
Setelah makan malam Bersama Alvi. Arnaff segera memberikan nomer telepon paman Ardhin pada Dirga. Dirga sangat Bahagia, akhirnya dia bisa berhubungan dengan laki-laki yang berjasa dalam hidupnya. Arnaff mengantar Dirga dulu sebelum pulang ke rumahnya. Setelah sampai di Apartemen Dirga, Arnaff segera kembali ke rumahnya.
Senyuman masih mengambang di wajah Dirga, rasanya enggan
sekali senyuman itu pergi dari wajahnya. Baru tujuh tahun pamannya itu tak bersamanya lagi, tapi entah kenapa hatinya begitu merindukan dua sosok itu. Akhirnya Langkah kakinya sampai di depan pintu Apartemennya. Dirga segera
masuk, sungguh tidak sabar untuk menelepon paman Ardhin.
Matanya masih fokus memandangi layar ponselnya. Jemari tangannya begitu lincah menari di layar ponselnya. Tidak berselang lama suara yang sangat dia rindukan terdengar di ujung telepon sana.
“Hallo ….” Suara itu terdengar berulang di ujung telepon
sana. Tapi yang di menelepon tidak kunjung mengeluarkan suara.
“Paman ….” Suara itu bercampur dengan isakkan tangis.
Yang di panggil paman pun tidak berkata lagi. Samar terdengar isakkan tangis dari telepon itu. “Anakku ….” rintihnya.
Keduanya sama-sama larut dalam isak tangis mereka. Entah berapa lama keduanya larut dalam isakkan mereka.
“Paman … aku rindu paman."
“Paman juga rindu kamu, Dirga … paman yakin, kamu semakin tampan sekarang.”
Terdengar samar suara tawa Dirga. “Paman, dalam waktu dekat ini aku akan datang ke Kalimantan, apakah paman mau menjemputku di Bandara?”
“Paman pasti jemput kamu. Andai rumah paman besar, paman mau
meminta kamu menginap di rumah paman selama kamu di Kalimantan. Tapi, rumah paman kecil, bagaimana paman meminta kamu tinggal sementara Bersama paman?”
“Aku malah sangat berharap bisa menghabiskan waktu Bersama paman. Proyek Ozage Crypton Group ada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, apakah itu dekat dengan rumah paman?”
“Sangat jauh. Tapi, dari kabupaten itu paman berasal. Semenjak berhenti bekerja dari keluarga Ozage, paman dan bibi membeli rumah di
Banjarmasin. Kami merintis usaha kecil-kecillan di sini.
“ Itu artinya aku tidak perlu memantau ke Kabupaten itu, karena tujuanku ke Kalimantan adalah menemui paman.”
“Kalau kamu mau ke Kabupaten itu, bisa sekalian sama paman.”
“Gampang saja nanti. Yang penting nanti aku mau bertemu paman dan bibi Kamal.”
Obrolan dua orang itu terus berlanjut, kadang tawa lepas
terdengar di sela-sela obrolan mereka. Terdengar suara lembut yang Dirga rindu.
“Paman … itu bi Kamal?”
__ADS_1
“Paman sengaja tidak bilang kamu yang menepon. Biar saat kedatanganmu nanti jadi kejutan buat bibimu.”
Dirga faham, kalau pamannya
ingin memberikan kejutan buat sang istri tercinta. “Paman, sudah dulu ya, aku mau lanjut persiapan untuk mengunjungi paman.”
***
Arnaff baru saja memeriksa ponselnya. Terlihat banyak chat
yang masuk. Wajah sebalnya terlihat jelas saat melihat laporan dari orang
suruhannya. “Gadis seperti ini, kenapa berani-beraninya menolakku?” Foto seorang gadis dengan rambut di kucir tinggi mengenakan seragam pelayan menjadi perhatian Arnaff.
Arnaff memberi tugas baru pada orang suruhannya, agar memata-matai keponakan Ardhin. Dia tidak mau mengalami nasib yang sama, ditolak mentah-mentah oleh gadis yang dia anggap jelek.
Arnaff langsung menelepon paman Ardhin, bertanya banyak tentang wanita yang akan di jodohkan
dengannya. Dengan senang hati Ardhin menjelaskan siapa keponakannya.
“Nak Arnaff yakin, memilih Aurel menjadi calon istri?” Ardhin memastikan.
“Makanya saya mau kenalan dulu sama Aurel, sebelum menyetujui perjodohan ini.”
“Sebenarnya paman minder, saat mama kamu menanyakan tentang
“Paman tau tentang perjodohan itu?”
“Lah pasti tau, Pak Said adalah teman saya, jarak dari rumah
paman ke rumah Pak Said tidak terlalu jauh."
Menyetujui perjodohan dengan keponakan paman Ardhin adalah langkah jitu, untuk memberi pelajaran pada mantan calon istrinya. Pikir Arnaff.
“Paman ketemu mama kamu saat mama kamu berkunjung ke Banjarmasin, lalu kami bertukar nomer telepon.”
Arnaff terus mendengari cerita paman Ardhin. Merasa info di
mana gadis itu berada cukup jelas, Arnaff menyudahi pembicaraan mereka. Arnaff segera mengirimkan info tentang gadis itu kepada orang suruhannya.
Di pojok pulau lain …
Merasa tau di mana tempat itu. Orang suruhan Arnaff langsung
menelepon bos mereka.
“Apa?” Sapaan dingin itu membuat orang yang menghubunginya malas untuk bicara, tapi siapa mereka. Yang berkuasa itulah yang kuat.
__ADS_1
“Lapor, Bos. Gadis yang Bos maksud juga bekerja di Restoran Indah Rasa?”
“Iya, memangnya ada apa?”
“Gadis yang kami intai sebelumnya juga bekerja di sana, Bos. Untuk gadis intai-an selanjutnya, apakah Bos punya fotonya? Biar kami bisa langsung bekerja.”
Arnaff terdiam, dia lupa meminta foto Aurel pada paman Ardhin.
“Itu tugas kalian, tolong teliti bagaimana orangnya juga jangan lupa kirim fotonya padaku,” perintahnya.
Keesokan paginya, orang suruhan Arnaff segera melakukan tugas mereka. Tapi dengan personel baru. Personel baru itu bertanya pada pelayan lain, yang mana sosok yang bernama Aurelia. Seorang pelayan menunjuk kearah wanita dengan setelan seragam pelayan yang sama dengan rambut yang di ikat tinggi. Saat orang suruhan Arnaff menoleh, sosok yang di tunjuk pelayan yang ia tanya sedang menunduk mengambil sesuatu yang jatuh di lantai. Yang dilihat oleh orang suruhan Arnaff adalah sosok seorang wanita anggun mengenakan hijab pashmina. Merasa sudah mengenali targetnya. Orang suruhan Arnaff yang baru segera pergi.
***
Arnaff merasa puas dengan hasil kerja orang suruhannya, yang memata-matai dua wanita, satu wanita yang menolaknya dan satu wanita yang akan di nikahi, hasil laporan pengintaian selama seminggu ini sungguh membuat Arnaff puas. Dia segera menyetujui perjodohannya dengan keponakan Ardhin. Hal ini di sambut bahagia oleh Leti. Ketetapan tanggal ijab kabul 'pun sudah Leti dan Ardhin sepakati.
Keberangkatan Arnaff menuju pulau kalimantan pun sangat Leti dukung. Dia sangat bahagia melihat Arnaff bisa menerima wanita yang dia pilihkan. Leti dan keluarga akan menyusul ke Kalimantan saat akad nikah sudah siap nanti. Mereka mempercayakan persiapan pernikahan pada Ardhin dan keluarga.
Arnaff dan Dirga masih bersantai di ruang tunggu VIP, menunggu penerbangan mereka.
"Kamu jadi juga nikah sama keponakan paman Ardhin." Dirga menepuk pundak Arnaff.
"Dia wanita kalem dan manis, beda sama wanita yang menolakku sebelumnya. Kalau yang sebelumnya, aku takut berdapak buruk bagi Nadira."
"Aku turut bahagia, semoga paman Ardhin semakin dekat dengan kita, karena keponakannya menjadi istrimu."
"Kau sendiri, adakah wanita yang memikat hatimu?" goda Arnaff.
Dirga tersenyum, terbayang akan wanita yang bernyanyi 'Melukis Senja' pada video yang salah kirim oleh pegawainya. Dirga menyadarkan dirinya, dia tidak mau jatuh cinta pada istri orang lagi. Mengingat wanita yang bernyanyi di video itu, statusnya tidak di ketahui.
"Eh, itu panggilan penerbangan kita," sela Dirga.
Perbincangan mereka terhenti, karena saatnya mereka menuju pesawat.
Sedang di sudut yang ada di pulau kalimantan, Ardhin tidak bisa menyimpan rahasia besar, tentang kedatangan Dirga, dia menceritakan kalau Dirga akan datang, Kamal sangat bahagia, satu hal yang membuat Kamal sangat cemas dari seminggu yang lalu dia meminta keponakannya pulang, tapi sampai hari ini keponakan yang sangat dia sayang itu belum juga kembali.
"Bagaimana ini Bah ... kalau Aul kabur gimana?" Kamal istri Ardhin sangat ketakutan.
"Assalamu'alaikum, Mak ...." Teriakan cempreng itu laksana salju yang mendinginkan hati Ardhin dan Kamal.
*****
Untuk cerita ini, aku tulis di judul baru. "Sebatas Pendamping"
Cari aja judul itu atau nama penaku "Heni"
__ADS_1