
Samuel Ozage POV
Mendengar langsung dari mulut Vania, kalau dia meninggalkan dunia hiburan, untuk sementara waktu, demi aku. Hati ini sungguh berbunga-bunga. Rasa pusing dan mual, yang mendera sejak pagi, seakan hilang seketika. Momen indah kami, terganggu oleh suara ketukan pintu. Aku tidak perduli, siapa yang mengetuk. Hati ini sudah sangat bahagia, dengan senyuman yang terus terukir, ku langkahkan kaki ini menuju kamar mandi.
Desiran suara air yang keluar dari shower, seperti suara musik yang menjadi pengiring lagu asal-asalan yang ku senandungkan. Sangat sulit untuk berhenti tersenyum. Tubuh terasa lebih segar saat selesai mandi. Ku raih handuk yang selalu tersedia di kamar mandi.
Dengan senandung yang lain, ku lilitkan handuk, melingkar di pinggulku, langkah kakiku, melangkah menuju ruangan khusus, di mana pakaian kami disimpan. Baru selangkah keluar dari kamar mandi.
Akkkkkkkk!
Lengkingan suara teriakan itu sangat keras. Membuat tubuhku sedikit tersentak. Aku sangat mengenal teriakan siapa itu. Segera ku melangkah begitu cepat menuju sumber suara itu.
Setelah jemariku membuka pintu ruangan itu, terlihat Vania, duduk meringkuk di lantai, sambil memeluk kedua lututnya. Aku sangat khawatir. "Ada apa, sayang?" Tanya ku.
Dia tidak menjawabku, dia terlihat nampak kacau. Aku berjalan mendekatinya, berjongkok di depannya, ku jadikan kedua betis untuk menumpu pantatku.
Kupandangi wajahnya, dia terus saja menangis. ku tarik dirinya kedalam pelukan, kupeluk dirinya begitu erat.
******
Author POV
Sam masih memeluk Vania begitu erat. "Ada apa sayang?" Tanya Sam. Dia membelai pucuk kepala Vania, sesekali menghujaninya dengan ciuman.
Vania masih membisu, dia menarik diri dari pelukan Sam. Tatapannya entah ter arah kemana. Dia masih betah menutup mulutnya.
"Sayang …." Rayu Sam.
Vania menarik napasnya begitu dalam. Dia memandangi wajah Sam lekat. Terlihat laki-laki itu serius menunggu jawabannya
"Timbangan aku naik 2kg," rengek Vania, wajahnya nampak hancur, di iringi oleh buliran crystal bening yang mengalir dari matanya yang membasahi pipi mulusnya.
Sam menarik napasnya begitu kasar, dan mengehembuskan semua tarikan napasnya, dengan satu hembusan kasar. Menahan rasa kesal yang menyesakkan dadanya.
"Sudah kuduga!" Rengek Sam.
Vania terus menangis, membuat Sam, tidak bisa menumpahkan kekesalannya, karena teriakan Vania yang berlebihan, hanya karena berat badannya naik.
"Sayang, jangan terlalu menyiksa diri, bagaimanapun bentuk tubuhmu, aku tetap cinta kamu, aku cinta dirimu sayang, bukan body dan kecantikanmu," rayu Sam.
Namun wanita itu masih sesegukan menangisi nasibnya. Sam merubah posisinya, dia duduk lesehan di lantai, tepat di samping Vania, dia menenggelamkan wajah Vania, kedalam dada bidangnya. Tangannya menepuk lembut punggung Vania.
"Ayolah sayang, jangan begini, hidup ini cuma sekali, nikmati dan jalani kehidupan ini, dengan baik dan benar." Sam berusaha memberi semangat pada Vania.
Berat badannya naik 2ons, saja. Dia bikin kami tidak tenang, bagaimana saat ini? Kali ini naiknya 2kg. Ringis hati Sam.
Terlintas satu ide, Vania mendekatkan bibirnya pada telinga Sam. "Sayang ... beri aku hal baru, aku ingin yang---" Vania terus berbisik.
"Kita sudah melakukan dua kali sayang."
__ADS_1
"Tapi itu aku yang aktif! Sekarang aku mau, kau yang aktif!" Vania memasang wajah muram.
Sam mengalah. "Di mana sayang?"
"Di sini!" Vania membuka segalanya.
Sekuatnya sayang! jika dugaanku benar, kalau ada sesuatu di rahimku, semoga yang mulai hadir itu tidak bisa bertahan karena goncangan hebat ini.
Gerutu hati Vania.
Kegiatan mereka selesai, Vania membisu, dia tidak tahu, harus bicara apa lagi. Hanya helaan napas yang memburu yang terdengar.
Sam menarik Vania kedalam pelukannya."Kamu boleh pergi, kemanapun! Dengan syarat, bukan syuting, pemotretan dan lainnya." Sam berusaha membuat Vania bersemangat. Seperti biasa, ambekan Nona Samuel Ozage, akan reda jika di suruh shopping dan jalan-jalan. Namun, tanpa Sam.
Vania melepaskan dirinya dari pelukan Sam. "Baiklah, aku bersiap untuk pergi."
"Senyum dong sayang, kenapa kamu menyiksa diri kamu, dalam masalah bobot tubuhmu? Percaya padaku. Andai kau gend--- maksudku chubby pun, aku tetap cinta sama kamu."
"Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, asal kau tidak menyakiti hatiku dan mengecewakanku."
Sam meraih tangan Vania, dia meletakkan tangan Vania, di bagian dada kirinya. "Hati ini bagai cawan, yang menyimpan segala rasa cinta, selama kau tidak memecahkan cawan ini, selamanya rasa cinta ini, tertuju untukmu."
Vania, sama sekali tidak perduli dengan perkataan Sam, dia menarik tangannya, menjadikan tangannya sebagai tumpuan, untuk menumpu tubuhnya untuk segera berdiri, wajahnya juga nampak tidak bersemangat. Dia segera melangkah menuju pintu. Sedang Sam, masih duduk di lantai, sambil memandangi Vania.
Kali ini Vania tidak butuh waktu lama, dia selesai mandi dan memperbaiki dandanannya. Setelah siap, dia meraih tas dan kunci mobilnya. Sam, baru keluar dari ruang ganti pakaian. Ketampanannya tidak berkurang sedikitpun, walau hanya mengenakan kaos dan celana pendeknya. Dia melempar senyuman saat melihat Vania sudah rapi.
"Aku pergi, kamu gak apa-apa aku tinggal sendiri?"
"Gak apa-apa, pulangnya jangan malam-malam!" pinta Sam.
Vania berjalan kearah Sam, mendaratkan satu ciuman di pipi kanan Sam. "Aku pergi sayang," ucapnya.
Sam tersenyum menanggapi Vania. Vania segera melangkahkan kakinya menuju pintu. Sam terus memandangi punggung istrinya itu, hingga punggung itu menghilang di balik pintu.
Kapan wanita itu sadar, aku saja bosan mendengar teriakannya, hanya karena anggka timbangan yang naik. Gerutu Sam.
Sam berjalan kearah tempat tidur, dan kembali berbaring di tempat tidur, untuk istirahat. Tenaganya sungguh banyak terkuras.
********
Di ruangan bawah.
Vania, hanya pamit pada Pak Bim. Dia pun langsung pergi. Suasana rumah nampak sepi, hanya beberapa pelayan yang mondar-mandir melakukan tugasnya. Selang beberapa menit kepergian Vania, seorang laki-laki yang berperawakan menarik, dan memiliki wajah tampan masuk kedalam rumah Sam. Di tangannya dia memegang banyak berkas.
"Pak, Bim. Tuan mana?" Dia langsung bertanya pada kepala keamanan rumah Sam.
"Ada, di kamar. Tuan saat ini sakit, apa urusan nak Dirga, apakah sangat penting?"
"Masalah perusahaan," jawab Dirga.
__ADS_1
"Baiklah, saya tanya Tuan dulu, apakah dia bisa atau tidak, untuk menemui anda."
"Silakan, Pak Bim."
Pak Bim langsung melangkah menuju lantai atas. Melihat Pak Bim pergi, wajah Dirga dihiasi senyuman kecil, dia menaruh berkasnya di atas meja tamu, matanya memandangi seisi ruangan itu.
*****
Di kamar Nyonya Marina, nenek Sam.
Jena dan Resa menemani nenek Sam, berbicara banyak hal, kadang terselip tawa di sela-sela obrolan mereka. Resa merasa sedikit aneh. Berulang kali Resa mengerjapkan mata sambil menggelengkan kepalanya. Namun tetap saja perasaan yang sungguh menyiksa itu, muncul.
"Nek, boleh izin kekamar? Kepala aku pusing, nek," ucap Resa.
"Pergilah, istirahat yang benar, tadi malam kamu begadang, wajar kamu pusing," ucap Marina.
Tadi malam ibu, memanggil saya dengan panggilan video, saya juga kangen, eh pembicaraan kami larut kemana-mana," terang Resa. Resa memijat tengkuknya, bukan hanya pusing, tapi juga yang lain mulai terasa.
"Istirahat aja, mbak. Nenek biar sama saya," sela Jena.
Resa tersenyum dan mengangguk. Dia segera pergi dari kamar Ramida, menuju kamarnya.
*****
Saat yang sama, Senyuman begitu lebar, menghiasi wajah tampan, Dirga. Saat melihat wanita incaranya, baru keluar dari kamar Nyonya Marina. Dirga segera berlari untuk mendekatinya. Sedang Resa tidak menyadari kalau Dirga berlari kearahnya. Saat Resa ingin membuka pintu kamarnya, Dirga berdiri tepat di belakangnya.
Dirga ingin mendaratkan tangannya di pundak Resa, saat yang sama, Resa ambruk, hingga jatuh kedalam dekapannya. "Siapa saja, tolong!" Teriak Dirga.
Seketika, beberapa pembantu langsung mendekati Dirga, mereka membantu Dirga membawa Resa masuk kedalam kamarnya.
*****
Di lantai atas.
Pak Bim tengah berbicara dengan Sam. Pak Bim melapor tentang kedatangan Dirga. Obrolan mereka terhenti, saat melihat pelayan melongos begitu saja, melewati mereka. Pelayan itu mengetuk pintu kamar Ramida.
Ceklakkk!
Pintu kamar terbuka.
"Ada apa?" Tanya Ramida, langsung.
"Mba, Resa pingsan, Nyonya," ucapnya.
******
Bersambung ....
****
__ADS_1