Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 60 Resa Kembali .....


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Resa hanya memandangi jalanan dari kaca mobil yang ada di sampingnya. Semenjak meninggalkan rumah Sam, air matanya tidak mau berhenti mengalir. Bermacam cara Resa lakukan, untuk menahan tangisnya. Tapi, air mata itu tetap membasahi pipinya.


Hayati kesal melihat Resa terus menangis. Dia menepuk pundak supir taksi. "Pak, berhenti di depan," pinta Hayati.


Sang sopir perlahan menurunkan kecepatan laju mobil yang dia kendarai. Mobil yang Resa dan Ramida tumpangi, berhenti di sisi jalan. Merasa mobil yang dia tumpangi berhenti. Resa menoleh kearah ibunya. Ramida meraih gagang bagian dalam pintu mobil itu. Hingga pintu mobil di samping Resa terbuka.


"Jika kamu tidak senang pergi bersama mama, TURUN!!! Jangan perdulikan mama!" Bentak Hayati.


"Mamaa, ini pilihan yang sulit." Resa tidak bisa lagi menyembunyikan kehancurannya.


"Turun!" Bentak Hayati lagi.


Resa menggelengkan kepalanya. "Mah, beri aku waktu. Mana mungkin aku bisa tersenyum, setelah meninggalkan---" Resa menahan ucapannya.


"Jika kamu memilih mama, suatu saat nanti, jika mama sekarat, biarkan mama mati! Daripada mama selamat! Tapi, melihat semua ini!"


Resa mengusap air matanya, dengan jemari tangannya. Dia segera menutup pintu mobil itu kembali.


"Lanjutkan perjalanan Pak, ketujuan semula," pinta Hayati.


Perlahan mobil itu melaju kembali. Akhirya, mereka sampai pada tempat yang dituju. Hayati membayar ongkos taksi. Setelah sopir taksi menurunkan barang-barang mereka. Sedang Resa, dia memandangi tempat baru ini.


Hayati dan Resa menarik koper mereka. Hanya Hayati yang berbicara dengan Receptionis hotel itu. Setelah urusan selesai. Mereka mendapatkan kamar, yang sesuai dengan keinginan Hayati.


Sesampai di kamar, Resa langsung berbaring di tempat tidur. Rasanya sesak memenuhi dadanya.


"Seperti biasa, rutin pompa Asi kamu, dalam koper kamu, sudah mama siapkan kantong Asi dan alat Pump," seru Hayati.


Resa diam, pandangannya begitu kosong. Hayati berjalan kearah westafel, mencuci wajahnya. Merasa sedikit lebih baik, dia berbaring di samping Resa.


************


Samuel POV


Apakah aku baru merasakan apa itu kehilangan? Sejak tadi malam, rasanya dada ini terasa sesak. Semua utusanku sudah berusaha maksimal untuk mencari Resa. Tapi, hingga pagi ini kami belum menemukan Resa. Seakan aku tidak kebagian oksigen pagi ini. Dada ini sungguh sangat terasa sesak.


Aku juga seakan kehilangan rasa malu. Entah kenapa air mata ini sangat mudah menetes? Tuan Samuel Ozage menangis? Ini hal langka. Kenapa aku tidak menangis saat kehilangan Vania? Rasanya aku baru merasa apa itu bahagia, kenapa ini direnggut lagi.


Sofa tamu pilihanku untuk menempatkan tubuh yang terasa letih ini. Kusandarkan pungungku di sandaran empuk itu. Tatapan lurus kedepan, entah apa yang ku lihat.

__ADS_1


"Sam, apa kamu tidak tidur semalaman?" Pertanyaan itu, membuat lamunanku buyar.


Saat wajahku menoleh kearah sumber suara itu, ternyata itu Ibu. Aku hanya menggelengkan kepalaku, menjawab pertanyaan ibu.


"Bagaimana ini? Media sudah tau pernikahan keduamu, dan perpisahan kamu dengan Vania." Napas ibu terdengar begitu berat. Dia duduk di sebelahku.


"Pesta ulang tahun ini juga harus berjalan lancar, Sam. Ada Resa maupun tidak ada. Tapi, pencarian Resa terus kita lakukan."


"Kita lihat nanti, bu." Jawabku.


*******


Author POV


Sam tidak bisa berbuat lebih banyak, entah kenapa sampai sekarang dia tidak menemukan Resa dan ibunya juga. Perasaan Sam semakin terluka, melihat kedua bayi itu tidak seperti biasanya. Sam seakan merasakan kesedihan kedua putranya. Walau Asi mereka lancar, sepertinya mereka juga merasa kehilangan.


Tenda-tenda megah itu sudah berdiri tegak, di halaman rumah kediaman Ozage, terlihat di bawah sana sangat ramai para pekerja mempersiapkan segala hal, untuk acara ulang tahun nanti malam. Dirga sengaja mengadakan acara ulang tahun di bagian halaman rumah saja. Tapi dekorasi dalam Tenda itu, tidak kalah megah dengan dekorasi yang biasa di lihat di ballroom sebuah gedung. Semua pekerja terus memastikan pekerjaan mereka agar sesuai dengan keinginan Dirga. Sedang Dirga sibuk mempersiapkan hal yang tidak kalah penting.


Sam berdiri di balkon rumah, dia memandang sayu kearah tenda-tenda itu. Dia sangat kecewa pada dirinya sendiri.


"Sudah kuduga, kamu akan seperti ini jika aku tinggalkan." Tubuh Sam tersentak, saat mendengar suara itu.


"Aku hanya ingin berterima kasih padamu, berkat perpisahan ini, karir ku semakin bersinar." Vania tersenyum.


"Baguslah kalau kau bahagia." Sam kembali memandang kearah tenda yang berdiri di bawah sana.


"Sam, jangan malu, kalau kau rindu aku, katakan saja," goda Vania. Vania mendekati Sam, mengalungkan lengannya di leher Sam. Dengan mudahnya dia mendekatkan bibirnya pada bibir Sam.


Sam menepis dan menjauhkan tubuh Vania dari dirinya. "Aku sedih, bukan karena kehilangan kamu. Tapi, karena kepergian Resa."


"Aww, baguslah kalau kau bisa menerima dia. Aku tadi khawatir, kalau kamu akan sedih dan menyesal."


Sam menggeleng mendengar ungkapan Vania.


"Ah, sudahlah. Aku kemari untuk membantu sandiwaramu. Lumayan kesepakatan yang aku dapat, dari yang Dirga tawarkan padaku, kalau aku bisa membuat Media percaya padamu."


"Kau kembali hanya untuk karir? Tidak adakah di hatimu untuk merindukan putramu?"


"Ahh, ayolah Sam. Sudahlah, aku bosan mendengar nasehat, kupingku sudah panas setiap waktu mendengari ocehan Arini, betapa istimewanya dirimu. Ayolah, sekarang kita temui Media, mari aku bantu aktingmu." Ajak Vania.

__ADS_1


"Kau saja duluan," Sam malas untuk berjalan bersama Vania.


Vania tersenyum. Dia segera pergi meninggalkan Sam.


*********


Di ruangan khusus, para awak media sudah mengambil tempat masing-masing. Untuk bertanya langsung atas kabar yang mengambang ini. Saat Vania masuk kedalam ruangan itu. Bliz kamera langsung gemerlapan di sana, mengambil foto Vania. Seperti biasa, Vania hanya memberikan senyuman manisnya. Dia segera menempati tempat duduknya.


Vania meraih mik yang ada di depannya. "Mohon maaf semua teman-teman media, kami baru bisa mengadakan acara ini, untuk klarifikasi kabar yang beredar." Vania langsung membuka suara.


"Nona Vania, apakah benar perceraian Anda karena Tuan Sam menikah lagi?"


"Nona Vania, apakah benar Anda dan Tuan Sam sudah bercerai?"


Sangat banyak pertanyaan yang terlontar dari awak media pada Vania.


Vania menoleh kearah Dirga. "Lebih baik aku klarifikasi sekarang," ucap Vania.


Dirga hanya menganggukkan kepalanya.


"Pernikahan kedua suami saya, atas izin saya. Perceraian kami bukan karena istri kedua. Tapi, perbedaan visi misi kami. Akhirnya aku dan Sam sepakat untuk berpisah." Vania memulai sandiwaranya.


Salah satu wartawan mengangkat tangan.


"Berikan mik pada orang itu." Dirga menyuruh salah satu petugas keamanan yang bertuga.


Di sana wartawan itu menerima mik yang di berikan padanya. "Di mana istri kedua Tuan Sam?" Dia langsung bertanya.


"Istri kedua Sam …." Vania menoleh kearah Dirga.


Dirga langsung meraih mik yang ada di depannya. "Saat mengetahui Vania dan Tuan Sam akan bercerai, istri kedua yang dirahasiakan Tuan Sam selama ini, tiba-tiba pergi, dia merasa, dirinya adalah penyebab perpisahan Vania dan Tuan Sam. Sekarang kami masih mencari dia." Dirga membantu sandiwara Vania.


Vania tersenyum, buntu ide nya di bantu oleh Dirga. Vania kembali meraih mik. "Resa, tolong kembali, kasihan Sam dan kedua anak kita. Aku melepaskan mereka karena keinginanku, aku merasa merasa sangat damai, saat bisa melepas hubungan ini. Aku merasa, ada wanita yang istimewa sepertimu untuk menjaga Sam dan anak kita, tolong Resa, kembalilah, demi aku dan demi anak-anak kita." Vania memandang kearah lensa kamera dengan tatapan menghiba. Air mata palsu pun lolos dari pelupuk mata Vania.


Vania menarik napasnya begitu berat. "Resa, hubunganku dan Sam memang tidak seimbang, jauh sebelum kedatanganmu, sebab itu aku meminta dia menikah lagi. Resa, kembali ...." Vania sengaja menangis, untuk membantu akting yang dia jalankan.


"Resa, kembalilah, demi aku, demi Sam, dan demi anak kita, kamu tidak salah sayang." Vania semakin tenggelam dalam tangisnya.


Keadaan seketika hening.

__ADS_1


__ADS_2