
Samuel Ozage POV
Hati ini sungguh kacau, aku tidak tahu apa yang terjadi, setelah bersama perempuan itu, perasaan ini sungguh aneh, belum lagi rasa bersalahku pada Vania, karena menikah di belakangnya, juga rasa kasihan pada Resa, aku sungguh kasar padanya. Menarik napas pun, sungguh terasa sangat berat.
Kenapa hal ini terjadi padaku, andai semua ini tidak ada, maka kehidupanku bisa tenang seperti sebelumnya. Permintaan nenek dan ibu, telah merubah segalanya. Ku pacu mobil ini dengan kecepatan tinggi, berharap bisa sampai lebih cepat di rumah. Sepanjang perjalanan, wajah Resa dan wajah Vania muncul bergantian, ini sungguh membuat hati dan pikiran ini frustrasi, rasanya ingin menjatuhkan mobil ini ke dasar jurang.
Hatiku sungguh sesak, tidak akan ku biarkan Resa menempati hatiku, cukup Vania, hanya Vania, semoga saja Resa cepat hamil, agar semakin cepat juga aku melepasnya. Perasaan yang ku rasa saat ini sungguh terasa mencekik. Tidak butuh lama, akhirnya, tiba juga di rumah kediaman keluarga kami.
Di halaman rumah, terlihat mobil Vania sudah terpakir di sana. Bagasinya terlihat terbuka, seorang perempuan nampak mengeluarkan sesuatu dari sana. Aku mengenali perempuan itu, dia Nazla asisten pribadi Vania. "Nazla …." Sapaku.
Terlihat wanita itu menegakkan tubuhnya, dan menoleh padaku. "Tuan, selamat malam Tuan," sapanya.
Aku hanya mengangguk dan menyunggingkan senyuman padanya. "Kapan kalian sampai?" Tanyaku.
"Baru 10 menit Tuan, hari ini kontrak film terakhir Nona Vania," ucapnya.
"Aku permisi, Naz." Ucapku, Nazla hanya mengangguk dan tersenyum.
Segera ku pacu langkah kaki ini menuju rumah, akhirnya aku sampai di ruangan pribadi kami, di meja rias, terlihat Vania terlihat, tengah menghapus make up nya. "Sayang …." Sapaku.
"Sayang, kenapa kamu teledor sih! Aku panik tau nggak, seharian ini gak bisa nelepon kamu," gerutunya, wajah cantiknya nampak cemberut.
"Maaf sayang, aku benar-benar lupa," kupeluk dia dan menghujani wajahnya dengan ciuman.
"Maaf ya …." Ucapku.
Dia hanya mengangguk, dan kembali pada tugasnya yang semula.
"Sayang, aku mau ke kamar ibu dulu, mau ambil ponsel," ucapku.
"Gak perlu sayang, ibu sudah kembali ke Rumah Sakit, ponsel kamu ada di nakas, tadi ibu kasih ponsel kamu ke aku," ucapnya.
Kulirik kearah nakas, benar saja ada ponsel di atas nakas, segera ku langkahkan kaki ke arah sana, dan meraih ponsel itu. Terlihat di layar, sangat banyak panggilan tidak terjawab dan ratusan pesan. Aku memandang ke arah Vania, dia nampak cuek, dan asyik dengan perawatan kulitnya.
Perasaan bersalah itu kembali menyeruat, menyadari kalau Vania, mengkhawatirkanku seharian ini, aku berjalan mendekati Vania, ku peluk dia dari belakang, dan menumpu kan dagu ini, di ceruk lehernya.
"Ada hal penting sayang? Di ponselku, sangat banyak panggilan dan pesan darimu, ada apa?" Tanyaku, berbisik di telinganya.
"Tidak ada apa-apa, sejak pagi tadi, aku merasa tidak enak, aku kepikiran kamu, kamu juga di telepon tidak menjawab, semakin lengkap deritaku," keluhnya.
"Maaf …." Hanya kata itu yang bisa yang aku ucapkan, perasaan yang menyeruat bukan hanya rasa bersalah dan penyesalan, lebih dari itu, semakin ku per erat memeluknya, rasanya ingin sekali berteriak menumpahkan semua luapan perasaan-perasaan yang timbul di dalam sana. Vania dalam pelukan, tapi Resa yang hadir di pelupuk mata.
"Sayang, sudah … aku mau mandi," rengeknya. Lamunanku tentang Resa buyar, mendengar rengekan Vania.
Perlahan kulepas tanganku yang melingkar di perutnya. "Mandi sama-sama," ucapku, sambil mengedipkan mataku.
__ADS_1
Dia tersenyum padaku. Kami berdua masuk ke kamar mandi, diiringi canda tawa kami. Mandi bersama dan melakukan hal yang tidak bisa ku hindari jika bersama Vania, yang selalu membuatku mabuk dan haus akan tubuhnya.
*********
Author POV
.
.
.
Di kamar perawatan nenek Sam.
Senyuman di wajah wanita itu sungguh lebar dan begitu permanen, kedua matanya masih betah memandangi layar ponselnya. Dia memandangi foto-foto yang dikirim Mawan padanya, juga foto-foto dari penjaga Villa, yang memotret keadaan Villa, setelah kepergian Sam dan Resa.
Ramida memandangi foto keadaan kamar yang ada di Villa itu yang berantakan, juga ada warna merah di tempat tidur yang acak-acakkan itu. "Kita lihat Sam, wanitamu, atau wanita pilihan ibu yang memenangkan hatimu nanti, ibu kasihan padamu, Kau sangat mencintai Vania. Tapi, wanita itu, sedikitpun tidak mencintai kamu, dia hanya bisa mencintai dirinya sendiri," gumamnya.
"Huuh …." Ramida mengehembuskan napasnya, perasaanya sungguh gembira. Dia sudah tau apa yang Sam lakukan bersama istri barunya. Dia segera merebahkan tubuhnya di sofa panjang, untuk tidur. Terlihat di sana, mertuanya juga sudah terlelap dalam tidurnya.
****
Di Rumah Sakit. Kamar perawatan Hayati.
"Mama merasakan ada yang berbeda dengan diri kamu, bagian dada kamu, sorot mata kamu, cara berjalan kamu, apakah kamu---" Hayati langsung mengehentikan ucapannya, karena di ruangan itu ada Ayla, perawat yang bertugas menjaganya.
Hati Resa sungguh hancur, insting seorang ibu sungguh kuat, kalau dirinya sudah tak perawan lagi. Resa berusaha tersenyum, walau lehernya terasa tercekik, karena harus berbohong pada pahlawan yang berjasa paling besar dalam hidupnya ini.
"Kapan kamu masuk bekerja lagi?"
"Aku belum tanya mah, sebentar, biar aku kirim pesan pada majikanku," Resa meraih tas nya, untuk mengambil ponsel. Mendapatkan apa yang dia cari, Resa langsung mengetik pesan, dan langsung mengirimnya pada Ramida.
Beberapa saat kemudian.
Tling!
Notifikasi pesan, masuk di ponsel Resa. Resa tersenyum, dan langsung membaca isi pesan dari Ramida.
"Aku bisa libur, sampai mama bisa pulang, majikan aku kasihan katanya, masa aku kerja, sedang mama aku masih di Rumah Sakit," ucap Resa.
"Ayla!" Hayati memanggil perawatnya.
"Iya bu," jawab Ayla.
"Kalau kamu mau pulang, besok kamu bisa pulang, soalnya ada Resa yang menjaga saya, jadi kamu bisa libur sehari," ucap Hayati.
__ADS_1
"Oh, iya bu. Makasih, kebetulan besok teman saya juga nikah, makasih banyak bu, saya baru bekerja sudah di kasih libur." wajah Ayla sungguh terlihat bahagia.
Degggg!
Jantung Resa seakan meledak.
Alamat di introgasi bu satpol ini aku. Gerutu hati Resa.
Namun, di wajahnya masih terlihat senyuman yang begitu manis. Walau batinnya berkecamuk, memikirkan jawaban atas pertanyaan bu satpol nanti.
"Sudah, sana tidur kalian," pinta Hayati.
"Iya mah."
"Iya bu."
Jawab Resa dan Ayla bersamaan.
Ayla dan Resa berbagi tempat tidur, mereka tidur di sofa 2in1, karena bagian bawah sofa itu bisa di tarik, hingga bisa di tiduri bersama.
"Mudahan matahari terbit lebih lama dari biasanya, agar mama lupa dengan segala pertanyaannya," Resa bergumamam dalam hati. Lamunan Resa buyar, saat melihat Ayla berjalan kearah mamanya.
"Ada apa Ay?" Tanya Resa.
"Memperkirakan infus ibu aja, sepertinya ini pagi baru habis," jawab Ayla, sedang matanya masih memandang botol infus yang menggantung.
"Bu, jangan sungkan manggil kami, jika perlu sesuatu," ucap Ayla.
Hayati, hanya menjawab dengan senyuman dan anggukkan kepalanya. "Sudah, tidur sana," ucapnya.
Ayla kembali ke sofa, dan merebahkan dirinya di samping Resa.
Resa memejamkan matanya, walau hatinya berkecamuk dengan perasaan yang campur aduk.
Terbuat dari perangakat apa insting dan perasaan seorang ibu? Kenapa mama bisa menangkap apa yang terjadi padaku? Aku harus berusaha sekuat mungkin, menutupi semua ini.
Gumam hati Resa.
Baru beberapa detik batinnya tenang, bayangan Sam yang berkegiatan dengannya, kembali terbayang. Hiks hiks hiks! Kenapa bayangan itu tidak pergi! Jerit batin Resa.
Tenang Res, jangan begini, cctv bu satpol pasti sedang memantau kamu. Gerutu hatinya lagi. Resa merubah posisi tidurnya, menghadap kearah ibunya, membuka sedikit matanya, benar dugaannya, ibunya masih memandanginya.
Cctv bu satpol pp on!
Resa terus menggerutu dalam hati. Dia berusaha tetap santai, dan terus melanjutkan alurnya ke alam mimpi.
__ADS_1