Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 7 Masuk dalam Jebakan


__ADS_3

Sam menarik Resa masuk kekamar. Sesampai di sana, Sam mendorong tubuh Resa begitu kasar, hingga tubuh itu terpental keatas tempat tidur.


"Kau tau apa yang kau minum?" Tubuh Sam semakin bergetar, karena reaksi obat itu semakin kuat.


"Air putih," jawab Resa dengan polosnya.


Sam tidak sanggup lagi menerangkan apa yang terkandung dalam air mineral dalam botol itu. Dia langsung menuntaskan keinginannya pada wanita yang berada tepat di depannya.


"Tuan!" Pekik Resa. Dia tidak siap melayani laki-laki yang menerkamnya ini, walaupun laki-laki ini suaminya.


Tenaga Resa, kalah kuat, Sam berhasil berkuasa atas tubuh indahnya. Resa semakin tidak sanggup melawan, entah dari mana, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyeruat dari dalam dirinya, ia tidak tahu bagaimana menyalurkan keinginan yang tiba-tiba muncul. Tapi, perlakuan Sam pada dirinya, seakan menjawab semua luapan keinginan, yang timbul dari dalam dirinya.


Dua orang yang tidak bisa mengendalikan diri mereka terus melakukan, dan menuntaskan semua keinginan yang tidak mampu di tahan, karena semua rem sudah tidak berfungsi. Karena efek zat yang terkandung dalam air putih yang mereka berdua minum.


Resa lelah berteriak. Dia membiarkan Sam berkuasa sepenuhnya. Sedang Sam terus pada keinginannya. Tidak bisa dipungkiri, ada kebanggaan dalam hati Sam, bisa berkuasa di atas tubuh indah ini.


Belum lagi, ada rasa lain, yang tidak bisa dia ungkapkan. Penyatuan ini seolah hal baru dan warna baru. Suara indah yang bersahutan, sungguh mewarnai kamar itu.


***


Karena lelah bertugas, Sam merebahkan tubuhnya di samping Resa, tanpa dia sadari, perlakuan ini muncul secara alami, dia spontan memeluk tubuh indah gadis yang terkulai lemas di sampingnya. Segalan puncak kenikmatan yang dia dapat, tidak bisa dipungkiri. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut keduanya, hanya deraan napas yang begitu memburu, terdengar begitu jelas di telinga keduanya.


Gempa yang terjadi di tempat tidur beberapa jam lalu, membuat keduanya kehilangan banyak tenaga, Sam menenggelamkan wajah Resa ke dadanya yang bidang, Resa pasrah, dia kehabisan tenaga, bernapas pun, terasa berat. Perlahan keduanya memejamkan matanya.

__ADS_1


Entah berapa lama gempa yang mengguncang tempat tidur itu. Kini, matahari kian meninggi suasana yang panas mulai terasa di kamar itu. Sam merasa gerah, perlahan dia menggerakkan tangannya, meraba sesuatu, kearah samping, merasakan hembusan napas di dadanya, Sam terkejut. Sontak ia membuka sempurna kedua matanya.


Sam sangat kaget, melihat wanita yang baru dia nikahi beberapa jam lalu, tidur sangat nyenyak dalam pelukannya. Perlahan dia memindahkan posisi Resa yang begitu nyaman berbantalkan pergelangan tangannya. Akhirnya berhasil, Resa masih lelap dalam tidurnya, walau posisinya kini telah berpindah.


Sam langsung meraih handuk yang sebelumnya dia pakai. "Sial! Seharusnya aku waspada dari awal, ibu sangat terobsesi ingin menimang cucu, kenapa aku sangat ceroboh! Usaha ibu berhasil!" Sam mengutuki dirinya karena kecolongan dan masuk dalam jebakan ibunya.


Sam berjalan keluar dari kamar, dia duduk di sofa panjang, sambil menyandarkan punggunya, di sandaran sofa. "Harusnya hal ini tidak terjadi secepat ini, Vania sayang, maafkan aku, aku--" Sam begitu sedih, teringat akan Vania, dia membayangkan perasaan Vania, andai Vania mengetahui pengkhianatannya.


Sam mengusap kasar wajahnya, dengan kedua telapak tangannya, dia sangat menyesali yang telah terjadi barusan. Tanpa sadar, tanganya meraih botol minuman yang ada di meja tamu itu, dengan kasar, dia menegak hampir separu, air yang ada dalam botol itu. Saat ia menyadari apa yang ia minum. Seketika kedua matanya melotot. "Sial! Kenapa minum ini lagi!"


Sam berjalan kearah jendela, dia membuang isi air minum itu dari jendela, selesai membuang semua air mineral yang ada di atas meja, Sam terpaksa kembali ke kamar, ledakan itu muncul kembali. Sangat terpaksa dia harus mengulangi kembali kegiatan yang sama, dengan wanita itu.


********


Sam masih tertidur di samping Resa, reka adegan yang kedua, membuat tenaganya habis terkuras. Sedang Resa, dia merasa sangat menderita, sekujur tubuhnya terasa sakit, apalagi di bagian yang satu itu. Perlahan Resa bangun, tangannya meraih gaun yang dia pakai sebelumnya, untuk menutupi sedikit bagian tubuhnya, rasanya, tenaganya tidak mampu lagi mengantarnya menuju kamar mandi.


Perlahan Sam mengerjapkan kedua matanya, perlahan kelopak mata itu terbuka sempurna. Saat melihat Resa yang dalam posisi duduk di lantai, terus berusaha menyeret tubuhnya, dengan kekuatan dari kedua tangannya. Terlihat tubuh itu bergerak perlahan menuju pintu kamar mandi.


Melihat pemandangan itu, Sam merasa sangat bersalah, wanita itu menderita karena ulahnya. Sam menghembuskan napasnya begitu kasar, dia berjalan kearah Resa, tanpa menutupi tubuhnya sedikitpun. Dia menggendong Resa.


Resa terkesiap, saat tubuhnya terangkat dari lantai, kedua bola matanya seakan keluar, saat menyadari Sam menggendong dirinya.


"Maafkan aku."

__ADS_1


Kata-kata itu keluar dari mulut Sam, sedang Resa hanya diam, dia tidak bisa marah, karena Sam adalah suaminya. Setelah membawa Resa ke kamar mandi, perlahan Sam mendudukkan Resa kedalam bathtub, Sam mulai membuka kran air untuk Resa.


"Tidak usah Tuan, saya bisa sendiri," ucap Resa.


Sam menutup kembali kran air yang dia buka, Pandangan mata Sam begitu sayu, memandangi Resa. Dia sangat kasihan dengan wanita yang berada di depannya. Dia tidak mampu memandangi Resa, Sam segera pergi dari kamar mandi itu.


Sedang Resa, menepis semua pikirannya, yang terus membayangkan kegiatannya bersama Sam, Resa membuka kran air, perlahan air itu menggenangi bathtub, Resa membiarkan tubuhnya disapa air yang terus menggenangi bathtub, semakin lama semakin dalam, merasa air sudah sebatas lehernya, Resa menutup kran air, memejamkan matanya, berharap berendam dalam dingin air dingin, mengembalikan sedikit tenaganya, yang begitu banyak terkuras.


Resa berendam lama di kamar mandi sana, sedang Sam, kembali berbaring di tempat tidur, dan memejamkan kembali matanya.


Entah berapa lama Resa menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, dia perlahan berdiri, dan memaksakan kakinya untuk melangkah. Resa sangat putus asa, kenapa bagian itu masih terasa sangat sakit, membuat dia sangat sulit melangkahkan kakinya. Dia melingkarkan handuknya di dadanya, perlahan kaki indah itu melangkah menuju pintu kamar mandi.


Perlahan Sam membuka kedua matanya, merasa cukup tertidur, Sam segera bangun, matanya melotot, saat melihat noda merah di tempat tidur. "Arrggh!" Sam meremas rambutnya begitu kasar.


Melihat sosok wanita yang baru keluar dari kamar mandi, dengan rambut basahnya, dan handuk yang melingkar di dadanya, Sam tidak jadi mengomel.


Pandangan wanita itu tadinya ter arah padanya. Namun, melihat Sam masih polos, Resa menundukkan pandangannya.


*Benda yang itu sangat besar! Pantas saja milikku sesakit ini*! Resa menggerutu sendiri, saat melihat milik Sam.


"Ada apa?" Tanya Sam.


"Tuan, bisakah saya meminjam baju anda? Baju yang Nyonya siapkan, jangankan memakainya, melihatnya saja saya malu." Dia masih menunduk.

__ADS_1


Sam berjalan kearah lemari, dia mengambil satu baju kaos putih miliknya, dia berjalan kearah Resa. "Ini pakailah, aku lapar, siapkan aku makan siang," ucap Sam, dia berlalu begitu saja di samping Resa, dan masuk kedalam kamar mandi, sedang Resa langsung memakai baju kaos, yang Sam berikan padanya.


Perlahan Resa terus berusaha memaksa kakinya, untuk terus melangkah menuju dapur, walau dia sangat menderita, karena sesuatu di sudut sana terasa sangat perih, jika melangkahkan kakinya. Tapi, dia harus tetap berusaha menyeret tubuhnya ke arah dapur, untuk menyiapkan makan siang, untuk dia dan Sam.


__ADS_2