
Setelah selesai joging di tepi danau, Sam tidak jadi duduk santai di bangku yang ada di sisi danau tersebut, saat melihat Dirga berjalan memasuki Villa. Sam segera berlari menuju Villa, secepat yang dia bisa.
Sesampai di dalam Villa, terlihat Dirga berbicara santai dengan Ramida, Marina, dan Resa. Semua orang memandang kearah Sam. Sam merasa bodoh. Dia lupa di Villa ini, masih ada nenek dan ibunya. Keringat bercucuran di sisi wajah Sam.
Hening.
Tidak ada seorang jua pun yang mengucapkan kata-kata. Hanya deraan napas yang terdengar oleh telinga masing-masing. Dirga segera berdiri dan menghampiri Sam. Dia mendekatkan wajahnya ketelinga Sam.
Dirga mulai berbisik. "Vania, benar-benar nekat, dia akan melakukan …." Dirga menoleh kearah lain, memastikan tidak ada orang yang dekat dengan mereka. Dirga melanjutkan bisikkannya, di telinga Sam. "pesh-pesh!" Hanya Sam yang mendengar kalimat-kalimat yang di bisikkan Dirga.
Sontak, kedua mata Sam membulat. "Kamu serius?"
"Sejelek-jeleknya perbuatanku, pernahkah aku berbohong padamu?" Dirga balik bertanya.
"Di mana tempatnya?"
Dirga memberikan satu amplop kecil bewarna coklat. "Semua ini terjadi, karena Anda menanda tangani lembaran ketiga dari akhir, bukankah sudah aku katakan, kalau Anda jangan menanda tangani tiga lembar bagian akhir, yang diminta Vania?"
"Aku sengaja, aku kira dia akan jujur padaku."
Ramida, Marina dan Resa, hanya memandangi Sam dan Dirga. Ada sedikit kecemasan di wajah Resa, saat melihat wajah Sam yang nampak menahan beban. Ramida memahami kekhawatiran Resa. Dia meraih tangan Resa, dan menggenggamnya erat.
"Percayalah, itu hanya masalah kantor." Ramida berusaha menenangkan Resa.
Sam dan Dirga sadar, mereka berbicara di tempat yang salah. Sam menarik napasnya begitu dalam, dan menghempaskan napasnya begitu saja.
"Dirga, rencana kedua. Apakah semua sudah kamu siapkan?"
"Saya sudah beli rumah, di dekat area itu. Bukan hanya rumah. Tapi, juga peralatan yang di perlukan juga sudah saya siapkan."
"Aku mau mandi dulu. Jaga jarakmu! Ingat dia masih istriku!" Gertak Sam. Sam tahu, kalau Dirga ingin mendekati Resa kembali.
Sam melangkahkan kakinya, menuju kamarnya. Sedang Dirga kembali duduk di sofa tamu, bersama Ramida, Marina dan Resa.
"Ada masalah kantor, Dirga?" Tanya Ramida.
__ADS_1
"Bukan tante, hanya saja … para pelayan di rumah besar, sangat rindu dengan nenek," jawab Dirga.
"Aku juga rindu mereka, kapan kita kembali ke rumah besar?" Lagian kandungan Vania dan Resa, sudah 7 bulan. Hanya dua bulan lagi, mereka akan melahirkan." Wajah Marina nampak sedih. Dia merindukan berbincang santai, dengan para pelayan.
"Nyonya besar, Jena, dan Nyonya Ramida. Kalian kembali saja, lagian di Villa ini masih ada bu Masri. Tuan Sam dan Nona Vania juga masih di sini, aku akan kembali, setelah melahirkan," sela Resa.
Ramida bingung. Dia juga ingin kembali ke rumah utama. Sangat banyak pekerjaan yang tertunda, karena pindah ke Villa.
"Jangan takut Nyonya. Aku tidak akan kabur membawa bayi ini." Senyuman terukir di wajah chubby Resa.
Rencana pun di atur. Ramida, Marina dan Jena. Kembali ke rumah utama. Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Resa juga ikut kekamar Marina, membantu Jena mempersiapkan persiapan Marina.
Sam keluar dari kamarnya. Dia bingung melihat semua orang sudah tidak ada lagi di ruang tamu. Kecuali, Dirga. "Mana yang lainnya?" Sam menengok kearah lain. Namun, tidak menemukan di mana ibu dan neneknya.
"Aku mengamankan keadaan. Nenek setuju kembali. Lebih baik nenek kembali ke rumah utama. Agar nenek tidak mengetahui rencana Vania." Ucap Dirga.
Sam melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "S**t! Aku terlambat! Aku pergi lebih dulu." Sam berlari kearah pintu, meninggalkan Dirga begitu saja.
Dirga merasa kasihan dengan sepupunya itu. Seorang laki-laki yang sangat baik. Namun, mencintai wanita yang salah.
"Apa rencana Vania?"
Pertanyaan itu membuat tubuh Dirga sedikit terlonjak. Karena kaget. "Resa?!" Dirga berusaha santai, saat melihat Resa berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Apa rencana Vania?" Resa mengulangi pertanyaannya.
"Rencana Vania, menentukan nasib kalian berdua."
"Apa maksudmu?" Resa bingung dengan jawaban Dirga.
"Biasanya, seorang laki-laki, yang memiliki dua istri, pilihan ada di tangannya. Keputusan bertahan dengan yang pertama atau yang kedua, selalu ada di tangan sang suami bukan? Tapi, dalam hal ini, yang bertahan bersama Sam nanti siapa? keputusan itu ada di tangan Vania."
"Bisa kau jelaskan lebih rinci? Jujur, aku sangat sesak, jika Sam dan Vania berpisah hanya karena aku."
"Jika Sam dan Vania berpisah, itu bukan sebab kamu. Sebagai laki-laki, tidak cukup memiliki istri cantik dan seksi saja, kamu butuh hal lain dari itu. Cinta dan perhatian. Bersama Vania, Sam tidak mendapatkan hal itu."
__ADS_1
"Aku dan Sam juga sama-sama belum saling cinta, tidak ada bedanya."
Dirga membuang napasnya begitu kasar. Kesal, karena pesannya dalam perkataannya tidak tersampaikan pada Resa.
"Resa, wanita cantik, seksi dan aduhai, sangat kami kejar untuk di jadikan kekasih. Tapi, untuk sebagai teman berjuang dalam hidup. Sebagai laki-laki, tidak hanya membutuhkan hal yang menyejukkan mata. Tapi, juga hal yang menyejukkan hati!" Dirga berusaha menahan suaranya, agar tidak terdengar seperti orang kesal.
"Kalau bisa mendapatkan keduanya, kenapa tidak?" Sela Resa.
"Dengan Vania, Sam menemukan salah satu, dengan dirimu, Sam menemukan keduanya. Tapi, Sam laki-laki yang baik. Saat dia nyaman bersamamu, dia tidak melepaskan Vania begitu saja. Dia memberi Vania kesempatan untuk bertahan di sisinya."
"Kenapa, aku merasa pertanyaanku dan jawabanmu tidak nyambung?" Rengek Resa.
"Rencana Vania, mengantar pada pilihan Vania nanti. Jika dia setuju dengan rencana Sam. Maka dia akan bertahan di sisi Sam. Lalu Sam akan melepaskan kamu. Tapi, jika Vania keras kepala dengan rencanya, Sam akan menceraikannya dan memilih bersamamu."
"Oh tidak! Mata Vania harus dibukan lebar-lebar! Dirga, antar aku ketempat Vania, sebelum Vania mengambil keputusan yang salah!" Pinta Resa.
"Apa!?" Dirga kaget dengan permintaan Resa.
"Harusnya kamu bahagia Resa, jika Vania egois, maka kamu bukan lagi istri kedua yang dirahasiakan!"
"Aku ingin membuktikan, kalau menjadi yang kedua, hanya keadaan, bukan keinginan! Mereka selalu menempatkan istri kedua dengan image yang buruk, karena perusak, perebut! Tapi, apakah istri pertama pernah berpikir, apa kesalahan mereka, hingga suami mereka menikah lagi?"
"Aku mengerti, karena aku laki-laki, aku mengenal Vania yang egois, dan melihat dirimu, kau benar-benar istimewa, Resa."
"Andai waktu aku tidak sulit, aku tidak akan mau---" Resa merasakan sakit pada perutnya.
"Akkkkkkkk!" Jerit Resa. Mata Resa membulat, tangannya memegang perutnya.
Dirga panik, dia langsung menggendong Resa, dan membawanya kemobilnya. Perlahan Dirga mendudukkan Resa, di kursi depan bagian mobilnya. Resa terus meringis menahan rasa sakit yang dia rasa. Dirga berlari kearah kemudi, sambil terus berusaha menelpon Sam. Namun, nihil. Karena tidak diangkat Sam. Dirga hanya mengirim pesan pada Ramida. Selesai dengan ponselnya. Dirga segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Rumah Sakit terdekat.
*****
Bersambung.
Besok lanjutannya ya, kalau ada kesempatan.
__ADS_1
Terima kasih semua 💝