Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 36 Seimbang


__ADS_3

Seketika Resa langsung mendorong Sam, saat menyadari ada orang lain yang melihat kegiatan mereka.


Orang itu mematung, mulutnya juga terbuka lebar, saat melihat sekilas kegiatan dua orang itu. Sam langsung menarik Resa. Agar bersembunyi di belakangnya. Resa terus berusaha menutup satu persatu kancing bajunya yang terbuka karena ulah Sam.


"Lewat mana kau masuk?" Tanya Sam. Dia masih pasang badan untuk jadi dinding hidup buat Resa.


"Lewat pintu." Jawabnya.


Resa menusukkan telunjuk tangannya di bahu Sam. Membuat Sam sedikit menoleh kearah belakang.


"Pintunya tidak aku kunci," ucap Resa, dengan nada yang setengah berbisik.


"Apa yang kalian lakukan?!" Tanya orang itu.


"Dia istriku, hal tadi wajar dilakukan oleh sepasang suami istri," bela Sam.


"Kamu sendiri, kenapa kesini!" Bentak Sam.


"Aku hanya ingin melaporkan hasil pekerjaan dan penelitianku," jawab orang itu.


Sam memutar arah tubuhnya, menghadap Resa. "Sudah sayang?" Tanya Sam, dengan nada yang lembut.


Resa menganggukkan kepalanya dengan santai.


"Kamu langsung kekamar saja, aku sepertinya, akan langsung pergi, karena aku ada pekerjaan, baik-baik ya, jaga dirimu dan anak kita." Sam mendaratkan satu kecupan lembut di alis Resa.


Perlahan Resa melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Wajahnya terus menunduk, ini kedua kalinya Dirga melihat langsung kemesraannya bersama Sam. Sedang Sam melangkah menuju kamarnya. Untuk mengganti pakaiannya.


Dirga merasa seperti orang bodoh tidak sengaja menonton live kejadian barusan. Tangannya mengusap kasar wajahnya. Dia segera melangkah menuju sofa, dan duduk di sana sambil menunggu Sam.


Tidak berapa lama, Sam keluar dengan setelan jas yang rapi. Melihat Sam sudah siap. Dirga langsung berdiri.


"Sebentar, aku ingin pamit dengan Resa." Sam berlalu begitu saja melewati Dirga. Dia masuk kedalam kamar Resa.


Di kamar Resa.


Terlihat Resa, duduk santai di tepi tempat tidur. Dia langsung berdiri, saat melihat Sam masuk kedalam kamarnya, dan terus melangkah mendekatinya. Resa belum membuka mulutnya. Sam malah langsung membungkam mulutnya, sambil memeluknya erat.


Sam melepaskan tautannya. "Aku pergi dulu ya, sebenarnya, aku ingin di sini. Tapi, aku harus mempersiapkan semuanya dulu." Perlahan Sam melepaskan pelukannya.


"Hem …." Resa bedeham, sambil menganggukkan kepalanya.


Sam menyodorkan ponselnya pada Resa. "Simpan nomermu, jika aku kangen, aku bisa menghubungimu."


Resa meraih benda pipih yang berbentuk persegi panjang itu, dia segera memasukkan nomer ponselnya di ponsel Sam. Selesai, Resa mengembalikan kembali ponsel itu pada Sam.


Sam menerima ponsel itu kembali. Sam langsung menelepon nomer yang baru dimasukkan Resa.


"Itu beneran nomerku, aku tidak bohong!" Ucap Resa.


Sam tersenyum, saat melihat panggilan darinya memang terhubung ke ponsel Resa. "Terima kasih." ucapnya. Sam memanfaatkan kesempatan itu, dengan ciuman dahsyat. Sengaja menggiring Resa keatas tempat tidur. Segalanya tidak terkondisikan.


"Emmpp!" Resa kesulitan berkata.

__ADS_1


Sam menghentikan kegiatannya. "Apa?"


"Kasian Dirga, dia menunggu Anda."


Sam tersenyum, dia mendaratkan ciuman lembut di pipi kanan dan kiri Resa. Dia segera keluar dari kamar Resa. Dengan energi baru.


Sam langsung menemui Dirga, sambil merapihkan pakaiannya. Dia pergi dengan Dirga, mereka mengendarai mobil mereka masing-masing.


Tinggal Resa seorang diri di villa. Dia membenarkan pakaiannya yang acak-acakkan karena ulah Sam. Lalu keluar dari kamar, melangkah menuju teras, menikmati udara di villa itu. Ini tidak pagi lagi. Tapi hati Resa masih terasa sejuk.


Di rumah Arnaff.


Suasana terasa hening, padahal banyak orang yang ada di rumah besar itu. Marina nampak sumringah memangku bayi Arnaff.


"Nenek yang sabar ya, sebentar lagi, cucu nenek, juga akan hadir kedunia ini," ucap Vania.


Marina hanya tersenyum, memandang kearah Vania.


"Tante, terima kasih, karena bersedia menginap di sini. Saya tidak tahu, bagaimana saya, kalau kalian tidak ada," ucap Arnaff.


"Kamu, sudah dapat babysitter Naff, kalau belum, Nadira, putri kecilmu ini, bersama kami, di villa," usul Marina.


"Belum nek, aku bingung nek, karena seminggu kedepan, aku harus dinas keluar kota." Wajah Arnaff nampak tertekan.


"Kamu fokus sama pekerjaan kamu saja, biar Nadira, bersama kami, percaya sama tante." Seru Ramida.


Arnaff setuju. Kalau bayinya akan tinggal bersama Ramida.


****


"Nyonya, Nyonya besar, Jane, Bi Masri, Nona Vania," Resa menyapa satu per satu, sosok yang dia kenali.


Mata Resa berbinar, saat melihat bayi dalam gendongan Jena.


"Waw, cantik sekali," seru Resa.


"Dia anak Tuan Arnaff," sela Jena.


"Bayi kecil yang malang." Resa membelai pipi bayi kecil itu.


"Dia siapa tante?" Tanya Arnaff.


"Bukan siapa-siapa, saya hanya istri dari salah satu pekerja Nyonya, Ramida." Sahut Resa.


Resa dan Arnaff berkenalan. Setelah selesai mengobrol ringan. Arnaff terpaksa pergi meninggalkan bayinya bersama keluarga Ozage.


Mereka semua masuk kedalam Villa. Resa begitu semangat memandangi bayi mungil itu.


"Siapa namanya?" Tanya Resa.


"Nadira," jawab Ramida.


"Sam, mana?" Tanya Vania.

__ADS_1


"Oh, Tuan Sam, pergi bersama Tuan Dirga." Jawab Resa.


"Kapan Dirga datang?" Tanya Vania.


"Tidak lama, setelah Anda dan bi Masri pergi," jawab Resa. Resa kembali mengubah perhatiannya. Dia memandangi bayi kecil itu.


"Boleh aku menggendongnya?" Tanya Resa.


"Tentu saja, Jena … berikan Nadira pada Resa. Kamu bantu ibu kekamarnya." Pinta Ramida.


Resa sangat bahagia menggendong bayi kecil itu. Dia melupakan lirikan mata yang memandangi kearahnya. Resa begitu senang bisa menggendong bayi mungil itu.


*****


Perjalanan yang lumayan panjang, ditempuh Sam dan Dirga, akhirnya mobil yang melaju ber iringan itu, sampai di area gedung Ozage Crypton Group. Sam dan Dirga keluar dari mobil mereka masing-masing. Keduanya melangkah menyusuri gedung itu, menuju lift khusus untuk pemilik gedung ini.


Tak ada pembicaraan keduanya, terus fokus pada tujuan mereka. Hingga mereka berdua sampai di ruang kerja Sam.


"Apa yang kamu dapatkan, mengenai Vania?" Tanya Sam, langsung.


"Vania, akan mengadakan Reality Show, di kediaman Anda. Tapi, dia tidak bisa membawa wartawan masuk kedalam rumah. Karena pelayan setia Anda."


"Kenapa aku sangat mudah di bohongi Vania!" Gerutu Sam.


"Memilih Vania, menjadi istri Anda. Itu sudah kebodohan yang besar yang Anda lakukan, Tuan!" Ejek Dirga.


Sam menatap tajam kearah Dirga.


"Sepertinya, Resa multivitamin yang luar biasa, hanya sebentar Anda bersama dia. Anda terlihat sedikit cerdas!" Goda Dirga.


Tatapan Sam tetap tajam. Tidak berubah sedikitpun.


"Baik, saya minta maaf. Ini baca, ini adalah surat yang akan Anda tanda tangani nanti. Dengan rayuan maut Vania, Anda pasti setuju tanda tangan, tanpa membacanya, saat dia meminta." Dirga memberikan beberapa berkas pada Sam.


Dengan cermat Sam membaca lembaran demi lembaran kertas. Suara decakkan berulang kali keluar dari mulutnya. Dia tidak menyangka. Vania akan berbuat senekad ini. Baru selesai membaca satu berkas. Sam merasa jengkel. Dia melepaskan berkas yang dia pegang. Menyandarkan punggungnya, di sandaran kursi kerjanya. Sedang telapak tangannya, mengusap kasar wajahnya.


"Apakah dia manusia?" Gerutu Sam.


"Bukan, Vania bukan manusia. Tapi, dia boneka s**s Anda. " Dirga langsung berlari menuju pintu sebelum Sam marah dan mengamuk padanya.


Melihat Dirga pergi begitu saja. Sam melangkah kearah cermin yang menghiasi tembok ruangan kerjanya. Sam mengingat kenangan bahagia bersama Vania, Sam sadar, Vania hanya memberi kebahagiaan saat di tempat tidur. Di luar kamar, Vania lebih sering membuatnya mengusap dada. Bayangan akan pertanyaan Ramida yang belum bisa ia jawab, kembali terngiang.


"Apa yang membuatku bahagia bersamamu Vania? Selain kebahagiaan kita diatas tempat tidur?" Sam berbicara sendiri dengan pantulan dirinya pada cermin.


Sam melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya, kembali. Tangannya meraih foto Vania, yang ada diatas meja kerjanya. "Selama ini, aku selalu menuruti semua keinginanmu. Aku selalu berkorban perasaan untukmu. Kali ini, apakah kamu akan memilihku dan anak kita, atau duniamu? Jika kau memilih anak kita, aku akan melepaskan Resa, demi kamu. Walau itu berat. Karena aku mulai menyukainya. Tapi, itu seimbang, karena bagimu juga berat melepaskan dunia yang kamu cinta. Jika kamu memilih duniamu, maka aku akan melepaskanmu." Sam berbicara dengan foto Vania.


Melepas begitu saja wanita yang terlanjur terlalu dalam mencintainya bukan hal mudah. Tapi, Sam tetap pada rencananya. Dia kembali membaca berkas-berkas yang diberikan Dirga sebelumnya.


*****


Bersambung.


Hari ini satu aja ya, aku lupa ngetik tadi malam 🤧

__ADS_1


__ADS_2