Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 50 Dagu mu, Dua


__ADS_3

Matahari bersinar seperti biasanya, masih terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat, pada sore harinya. Namun, sejak mengetahui dirinya adalah pemilik perusahaan mantan suaminya. Hal itu membuat kehidupan tenang Hayati, sedikit berubah. Kesejukkan suasana pagi hari, sepertinya tidak sampai menyapa hati seorang wanita itu. Pandangan sendunya, tidak tahu ter arah kemana.


"Bu …." Sapa Tini.


Hayati terperanjat saat pelayannya menyapanya. "Iya, ada apa?"


"Ibu, dari kemaren melamun terus. Nggak baik lho dampaknya pada kesehatan ibu, kalau ibu terus melamun. Nanti kesehatan ibu terganggu, Kasian putri ibu, walau saya belum pernah berkenalan dengan Non Resa. Tapi, saya yakin. Dia sangat luar biasa. Rela bekerja keras, demi ibu."


"Perusahaan papa Resa, sekarang menjadi milikku, padahal perusahan itu bagai roh, bagi papa Resa, dia membangun perusahaan itu, dari nol. Hingga sekarang." Terang Hayati.


"Bagus dong bu."


"Saya ingin mengembalikannya, saya sudah tua, penyakitan pula. Keinginan saya, hanya kebahagiaan Resa. Andai saya kembalikan, Resa bagaimana? Andai saya pegang .... saya kasihan sama papa Resa."


"Ibu sudah telepon Non Resa, tentang masalah ini?"


"Ya ampun, Tini. Kenapa aku jadi bodoh gini!" Gerutu Hayati.


Tini, tersenyum. "Ibu bicarakan langsung sam Non Resa," usul Tini. Dia langsung mengambilkan ponsel majikannya itu. Tini kembali mendekati Hayati. Dia memberikan ponsel tersebut. Dengan senang hati, Hayati menerima ponsel yang di serahkan Tini. Dia langsung mengusap layar ponsel itu, untuk menelpon Resa, Via Video Call.


********


Pagi yang cerah, secerah suasana hati dua insan yang mulai bisa menerima satu sama lain. Resa hanya menjalani takdir yang sudah tergaris padanya. Memulai hidup bersama laki-laki yang tidak pernah menginginkannya, dulu. Tapi, sikap laki-laki ini, semakin hari, semakin Manis. Resa memandangi Gilang yang ada dalam gendongan pengasuhnya. Sedang Gavin, masih betah menutup rapat kedua matanya, setelah menghabiskan Asi dari botol susu.


Suara ponsel yang terdengar, membuyarkan kekaguman Resa, pada dua bayi yang dia rawat sepenuh hati. Melihat nama pemanggil, kedua mata Resa melotot. Dia langsung pergi menuju kamar mandi.


Merasa posisinya saat ini aman. Resa mempersiapkan dirinya, untuk bertatap wajah dengan mamanya, lewat layar ponsel. Perlahan Resa menggeser icon bewarna hijau tersebut. Tampaklah wajah wanita yang berjasa besar dalam hidupnya.


"Mama, selamat pagi mah!" Sapa Resa.


"Ini kamu Sayang?" Wanita yang melihat dirinya lewat layar ponsel sangat terkejut, melihat perubahan wajah Resa.


"Iya, ini anak mama yang cantik!" Seru Resa.


"Apa yang terjadi padamu? Ya ampun, dagumu dua!" Seru Hayati.


"Pekerjaanku terlalu mudah mah, maaf … mulutku khilaf, hingga aku begini."


"Baru beberapa bulan tidak melihatmu, kamu semakin subur saja, sayang!" Seru Hayati.

__ADS_1


Resa hanya tersenyum.


"Mama, bagaimana keadaan mama? Aku kangen mama ...." kedua bola mata itu mulai berkaca-kaca. Merasakan bagaimana rasanya melahirkan, membuat Resa sangat ingin memeluk ibunya.


"Mama baik sayang, berkat kerja keras kamu, kita tidak lagi dinas di kantor yang basah dan dingin!" Seru Hayati.


"Mama, aku kangen mamaaa." Akhirnya, cairan bening itu terlepas dari mata Resa.


"Mama juga kangen kamu, sayang. Putri mama yang chubby, kalau sekarang," seru Hayati.


Resa tersenyum, sambil mengusap air mata, yang membasahi pipinya.


"Resa, satu minggu yang lalu, televisi ramai membicarakan tentang Vania, kenapa Vania harus melahirkan prematur, sayang?"


"Aku tidak tahu, mah. Aku hanya mendengar dia operasi ceasar. Yang lain aku tidak tahu. Lagian, ini televisi mulai menayangkan, Reality Show saat Vania hamil."


"Itu dia sayang. Dia istri seorang pengusaha. Tapi, dia tidak pernah absen di televisi. Gak kasian apa sama suaminya?"


"Aku kira, mama telepon aku, karena kangen. Ih ternyata mama ngajakin gosip!"


"Astaga! Mama lupa. Mama menelpon kamu, karena satu hal."


"Perusahaan Ozage Cryton Group, memberi bantuan pada perusahaan papa. Tapi, kenapa sekarang perusahaan itu malah jadi milik mama?" Hayati, mulai menceritakan tentang kedatangan Ramon.


"Mama enaknya bagaimana?"


"Mama sebenarnya, ingin mengembalikan perusahaan itu, pada papamu. Tapi, kamu juga tidak selamanya jadi pelayan. Mama memikirkan nasib kamu, sayang."


"Jangan pikirin aku mah, lagian aku tidak mengerti bagaimana menjalankan perusahaan. Kalau mama mantap dengan keputusan mama, aku sangat setuju."


"Baiklah, nanti agak siangan dikit, mama akan menemui utusan perusahaan Ozage Cryton Group, biar masalah ini, cepat selasai."


"Iya mamah, mama yang sabar. Semoga aku secepatnya bisa menemui mama, soalnya aku sekarang mengurus bayi Vania juga mah."


"Nanti kirimkan foto bayi, Vania. Mama pengen lihat, sayang."


"Gak berani aku, mah."


Obrolan ibu dan anak itu terus berlanjut. Resa merasa lebih baik, karena bisa bertatap muka walau hanya lewat layar ponsel. Selesai berbicara dengan dengan ibunya. Resa segera keluar dari kamar mandi. Dia segera melangkah menuju ruang kerja Sam.

__ADS_1


Ceklakkk!


Pintu terbuka, terlihat seorang wanita diatara pintu itu.


"Sayang, ada apa? Apa kau sudah rindu padaku?" Goda Sam.


"Kamu sibuk?"


"Buat kamu, aku gak pernah sibuk, ayo kemari." Sam menggeser kursi kerjanya, hingga tubuhnya menjauh dari meja kerja. Sam menepuk pahanya, meminta wanitanya duduk di sana. Resa sangat terpaksa menuruti. Dia duduk di pangkuan Sam, lalu melingkarkan lengannya di bahu, Sam.


"Bolehkan aku bertanya satu hal?"


"Silakan sayang." Tatapan dari mata Sam begitu sendu, memandangi wanita yang ada di depan matanya.


"Kenapa perusahaan papa, menjadi milik mama? Kenapa mama harus berhubungan lagi dengan papa, karena urusan ini."


"Sengaja, karena aku punya kejutan nanti."


"Mama tidak mau menerima perusahaan itu, kata mama. Mama akan menemui Ramon, untuk menyelesaikan semuanya.


"Sudah kuduga kalian akan seperti ini, hanya saja, aku tidak menduga akan secepat ini."


Sam meraih ponselnya. Dia langsung mengetik pesan untuk Ramon. Selesai mengirim pesannya, Sam meletekakkan kembali ponselnya. Sam menatap sayu wajah Resa.


"Ada apa?" Resa heran dengan tatapan Sam.


"Tidak apa-apa, aku hanya mengagumi istriku, apa itu tidak boleh?" Sam mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.


Seketika, ruangan kerja itu mendadak hening. Hanya terdengat suara aneh yang hanya bisa didengar dua orang yang larut dalam pangutan hangat mereka.


Sam harus menebalkan kesabaran dan kekuatan untuk menahan keinginan yang satu itu, wanita dalam pelukannya belum bisa untuk memberi hal utama itu. Hanya bisa memberi kehangatan ringan yang lain.


******


Bersambung.


****


Maaf sobat, kesibukan sebagai penunggu dapur membuat aku gak fokus nulis. Segini dulu ya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2