
Di Rumah Sakit.
Senyuman masih mengambang di wajah Hayati, setiap orang pasti sangat bahagia, bisa bertemu artis idola mereka.
"Pantas, gajih mbak Resa besar bu, ternyata bekerja di rumah keluaraga artis!" Seru Ayla.
"Iya, nanti ibu mau minta fotonya si Vania itu, kamu pergi keluar sana beli makanan buat kita, ini uangnya," seru Hayati.
"Siap bu!" Sahut Ayla.
Ayla segera pergi untuk mencari makanan buat mereka nanti.
*****
Suasana sepi menyelimuti rumah besar, kediaman keluarga Ozage. Semua orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Sam merasa bosan, dari satu jam yang lalu, Vania masih sibuk dengan perawatan seluruh tubuhnya.
"Sayang …." Rengek Sam
"Hem," hanya dehaman Vania yang Sam dapat sebagai sahutan wanita itu.
"Masih lama?" Wajah Sam nampak cemberut.
"Satu jam lagi," tawar Vania
"Kalau begitu, aku cari nenek dulu ya."
"Iya sayang," sahut Vania.
Sam pasrah, Vania benar-benar mengabaikannya. Dia segera melangkah keluar kamar. Tepat di tengah pintu, Sam menghentikan langkah kakinya, dia memutar arah tubuhnya, menghadap kearah Vania. Wanita itu benar-benar fokus dengan perawatan kulitnya, dia sama sekali tidak memperdulikan suaminya.
"Sayang …." Rengek Sam.
"Kalau kamu pergi, sudah sana, jangan ganggu aku," rengek Vania.
Sam menghempas kasar napasnya, ini bukan hal baru dalam hidupnya, sudah sangat sering dia kalah dengan tim produk kecantikan itu. Tapi, entah kenapa sekarang hatinya terasa sesak. Sam segera keluar dan menutup pintu kamarnya. Dia berjalan menuju kamar neneknya.
Pintu kamar neneknya sedikit terbuka, perlahan Sam mengintip keadaan kamar itu, dari celah pintu yang terbuka. Di dalam sana, tampak Resa tengah menyuapi neneknya.
"Resa, apakah kau cemburu saat melihat Sam memeluk istrinya di depan matamu?" Tanya Marina.
"Nyonya … kenapa Nyonya bertanya seperti itu, saya ini bukan siapa-siapa, saya tidak berhak cemburu pada Nona Vania," ucap Resa.
"Tapi, kamu juga istri Sam," ucap Marina.
"Istri yang tidak di inginkan Nyonya, saya harus ingat posisi saya," jawab Resa.
"Panggil aku nenek, jika kita berduaan seperti ini," pinta Marina.
__ADS_1
"Iya nenek," Resa mengukir senyuan manis di wajahnya.
"Resa, menurut pandangan kamu, hubungan suami istri di mata kamu seperti apa?"
"Hem, menurut saya, saling melengkapi nek, setiap manusia punya kekurangan, nah pasangan kita yang melengkapi kekurangan kita, kita juga melengkapi kekurangan pasangan kita, kita tidak bisa egois nek, hanya meminta pasangan kita memahami kita, sedang kita tidak memahami perasaan dan keinginan pasangan kita."
Resa kembali meneruskan ucapannya. "Dicintai karena kelebihan, itu hal biasa. Tapi ... tetap dicintai walau kekurang yang ada dalam diri kita, itu luar biasa.
Mendengar kalimat itu, Sam melamun. Selama ini hanya dia yang menuruti apa keinginan Vania, sedang Vania, jangan menuruti keinginannya, bertanya apa yang dia inginkan saja, dia tidak pernah. Dada Sam terasa di ikat oleh sebuah tali, terasa sesak, seolah sulit bernapas.
"Nenek mau nambah lagi?" Tanya Resa.
"Sudah cukup Res, sini kamu istirahat di samping nenek," pinta Marina.
"Aku ke dapur dulu ya nek, ini … aku mau taruh ini dulu," sela Resa.
Marina menganggukan kepalanya, menyetujui perkataan Resa. Resa mengumpulkan wadah bekas makanan dia dan Marina, dengan hati-hati dia membawa semua itu.
Saat membuka pintu, Resa sangat terkejut melihat sosok yang berdiri di depan pintu. "Tut--tu--Tuan?" Ucap Resa terbata.
"Am …." Sam berusaha mengumpulkan kesadarannya. "Aku hanya ingin melihat keadaan nenek," kilahnya.
"Oh, silakan Tuan," Resa berjalan kesamping, mempersilakan Sam masuk kedalam kamar. Sedang dia meneruskan langkahnya menuju dapur. Di dalam kamar, Sam langsung berbaring di samping neneknya, Marina hanya tersenyum, dia melayani cucunya tersayang bermanja padanya.
Di luar kamar, Resa berniat kembali masuk kekamar nenek Sam, baru saja dia ingin menyentuh gagang pintu. "Resa!" terdengar suara yang memanggil namanya. Resa menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Bisa bantu aku sebentar?" Tanya Vania.
"Boleh saya izin dulu?" Resa balik bertanya.
"Tidak usah Res, ibu biar saya yang jaga," ucap Ramida.
"Tuh, apa ibu bilang, ayo bantu aku," pinta Vania. Resa segera mengikuti langkah kaki Vania. Hingga mereka sampai di sebuah kamar, kamar yang ber ukuran luas, baru saja masuk kedalam kamar itu, foto Sam dan Vania, yang ber ukuran besar menyambut matanya.
"Gak apa-apa Non, saya masuk?" Tanya Resa.
"Iya, masuk aja, ayoo bantu aku luluran, ini kamu balur lulur di punggung aku," pinta Vania.
"Tapi---"
"Nggak ada tapi-tapi! Ayoo!" Vania menarik tangan Resa. Resa mengikuti tarikan tersebut, hingga dia masuk kedalam kamar mandi. Di dalam sana Vania dengan entengnya melepas penutup terakhir yang menempel pada badannya. Membuat Resa tercengang dengan apa yang dia lihat.
"Ayo, balurkan ini, di punggungku," pinta Vania.
"Baik Nona, saya cuci tangan dulu," sela Resa.
Setelah mencuci tangannya di westafel, Resa segera membalur lulur di punggung Vania. Dia sangat takjub dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
__ADS_1
"Anda sangat luar biasa Nona," seru Resa, dia terus melakukan tugasnya.
"Perawatan nomer satu bagiku Resa, aku sangat memperhatikan semua lekuk tubuhku," sela Vania.
"Padahal Anda sudah sangat cantik, tanpa perawatan ribet pun Anda sangat luar biasa."
"Semua ini hanya untuk menjaga suamiku Resa, dia pengusaha terbesar di negara ini, aku harus menjaga dia agar dia tidak bisa lepas dariku."
"Anda salah Nona. Tuan Sam sudah sangat mencintai Anda, saya yakin, bagaimanapun Anda, dia tetap mencintai Anda," ucap Resa.
"Kau sama saja dengan managerku, dia bilang apa lagi yang aku cari, uang sudah sangat lebih, karir tinggi, harusnya aku memperhatikan suamiku," rengek Vania.
"Manager Anda benar Nona."
"Aku melakukan semua ini juga untuk dia, agar dia bertekuk lutut padaku, dan memujaku."
"Kehidupan rumah tangga tidak selalu berpatokan pada s**s semata Nona, walau hal itu mungkin tidak dapat dipisah. Tapi, perhatian dan kasih sayang juga perlu," sela Resa.
"Kau sudah menikah?" Tanya Vania.
"Ammm, be---" Resa ragu menjawab pertanyaan Vania.
"Aku tau kau belum menikah, darimana kamu dapat kata-kata barusan?" Tanya Vania.
"Dari artikel Nona."
"Heleh … aku kira made in kamu sendiri."
"He he heheee," Resa hanya tertawa, dia terus membantu Vania.
"Nona, bolehkan saya bicara?"
"Katakan Resa," jawab Vania.
"Nona, anda sudah sangat beruntung, punya suami yang sangat cinta pada Anda, keluarga yang mencintai Anda, saya rasa, sebaiknya Anda melakukan tugas utama Anda, sebelum anda menyesal, kehidupan ini bukan sekedar karir dan materi, ada saatnya semua yang Anda kejar ini tidak berharga lagi, karena ada fase Anda merindukan teman dan keluarga, dan mungkin saat anda sadar, semua itu sudah tidak ada lagi."
"Dari mana kau tau, kalau suamiku sangat cinta padaku, dan juga tentang nenek dan ibu sayang padaku?"
"Semua orang juga tau Nona, Tuan Sam sangat mencintai Anda, sedang Nyonya Ramida, dan Nyonya besar sangat memperhatikan Anda," jawab Resa.
Vania begitu santai, dia tidak perduli dengan perkataan Resa barusan, dia segera bangkit dan berdiri di bawah Shower.
Vania membuang napasnya kasar, "Tolong gosok punggungku, setelah ini pekerjaanmu selesai," seru Vania
Resa segera melakukan tugas terakhirnya. Melihat reaksi Vania, Resa sedikit kesal.
Hufttt! Dia benar-benar egois! Ringis batin Resa.
__ADS_1