Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 54 Potong Kue


__ADS_3

Samuel POV


Seharusnya, hari ini tidak ada pekerjaan. Tapi, tiba-tiba ada pertemuan di kota yang tidak jauh dari rumah tinggal kami, yang sementara kami tempati. Aku pun segera melakukan kewajiban, sebagai petinggi perusahaan Ozage Crypton Group.


Tujuan awal membeli rumah ini, untuk merawat bayi Vania yang di pastikan lahir prematur. Kami menyembunyikan dua bayi lemah ini, takut nenek tertekan melihat dua cicitnya yang terlahir prematur. Tapi, ternyata berkat kasih sayang dan perhatian Resa, bayi Vania yang aku beri nama Gilang, bisa tumbuh Sehat. Walau tidak seaktif Gavin. Bukan hanya Gilang yang membaik. Tapi diriku juga.


Sepanjang pertemuan, bayangan Resa dan tangisan Gilang dan Gavin selalu membayangiku. Fokus pun terbagi. Untung ada Dirga yang meneruskan pertemuan ini. Aku hanya diam, sesekali menyimak apa yang Dirga sampaikan. Walau lebih banyak melamunnya.


Akhirnya pertemuan ini selesai. Segera aku pergi dari tempat ini. Entah kenapa hati ini sangat merindukan Resa. Terlebih saat ini, Resa hanya sendirian di rumah.


"Tuan Sam!"


Teriakan itu terdengar tidak asing di telingaku.


Kuputar sedikit arah tubuhku, menghadap kesumber suara itu ber asal. Aku tidak bisa menyembunyikan kekesalan, saat melihat siapa yang memanggil tadi.


"Ada apa Dirga?" Aku tidak bisa menyembunyikan raut wajah kekecewaanku.


"Tuan, kalian 'kan hari ini kembali. Aku nebeng ya ...." pintanya.


"Kamu punya mobil sendiri! Ngapain nebeng sama kami!" Bentakku.


"Biar Tuan tidak lelah. Biarkan aku jadi sopir Anda, hari ini."


Daripada aku tertahan di tempat ini, ku izinkan dia pulang bersamaku.


Dirga yang menyetir mobil, sedang aku masih fokus memeriksa beberapa berkas. Perjalanan kami, lumayan cepat. Akhirnya, kami sampai di rumah, yang selama ini jadi tempat bernaung kami, mungkin tepatnya tempat persembunyian kami.


Aku dan Dirga, berjalan santai menuju rumah. Saat berada tepat di depan pintu. Aku terkejut melihat selembar kertas yang menempel di depan pintu. Kertas itu menari-nari kena hembusan angin.


Aku dan Dirga saling pandang, penasaran dengan kertas tersebut. Tapi, Dirga kalah cepat saat ingin meraih kertas yang menempel di pintu itu. Saat aku melihat coretan tinta pada kertas itu, seakan duniaku ter alih pada kertas itu.


Tulisan itu ....


*****


Sam, aku tidak tau apakah ini cinta atau apa jenisnya. Yang pasti aku sangat nyaman bersamamu. Hingga menjadi istri kedua yang kamu rahasiakan saja, aku bahagia.


Jujur … sebenarnya aku berniat pergi dari sisimu, dan meninggalkan wujud dari cintaku. Bagaimana pun hatiku berkata ihlas, kalau kau milik Vania. Tapi, saat kau bersamanya, hati ini terluka.


Aku tidak boleh egois. Selama ini, aku berusaha membantu membuka mata Vania. Bahwa ada sosok yang langka di dunia ini. Yang tulus mencinta tanpa mengharap balasan untuk dicinta. Tapi, usaha kamu dan usaha kita semua gagal. Vania tetap pergi bersama mimpinya, dan meninggalkan kita semua.


Aku tidak tahu, perasaan apa yang kamu rasa di ulang tahunmu yang sekarang.


Sam … aku tidak punya apapun untuk ku beri padamu. Hatiku saja sudah kau ambil. Mau tau apa hadiahku? Aku siapkan di dalam rumah ini. Catatan : AWAS MUAL!


******


Aku tersenyum sendiri setelah membaca tulisan pada kertas ini. Rasanya kertas ini sangat berharga. Saat ku tegakkan wajahku, tatapan mata Dirga sungguh sangat tajam.


"Ada apa?!" Tanyaku.


"Kapan kita masuk?"

__ADS_1


Mataku memandangi kertas itu kembali. "Biasanya pintu ini tidak di kunci, coba saja buka." Tanpa mengalihkan sedikitpun perhatianku pada kertas yang aku pegang.


"Ya sudah, aku buka pintunya." Ucap Dirga.


"Akkkkkkk!"


Jeritan teriakkan itu membuyarkan perhatianku. Saat kutegakkan wajahku. Dirga mematung, mulutnya menganga lebar. Sontak saja aku menengok keadaan di dalam rumah itu.


Ya Tuhan, apa itu?


Resa mengenakan gaun yang sangat minim, dia berlari kearah dapur. Pantas saja Dirga melongo. Selama ini, Resa selalu mengenakan pakaian yang agak panjang. Melihat dia mengenakan gaun mini seperti itu, sungguh menakjubkan.


"Apa itu?" Gumam Dirga.


"Jangan macam-macam! Itu milikku!" Bentakku.


Sial! Harusnya pemandangan itu hanya untukku. Karena di rumah ini tadinya hanya ada kami berdua. Ini malah Dirga ikut menikmati. Segera kulangkahkan kaki kearah dapur. Sedang Dirga melangkah menuju sofa dan duduk dengan nyaman di sana.


Di dapur sana, seorang wanita yang terlihat begitu cantik, dia menaruh kue ulang tahun di meja yang ada di dekatnya. Dia mengenakan gaun warna merah muda, yang sangat minim. Kain itu hanya menjuntai menutupi sedikit bagian paha nya. Sedang bagian atasnya, semua terbuka. Menyuguhkan pemandangan industri sumber gizi Gavin dan Gilang. Benda itu sangat menggoda. Bahkan seakan ingin melompat dari pembungkusnya yang hanya menutupi sedikit dari bagian itu. Rambutnya tergerai begitu indah. Tanpa ku sadari, mulutku juga menganga, mengagumi pemandangan ini.


"Maafkan aku …." Rengekkan itu membuyarkan kekagumanku. Dia nampak risih dengan gaun mini yang dia kenakan.


"Ammm … umm …." Aku berusaha mengumpulkan kesadaranku. Bisa-bisa runtuh pertahanan yang aku bangun lebih dari tiga bulan ini, melihat memukaunya pemandangan itu.


"Maafkan aku, harusnya aku sadar. Ini sangat konyol. Tapi, tetap saja aku lakukan," ringisnya.


Aku berjalan mendekatinya. Agar semakin jelas menikmati pemandangan ini. Astaga, wangi yang ber asal dari arah wanita ini semakin membuat darahku mendidih.


"Sudah aku bilang bukan!? Tidak perlu kasih aku kado!" Ucapku, dengan nada yang sedikit tegas.


"Apa-apaan ini! Kau berpenampilan seperti ini!" Bentakku.


Tidak terdengar lagi sahutan, darinya. Dia terus menunduk. Hanya terdengar helaan napas yang terdengar agak berat. Semakin semangat aku mengerjainya.


"Kau pikir apa hasil dari semua ini!" Bentakku lagi.


Terlihat dia menegakkan sedikit wajahnya. Matanya nampak memerah, rupanya dia sedari tadi menangis.


"Aku hanya ingin memberi kejutan untukmu."


"Kejutan? Dengan berpenampilan seperti ini kejutan?!" Ku hempaskan kasar napasku begitu saja.


"Maafkan aku. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi," jeritnya.


"Itu harus!" Bentakku lagi. Aku melepaskan jas yang aku kenakan. Lalu kupakaikan di badannya.


"Resa ... melihatmu memakai pakaian normal saja, sangat menyiksaku, aku berusaha keras untuk menahan diri, agar tidak menyentuhmu. Karena kamu belum bisa melayaniku."


Dia hanya diam dan terus mengusap air matanya.


Ku raih dagunya, dengan jemari tanganku. Tidak bisa kuhindari, senyuman nakal menghiasi wajah ini, mengingat ini sudah lebih tiga bulan.


"Kue yang ada di meja itu, sudah siap untuk di potong bukan?"

__ADS_1


Dia menganggukkan kepalanya.


"Kue yang ini, apakah sudah bisa di potong?" Godaku.


Wajahnya nampak memerah. Langsung saja dia kutarik kedalam pelukanku.


"Berjanjilah, kau tidak akan berpakaian seperti ini untuk orang lain, penampilan ini, hanya untukku." Pintaku, manja.


Dia melepaskan diri dari pelukanku.


"Anda tidak marah?" Rona wajahnya nampak bingung.


"Aku marah, karena Dirga yang melihatnya lebih dulu." Aku langsung menyerbu bibir merah itu.


Cukup lama kami saling absen. Rasanya tidak ingin melepaskannya. Berulang kali Resa menepuk dadaku, terpaksa aku melepaskan bibir ranumnya.


"Terima kasih kejutannya." Ucapku.


Dia hanya tersenyum.


Aku meraih kue yang ada di meja. "Ayo, kita keluar, tutupi dirimu dengan benar!" Pintaku.


Dia memakai jas ku, untuk menutupi tubuhnya. Kami berjalan bersama kearah luar. Sesampai di ruang tamu, pandangan mata Dirga hanya tertuju pada kami.


"Apa lagi!" Bentakku. Aku tidak suka melihat Dirga memandangi Resa.


Dirga, diam tidak menjawab perkataanku.


"Kau sudah menikmati hadiahku, harusnya itu hanya untukku!" Gerutuku.


"Weis ... akan ada acara potong kue ini." Dirga berusaha merubah arah pembicaraan.


"Ini, untukmu. Potong saja sendiri, mau minum silahkan kamu ambil sendiri ke dapur!" Kuberikan kue ulang tahun yang kubawa pada Dirga.


Dia tampak senang menerimanya. Sedang aku menarik Resa berjalan menuju tangga.


"Tuan! Apa hanya aku sendirian nih yang potong kue?!" Teriaknya.


Aku terpaksa menghentikan langkah kaki. "Lanjutkan saja acara potong kue mu, aku juga mau lanjut acara potong kue ku!" Jawabku. Tanpa menoleh kepadanya.


******


Author POV


Mendengar jawaban dari Sam, Dirga merasa jadi orang bodoh. Dia memandangi kearah tangga. Dengan nyamananya dua orang itu menaiki anak tangga, tanpa memperdulikan kehadirannya. Sam dan Resa terus naik kelantai dua. Dirga meraih pisau plastik yang ada di meja tamu. Lalu memotong kue yang dia pegang dengan perasaan kesal. Tangannya mengambil potongan kue tersebut. Lalu menghantarkannya kemulutnya.


Mulutnya, terus mengunyah. Sedang pikirannya terus terbanyang sosok Resa. Walau dia hanya melihat sebentar. Penampilan Resa yang dia tadi, membuat darah Dirga mendidih. Dia sangat tahu, acara potong kue seperti apa yang Sam lakukan bersama Resa. Di lantai atas sana.


Dirga menyandarkan punggungnya, bersandar di sandaran sofa. "Ya Tuhan … apakah aku yang bodoh, atau Sam yang Gila?" Gumam Dirga. Dirga terus memakan potongan kue yang dia pegang.


*****


Bersambung.

__ADS_1


*****


Kasian Dirga, puk-puk Dirga 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2