
Hawa dingin mulai terasa menusuk kulit, samar terdengar pembicaraan dua orang. Perlahan Resa mengerjapkan kedua matanya, akhirnya kedua mata itu terbuka dengan sempurna. Terlihat di sudut sana, Mamanya dan Ayla nampak asyik bicara.
"Selamat pagi mama, pagi Ayla," sapa Resa.
"Pagi …." Sahut Hayati dan Ayla, bersamaan.
Tanpa bicara lagi, Resa segera menuju kamar mandi. Dia berusaha cuek dengan tatapan tajam dari ibunya, yang selalu ter arah padanya.
Dalam kamar mandi.
Resa menahan air yang keluar dari kran, dengan kedua telapak tangannya. Air yang tertampung di telapak tangannya perlahan dia usapkan ke wajahnya. Dia memandangi dirinya di cermin yang ada di kamar mandi tersebut, membiarkan tetesan air menetes di wajahnya, tanpa dia seka. "Aku kan, lupa bawa baju ganti, bisa dong izin pulang untuk ambil baju," gerutunya. Resa meraih handuk kecil yang ada di dekatnya, dia seka sisa air yang ada di wajahnya, segera dia keluar dari kamar mandi.
Ceklakkk!
Pintu kamar mandi terbuka, sorot pandangan kembali tertuju pada Resa. Resa menarik kedua ujung bibirnya, hingga mengukir sebuah senyuman di wajahnya.
"Mah, aku izin pulang dulu ya, kemaren aku lupa bawa baju ganti, sekalian aku mau beli sarapan untuk kita. Ayla sama mama mau sarapan apa?" Tanya Resa.
"Apa yang mudah kamu dapatkan saja, sayang." Jawab Hayati.
Resa mengangguk, tangannya, meraih tas miliknya. "Ayla, aku pamit dulu ya, titip mama dulu," pinta Resa.
Ayla menganggukkan kepalanya, merespon perkataan Resa. Sedang Resa segera keluar dari kamar mamanya, dengan alasan pulang mengambil baju ganti dan membeli sarapan. Perasaan hatinya sungguh kacau, dia terus melangkahkan kakinya menuju lift. Resa berdiri mematung di depan Lift, menunggu lift itu terbuka, berulang kali menggerak-gerakkan kakinya, mengusir perasaan yang campur aduk di dalam hatinya.
Ting!
Pintu lift terbuka.
Mata Resa melototot, ketika melihat sosok yang ada dalam lift tersebut. "Nyonya?" Sapanya. Dalam lift ada Ramida dan Mawan.
"Bagus kita bertemu di luar, bisa ikut aku?" Tanya Ramida.
"Bukan saya menolak, Nyonya. Tapi, saya izin sama ibu untuk pulang ambil baju dan beli sarapan," ucap Resa.
"Itu bisa di urus oleh Mawan. Kamu ikut aku ke ruangan mertuaku," pinta Ramida.
Dengan sangat terpaksa, Resa menuruti permintaan Ramida, setelah Resa masuk kedalam Lift, pintu lift pun langsung tertutup. Terlihat Mawan, menekan angka 9. Lift perlahan naik menuju lantai 9. Tanpa banyak tanya, Resa mengikuti langkah kaki Ramida dan Mawan. Hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang nampak mewah.
Setelah melewati pintu, terlihat di ujung sana, seorang perempuan tua berbaring di tempat tidur. Resa sengaja menghentikan langkahnya, hanya Ramida yang terus melangkah mendekati wanita tua tersebut.
"Resa, kemarilah …." Pinta Ramida.
Tanpa berkata, Resa segera melangkahkan kakinya, mendekati Ramida. "Iya Nyonya," sahutnya. Resa beridiri, tepat di samping Ramida.
Ramida memegang tangan wanita tua itu. "Ibu ...."
Wanita tua itu menoleh kearah Ramida.
"Bu ... wanita cantik ini, namanya Resa, dia istri kedua Sam, yang kami rahasiakan, untuk mewujudkan mimpi kita bu. Ibu harus sembuh, kami yakin, Resa akan mengantarkan penerus generasi keluarga Ozage, ibu harus sehat ya …." Ucap Ramida, nadanya terdengar begitu lembut.
Wanita itu memandang ke arah Resa. "Cantik ... nenek suka padamu," ucapnya. Marina melepaskan tangannya dari tangan Ramida, dia mengulurkan tangannya kearah Resa, dengan sigap, Resa menyambut tangan Marina dan menggenggam lembut tangan yang keriput itu
__ADS_1
"Semoga kamu kuat nak menjadi istri Sam, karena Sam hanya akan mencintai istri pertamanya," Marina memegang erat tangan Resa.
"Saya pasti kuat, dari awal saya menerima hubungan ini, saya sudah tau Nyonya." Jawab Resa.
"Bu, Resa di rumah kita akan bekerja sebagai asisten khusus, untuk menjaga ibu," sela Ramida.
"Ibu ikut apa kata kalian," Marina terus memandangi wajah Resa.
Tokkk tok tok!
Suara ketukan pintu memecah keheningan barusan. Terlihat Tony datang membawa sesuatu. "Maaf, Nyonya, ini barang yang Anda minta," ucap Tony.
Ramida memandang kearah Resa. "Resa, silakan kamu mandi, di sana kamar mandi, yang di bawa Tony, adalah baju ganti buatmu," ucapnya. Wajahnya menoleh ke arah Tony kembali.
"Tony, berikan itu pada Resa," pinta Ramida.
"Makanan yang bertanda khusus, itu untuk ibumu. Mawan sudah bertanya pada dokter yang menangani ibumu, dan dokter mengizinkan ibumu makan makanan itu," terang Ramida.
Tony berjalan kearah Resa. "Ini baju ganti buat Anda, dan ini sarapan buat Anda." Tony memberikan yang dia pegang pada Resa.
Tanpa bicara apa-apa, Resa menaruh tas dan kantong yang berisi makanan di atas meja, dia segera melangkah menuju kamar mandi, membawa tas, yang di berikan Tony padanya.
Keadaan kembali hening.
"Ibu suka sama wanita itu," ucap Marina.
Ramida tersenyum, dia juga senang, karena mertuanya, menyukai wanita yang menjadi istri kedua Sam.
Ceklakkk!
"Sam, Vania, kalian? Wah ... ibu sangat senang kalian menjenguk nenek," Ramida langsung menyambut anak dan menantunya.
"Selamat pagi nyonya," sapa Nazla.
"Pagi Naz, maaf aku lupa menyapa kamu," ucap Ramida.
Pandangan Vania terfokus pada tas wanita yang ada di atas meja. "Tas siapa itu bu?" Vania bertanya pada Ramida.
"Oh, itu tas asisiten baru nenek, nanti dia juga akan menjaga nenek di rumah, nenek akan di jaga dua Asisten," jawab Ramida, matanya menatap tajam kearah Sam.
"Mana dia?" Tanya Vania.
"Dia sedang mandi sayang," jawab Ramida.
"Oh ya bu, aku gak bisa lama, aku harus ketemu klien baru, untuk kontrak kerja sama yang baru," ucap Vania.
"Iya sayang, moga berjalan lancar ya," Ramida langsung memeluk Vania.
"Terima kasih bu, kami pergi ya …." Vania melepaskan pelukannya pada Ramida, dia berjalan kearah Marina.
"Nek, cepat sembuh ya, maaf aku cuma bisa sebentar." Vania menyentuh lembut tangan Marina.
__ADS_1
"Nenek pasti sembuh sayang, bahkan nenek tidak sabar untuk pulang," jawab Marina.
"Aku senang mendengarnya, kami pamit ya." Tanpa basa-basi, Vania dan asisten pribadinya yang bernama Nazla, langsung pergi dari kamar Marina.
Sam hanya memandangi punggung istrinya, yang terus mendekat kearah pintu, tanpa menolehnya sedikitpun.
"Huhhh …." Ramida menghela napasnya begitu dalam. "Apa sih, yang kamu dapat dari wanita itu? Sebagai seorang ibu, aku tersiksa melihat kamu mempunyai istri seperti itu. Tapi, itu kebahagiaanmu, walau ibu tidak bahagia. Tapi ... ibu berusaha ikut bahagia. Sam ... ibu tidak ingin ikut campur, ibu hanya bertanya padamu. Kebahagiaan apa yang kamu peroleh bersama wanita itu?" gerutu Ramida.
"Bu …."
"Jangan di jawab oleh lisanmu, biar hatimu menjawab sendiri atas pertanyaan ibu barusan," sela Ramida.
Sam mematung, mendengar ucapan Ramida barusan. "Bu …." Ucapannya kembali terhenti, saat melihat seorang wanita keluar dari kamar mandi. Perasaan aneh itu kembali hadir, entah perasaan apa itu, tapi tengkuknya terasa hangat saat melihat wanita itu. Sam memijat tengkuknya, berusaha menetralkan perasaan yang membuatnya tegang.
Resa terkejut, melihat Sam ada di ruangan itu, membuat dirinya salah tingkah, karena melihat Sam, teringat kembali momen di villa itu. "Resa ... sadar!" Dia menyadarkan dirinya sendiri, dalam hati. Resa berusaha menepis segala bayangan yang menyeruak.
"Nyonya, bolehkah saya kembali keruangan mama saya?" Tanya Resa, pada Ramida.
"Tentu sayang, silakan," jawab Ramida.
"Nyonya, maukah Anda membantu saya berbohong? Mama saya terus bertanya, dari mana saya mendapat uang untuk biaya Operasi dan perawatan lain. Kalau mama tahu saya jadi …." Resa memandang sekilas kearah Sam. "Bisa-bisa mama saya mati Nyonya," ucapnya.
"Aku mengerti Resa, karanglah sendiri ceritamu, nanti aku bantu sisanya," seru Ramida.
"Baik Nyonya, saya permisi dulu," Resa menoleh kearah nenek Sam. "Nyonya ...bolehkan saya pergi?" Resa menunggu jawaban Marina.
Marina menjawab pertanyaan Resa dengan menganggukkan kepalanya. Resa meraih tas dan kantong berisi makanan, dia segera melangkah menuju pintu.
"Resa, tunggu!"
Langkah kaki Resa seketika terhenti, mendengar Ramida memanggilnya.
"Mawan, berikan yang kemaren itu," pinta Ramida.
Mawan meraih sesuatu dari saku bagian dalam jas nya. Dia melangkah mendekati Resa.
"Dalam amplop ini, ada uang tunai dan kartu debit, pergunakan untuk semua keperluan anda," ucap Mawan.
Resa tidak menerimanya, dia memutar arah tubuhnya, menghadap ke arah Ramida. "Nyonya---"
"Tolong terima sayang, kamu adalah menantu kami, ku mohon, terima," pinta Ramida.
Resa mengangguk, dia langsung menerima amplop yang di berikan Mawan padanya. "Saya pamit. Permisi semuanya ...." ucapnya, dia melanjutkan langkah kakinya kembali. Tanpa menoleh kearah Sam.
Ramida tersenyum sendiri, melihat Sam masih memanadangi kepergian Resa. "Wanita tangguh, melakukan apa saja demi orang yang dia cinta, bukan melakukan apa saja demi dirinya sendiri," gumam Ramida.
Lamunan Sam buyar. "Apa maksud ibu?" Sam merasa terganggu dengan ucapan ibunya.
"Tidak ada, ibu hanya mengagumi wanita itu," Ramida langsung mendekati mertuanya.
"Bu---"
__ADS_1
"Kalau kamu ingin berdebat, untuk menerangkan kalau istrimu itu sangat istimewa, nanti saja! Sekarang pergilah ke kekantor, urusan perusahaan menanti kamu," seru Ramida.
Sam bingung harus apa, kejadian kemaren sungguh merubah segalanya, dia menghempas kasar napasnya, dan langsung pergi dari kamar neneknya.