
Gedung Ozage Crypton Group.
Ramon sengaja berdiri, di depan pintu utama, gedung itu. Untuk menunggu seseorang. Tidak berselang lama, terlihat sebuah mobil taksi, berhenti di depan gedung tersebut. Ramon tersenyum, saat melihat sosok yang dia kenali, keluar dari mobil taksi tersebut. Kedua wanita beda generasi itu berjalan kearah Ramon.
"Selamat pagi, nak Ramon."
"Pagi juga bu Hayati," sapa Ramon. Ramon mengulurkan tangannya, menyalami dua wanita itu bergantian.
"Nak Ramon tau akan kedatangan kami rupanya," sela Ramida.
"Tidak juga Bu," kilah Ramon.
"Saya kemari, untuk menyelesaikan urusan kemaren," ucap Hayati.
"Iya, Bu. Kalau begitu, silahkan ikuti saya," pinta Ramon.
Hayati dan Tini, berjalan mengikuti Ramon. Memasuki Area gedung itu. Mereka sampai di sebuah ruangan. Hayati dan Tini dipersilakan Ramon, duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
Suasana hening. Karena laki-laki yang ada di depan mereka sibuk meng otak-atik komputernya.
"Perkembangan perusahaan ini sangat bagus, lho Bu. Sayang sekali Anda menolaknya," ucap Ramon.
"Saya tidak mengerti, putri saya juga tidak mengerti, biarkan saja perusahaan itu di tangani Garie, saya sama sekali tidak berminat," jawab Hayati.
"Tapi, surat-menyurat ini, sudah atas nama ibu Hayati. Jadi untuk pengalihan berkas, kami perlu waktu, lagian modal yang kami berikan tidak sedikit."
"Kenapa perusaan kalian memberi modal pada perusahaan itu?"
"Untuk hal itu, jawabannya akan di jawab oleh bos saya. Tapi, tidak sekarang. Silakan tinggalkan nomer telepon ibu. Nanti saya akan hubungi ibu, jika bos saya sudah siap untuk menemui kalian."
Hayati dan Ramon terus membicarakan tentang perusahaan. Sedang Tini hanya diam. Dia tidak menyangka, majikannya secerdas ini, dia hanya tahu majikannya seorang ibu rumah tangga biasa. Selesai dengan urusan dengan Ramon. Hayati dan Tini langsung pergi dari gedung Ozage Crypton Group dan segera pulang kerumah mereka.
*************
Semakin hari, karier Vania semakin bersinar. Vania Angela, Artis yang memiliki jadwal terbang paling tinggi, bahkan masuk daftar Artis yang terkaya, di Negara ini. Apalagi santar terdengar kalau Vania pindah keluar Negri, karena issue keretakkan rumah tangganya dengan Sam. Hal itu mulai terendus media, semakin gencar Media memburu Vania, untuk mendapatkan kejelasan berita tersebut. Tapi, tidak ada konfirmasi dari kedua belah pihak. Hingga berita keretakkan itu mengambang.
Tidak terasa tiga bulan sudah usia bayi Vania, di kediaman keluarga Ozage, tidak ada satupun yang tahu tentang kelahiran 2 bayi, penerus keluarga Ozage. Suasana kediaman keluarga besar Ozage, terlihat sepi. Hanya para pelayan yang mondar-mandir di rumah itu melakukan pekerjaan mereka. Marina dan Jena, berada di ruang keluarga.
"Jen, kalau kuhitung, ini sudah lewat bulan kesembilan. Sepertinya Vania sudah melahirkan."
"Sabar Nyonya. Mereka diam, itu demi kebaikan Nyonya. Perjalanan dari desa kesini jauh Nyonya. Tuan Sam pasti menunggu Vania dan bayinya lebih kuat, untuk pulang kemari."
"Jen, kamu ada melihat Ramida?"
"Saya belum melihat Nyonya Ramida, beberapa hari ini, Nyonya sibuk mempersiapkan kamar bayi diatas sana."
"Oh, rasanya aku tidak sabar ingin memeluk kedua cicitku!" Seru Marina.
"Resa, bagaimana Nyonya? Apakah setelah melahirkan, dia akan pergi? Atau?"
"Aku tidak tahu, hal itu terserah pada Resa dan Ramida. Karena mereka yang memiliki kesepakatan."
"Nyonya, boleh saya membuka televisi?"
__ADS_1
"Buka saja, Jena. Aku juga ingin melihat wajah Vania. Walau dia menyebalkan. Tapi, dia wanita yang dicintai cucuku."
Dengan semangat Jena langsung menekan remot, untuk menyalakan televisi. Benar saja, wajah Vania langsung menghiasi layar televisi. Marina tersenyum melihat wajah cantik itu. Namun, seketika senyumannya hilang, saat melihat di televisi itu, Vania kesakitan dan langsung di bawa oleh Tim nya kerumah Sakit. Jena panik, dia sangat takut, mematikan siaran televisi itu pun percuma. Nyonya besarnya sudah melihat tayangan itu.
"Pak Bim!" Seru Jena. Dia sangat cemas melihat Nyonya besarnya mematung.
Pak Bim yang tengah berjalan melewati mereka, segera mendekat. "Ada apa Jena?" Tanya Pak Bim.
"Nyonya besar …." ringis Jena.
Pak Bim, melihat kearah televisi, berita yang selama ini dia sembunyikan, beberapa waktu lalu, malah tersiar lagi sekarang.
"Pak, Bim. Cepat antar aku ke Rumah Sakit itu, kasihan Sam!" Jerit Marina.
"Nyonya besar. Tayangan yang sekarang, adalah syuting Vania beberapa bulan lalu, saat Vania hamil. Vania sudah melahirkan. Sepertinya hampir tiga bulan yang lalu. Dia kelelahan, karena syuting setiap hari. Mungkin sebab itu, dia terpaksa melahirkan prematur. Tapi, saat ini, cicit Nyonya sudah sehat. Maafkan kami, karena kami terpaksa menyembunyikan berita ini dari Nyonya."
"Apa? Cicitku sudah lahir? Kenapa kalian semua kompak membisu?! Cepat antar aku kesana! Atau mereka yang kembali!" Teriak Marina.
Ramida yang baru pulang berbelanja, sangat terkejut mendengar suara teriakan dari arah ruang tamu. Dia segera melangkah kesana. "Ada apa ini, ibu kenapa teriak?" Tanya Ramida.
"Kenapa kelahiran cicitku kalian sembunyikan dariku?" Tanya Marina.
Ramida terdiam, matanya ter alih ke televisi yang santar memberitakan Vania, yang terpaksa melahirkan prematur.
"Maaf, Bu. Saya terpaksa menyembunyikan semua ini, karena saat lahir, bayi Vania sangat memprihatinkan. Kami takut, kesehatan ibu terganggu, karena sedih melihat bayi Vania. Tapi, ibu tenang, kasih sayang dari Resa, membuat bayi itu, kini tumbuh sehat, mereka akan kembali, jika kedua bayi itu, bisa di bawa untuk melakukan perjalanan jauh."
"Kalau begitu, kita yang kesana! Aku ingin menimang cucuku!" Pinta Marina.
Ramida terus berusaha meminta mertuanya bersabar. Diskusi sedikit alot. Karena Marina sangat ingin melihat cicitnya.
"Bagaimana kalau saat ulang tahun Sam?" Usul Ramida.
"Tapi, itu masih tiga minggu lagi!" Gerutu Marina.
"Supaya bayinya juga sudah lebih kuat bu, ibu maklum lah, bayi itu lahir prematur. Ayolah bu, aku juga rindu pada cucuku," bujuk Ramida.
Akhirnya, diskusi menemukan titik terang. Mereka sepakat, meminta Sam kembali tiga minggu dari sekarang.
*******
Dunia Resa terasa indah. Memiliki dua bayi, dan seorang suami. Resa tengah memangku Gilang. Gilang dan Gavin menyusu bergantian. Jika Gilang menyusu dengan botol bayi, maka Gavin yang menyusu langsung pada sumbernya. Begitu juga sebaliknya. Sam semakin bangga pada Resa. Menyayangi Gilang dan Gavin, tanpa membedakan keduanya.
Perlahan Sam masuk kedalam kamar bayi mereka. Terlihat Resa memangku Gilang. Sambil membelai wajah Gilang. Dia tidak menyadari kehadiran Sam. Sam meminta pada babbysitter yang menggendong Gavin, agar Gavin diberikan padanya, dengan bahasa istaratnya. Perlahan Gavin berpindah kegendongan Sam. Sam meminta kedua Babbysitter itu keluar, dengan isyarat tangannya. Kedua Babysitter itupun keluar dari kamar tersebut. Hanya tinggal Sam, dan Resa, juga kedua bayi itu, di kamar.
Perlahan Sam duduk di samping Resa, di dalam gendongan Sam ada Gavin yang hanya menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Resa terkejut, merasa ada pergerakkan di sampingnya. Dia menoleh kearah samping.
"Anda?" Sapa Resa.
"Apa? Anda? Kenapa kamu belum memikirkan nama panggilan indah buatku?" Gerutu Sam.
"Bagaimana kalau papa?"
"Lumayan lah daripada Anda atau Tuan." Sam pasrah.
__ADS_1
Sam mengalihkan perhatiannya pada Gilang. "Dia semakin gemuk. Tapi, kau semakin kurus!" Gerutu Sam.
"Jangan pikirkan aku, aku bahagia asal dua mahluk ini sehat."
"Hanya mereka? Kau tidak memikirkan aku?" Sam memasang wajah memelas.
"Jangan mulai!" Gerutu Resa.
Sam tersenyum, sangat senang dia, jika menggoda Resa seperti ini. Walaupun harus tersiksa karena lama menahan hal lain yang paling dia suka.
"Aku merasa, seakan aku baru bisa bernapas. Entahlah apa namanya, kehidupanku sebelumnya." Sam melangkah menuju bok bayi. Lalu memindahkan Gavin kedalam box bayi. Sam kembali duduk di samping Resa.
"Jangan berkata seperti itu, kehadiran Vania dalam hidupmu juga memberi warna yang indah," ucap Resa.
"Kamu benar. Aku ketempat hiburan itu, hingga bertemu Vania. Karena aku merasa sangat terbebani oleh tanggung jawab perusahaan. Aku belum siap untuk memimpin. Tapi, tampuk kekuasaan itu berpindah ketanganku. Hingga aku kalut dan mencari jalan pintas, untuk menghibur diri, juga untuk menutupi kesedihanku. Aku tidak punya teman untuk berbagi, hingga suatu saat aku bertemu Vania."
"Kau rindu Vania?"
"Tidak, aku tidak memikirkan dia lagi, aku sudah berulang kali mengemis padanya, agar bersamaku. Tapi, dia memilih pergi. Bukan salahku jika hatiku mencintai sosok wanita yang ada di depanku." Sam menyandarkan wajahnya di bahu Resa.
"Aku merasa, sebaiknya ikatan ini di rahasiakan saja. Biarlah aku menjadi istri kedua yang kamu rahasiakan. Siapapun yang benar, dunia pasti akan menyalahkan istri kedua. Terlebih, jika istri pertama berpisah dengan suaminya, dan istri kedua yang bertahan. Tanpa mereka ketahui. Apa penyebab perpisahan diantara keduanya." Resa menarik napasnya begitu dalam. Mata Resa memandang sayu, pada Gilang mulai terlelap dalam gendongannya.
"Teruh dia di istananya," pinta San.
Perlahan Resa bangkit, lalu melangkahkan kakinya menuju bok bayi, untuk Gilang. Perlahan Gilang berpindah tempat. Resa kembali mendekati Sam, dan duduk di samping Sam.
Sam menarik Resa, agar Resa bersandar di badannya. "Aku rasa Vania tidak akan pernah sakit hati, kalau hanya masalah diriku. Dia akan sakit hati, jika tidak bisa berkarir atau bintangnya meredup. Saat publik tau pernikahan kita. Di saat itu, Vania akan bahagia. Karena posisi dia sangat di untungkan, sebab dia bagai sosok yang tersakiti."
"Itu juga yang aku bayangkan. Vania sosok yang tersakiti, dan aku adalah sosok Antagonis yang merebut suaminya."
"Jika sampai publik memberitakan seperti itu, aku tidak akan tinggal diam. Akan aku buka apa sebab perceraian kami."
Resa menghela napasnya begitu dalam. Sunggguh sesak, membayangkan caci maki, orang di luar sana, nantinya.
"Nenek meminta kita kembali, tiga minggu dari sekarang. Kurasa, waktu yang tepat membuka rahasia kita kesemua orang, di saat perayaan ulang tahunku, nanti."
Resa menarik dirinya, dari dekapan Sam, dan memandangi wajah itu. "Kau akan ulang tahun?"
"Hem," Sam berdeham sambil menganggukkan kepalanya.
"Jangan memikirkan kado! Kamu bersamaku saja itu sudah melebihi apapun!"
Kedua pasang bola mata itu saling beradu pandang, pandangan sendu itu, membuat medan tarik menarik terjadi, wajah keduanya semakin mendekat, jarak dua wajah itu hanya beberapa centi. Hingga keduanya larut dalam pertarungan lidah mereka.
*****
Bersambung.
*****
Sabar ya Sam, puasa dulu 😀😀😀🤣🤣🤣🤣🤣✌
Besok Lanjutannya kalau aku gak sibuk gentayangan 🙏
__ADS_1