Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bonus Chapter 2


__ADS_3

Sebelum pergi meninggalkan desa, di mana dia dan Ismi memulai segalanya dari nol. Arnaff meminta kedua orang tua Ismi dan kedua adik Ismi untuk menetap di desa itu. Karena Rian dan Rishi perlu kehidupan yang lebih baik. Lidia setuju menetap selamanya di sana. Arnaff memberikan rumah dan pabrik yang ada di desa itu untuk mertuanya. Arnaff pun kembali ke kota bersama ibunya. Membawa Nadira.


Tidak terasa, umur Nadira kini beberapa bulan lagi tepat 5 tahun. Anak gadis yang super aktif. Dia hanya akrab berteman dengan Gavin dan Gilang. Apabila Ramida dan Leti bertemu di tempat arisan, atau perkumpulan lain. Ramida dan Leti selalu membawa cucu kesayangan mereka, sehingga Gavin dan Gilang akrab dengan Nadira.


Selesai dengan sarapannya, Nadira bermain bersama pengasuhnya sambil bersiap untuk pergi ke sekolah. Sedang Arnaff masih menikmati sarapan paginya.


"Nak, usia Nadira sebentar lagi 5 tahun. Kamu tidak berniat untuk menikah lagi?"


Pertanyaan Leti, membuat Arnaff batal menyuap makanannnya.


"Ma, pilihan hatiku, selalu bertentangan dengan keinginan mama. Cukup sekali aku melukai hati mama, karena lebih memilih pilihan hatiku daripada kebahagiaan mama." Arnaff sadar, pilihannya yang memperjuangkan cintanya, tentu melukai hati mamanya. Tapi kala itu dia hanya memperjuangkan cintanya.


"Maafkan mama, mama sangat menyesal tidak merestui kamu saat itu. Saat ini, mama tidak akan menentang kemauan kamu dalam memilih pasangan. mama mendukung perempuan yang nanti akan kau pilih. Mama Janji!"


Rinto Ayah Arnaff lebih memilih fokus dengan sarapannya.


"Nak, menikah lagi demi Nadira." Pandangan mata Leti begitu sendu.


"Akan aku coba untuk membuka diri dan hatiku, mah."


Senyuman mengambang di wajah Leti. Harapannya Arnaff bisa membuka lembaran baru. Selesai dengan sarapannya. Arnaff pamit pada kedua orang tuanya untuk bekerja. Tidak lupa dia juga pamit pada putri kecilnya.


"Nadira nanti diantar sekolah sama Pak Mamat, ya." Arnaff mencium kepala putri kecilnya.


"Iya papa. Oh ya pah. Nadira satu sekolah sama Gavin dan Gilang." Mulut mungil itu bercerita banyak hal, tentang keseruannya bersama Gavin dan Gilang.


Arnaff hanya tersenyum mendengari cerita Nadira. "Nanti, ceritanya di sambung lagi ya. Papah kerja dulu."


"Iya papa."


Arnaff segera pergi menuju mobilnya. Setelah semuanya siap. Dia melajukan mobilnya menuju kantornya.


Sesampai kantor. Tidak ada yang beda. Semua pegawai kantor menyapa dan memberi hormat padanya. Arnaff terus melangkahkan kakinya menuju ruangannya yang ada di lantai 10. Baru keluar dari lift. Seorang gadis cantik yang bekerja menjadi sekretarisnya,langsung mengambil map yang bertumpuk diatas meja kerjanya.


"Selamat pagi. Pak," sapanya ramah.

__ADS_1


"Pagi, Her."


"Apa Bapak sibuk? Soalnya ada beberapa berkas yang menunggu persetujuan bapak."


"Langsung saja bawa keruangan saya, Her."


Arnaff langsung masuk kedalam ruanganya. Sedang Herly mempersiapkan semua berkas yang diperlukan. Dia segera berlari menuju ruang kerja Arnaff sambil memeluk berkas-berkas penting.


Herly melangkah menuju meja kerja Arnaff. Dia berdiri di samping Aranff dengan posisi setengah membungkuk, menunjukkan poin-poin penting yang perlu Arnaff periksa ulang.


Bau parfum sekretarisnya sungguh segar. Arnaff tidak bisa bohong, keinginannya bersama wanita timbul begiti saja. Apalagi dia menyukai wangi ini. Arnaff menepis pikiran nakalnya, dia berusaha untuk terus menyimak semua penjelasan Herly. Setelah menyimak dan setuju dengan semua poin-poin penting. Arnaff segera menanda tangani berkas-berkas penting.


******


Sebulan berlalu. Pertanyaan Leti tentang calon istri, terus saja dia lontarkan. Membuat Arnaff semakin bingung. Hatinya belum siap menerima wanita baru. Tapi, kebersamaan dengan para pegawai cantik dan rekan-rekan bisnis, membuat Arnaff tidak bisa mengingkari kehendaknya akan kebutuhan yang satu itu.


Apalagi saat bertemu Sam. Dia harus sering-sering menahan napas. Laki-laki itu sungguh tidak punya malu. Dia begitu santai dan lepas bermesraan dengan istrinya di manapun. Asal tidak ada Gavin dan Gilang berkeliaran disekitar mereka.


Rapat hari ini sudah selesai. Arnaff bisa bersantai di ruang kerjanya. Setelah melepas jas dan meletakkannya di sandaran kursi kerja, Anaff langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kerja yang empuk itu. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi itu. Berharap Tuhan memberi kajaiban pada dirinya, agar dia bisa jatuh cinta lagi, dan menikah lagi.


"Selamat siang Tuan."


"Her, apa siang ini masih ada pekerjaan?"


"Setelah rapat selesai, untuk saat ini tidak ada Tuan."


"Baiklah, aku mau pulang, kamu minta Dendi mengurus hal yang penting, selama aku tidak ada."


"Baik Tuan."


Arnaff menutup panggilan teleponnya. Dia segera meraih tas kerja dan kunci mobilnya. Dengan langkah yang begitu semangat, Arnaff pergi meninggalkan kantornya.


*****


Mobil yang Arnaff kendarai terparkir sempurna di halaman rumah orang tuanya. Baru beberapa langkah melangkah meninggalkan mobilnya. Suara khas itu melengking begitu jelas.

__ADS_1


"Papaaaaa!" Suara teriakan itu menggema di teras rumah kediaman Arnaff. Nadira sangat bahagia melihat papanya pulang. Nadira berlari menghambur kedalam pelukan papanya.


"Anak papa sudah makan siang?"


"Sudah, sama oma."


"Nadira masuk sama papa, apa mau main sama Mbak?"


"Mau main pah."


Arnaff perlahan menurunkan Nadira dari gendongannya. Dia mendaratkan ciuman di kepala sang putri. "Papa masuk dulu ya."


"Iya pah."


Arnaff segera masuk kedalam rumah. Langkah kakinya baru sampai ruang tamu. Di sana, terlihat Leti sedang melihat majalah fashion di tangannya.


"Siang ma."


Mendengar sapaan itu, leti menoleh kearah suara itu berasal. "Arnaff, kamu sudah pulang?"


"Sengaja pulang cepat ma, ingin istirahat saja." Arnaff duduk di samping ibunya.


"Arnaff, mama punya sahabat, dan mama sudah menelpon dia. Dia setuju untuk menjodohkan salah satu anak perempuannya denganmu."


"Apa mama bahagia jika aku menyetujui permintaan mama?"


"Tentu, tapi mama tidak memaksa, sayang."


"Aku minta waktu untuk berpikir dulu ya, ma. Pernikahan bukan perkara mudah."


"Tentu saja, sayang. Kehilanganmu waktu itu saja, ibu sangat jera. Mama akan mendukung apa mau kamu."


Arnaff tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di pangkuan ibunya. Tangan yang mulai keriput itupun mengusap rambut putranya. Anak laki-laki satu-satunya yang selama ini dia manjakan sudah besar, dan memberikan seorang cucu yang cantik buatnya. Air mata Leti menetes begitu saja, penyesalan tidak menerima pilihan Arnaff dulu, tidak bisa hilang. Walau ia sering meminta maaf di makam Ismi.


"Ma … sudahlah … melihat Mama mencintai anaknya, melihat mama berbaikan denganku, Ismi pasti bahagia ma." Arnaff sadar kalau ibunya larut dalam kesedihan.

__ADS_1


 


__ADS_2