
Mata Sam, terus memandangi wajah Resa, walau hanya dengan polesan make up tipis. Sam tidak bisa mengingkari kecantikan gadis yang duduk di depannya, hanya meja tamu itu menjadi pemisah diantara keduanya. Tangan Sam memutar tutup botol air mineral itu, kekaguman Sam buyar, saat dia membuka botol air mineral itu, botol yang dia pegang tidak bersegel lagi.
Sam menghembus kasar napasnya, dia mengambil lagi botol air mineral yang lain. Tapi, tetap sama saja, botol itu juga tanpa segel penutup. Sam meraih lagi botol minum yang lainnya. Ini sudah botol yang ketujuh dia ambil, semua sama, semua botol air mineral yang dia ambil, tidak bersegel lagi. Bahkan sampai botol terakhir, tidak satupun yang bersegel utuh.
"Kenapa semua air minum ini segel kemasannya dibuka?" Sam bertanya pada Resa.
Resa yang sedari tadi menunduk, perlahan mengangkat wajahnya, karena orang yang duduk di depannya bertanya padanya. "Saya tidak tahu Tuan," jawabnya, langsung.
"Siapa yang menyediakan semua air minum, kue, dan semua box makanan ini?"
"Maaf Tuan, saya tidak tahu."
Sam merasa kesal dengan gadis di depannya ini. "Apa yang kamu bisa, hal begini saja kamu tidak tahu!" Bentak Sam.
Tubuh Resa, sedikit terperanjat, karena kaget mendengar bentakkan Sam. "Maaf Tuan, saat sampai di sini, saya diminta Nyonya langsung mandi, karena saya dari Rumah Sakit," jawab Resa.
"Semoga ibu tidak salah memilih kamu, belum apa-apa, kau sudah membuatku kesal! Buatkan aku kopi!" Perintah Sam.
"Baik Tuan. Tapi, maaf ... dapurnya di mana?"
Sam membuka tutup botol air mineral yang dia pegang, dia langsung meminum air mineral yang ada di tangannya. Sedang Resa hanya diam, menunggu orang yang dia tanya, selesai meneguk minumannya.
Sam selesai dengan minumannya, hampir separuh isi botol habis dia minum. "Di sana!" Sam menunjuk kearah pintu yang tidak jauh jaraknya dari posisi mereka saat ini.
Resa segera melangkah menuju dapur, sesampai di dapur, dia segera mencari-cari kopi dan hal yang dia butuhkan lainnya, Resa terus melakukan tugasnya, untuk menyeduh kopi di dapur itu.
Sedang di ruang tamu. Sam merasa gerah, perlahan dia melepas jas dan kemejanya, dia hanya mengenakan baju dalamannya yang bewarna putih dan celana panjangnya. Namun, keringat tetap membasahi tubuhnya, Sam memandang kearah botol minuman yang dia buka satu per satu tadi. "Ah! s**t!" Gerutu Sam, dia baru sadar, semua botol air minuman itu pastinya sudah di campuri ibunya dengan obat perangsang.
__ADS_1
Sam melangkah begitu cepat masuk kedalam kamar, tujuannya kamar mandi, dia ingin meredakan luapan yang di timbulkan obat itu, setelah sampai kamar mandi, Sam melepas semua yang menempel pada tubuhnya, dia berdiri, di bawah pancuran air yang mengalir begitu deras dari shower. Berharap dinginnya air yang membasahi tubuhnya, bisa memadamkan api gairah yang mulai menyala dari dalam dirinya.
Di ruang tamu. Resa keluar dari arah dapur dengan memegang nampan di tangannya, Resa heran, karena tidak menemukan Sam di ruang tamu. Resa menaruh nampan yang berisi segelas kopi, yang Sam minta, dia berjalan kearah pintu. Namun, di teras rumah, Sam juga tidak terlihat. Resa mengunci pintu Villa itu, karena keadaan nampak sepi. Dia melangkah kembali kearah sofa, matanya baru melihat, baju kemeja Sam dan jasnya, ada di sofa tamu.
Resa segera memungutnya, dan berjalan kearah kamar. Sesampai di dalam kamar, Resa juga tidak menemukan Sam, Resa tidak ambil pusing, dia meletakkan baju Sam yang dia pegang, diatas sofa, yang ada di kamar itu. Kemudian dia berjalan kearah lemari, untuk mengambil baju, yang di sediakan Ramida untuknya, tidak mungkin dia tidur di kamar ini bersama Sam. Walaupun mereka sudah menjadi pasangan suami istri.
Saat membuka lemari, Mata Resa melotot, melihat model baju yang tidak pernah lihat sebelumnya. "Apa ini? Kenapa baju-baju ini kekurangan bahan? Apa baju ini belum selesai di jahit?" Gerutu Resa, tangannya meraih baju-baju itu satu per satu. Resa masih melamun, memikirkan dirinya. Bagaimana mungkin dia memakai baju-baju aneh ini.
"Harus bagaimana aku? Andai aku sendirian di Villa ini, aku tetap tidak nyaman memakai baju aneh ini, apalagi di Villa ini ada Tuan Sam." Wajah Resa nampak cemberut, sedang tangannya memeluk baju-baju kekurangan bahan yang dia temukan di dalam lemari itu. Resa tenggelam lamunannya. Dia tidak menyadari satu sosok yang baru keluar dari kamar mandi.
Saat Sam keluar dari kamar mandi, dia melihat Resa duduk di lantai, menyandarkan punggungnya di lemari. Sedang di tangannya nampak terlihat beberapa setelan baju. Sam semakin sulit bernapas, dia tahu baju seperti apa yang Resa peluk.
"Kenapa kau di sini? Ini kamarku. Keluar kau!" Bentak Sam.
Resa lagi-lagi terperanjat, dia sangat kaget mendengar suara Sam. "Maaf Tuan, saya kesini hanya mengambil keperluan saya. Tapi … kenapa Nyonya menyediakan baju seperti ini?" Resa memperlihatkan beberapa model baju yang dia pegang.
Sial! Ibu benar-benar merencanakan semua ini!
Gerutu hati Sam.
Sam berusaha mengatur napasnya, karena napasnya begitu berat, akibat reaksi obat yang semakin menguat.
"Tuan … bolehkah saya meminjam baju Anda? Saya tidak bisa memakai baju ini ...." Resa memohon.
Sam semakin tidak bisa mengontrol dirinya, dia kembali lagi masuk kedalam kamar mandi. Melihat gadis itu, gairahnya kian meledak.
Melihat Sam tidak perduli padanya, Resa pasrah, dia kembali berjalan kearah lemari, mengambil keperluan buatnya yang sudah di sediakan Ramida. Beberapa setel pakaian aneh itu, dan dalaman baru, dia ambil, dan segera keluar dari kamar itu. Setelah menyimpan pakaian yang dia ambil di sudut ruang tamu, Resa kembali lagi kedalam kamar, untuk mengambil bantal dan selimut.
__ADS_1
Di dalam kamar Mandi Sam begitu putus asa menahan ledakan yang timbul, berulang kali dia meninju dinding kamar mandi, namun tetap saja keinginan itu semakin menguat. Tubuhnya merasakan getaran yang aneh, semakin dia tahan semakin getaran itu menguat.
Di luar kamar, Resa berjalan mengelilingi area dalam Villa itu, untuk mengenal setiap sudut yang ada. Merasa cukup berjalan seorang diri, Resa kembali keruang tamu, dia berdiri di dekat jendela, memandangi pemandangan pegunungan yang indah, terlihat dari jendela tempatnya berdiri saat ini.
Resa kembali kearah meja, matanya melirik kopi yang dia buatkan untuk Sam. Tapi, laki-laki itu tidak juga keluar dari kamarnya, Resa menepis pikirannya tentang Sam, dia meraih kue yang masih ada, dan mengambil satu botol air mineral yang ada di meja itu. Menikmati kue tersebut, sesekali dia meneguk langsung air dari botol itu.
Sam berkreasi sendiri di dalam kamar mandi, untuk melepaskan ledakan itu, tapi tetap saja tidak bisa, dia butuh media hidup untuk melepaskan semua ini. "S**t! Aku harus menuntaskannya pada gadis itu, tidak ada pilihan lagi!" Gerutu Sam. Dia meraih handuk, dan melilitkannya di pinggangnya. Dengan langkah yang cepat, Sam keluar dari kamar menuju ruang tamu.
Mata Sam melotot, saat melihat Resa, begitu santainya meminum air mineral yang ada di meja itu. "Apa yang kamu lakukan!?" Bentak Sam.
"Uhukkk!"
Resa tadinya menegak minumannya tersedak, karena Sam lagi-lagi membentaknya.
"Minum, dan makan kue," jawab Resa, sambil membersihkan air yang ada di sisi bibirnya.
Sam berjalan kearah Resa, dia menarik kasar tangan gadis itu, dan menyeret Resa, hingga mereka masuk kedalam kamar.
****
Bersambung.
****
Ciyeee nungguin bab Uhukkk! nya ya?
Kayaknya gak ada Uhukkk! Author takut bablas, ntar di tegur mimin lagi 😆😆😆😆😆😆😆
__ADS_1