Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 18 Apalagi


__ADS_3

Resa melanjutkan tugasnya membantu Vania membilas sisa lulur yang membaluri bagian punggungnya. Tanpa berkomentar dengan lisannya. Tapi, hatinya terus menggerutu. Akhirnya Resa menyelesaikan tugasnya.


"Tugas saya sudah selesai?" Tanya Resa.


"Iya, silakan kamu pergi," jawab Vania, dia meneruskan perawatannya sendiri.


Resa segera keluar dari kamar mandi tersebut. Dengan langkah kaki yang cepat, Resa buru-buru pergi dari kamar itu.


Ceklakkk!


Pintu kamar terbuka. Hampir saja Resa menabrak Sam yang juga ingin masuk kekamarnya.


"Apa yang kamu lakukan di kamarku!" Bentak Sam.


"Maaf Tuan, tadi ... Nona Vania yang meminta saya membantunya." Resa masih menundukkan wajahnya.


"Kau kira aku percaya!" Bentak Sam lagi.


Resa menegakkan wajahnya memandang wajah Sam. "Kalau Tuan tidak percaya, silakan tanyakan langsung pada Nona Vania. Nona masih ada di kamar mandi."


Pandangan sendu itu seakan menghipnotis Sam. Tanpa sadar, Sam terus mendekati Resa, sedang Resa melangkah mundur, dentuman irama jantungnya sungguh aneh, langkah mundur Resa terhenti, saat kakinya tertahan oleh sesuatu yang ada di belakangnya. Hingga Sam sangat mudah mendekatinya.


Tujuan utama Sam, bibir indah itu. Saat semakin dekat, kesadaran Sam kembali.


Sam menghentikan pergerakan yang di luar kendalinya. "Baik! Tapi, kau jangan pergi!" Sam langsung pergi menuju kamar mandi.


Resa membuang napasnya lega, karena Sam pergi dari hadapannya. "Iya Tuan, saya akan pergi jika Tuan mempersilakan saya untuk pergi."


Sam terus menyeret kakinya menuju kamar mandi, dengan langkah kaki yang setengah berlari, Sam masuk kedalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, tampak Vania terus pada perawatan tubuhnya.


"Sayang, di luar aku bertemu Resa, apa benar kau memintanya membantumu?" Tanya Sam.


"Iya, benar sayang, aku meminta dia membantuku, karena aku tidak melihatmu tadi, padahal aku ingin kamu yang membantuku," rengek Vania.


"Owh," kata itu keluar dari mulut Sam, bibirnya juga nampak membulat.


"Kalau begitu, aku izinkan dia keluar, tadi aku menahannya, aku kira dia bohong," seru Sam.


Vania tampak cuek, dia terus dengan kegiatannya. Sam melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dia segera menemui Resa, kembali.


Terlihat wanita itu terus menundukkan kepalanya, saat melihat Sam keluar dari pintu kamar mandi.


"Maafkan aku, kau orang baru, tidak mudah bagiku untuk percaya padamu begitu saja," seru Sam.

__ADS_1


"Saya tau Tuan, bolehkan saya permisi?"


"Silakan, pergilah …." Ucap Sam.


Resa segera memutar punggungnya, dia langsung pergi dari kamar Sam.


*****


Tidak ada perbedaan dari hari pertama dia datang ke rumah besar Sam, hingga hari ini. Hanya menemani Nyonya besarnya juga menemani Jena. Sesekali Resa menjenguk mamanya, di kontrakan baru, yang di sediakan Ramida. Hayati juga tidak menaruh curiga sedikitpun, karena Resa tidak berprilaku yang aneh-aneh.


Suasana pagi yang cerah, semua orang memulai aktivitas mereka, Jena membawa Marina berjalan pagi mengitari taman rumah itu. Sedang Resa melamun di ruang tamu rumah Sam, dia memikirkan nasibnya, sudah sebulan dia tinggal di rumah ini. Sam nampak sangat bahagia bersama Vania, bahkan mereka selalu tampil mesra di hadapan semua orang, khususnya waktu makan malam. Resa merasa sesak, kehadirannya di rumah ini, akan berdampak pada hubungan yang sangat romatis itu.


Tangan mendarat di bahu Resa, membuat dia tersentak dari lamunannya.


Resa menoleh kearah di mana tangan tersebut mendarat. "Nyonya Ramida," sapanya.


"Apa yang kamu pikirkan? Mamamu? Bukankah dia sudah lebih sehat?" Tanya Ramida.


"Iya, mama sudah jauh lebih baik, terima kasih Nyonya, karena Anda membiayai pengobatan dan menjamin biaya hidup untuk mama saya, juga memberikan pelayan buat mama saya."


"Mama kamu sehat, apalagi yang kamu pikirkan?" Ramida duduk di samping Resa.


"Saya merasa sangat bersalah Nyonya, saya merasa jadi benalu dalam keluarga ini, Tuan Sam dan Nona Vania sangat bahagia, bagaimana kebahagiaan mereka jika rahasia ini terungkap, terus … Anda sangat banyak membantu saya, sedang saya sampai saat ini tidak menunjukkan kapan saya bisa memenuhi keinginan Anda," ringis Resa.


"Silakan Nyonya."


"Apa kau cemburu melihat---"


"Nyonya! Tuan Sam pingsan di depan pintu kamarnya!" Teriak salah satu pembatu dari lantai dua.


"Kamu di sini saja," pinta Ramida pada Resa. Ramida langsung bediri, dan berlari menaiki tangga menuju kamar Sam.


"Pak Bim! Telepon dokter Safir!" Teriak Ramida. Dia terus saja berlari, sedang yang di perintah Ramida langsung meraih ponsel di sakunya


Karena teriakan salah satu pembantu tadi, suasan menjadi heboh, pelayan yang mengerjakan tugas mereka berkumpul di ruang tamu, mereka berdiri mengerumuni Resa. "Ada apa?" Tanya salah satunya.


"Saya juga kurang tahu, tadi katanya Tuan Sam pingsan," jawab Resa.


Kepala keamanan itu berjalan mendekati kerumunan para pelayan.


"Resa, sebaiknya Anda susul Nyonya Ramida, kalian semua, lanjutkan tugas kalian masing-masing! Kalian di bayar untuk bekerja! Bukan menggosip!" Bentak Pak Bim.


Sontak semua orang langsung kembali pada tujuan mereka masing-masing. Pak Bim melangkah mendahului Resa, dia terus menaiki tangga. Sedang Resa, jauh tertinggal di belakangnya.

__ADS_1


Sesampai di depan kamar Sam, Resa nampak ragu untuk masuk, dia berdiri di depan pintu kamar yang terbuka lebar, di dalam sana, terlihat Ramida dan beberapa pelayan merebahkan Sam di tempat tidur.


"Resa, masuklah," pinta Ramida.


Tanpa pikir panjang, Resa melangkahkan kakinya memasuki kamar Sam.


"Kalian semua keluarlah, jika dokter Safir datang, antar dia kemari," pinta Ramida. Semua orang yang ada langsung pergi dari kamar Sam, kecuali Resa.


"Resa, tolong kamu bantu lepas dasi dan buka sedikit kemeja Sam, aku ingin menelpon Vania dulu," pinta Ramida.


"Tatt---tapi …."


"Kamu istri Sam, tidak ada tapi-tapi!" Bentak Ramida.


Resa menyatukan kedua telapak tangannya, jari jemarinya terus meremas jemari yang lain, sedang Ramida, dia nampak sibuk dengan benda pipih persegi itu, wajahnya nampak gusar berulang kali decakkan lolos dari mulutnya.


"Aku keluar dulu, aku menemui Mawan atau Tonny, tolong kamu jaga Sam sebentar!" Pinta Ramida. Ramida langsung pergi begitu saja, dengan mudahnya dia menutup pintu kamar yang tadi terbuka lebar.


Resa memberanikan diri mendekati Sam, dia duduk di tempat tidur, tepat di samping Sam, jemarinya perlahan menyentuh dasi yang melingkar di leher Sam. Dia membukanya secara perlahan. Sambil menahan napasnya, Resa berusaha membuka dasi tersebut. Dasi terbuka, jemari Resa berpindah membuka satu persatu kancing kemeja yang melekat pada tubuh Sam.


Tangannya mendadak gemetaran, saat menyentuh dada bidang Sam, bayangan pertama kali persatuan mereka, kembali terbayang di benak Resa. Resa menarik tangannya, dia duduk di sisi tepat tidur, berusaha menenangkan dentuman irama jantung yang terasa aneh.


Tangannya menyentuh bagian dadanya sendiri. "Tahan Resa, ini hanya sebentar," lirihnya, menyemangati dirinya sendiri.


"Sayang … aku senang kau batal pergi, aku pengen kamu temani, kepala aku pusing banget sayang …." Resa merasakan ada wajah yang mendarat di bahunya, juga tangan yang melingkar di perutnya.


Degggg!


Bagaimana ini? Tuan memelukku, dia mengira aku Nona Vania.


Ringis hati Resa.


"Tu--Tuan, saya Resa, sayaaa." Pelukan itu langsung terlepas begitu saja, saat yang memeluk sadar, siapa yang dia peluk.


"Kenapa kamu di kamarku!" Bentak Sam. Terlihat dia terus memijat bagian alis dan kadang memijat ranbut kepalanya.


"Saya--"


"Ibu yang meminta Resa menjaga kamu," suara itu langsung memecah kecanggungan Resa.


"Istrimu tidak bisa di hubungi, ibu meminta Tony mencari dia," sambung Ramida.


Sam terus memijat kepalanya yang terasa sangat pusing.

__ADS_1


Ramida masuk bersama seorang dokter, Resa langsung menjauh dari sisi Sam memberi tempat untuk dokter muda dan tampan itu. Dokter pun langsung duduk di samping Sam, mulai memeriksa keadaan Sam.


__ADS_2