
Sam berusaha menahan Resa. Tapi, Resa menepis tangan Sam. Dia meninggalkan Sam di kamar itu sendirian.
"Resa, tunggu!!!" Pinta Sam. Tapi, wanita itu tetap pergi dari kamar tersebut.
Saat Resa keluar dari kamar, dia berpapasan dengan Ramida. Ramida tersenyum padanya.
"Akhirnya, kalian kembali juga," gerutu Ramida.
"Maaf Nyo---"
"Tidak ada Nyonya, kamu adalah bagian dari rumah ini," sela Ramida.
"Maaf, saya ambil bok, tempat menyimpan Asi, dulu." Resa berusaha menghindari Ramida.
"Tidak perlu, biar pelayan yang mengambilnya, bok nya, ada di mobil, Sam 'kan?"
Resa menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Ramida.
Ramida meminta pelayan, untuk mengambil bok yang ada di dalam mobil Sam. Lalu meminta pelayan itu memberikan bok tersebut pada salah satu babysitter yang menjaga Gavin dan Gilang. Selesai berbicara dengan pelayannya. Ramida kembali memandang kearah Resa.
"Bisa ikut ibu? Ibu ingin bicara sama kamu, hanya berdua." Pinta Ramida.
Resa menganggukkan kepalanya lagi. Dia melangkahkan kakinya, mengikuti Ramida. Saat Sam keluar dari kamar bayi. Dia melihat Resa dan ibunya masuk kesalah satu ruangan. Sam ingin menyusulnya. Tapi, langkah kakinya tertahan oleh Pak Bim.
"Bisa saya bicara, Tuan?" Tanya Pak Bim.
Sam menganggukkan kepalanya.
"Tadi, Tuan Dirga menelepon saya, meminta saya menyiapkan dua ruangan. Tuan Dirga bilang satu rencana, terpaksa di majukan jadwalnya, dari rencana semula."
"Lakukan saja Pak Bim. Jika semua selesai, nanti panggil saya." Sam meninggalkan Pak Bim, dia berjalan menuju ruangan yang di masuki Resa dan ibunya.
"Tuu-an Sam!" Panggilan itu, terdengar seperti nada yang setengah mengejek.
Sam membatalkan niatnya untuk mengetuk pintu itu, dia menoleh kearah suara itu ber-asal. Terlihat Dirga berjalan kearahnya dengan seringai mengejek.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kamu kemari? Apa tidak bisa melakukan tugasmu lewat telepon?"
"Tidak bisa, karena beberapa urusan harus ditangani oleh Anda langsung."
Sam pasrah, dia mengajak Dirga menuju ruang kerjanya, dengan isyarat, gerakkan kepalanya. Sam dan Dirga berjalan ber iringan menuju ruangan tersebut.
Sam duduk di kursi khusus miliknya, sedang Dirga duduk di salah satu Kursi yang ada di depan meja kerja Sam. Melihat raut wajah Sam, yang nampak tidak bersahabat, Dirga langsung mengatakan rencana yang dia susun.
*******
Di kediaman Garie.
Nanaz, Sri, dan Garie. Mereka bertiga sangat sibuk bersiap, mempersiapkan persiapan mereka untuk menginap di rumah Sam. Panggilan dari utusan Ozage Crypton Group membuat mereka sangat terkejut, sesegera mungkin mereka bersiap.
"Bagaimana Naz? Persiapan kamu sudah lengkap?" Garie memastikan kesiapan Nanaz.
"Sudah, pah," jawab Nanaz.
"Keperluan kita, bagaimana Sri?" Garie memandang kearah Sri.
"Sudah," jawab Sri.
*****
Di kediaman Hayati.
Suasana santai Hayati, sedikit terusik. Saat seorang tamu yang mengaku utusan keluarga Ozage datang, untuk menjemput Hayati. Hayati malas mengurus masalah perusahaan. Namun, mengingat kalau di sana akan bertemu Resa, Hayati langsung meminta Tini, untuk membantunya bersiap. Hayati dan utusan keluarga Ozage langsung masuk mobil. Mobil itupun perlahan meninggalkan rumah tinggal Hayati.
Perjalanan yang lumayan panjang Hayati tempuh. Dia hanya memandangi jalanan yang dilalui. Tanpa bicara pada utusan yang menjemputnya. Perlahan laju mobil itu, kecepatannya menurun, saat mendekat kearah pagar yang menjulang tinggi.
Hayati kagum dengan pemandangan yang dia lihat. Bukan pada pemandangan rumah besar itu. Tapi, kerumunan media yang berkerumun didepan pagar itu. Di depan mobil yang Hayati tumpangi, juga ada sebuah mobil yang melaju pelan, karena jalan mereka terhalang oleh kerumunan. Saat beberapa orang yang berseragam, keluar dari dalam pagar, untuk membukakan jalan. Mobil yang di depan Hayati, dan mobil yang Hayati tumpangi, perlahan bisa melaju kembali.
Kedua mobil itu parkir bersebelahan. Saat Hayati turun, dia melihat kembali laki-laki yang bertahun-tahun tidak pernah dia temui. Hayati berusaha santai. Karena laki-laki itu bukan suaminya lagi.
"Bu, Hayati. Mari ikut saya." Suara laki-laki yang menjemput Hayati, tadi. Membuyarkan lamuanan Hayati. Tanpa pikir panjang, Hayati mengikuti langkah kaki laki-laki itu.
__ADS_1
Sedang Garie, dan keluarganya di sambut oleh Pak Bim. Setelah menurunkan barang-barang, mereka pun segera melangkahkan kaki, mengikuti langkah kaki pria yang berjalan di depan mereka. Untuk memasuki rumah keluarga besar Ozage. Mereka hanya mengikuti arahan Pak Bim. Sesampai di dalam rumah besar itu. Garie tidak melihat sosok Hayati. Namun, dia berusaha santai. Reaksi Sri tampak begitu berubah, saat tidak sengaja bertemu Hayati, di depan tadi.
Garie, Sri, dan Nazla, memasuki ruangan yang cukup besar. Di ruangan itu, ada tiga tempat tidur.
"Kalian semua, istirahat dulu di sini. Nanti Tuan Sam akan memanggil kalian." Pak Bim mempersilakan tamunya untuk istirahat. Setelah mengantar Nazla dan keluarganya. Pak Bim melanjutkan tugasnya yang lain.
Sedang Garie dan keluarganya, langsung menghempaskan tubuh mereka di atas kasur. Persiapan dadakan tadi, sungguh menguras tenaga mereka.
********
Di ruangan lain yang ada di rumah Sam.
Hayati bingung, karena sendirian di ruangan itu. Dia duduk di sisi tempat tidur, sambil memandangi keadaan kamar itu. Pandangan Hayati tertuju kearah pintu, saat melihat pintu itu perlahan terbuka. Dari pintu itu tampak dua sosok wanita, yaitu Resa dan Ramida. Senyum Hayati mengambang. Sosok yang sangat dia rindukan selama ini akhirnya bisa dia lihat.
"Sayang …." Hayati langsung berlari menghampiri Resa, dan memeluk putrinya begitu erat.
"Mamaaa!" Tangis Resa tumpah begitu saja, karena bisa memeluk ibunya.
Ramida hanya diam, dia membiarkan ibu dan anak itu saling melepas rindu. Merasa puas memeluk Resa, Hayati melepaskan pelukannya. Dia menghujani wajah Resa dengan ciumannya.
"Kamu ini, kemaren terlalu gemuk! Sekarang terlalu kurus!" Hayati mencubit pipi Resa begitu gemas.
"Aku kurus karena merindukan mama." Ucap Resa.
"Saat kau gemuk! Kau tidak rindu pada mama?!" Hayati mencubit hidung Resa.
"Bukan begitu! Aku banyak makan karena stres, terlalu merindukan mama." Resa mengusap hidungnya, yang bekas di cubit ibunya.
"Resa, sayang ... jika ingin hidupmu tenang dan bahagia, maka jujurlah sayang. Jangan bohongi mama kamu lagi," sela Ramida.
"Nyonya …." Resa memandang kearah Ramida dengan tatapan yang penuh permohonan.
"Jujur tentang apa?" Hayati memandang kearah Resa dan Ramida bergantian.
*****
__ADS_1
Bersambung.
Aku sedikit pusing, karena kehujanan Gaesss. Kalau dah rada enakkan aku lanjut lagi. Maaf hari ini telat up, karena kalau jum'ad babang tamvan akoh gak kerja, alias di rumah aja. 😘