
Taman Rumah Sakit, menjadi pilihan Sam dan Dirga untuk bicara, mereka memilih bangku Taman yang terlihat agak lengang. Keduanya duduk di bangku taman itu.
Sam memandangi pemandangan yang ada di depan matanya. Perlahan dia membuang napasnya dengan teratur. "Bagaimana Vania? Kau masih memantaunya?"
"Masih, dan Vania masih gila, sama seperti sebelumnya." Jawab Dirga.
"Kapan Vania menjalani Ceasar?"
"Menurut info yang aku terima, dia Ceasar di Rumah Sakit ini, jam 1 atau jam 2 sore nanti."
Sam melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sam menarik napasnya begitu dalam, dan menghembuskannya sekali hembusan. "Sekarang jam 9 pagi, berati tidak lama lagi." Sam mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Menurut informasi, Vania sudah di Rumah Sakit ini, bahkan wartawan juga siap meliput kabar ini.'
"Dulu, aku jatuh cinta pada suatu hal yang membuatku puas pada yang satu itu. Tapi, saat bertemu Resa. Kesenangan dan kebahagiaan rumah tangga tidak hanya terpaku pada kepuasan itu. Tutur sapa Resa yang lembut, Resa juga pendengar yang baik. Selama bersamanya di Villa, aku semakin yakin untuk meng akhiri hubunganku dengan Resa."
Dirga sangat terkejut mendengar ucapan Sam. "Kau melepaskan Resa? Lalu memilih bertahan dengan Vania?" Dirga sungguh syok.
"Bukan melepaskan Resa! Tapi ingin mengakhiri status dia sebagai istri kedua yang dirahasiakan. Aku ingin dia menjadi istri Samuel Ozage, satu-satunya, dan diketahui oleh dunia."
"Pupus sudah harapanku, aku kira aku bisa mengejar Resa, jika dia sudah melahirkan nanti." keluh Dirga.
Sam menepuk bahu Dirga. "Dia malaikat untuku, sabar ...." Berulang kali Sam menepuk bahu Dirga.
"Apalagi laporanmu?" Sam sengaja mengalihkan pembicaraan, agar sepupunya itu tidak tenggelam dalam kesedihan.
"Rumah yang aku belikan waktu itu sudah siap. Semuanya dan isinya, pakaianmu, pakaian Resa dan segala keperluan bayi. Di sana aku siapkan perawat khusus, aku jamin! Apapun yang terjadi di rumah itu. Tidak akan di ketahui oleh orang lain."
"Seminggu sudah aku bekerja dari laptopku, semua kebutuhan kerjaku, sudah kamu siapkan?"
"Sudah Tuan!" Seru Dirga.
"Aku akan memulai lembaran baru, bersama Resa di rumah itu. Setelah kedua bayi kami lebih kuat. Baru kami akan kembali ke rumah besar keluarga Ozage."
Sam dan Dirga terus berbicara banyak hal. Merasa hawa panas mulai terasa, karena matahari semakin meninggi, sinarnya pun mulai menyilaukan mata. Dirga izin pergi untuk melanjutkan tugasnya. Sedang Sam. Dia memilih kembali keruangan Resa. Sam berdiri di depan pintu lift. Menunggu pintu itu terbuka. Deringan ponselnya terdengar. Sam segera meraih ponsel yang ada di saku kemeja yang dia pakai. Terlihat nama pemanggil adalah Arini. Sam langsung menggeser icon berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Iya, Rin?" Sapa Sam, langsung.
"Vania, dia melakukan operasi ceasar dini, di Rumah Sakit---" Arini menyebutkan nama Rumah Sakit yang dia maksud dan nomer ruangan Vania.
"Aku akan segera kesana," jawab Sam lemas.
__ADS_1
Sam batal kembali keruangan Resa. Dia melangkah menuju tempat yang sebutkan Arini. Belum sampai di tujuannya. Mata Sam sudah di sambut pemandangan yang membuat kepalanya menggeleng. Beberapa awak Media menunggu di depan ruangan Vania. Saat salah satu dari wartawan melihat kedatangan Sam. Mereka kompak mengerumuni Sam.
"Mohon maaf semuanya. Saya harus kedalam dulu, mohon pengertiannya." Sam undur diri secara halus dari awak media yang ingin bertanya banyak hal padanya. Punggung Sam menghilang di balik pintu itu. Keadaan luar ruangan pun, hening kembali.
Sam masuk kedalam ruangan Vania, wanita itu tampak santai. Seakan tanpa beban apapun.
"Hallo Sam, aku tau, kamu pasti datang!" Seru Vania.
"Aku datang untuk menawarimu kesempatan terakhir, Vania." Jawab Sam.
"Astaga! Aku tetap pada keputusanku, aku tidak akan merubahnya. Oh ya, seminggu setelah selesai operasi, aku akan pergi keluar Negri, jangan rindu padaku ya …." Ucap Vania.
Sam tidak kuat berada di samping Vania. Hatinya sesak melihat keegoisan Vania yang kian hari, kian bertambah parah. Namun, keluar dari ruangan ini, juga bukan perkara baik. Sam lebih memilih berbaring di sofa panjang. Dia memainkan ponselnya untuk mengulur waktu. Sam mengirim banyak pesan pada Dirga. Untuk persiapan bayi Vania. Selesai dengan Dirga. Sam mengirimi pesan pada Resa. Mengatakan di mana dirinya saat ini.
Senyuman terukir di wajah Sam. Saat membaca pesan balasan dari Resa.
******
Waktu seakan berjalan lebih lama, putaran bumi pun seakan terasa terhenti bagi Sam. Entah berapa kali Sam terus menerus memperhatikan jam dinding dan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Tapi, Jam yang di tunggu-tunggu masih lama.
Dia tidak menoleh kearah Vania sedikitpun. Keegoisan Vania saat ini sangat melukai hatinya. Seakan oksigen diruangan itu habis. Sam merasa lelah berdiam diri di ruangan itu.
***
"Nyonya, Tuan Sam sekarang berada di ruangan Nona Vania. Nyonya tidak mau kesana?" Tanya Resa.
"Kamu sendirian di sini, kalau aku kesana, cukup Sam saja."
"Tuan pasti perlu dukungan Nyonya, sebaiknya Nyonya kesana," usul Resa.
Ramida membisu. Dia bingung.
"Nyonya, kesana saja, jangan lupa bawakan laptop Tuan, Tuan pasti butuh itu."
Ramida pun pergi mengambil laptop Sam. Sebelum berjalan kearah pintu. Ramida menoleh lagi kearah Resa.
"Nyonya, jangan takut. Saya tidak akan lari membawa cucu Nyonya." Resa berusaha meyakinkan Ramida.
"Kalau ingin sesuatu, atau perlu sesuatu, telepon saja, jangan sungkan."
Resa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ramida pun meneruskan langkah kakinya menuju pintu. Kini hanya Resa dan bayinya yang ada di ruangannya. Resa terus memandangi bayi yang dia lahirkan.
__ADS_1
"Kamu jadi anak yang baik ya sayang, mama memberikan kamu pada papa dan nenek kamu, bukan berarti mama tidak sayang padamu. Maafkan mama ya sayang." Resa mencium bayinya. Ada rasa sesak di batinnya. Rasanya dia tidak rela berpisah dengan bayinya. Tapi, kehadiran bayi ini adalah kesepakatannya dengan Ramida. Resa menghabiskan waktu bersama bayinya di ruangan itu.
*******
Di ruangan Vania.
Sam merasa lebih baik, saat ibunya datang membawakan laptopnya. Sam dan ibunya duduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaan yang bisa dilakukan dari laptop. Sedang di tempat tidur sana, tiga orang wanita cantik itu sibuk dengan berkas-berkas yang mereka pegang.
Kedatangan dokter dan para perawat membuat obrolan mereka terhenti. Karena dokter memeriksa keadaan Vania dan bayinya.
"Dari hasil USG tadi pagi, saya tidak bisa mengatakan banyak hal. Semoga saja bayi ini bisa lahir dengan selamat. Sangat banyak …." Dokter seakan berat menerangkan keadaan bayi Vania.
"Kami tidak bisa berharap lebih dok. Ibunya selamat saja, kamu sudah sangat bahagia. Bayi itu sudah tersiksa saat dia hadir. Wanita itu tidak mau makan apapun dok. Sepertinya Ceasar dini, akan meng akhiri penderitaan bayi itu!" Ucap Ramida.
Dokter menggeleng. Dia melihat wanita hamil itu seakan dia tidak hamil. Dengan lincahnya dia bergerak. Tanpa memikirkan kalau ada sesuatu di dalam rahimnya.
Waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba.
Vania, Sam dan Ramida masuk kedalam ruangan operasi. Keadaan hening. Menunggu tim medis yang bertugas. Hati Sam sangat hancur. Saat melihat bayi yang nampak memprihatinkan berada di tangan dokter.
"Bayinya laki-laki." Suara dokter sedikit tertahan oleh masker wajah yang dokter kenakan.
Tim medis kembali melakukan tugas mereka. Satu petugas medis, menangani bayi itu. Sedang yang lain, kembali menangani Vania.
Sam melihat sayu kearah bayi mungil itu. Mendengar suara tangisan bayi itu, seakan membuat oksigen mengalir lebih banyak di ruangan itu.
Sam dan Ramida kembali keruang perawatan. Keluar dari pintu operasi, Sam dan Ramida di buru pertanyaan oleh awak Media.
"Tanya jawabnya, sama Arini saja ya, saya masih gemetaran ini," kilah Sam. Dia sangat malas menjawab segala pertanyaan awak media. Sam melanjutkan langkahnya menuju ruangan Vania.
Hanya Sam dan ibunya yang ada di ruangan itu. Arini dan Nanaz, masih sibuk dengan awak media. Sam dan ibunya lebih memilih sama-sama diam. Melihat keadaan bayi yang keluar dari rahim Vania. Membuat dada mereka sesak.
"Jika awak media sudah pergi, kita kembali keruangan Resa, bu. Kasian Resa sendirian." Pinta Sam.
"Ibu juga berpikiran hal yang Sama, Sam."
*****
Bersambung.
****
__ADS_1
Besok aja ya sobat lanjutannya. Mataku ngantuk 🥱🥱🥱