Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 56. Kesal


__ADS_3

Ramida kesal, dia terus mondar-mandir di ruang tamu. Malam sudah larut. Tapi, Sam tidak juga kembali. Kesabaran Ramida habis. Dia meraih ponselnya untuk menelepon Sam.


"Malam tante."


Sapaan itu menyita sedikit perhatian Ramida.


"Oh Dirga, malam juga Dirga." Ramida mengalihkan kembali perhatiannya pada ponsel yang dia pegang.


"Tante menelepon Sam? Percuma tante. Dia sibuk acara potong kue sama istrinya." Dirga menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu itu.


Ramida mendengus, ponsel yang ada di tangannya kini sudah dia letakkan diatas meja. "Ponselnya dia matikan!" gerutu Ramida.


"Sudah kuduga." Dirga berusaha menahan tawanya.


"Kamu, ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan? Ini sudah larut malam." Ramida memandang kearah jam dinding.


"Mengenai acara jumpa Pers. Sebelum acara jumpa Pers, Sam ingin membuka ikatan rahasia ini pada kedua orang tua Resa."


"Sam benar-benar menyukai istri keduanya, ternyata," gerutu Ramida.


Dirga dan Ramida meneruskan obrolan mereka, tentang perencanaan lain, untuk acara ulang tahun, sekaligus mengenalkan kedua penerus keluarga Ozage, pada publik.


***********


Keesokan harinya.


Sam sibuk membongkar isi lemari Resa. Tapi dia tidak juga menemukan gaun yang dia suka. Resa pasrah, dia berdiri mengenakan jubah mandinya, menunggu suaminya, memilihkan baju buatnya.


"Papi ...." Resa berusaha membuyarkan konsentrasi Sam.


"Aku lebih suka kamu panggil, sayang." Sedikitpun perhatian Sam tidak berubah dari isi lemari itu.


"Semua pakaian itu bagus. Apalagi? Pilih salah satunya."


"Bagus apanya? Yang ini memperlihatkan paha kamu, yang ini memperlihatkan bagian dada kamu, yang seperti ini menampakkan lekukan badanmu. Apanya yang bagus!" Semua isi lemari, dikeluarkan oleh Sam.


Resa bingung, menghadapi Sam yang mulai aneh. "Aku tahu, kalau aku tidak secantik Vania, tubuhku juga tidak seindah tubuh Vania. Hingga kamu malu, jika orang lain mengetahui itu. Cukup dirimu saja 'kan, yang tahu di mana aib tubuhku?"

__ADS_1


Sam terdiam. Dia tidak bisa menjawab perkataan Resa.


Resa mengambil dengan kasar, salah satu baju yang Sam pegang. "Batalkan saja perkenalanku pada publik, hal itu hanya membuatmu malu!"


"Bukan seperti itu, aku tidak mau, orang-orang akan mengagumimu."


"Semua orang mengagumi Vania, apakah kamu melarang? Sudahlah, aku tahu kau malu." Resa segera mengenakan baju yang dia ambil dari tangan Sam.


"Kamu berbeda, entah kenapa aku tidak suka orang lain memandangmu." Gerutu Sam.


Resa berusaha menahan senyumannya, wajah Sam terlihat lucu. Resa lebih memilih meninggalkan Sam, dia berjalan kearah meja rias untuk memoles wajahnya dengan sedikit make up.


"Oh tidak, jangan berpenampilan cantik, ku mohon …." pinta Sam.


Melihat tatapan mata Resa yang begitu tajam ter arah padanya, membuat Sam batal protes. Sam merasa, ini waktu yang sensitif. Dia hanya memandangi Resa, yang terus memoleskan beberapa make up kewajahnya, make up yang dimiliki Resa cukup simpel. Tidak seperti milik Vania.


Sam tersenyum, tidak perlu menunggu lama, menanti Resa bersiap. Wanita itu sudah berdiri dari meja riasnya, dan mulai merapikan bagian bawah bajunya.


"Aku sudah selesai," ucap Resa.


Resa dan Sam berjalan ber iringan, Sam berusaha menarik Resa dalam dekapannya. Namun, tangannya selalu saja di tepis oleh Resa. Hingga masuk kedalam mobil, Resa masih terlihat menjaga jarak dengannya.


***********


Selama perjalanan, Sam berusaha menahan kekesalannya. Perjalanan kali ini terasa membosankan. Resa hanya memandangi kearah jalanan yang ada di depan, dan sesekali merubah arah pandangannya kearah jendela mobil yang ada di sampingnya.


Perjalanan yang lumayan lama, akhirnya, mereka sampai di kediaman Ozage. Sam menghentikan mobilnya. Saat melihat banyak wartawan dan reporter berkerumun di depan pintu gerbang kediaman keluarga Ozage. Resa memandangi wajah Sam yang terlihat Cemas. Sedang yang di pandangi, sibuk mengusap layar ponselnya.


Sam fokus pada ponsel, dia tidak tahu kalau ada mata yang terus memandanginya. Sam lega, akhirnya Dirga mengangkat panggilannya.


"Dirga, kamu sudah atur kan? Jumpa Pers akan kita adakan saat acara ulang tahunku?"


"Iya, semua sedang aku persiapkan."


"Lalu, kenapa banyak media yang datang ke rumahku?" Bentak Sam.


Tubuh Resa sedikit terperanjat, mendengar suara Sam, yang tiba-tiba meninggi.

__ADS_1


"Aku tidak tahu masalah ini," jawab Dirga.


Sam batal meneruskan kata-katanya, saat melihat wajah cantik yang ada di sampingnya, tampak muram. Dia memilih menyudahi pembicaraannya bersama Dirga.


"Sayang …." Sam meraih tangan Resa. Tapi, wanita itu menepis tangan Sam.


Sam menyalakan kembali mesin mobilnya, perlahan mobil itu melaju menuju rumah besar itu. Saat mobil Sam mendekati gerbang yang menjulang tinggi itu, perlahan media yang berkerumun memberi jalan untuk mobil itu. Tapi, mereka berusaha menangkap gambaran yang ada dalam mobil itu.


Resa memerosotkan tubuhnya, dia tidak mau wajahnya ter-expose ke media.


"Tenang, kaca mobil ini gelap. Mereka tidak akan dapat apa-apa." Sam berusaha menenangkan Resa.


Perlahan mobil Sam masuk ke area dalam pagar. Setelah mobil masuk, pagar itu kembali di tutup oleh pihak keamanan. Sam sengaja melajukan mobilnya menuju bagian belakang rumahnya, agar saat Resa turun, tidak ada media yang mengabadikan momen itu.


Mobil Sam berhenti di halaman Paviliun belakang. Resa segera turun dari mobil, dan melangkah memasuki rumah besar lebih dulu. Dia tidak memerdulikan Sam. Sam ingin mengejar. Tapi di sekeliling mereka banyak pembantu. Membuat Sam mengurungkan niatnya.


Resa bertemu Jena di ruangan belakang.


"Nyonya Ramida mana, Jen?" Tanya Resa.


"Di kamar tamu, kamar tamu dekat kamar Nyonya besar adalah kamar Gavin dan Gilang."


"Makasih Jen." Resa menepuk bahu Jena, dia segera menuju kamar yang dimaksud Jena.


Sedang Sam, hanya diam. Dia terus mengikuti Resa. Saat melihat Resa masuk kekamar tamu, tidak ada siapa-siapa di sana. Kamar itu di penuhi barang-barang bayi. Saat Resa memalingkan tubuhnya ingin keluar dari kamar itu. Dia menabrak tubuh Sam.


"Kita bicara dulu." Pinta Sam.


"Tidak ada yang mesti di bicarakan. Batalkan saja niat Anda. Aku tidak mampu melihat dan mendengar hinaan orang, kalau Anda punya istri seperti saya."


"Kita bicara dulu!" Suara Sam terdengar meninggi.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan! Sudah jelas, Anda malu punya istri seperti saya!"


"Aku tidak malu! Aku hanya ingin menunggu saat yang tepat!"


Resa menepis tangan Sam. Dia langsung pergi dari kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2