Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 53 Kecewa


__ADS_3

Keesokan harinya.


Tony dan Mawan datang ke rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Sam dan Resa. Melihat kedatangan dua utusan itu. Persiapan untuk Gavin dan Gilang pun, segera dipersiapkan. Dengan berat hati, Resa melepas kedua putranya, untuk pergi lebih dulu.


Resa menciumi, Gavin dan Gilang secara bergantian. Sam mendaratkan telapak tangannya di pundak Resa. Menyemangati Resa, agar melepaskan kepergian Gavin dan Gilang.


"Sebentar lagi, kita juga akan menyusul. Tapi, aku ada sedikit pekerjaan, biarkan mereka pulang lebih dulu."


Resa terpaksa mengalah. Kedua babbysitter yang menggendong Giang dan Gavin, segera memasuki mobil. Persiapan selesai, penumpang istimewa itupun juga sudah berada dalam mobil. Setelah berpamitan pada Resa dan Sam. Tony dan Mawan segera pergi dari sana.


Resa hanya memandangi mobil yang membawa kedua putranya itu. Perlahan, mobil itu mulai menghilang, dari pandangan matanya.


"Hei, sudah. Ayo kita kedalam. Setelah pertemuan dengan beberapa klienku, kita juga segera pulang." Sam berusaha menghibur Resa yang nampak sedih.


"Kapan selesainya?"


"Mungkin nanti siang. Ayok, bantu aku bersiap."


Sam dan Resa segera masuk kedalam rumah.


*****


Pesta ulang tahun untuk Sam, dua hari lagi. Tapi, dikediaman keluarga Ozage, sangat ramai. Para pelayan sibuk dengan banyak tugas.Sedang wanita tua itu, masih saja betah berada di teras rumah. Matanya terus ter arah pada pintu gerbang.


"Nyonya besar, butuh waktu untuk sampai kesini. Ayok kita kedalam dulu," pinta Jena.


"Aku di sini saja." Wanita tua itu kekeh, ingin bertahan di teras rumah.


Jena pasrah. Dia menarik kursi, dan duduk di sana, menemani Nyonya besar itu.


*******


Di belahan Negara lain.


Beberapa bulan ini. Vania sangat merasa di untungkan. Syuting iklan yang dia jalani, berperan sebagai orang sakit. Dia hanya stay di ranjang Rumah Sakit. Akhirnya beberapa scane selesai. Tinggal syuting scane baru. Tapi, Vania harus bersabar. Karena Pihak sutradara memberi waktu libur selama seminggu.


Vania mengisi waktu luangnya untuk olah raga ringan. Dia masih kecewa dengan bentuk tubuhnya yang belum ideal. Ingin olah raga berat, Arini tidak mengizinkannya.


Arini mendekati Vania, memegang satu berkas di tangannya. "Vania, kamu jangan kaget!" Seru Arini.


"Kamu ini! Memintaku jangan kaget. Tapi, kamu sendiri yang bikin aku kaget!" Bentak Vania.

__ADS_1


"Maaf, tapi maksud aku, jangan kaget setelah membaca ini." Arini memberikan berkas yang dia pegang pada Vania.


Vania memperbaiki posisi duduknya. Dia segera meraih berkas yang Arini sodorkan. Perlahan dia membuka map itu, dan mulai fokus membaca isinya.


"Kurang A**r! Sam keterlaluan! Selama ini Resa adalah istrinya! Dan Resa hamil anaknya!" Wajah Vania mendadak memerah, menahan kemarahannya.


"Aku juga terkejut. Saat aku membaca itu. Baca lagi"!" Pinta Arini.


Vania melanjutkan membaca lembaran kertas berikutnya. Wajahnya yang tadinya terlihat marah, mulai mereda.


"Kamu akting karena visi dan misi kita berbeda, adalah sebab perceraian kita, dan aku akan menutupi penyebab perpisahan kita yang sebenarnya. Kita saling bantu di sini." Vania membaca isi dari lembaran kertas yang dia pegang.


Kedua alis Vania mengedut, saat melihat tukisan dengan huruf kapital.


*JIKA KAMU MEMBIARKAN KAMI BAHAGIA, AKU JUGA MEMBIARKAN KAMU BAHAGIA. JIKA KAMU SEDIKIT SAJA MENGUSIK KEBAHAGIAAN KAMI, AKAN AKU PASTIKAN KAMU AKAN MENYESAL SELAMANYA.*


Vania memandang kearah Arini. "Bagaimana ini? Aku tidak marah, karena baru tahu. Kalau selama ini Sam menikah lagi, lagian istri keduanya jauh di bawahku."


"Dua hari lagi, Sam ulang tahun. Dirga meneleponku. Kalau Sam akan mengumumkan siapa Resa."


Vania tampak santai. Dia memikirkan sesuatu.


"Jangan cari gara-gara dengan Sam. Walau kita tidak satu negara dengannya. Tapi, kuasa dia akan meruntuhkan puncak karirmu! baca capslock itu!" Arini menebak apa yang Vania rencanakan.


"Astaga! Adakah sesuatu yang kamu pikirkan selain karir kamu?"


"Ya sudah, kamu pergi jalan-jalan sana, mumpung kita libur. Aku ingin senam dulu, sambil memikirkan apa yang menguntungkan buat karirku."


Arini menggeleng melihat kelakuan Vania. Dia segera pergi dari sana.


*********


Resa merasa bosan sendirian di rumah. Para pelayan yang selama ini bekerja di rumah ini, sudah pergi. Dia tertinggal seorang diri di rumah. Resa duduk di sofa, pikirannya kosong, hingga dia larut dalam lamunanya. Lamunan Resa tersentak, saat mendengar suara bel pintu. Resa segera melangkahkan kakinya menuju pintu, dan membukakan pintu tersebut. Terlihat seorang kurir memegang bok di tangannya.


"Selamat siang, saya mengantarkan kue, untuk ibu Moresa," ucap kurir itu.


"Iya, saya sendiri."


"Silakan tanda tangan di sini bu." Pinta kurir itu.


Resa segera tanda tangan. Walau hatinya sedikit kesal dan kecewa. Niatnya dia ingin merayakan ulang tahun Sam, kecil-kecilan di tempat ini. Walau hanya sekedar potong kue. Namun, rencananya batal. Karena semua orang sudah pergi. Kini hanya ada mereka berdua di rumah ini.

__ADS_1


Resa menerima bok yang berisi kue, yang dia beli via online. Dia meletakkan bok itu diatas meja tamu. Resa menghempaskan tubuhnya di sofa empuk itu.


Suara deringan ponsel Resa, memecah kesunyian di rumah itu. Dengan diliputi perasaan malas, Resa meraih ponselnya. Resa segera menggeser icon berwarna hijau, saat melihat nama pemanggil adalah Sam.


"Iya," ucap Resa.


"Segera bersiap, aku sedang dalam perjalanan pulang. Setelah aku sampai, kita segera kembali."


"Hem." Resa hanya menjawab dengan dehamannya. Kekecewaannya masih belum hilang. Dia memutuskan panggilan telepon tersebut.


Selesai berbicara dengan Sam. Resa segera melangkah menuju lantai atas, dia masuk kedalam kamarnya. Tujuannya langsung kelemari pakaian. Lalu meraih satu setel pakaian untuk dia kenakan. Tangannya meraih pakaian itu, mengingat di rumah ini hanya ada dia dan Sam. Tiba-tiba Resa memikirkan sesuatu. Dia menutup lemari pakaian itu kembali. Berjalan menuju meja kecil yang ada di kamar itu.


Resa meraih pen, dan kertas. Dia mulai menuliskan kata-kata di kertas kosong itu. Selesai mencorat coret kertas itu. Resa segera turun kelantai bawah. Lalu menempelkan coretannya itu, di pintu rumah itu. Selesai dengan yang satu itu. Resa berlari lagi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia segera mengambil paket yang dia sembunyikan.


Dengan sabar. Resa membuka salah satu paket yang berisi perlengkapan make up yang dia beli online. Resa memoles wajah cantiknya denga polesan make up. Selesai dengan dandanan ala kadarnya. Resa menyisir rambutnya yang panjang. Dia membiarkan rambutnya tergerai. Resa segera meraih paket yang satunya.


Resa memandangi dirinya di cermin. Sedikit malu melihat dirinya. Tapi, untuk Sam. Dia memberanikan diri. Resa menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya. Merasa persiapannya selesai, Resa segera turun menuju ruang tamu.


Sesampai di lantai bawah. Resa mengeluarkan kue dari dalam bok itu. Bersiap menyambut Sam, dengan kejutan konyolnya.


Tidak berselang lama, samar terdengar suara mesin mobil yang berhenti. Resa segera bersiap. Dia menegakkan tubuhnya, lalu meraih kue itu. Resa melangkahkan kakinya mendekati pintu, sambil memegang kue ulang tahun di tangannya.


Jantung Resa semakin berdetak tidak karuan, menunggu Sam membuka pintu itu. Resa berusaha mengatur napasnya. Perlahan pintu itu terbuka. Resa segera berpose seksi semampu dia, dengan beridiri tegak dan menyilangkan kedua kakinya. Pintu perlahan terbuka.


"Selamat ulang tahun sayang."


"Akkkkk!" Teriak Resa, saat melihat sosok yang membuka pintu tersebut. Resa Segera berlari menyelamatkan diri, untuk bersembunyi.


Sedang sosok yang membuka pintu itu sangat takjub dengan pemandangan yang tersuguh di depan matanya.


Sam yang tadi tersenyum memandangi selembar kertas di tangannya, sangat terkejut saat mendengar suara teriakan dari dalam rumah. "Ada apa?" Suara Sam terdengar panik. Dia semakin panik saat melihat Dirga mematung dengan mulut yang menganga lebar.


*******


Bersambung.


*******


Besok lanjutannya kalau tidak ada halangan.


Kenapa cuma 1? Aku juga mau nulis banyak bab untuk menghibur kalian. Tapi, aku juga punya kewajiban utama selain menulis. Tadinya aku menulis ini untuk hiburan. Tapi, sekarang aku merasa ini malah jadi keharusan. 1 Bab 1000 kata, bukan perkara mudah untuk abal-abal sepertiku. Kalau tidak percaya, cobalah menulis 500 kata perhari. Maka kalian akan merasa bagaimana perjuangan menulis.

__ADS_1


Kalau Author pengalaman mah 3000 kata perhari juga mereka mudah. Kesulitan ini hanya di rasa oleh aku dan beberapa pemula yang lain.


Terima kasih semua🙏


__ADS_2