Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 62 Terulang lagi


__ADS_3

Resa dan Heru berkenalan. Heru kagum dengan suara Resa.


"Mari kita selesaikan biaya untuk ibumu!" Seru Heru.


"Bukan hanya pengobatan. Tapi biaya tambahan lain, jika saya ikut Anda, siapa yang menjaga mama saya?"


"Aku mengerti, Ayooo!" Seru Heru.


Heru dan Resa segera melakukan pembayaran untuk pengobatan Hayati. Bukan cuma itu. Heru juga memberi jaminan untuk pengobatan Hayati, agar Resa tenang, tidak memikirkan ibunya.


"Ayoo, kita harus ketempat acara!" Seru Heru.


Kenapa terulang lagi Tuhan. Saat mama seperti ini, aku harus meninggalkan mama.


Jerit batin Resa.


"Hei! Kita tidak punya banyak waktu!"


"Bolehkah saya menemui mama?" Pinta Resa.


"Hanya sebentar!"


Resa mengangguk, dia segera berjalan menuju Brankar tempat ibunya terbaring. Resa tidak mampu bicara, dia hanya mencium pipi ibunya sebentar. Lalu segera pergi. Resa mengikuti langkah kaki Heru. Hingga mereka sampai di Area parkir. Resa duduk di bagian belakang mobil sendirian. Sedang Heru duduk di kursi depan bersama supirnya.


Perjalanan lumayan jauh. Akhirnya Resa sampai di sebuah bangunan. Di depan bangunan itu terpasang logo musik. Resa baru mengerti, kalau ini studio musik milik Heru.


"Ayo, kita langsung saja, kamu langsung masuk mobil itu." Heru menunjuk kearah mobil Van.


Melihat tampilan mobil Van yang seperti itu, Resa sedikit ragu.


"Jangan takut. Di mobil itu kamu hanya sendirian. Satu hal, sopirku tidak akan macam-macam!" Jelas Heru.


Heru mengerti rekan barunya ini takut. Heru meminta Resa agar mengikutinya. Tanpa protes. Resa berjalan mengekori Heru. Heru membuka pintu mobil Van itu. Ternyata dalamnya lumayan mewah. Membuat mulut Resa terbuka mengagumi pemandangan itu


"Ini mobil, khusus untuk artisku. So! Silakan masuk, di dalam bok itu, banyak baju-baju. Yang mana kamu suka silakan pakai. Untuk make up. Kamu akan di make over, sama orang di tempat acara nanti. Satu lagi, ini lagu yang pertama kamu nyanyikan nanti." Heru meraih sesuatu dari sisi pintu mobil Van itu.


Resa menerima yang Heru berikan padanya. Dia membuka lembaran kertas, ternyata itu adalah naskah lagu.


"Berlatih lah selama perjalanan. Jangan kecewakan aku. Sampai ketemu di tempat acara " Seru Heru. Heru langsung pergi menuju mobilnya.


Sedang Resa langsung masuk kedalam mobil Van itu. Tampilannya seperti kamar. Banyak perlengkapan di mobil itu. Resa memposisikan dirinya dengan nyaman. Tapi, Resa tidak bisa melihat keadaan luar. Karena bagian mobil ini, semuanya tertutup.


"Sudah siap Nona?" Seorang supir yang berseragam lengkap, bertanya pada Resa.

__ADS_1


Resa hanya menganggukkan kepalanya. Menjawab pertanyaan sopir itu. Sopir itu langsung menutup pintu mobil. Tidak lama mobil yang Resa tumpangi, mulai melaju. Resa tidak bisa melihat keadaan jalanan. Karena mobil ini, tertutup semuanya. Resa memilih menghabiskan waktu berlatih bernyanyi. Untuk lagu yang akan dibawakannya nanti.


Karena asyik mengulang-ulang lagu yang akan dia bawakan, Resa tidak menyadari. Dirinya sudah sampai di tempat acara. Dia sangat terkejut, saat sopir membuka pintu mobil, mengatakan kalau sudah tiba di di tempat yang ditujuan. Resa segera turun dari mobil. Dia tidak bisa melihat keadaan sekitar. Karena mobil itu langsung masuk kearea dalam tenda, tempat peristirahatan.


Resa berkenalan dengan orang-orang yang ada di dalam. Suasana cukup hangat mereka menikmati hidangan yang tersedia. Sambil mengobrol hal-hal yang santai.


************


Di kediaman keluarga Ozage.


Saat kurir utusan Resa datang memberikan bok yang berisi beberapa kantong Asi. Keadaan mulai menegang. Kurir itupun ketakutan saat Sam dan Dirga menanyainya banyak hal. Dirga langsung mengarahkan beberapa petugas keamanan untuk mencari Resa ke hotel yang disebutkan kurir itu.


Pencarian terus berlanjut. Sam dan Dirga juga langsung turun tangan menuju hotel itu. Garie sungguh terharu melihat rasa cinta Sam, pada Resa. Dia hanya bisa berdiam diri, berharap Sam bisa menemukan Resa.


***


Sesampainya di hotel. Sam tidak menemukan Resa. Hanya cerita dari Reseptionis Hotel, kalau dua wanita yang Sam cari, sudah pergi dari beberapa jam yang lalu. Sam dan Dirga meneruskan pencarian mereka, berharap bisa menemukan Resa dan ibunya.


Matahari mulai terhelincir ke ufuk barat. Pencarian itu tidak membuahkan hasil. Sam dan Dirga terpaksa kembali. Karena acara ulang tahun Sam, akan di mulai sebentar lagi.


Sesampai di kediaman Ozage. Keadaan mulai ramai. Pelayan berkeliaran di halaman rumah itu. Kursi dan meja juga berjejer rapi, belum lagi kemerlapan lampu-lapu yang menghiasi tenda-tenda itu.


Sam langsung menuju rumah. Tepat di depan pintu. Garie berdiri di sana menunggu Sam.


"Kami tidak menemukan Resa, kata pelayan Hotel. Mereka sudah pergi," sahut Dirga.


Garie menepuk bahu Sam. "Terima kasih, karena Anda begitu mencintai Resa." Ucap Garie. Tapi, laki-laki yang dia ajak bicara, seperti kehilangan segalanya. Tidak berekasi sedikitpun. Sam langsung berlalu masuk kedalam rumah.


*****


Jam sudah menunjukkan jam 8 malam. Para tamu undangan mulai berdatangan dan mengisi tempat mereka di tenda yang megah yang di dirikan di halaman kediaman Ozage. Tapi di sudut sana, seorang laki-laki yang memakai setelan jas, tapi wajahnya yang tampan itu nampak memprihatinkan.


"Sam, ibu mohon. Berikan senyumanmu, ibu juga sedih. Tapi, ibu tidak ingin memperlihatkan pada semua orang," bujuk Ramida.


Sam hanya menghela napasnya begitu kasar. Merasa kehidupan ini sungguh tidak adil. Acara demi acara mulai di buka. Kini saatnya acara puncak ulang tahun Sam. Sam memandang sayu kearah kue ulang tahun yang ber ukuran besar. Sedang di panggung sana, seorang pembawa acara memandu acara ini.


Sam menarik napasnya begitu dalam. Dia menunduk kearah kue ulang tahun itu. 'Aku tidak ingin apapun lagi, aku hanya ingin keluarga yang bahagia, bersama Resa dan anak-anak kami. Serta kebahagiaan untuk semua orang yang aku sayang.' Permohonan yang Sam ucapkan dalam hatinya.


Suara gemuruh tepukan tangan menggema di area itu. Sam memotong kue, dia memberikan potongan kue itu pada neneknya. "Nenek, berkat permintaan nenek, aku melewati tahun ini dengan penuh kebahagiaan bersama istri kedua yang kita rahasiakan. Terima kasih nek, walau saat ini adalah hal yang menyakitkan, karena dia pergi meninggalkan kita semua." Sam bersimpuh di hadapan kursi roda neneknya, lalu menyandarkan kepalanya di pangkuan neneknya.


Suara musik mulai mengalun. Perhatian orang yang tadi memandang kearah panggung acara ulang tahun, kini mereka memandang kearah panggung di mana para pemain musik melakukan tugas mereka. Seorang penyanyi terlihat cantik dengan balutan gaunnya.


__ADS_1


***


Alunan nada lagu, "Haruskah Ku Mati" mulai bermain.


🎶🎶🎶🎶🎶🎶


Bagaimana mestinya?


Membuatmu jatuh hati kepadaku


Telah 'ku tuliskan sejuta puisi


Meyakinkanmu membalas cintaku


Haruskah 'ku mati karenamu?


Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu


🎶🎶🎶🎶🎶🎶


***


Sam geram mendengar lagu itu, dia semakin merasa terpuruk semakin dalam kesedihan. Karena itu lagu melow. Dia bangkit dari posisinya, dan segera turun dari tempatnya sekarang, terus berjalan mendekati pentas tersebut.


"Dasar! Apa tidak ada lagu bagahagia! kenapa menyanyikan lagu sedih di acara ulang tahun! Lagu ini sangat tidak cocok dengan acara ulang tahun!" Sam menggerutu sendiri.


Sedang di sana, penyanyi tersebut terus melanjutkan lagunya.


🎶🎶🎶🎶🎶🎶


Haruskah 'ku relakan hidupku?


Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku


Hentikan denyut nadi jantungku


Tanpa kau tahu betapa suci hatiku untuk memilikimu


🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶


****


Ketika sampai di depan panggung. Sam mematung melihat penyanyi yang saat ini bernyanyi di atas panggung itu.

__ADS_1


__ADS_2