyanyian nya, saat melihat Sam tepat berada di depannya. Resa ingin kabur dari tempatnya berdiri sekarang.
"Mau lari kemana Nona!"
Suara itu terdengar tidak asing, Resa menoleh kearah sumber suara itu. Dia terkejut melihat ibunya tampil cantik, berjalan bersamaan dengan Ramida. Resa segera menghampiri ibunya. Dia berlalu begitu saja melewati Sam.
"Mama? Mama tidak apa-apa?" Resa memeriksa bagian tubuh ibunya.
"Maaf sayang, ini rencana mertua kamu." Hayati menarik Resa kedalam pelukannya.
*****
Flash back Hayati dan Ramida.
__ADS_1
Setelah Resa pergi dari kamar itu. Ramida mulai menceritakan kesepakatannya dengan Resa. Hingga saat ini.
"Apakah perpisahan Sam dan Vania, karena Resa?" Tanya Hayati.
"Tidak sama sekali, dalam hidup Vania, hanya karir, hiburan, dunia dia hanya itu. Keluarga, sepertinya tidak ada dalam impian Vania." Ramida mulai menceritakan Vania. Dari Vania hamil, sampai Vania bersikeras meninggalkan mereka semua, demi impiannya.
Hayati diam, dia ikut merasakan bagaimana sesaknya perasaan seorang ibu. Melihat putranya di tindas sang istri.
"Jangan salahkan Resa, ku mohon ... jangan pisahkan mereka, Resa bagai malaikat, berkat dia. Sam, putraku, bisa merasakan kebahagiaan."
"Memisahkan? Bagaimana aku bisa memisahkan ibu dari anaknya, istri dari suaminya?"
Hayati dan Ramida berpelukan. Tiba-tiba pikiran nakal terlintas di benak Ramida. Dia berbisik pada Hayati tentang rencananya.
Tidak butuh waktu lama, susunan skenario Ramida berjalan lancar. Menyewa hotel untuk persembunyian sementara Hayati dan Resa. Tanpa sepengatahuan Resa. Mereka menyiapkan kurir Khusus. Lalu merancang sandiwara pembajakkan yang berakhir dengan tertusuknya Hayati, dengan pisau mainan.
"Aku memikirkan bagaiman kejutan agar Resa tiba-tiba hadir di hadapan Sam." Gerutu Ramida.
"Resa pandai menyanyi, atur saja rencana, agar Sam terkejut melihat Resa menyanyi." Usul Hayati.
Ramida pun langsung menyusun rencana pertemuan Resa dengan Heru. Ramida menyediakan Van yang tertutup, agar Resa tidak menyadari kalau dia kembali ke rumah ini dan bernyannyi di acara pesta ulang tahun Sam. Rencana pun berjalan mulus. Sesuai dengan apa yang Hayati dan Ramida inginkan.
Flash back off
***
Resa masih tidak percaya, semua ini adalah rencana mamanya dan ibu, Sam. Sam berjalan mendekati mereka.
"Bagaimana kejutannya, sayang?" Tanya Ramida.
Sam melepaskan pelukannya pada tubuh Resa. "Tidak asyik!" Sam melepaskan jas yang dia kenakan, dia langsung menutupi bagian atas badan Resa dengan jas nya. Dia tidak suka dengan pakaian Resa.
Semua tamu masih bingung. Mereka tidak mengerti dengan yang terjadi saat ini.
Sam memandang kearah Dirga. "Jangan bilang ini rencana kamu juga!" Bentak Sam.
"Rencana apa, aku melihat Resa saja terkejut!" Bela Dirga. Dirga lebih memilih berjalan keatas pentas, memberi klarifikasi atas apa yang terjadi.
"Terima kasih Vania, berkat kamu, istri kedua Tuan Sam, bersedia kembali ke pelukan Tuan Sam. Perkenalkan semua, Moresa Haya, istri Tuan Sam." Seru Dirga. Dirga mengarahkan tangannya kearah Resa dan Sam.
Sam dengan bangga mengenalkan Resa ke mata publik sebagai istrinya saat ini. Semua sorot mata, dan sorotan kamera, tertuju kearah Sam dan Resa. Keadaan semakin riuh, saat melihat dua babysitter berjalan mendekati Sam dan Resa. Mereka memberikan dua bayi yang tampil menawan dengan setelan jas khusus bayi, pada Resa dan Sam.
Resa sangat bahagia bisa melihat dua putranya lagi. Dia menciumi Gavin dan Gilang bergantian. Kini Gavin berada dalam gendongan Sam. Sedang Gilang berada dalam gendongan Resa. Sam mempersilakan media yang meliput acara ulang tahun Sam, untuk mengambil momen ini.
Seketika semua mata kamera sibuk mengabadikan momen itu, dengan kamera ponsel bahkan kamera-kamera yang lain.
Sri dan Nazla hanya berdiam diri dipojokan, tidak berani bergerak dari tempat mereka.
Di depan sana, Sam mengajak Resa naik keatas panggung, untuk menyelesaikan acara ulang tahunnya. Semua orang berkumpul di atas panggung sana. Kecuali Garie. Dia menolak naik keatas sana, saat Dirga memintanya.
Di atas sana, Sam dan Resa. Hayati dan Ramida, yang menggendong Gavin dan Gilang. Juga Dirga dan Marina, yang berdiri berjejer dengan mereka. Di panggung itu, seakan kebahagiaan terpancar, setiap mata yang memandang juga larut dalam kebahagiaan ini.
__ADS_1
Sam mengenalkan kedua bayinya.
"Perkenalkan semua, ini jagoannya keluarga Ozage. Tapi, aku tidak memberikan nama keluarga di belakang nama mereka. Yang Ini Gavin Alvafaro dan yang Ini Gilang Alvaro." seru Sam.
"Kenapa Alvaro?" Dirga protes.
"Mereka anakku, beri nama apapun terserahku!" jawab Sam.
"Tapi, kenapa Alvaro?" Marina ikut protes.
"Aku suka nama itu," jawab Sam.
***
Di bawah sana. Garie mendekati Sri dan Nazla. Sri berusaha santai. Walau batinnya sangat ketakutan.
"Nazla, nomer rekening kamu tetap yang lama kan?" Tanya Garie.
"Masih pah." Jawab Nazla.
"Segera kalian pergi dari sini, dan dari rumah itu. Maaf aku tidak bisa melihat kalian lagi. Pergilah, kemanapun kalian mau. Setelah aku mendapat uang pembayaran saham 30 persen, semuanya akan aku transfer ke rekening kamu, Naz!" Ucap Garie.
Garie memandang kearah Sri. "Kamu tenang saja. Perceraian akan aku urus!"
Sri menatap tajam pada Garie. "Cuma ini balasan mas pada kami? Kami selama ini setia di samping mas."
"Ngaca dulu Sri! Wanita di atas sana," Garie menunjuk kearah Hayati. "Dia memberikan derajat pada seorang pembantu seperti kamu. Dia tidak meminta banyak hal. Dia hanya ingin berbagi suami, karena dia ingin suaminya bahagia. Tapi, apa balasan kamu padanya?" Tatapan Garie sungguh tampak menakutkan membuat nyali Sri langsung menciut. Dia langsung menarik Nazla untuk pergi dari sana.
Dari atas panggung, Hayati melihat Sri dan Nazla pergi. Dia meminta izin untuk turun. Setelah turun dari panggung itu. Hayati mendekati Garie.
"Apakah kamu mengusir Sri dan putrinya?"
Garie langsung menoleh kearah sumber suara. "Bukan hanya mengusir mereka dari sini, bahkan aku mengusir mereka dari hidupku!" Jawab Garie.
"Kita sudah tua, sangat memalukan orang tua bercerai!" Sela Hayati
"Kalau kamu di posisi aku, apakah kamu masih bisa tinggal seatap dengan manusia yang menghancurkan segalanya? Kau kira aku bahagia hidup dengan Sri setelah bercerai denganmu? Aku sama sekali tidak bahagia, aku hanya bersikap sebagai seorang suami yang bertanggung jawab. Sebagai lelaki, aku sangat tidak bahagia." Garie juga pergi dari tempat acara itu.
Acara terus berlangsung. Sam terus melingkarkan tangannya di pinggang Resa. Sedang Resa merasa risih. Karena bagian atas tubuhnya memakai jas milik Sam.
****
Di luar pesta itu.
Kota itu juga seakan ikut larut dalam kebahagiaan Sam dan Resa. Melihat siaran dari televisi, yang menyiarkan pesta ulang tahun itu.
Sam bahagia dengan istri keduanya. Juga dengan keluarga besarnya. Begitu juga Vania, dia merasa bagai diatas awan. Tagar #Cinta_Vania, #We_Love_Vania. Menjadi tranding topik malam ini.
Melihat kebahagiaan Vania. Arini hanya menggeleng. Wanita itu benar-benar tidak merasa kehilangan. Dia malah bahagia dengan dunianya sendiri.
"Wanita itu sangat beruntung!" Seru Arini, mata Arini fokus memandang kearah layar televisi.
__ADS_1
"Hidup ini adil. Mereka bahagia aku juga bahagia!" Seru Vania.