
Sam masih tidak menyangka, Vania melakukan hal demikian, hanya untuk rencana Reality Show. Yang akan meliput aktivitas Vania selama hamil. Sam menarik napasnya begitu dalam. Tangannya meraih telepon yang ada di meja kerjanya.
"Siapkan semua keperluanku untuk bekerja jarak jauh." Perintah Sam, pada orang yang dia hubungi.
Sam langsung menutup panggilan teleponnya. Dia melupakan masalah Vania. Dia mulai fokus untuk melanjutkan kembali pekerjaan yang lama di tinggalkan.
Beberapa pekerjaan selesai. Sam tersenyum sendiri. Dia terbayang akan wajah Resa. Dia meraih ponselnya, lalu langsung menelepon Resa.
**********
Di Villa sana, Resa tengah berkumpul bersama, Ramida dan Marina. Mereka duduk melingkar mengerumuni bayi Arnaff. Saat ponselnya berdering, Resa sangat terkejut saat melihat nomer Sam yang menelponnya. Dia langsung izin untuk pergi ke kamarnya. Untuk menerima panggilan.
Ponsel terus berdering, tanpa Resa hiraukan. Dia masuk kedalam kamar, dan mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu.
Resa merasa lebih tenang, dia duduk di sisi tempat tidur. Tidak berselang lama, ponselnya berdering kembali. Resa langsung menggeser icon berwarna hijau itu.
"Kenapa lama?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari yang berbicara di ujung telepon sana.
"Tadi aku di luar, bersama ibu dan yang lainnya."
"Owh, aku kira, kau sengaja menguji kesabaranku."
"Ada apa?" Tanya Resa langsung.
"Kok ada apa? Aku kangen ...." suara itu terdengar sangat manja.
"Lebay ih!"
"Memang kamu tidak kangen sama aku?"
Resa menarik napasnya begitu dalam. "Cuma ini nih? Kalau cuma ini, sudah ya, aku gak enak, di luar semua orang tengah bersantai."
"Hemmm!" Hanya dehaman yang terdengar di ujung telepon sana.
Tidak menunggu jawaban Sam. Resa langsung memutuskan panggilan telepon mereka.
Resa kembali keluar. Senyuman terukir di wajahnya. Membuat mata yang melihat ikut tersenyum.
"Mama kamu?" Tanya Ramida.
Resa tidak menjawab, dia hanya melempar senyuman manisnya.
Melihat semuanya berkumpul. Ramida langsung menyampaikan hal yang ingin dia sampaikan.
"Jena, apa kamu kesulitan menjaga ibu sendirian?" Tanya Ramida. Pada Jena.
"Tidak sama sekali, Nyonya." Jawab Jena.
__ADS_1
"Resa, apa kamu bisa, membantu menjaga bayi mungil ini, selama Jena mengurus ibu? Gak lama, cuma seminggu? Soalnya aku terlanjur berjanji pada papa bayi ini, untuk menjaga Nadira," ucap Ramida.
"Tidak sama sekali, Nyonya. Lagian saya bosan hanya sendiri dan tidak melakukan aktivitas apapun di sini." Jawab Resa.
"Baguslah, karena mulai besok, aku harus ke kota. Karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana," ucap Ramida.
"Nyonya fokus saja sama pekerjaan, kami akan melakukan tugas kami," jawab Resa dan Jane, bersamaan. Mereka berdua saling pandang, keduanya tertawa, karena perkataan mereka berdua kompak.
Ramida tersenyum, melihat kekompakan Resa dan Jane. Mereka pun kembali melanjutkan kebersamaan mereka.
*****
Suasana Villa yang tadi sepi, mendadak ramai. Karena kedatangan beberapa buah mobil yang mengangkut bermacam peralatan. Mobil-mobil itu berhenti di halaman Villa itu. Membuat Resa dan Jane terkejut. Dengan kedatangan mobil-mobil itu.
Bukan hanya Resa dan Jane yang terkejut. Tapi, Vania juga, dia melepaskan cangkir teh yang dia pegang, saat melihat mobil-mobil itu berhenti tepat di depan Villa itu. Vania langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Sesampai di kamarnya. Vania meraih ponselnya. Dia langsung menelepon sutradara yang bekerjasama dengannya.
"Kenapa kalian mendatangkan alat-alat syuting secepat ini! Aku belum mendapatkan tanda tangan suamiku!" Bentak Vania.
"Kami belum mendatangkan apa-apa," sahut orang di ujung telepon sana.
"Maafkan aku, aku kira mobil-mobil yang datang barusan ke Villa kami, milik Anda," ucap Vania.
Vania dan sutradara itu melanjutkan perbincangan mereka. Setelah selesai berbicara di telepon. Vania segera keluar dari kamarnya. Sesampai di teras villa, terlihat Sam datang bersama Dirga.
Resa hanya tersenyum melihat Sam dan Vania. Entah kenapa, walau hanya mendapatkan senyuman Sam. Dia merasa sangat puas.
Sam kembali memandangi Vania. "Sore, sayang." Satu kecupan lembut mendarat di pucuk kepala Vania.
"Sore juga," jawab Vania dengan nada yang manja.
"Maaf, tadi aku lupa menelpon kamu, aku langsung berangkat. Tapi, kamu tenang ... ini hanya untuk hari ini. Mulai besok, aku akan bekerja di sini, meng-handle semua urusan kantor dari sini." Senyuman lebar terukir di wajah Sam.
"Titt--tidak kekantor lagi?" Vania tergagap.
"Iya, demi menemani kamu, kamu sudah berjiwa besar, rela mengorbankan bentuk tubuhmu, untuk melahirkan anak kita. Aku akan di sini, setiap waktu menemani kamu." Ucap Sam.
S**t! Kalau Sam bekerja di sini, bagaimana aku syuting?
Ringis Vania dalam hati.
Vania memaksa otaknya agar bekerja. Dia teringat sesuatu. "Sayang, mandi dulu sana," pinta Vania.
Sam hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia dan Vania berjalan beriringan menuju kamar mereka. Sesampainya di dalam kamar, Sam langsung menuju kamar mandi, untuk menyegarkan tubuhnya. Sedang Vania langsung meraih ponselnya, lalu mengirim pesan pada sutradaranya.
Vania fokus mengetik pesan untuk membalas pesan-pesan yang terus masuk di ponselnya. Dia hanya fokus membaca dan menjawab pesan tersebut. Hatinya merasa sedikit lega. Karena sutradara itu, mau mengganti tempat syuting nantinya.
__ADS_1
[ Oke, nanti kalau kami sudah menemukan tempat yang cocok, kami akan segera memberikan kabar pada Anda.]
Vania sangat senang, dia tidak perlu membatalkan Kontrak, hanya karena Sam yang mendadak ngantor di Villa.
"Sayang …." Sapa Sam.
Vania langsung menoleh kearah sumber suara tersebut. Dia melempar senyuman manis kearah Sam dan segera menyimpan ponselnya
"Wajahmu nampak bahagia." Sapa Sam.
"Tentu aku bahagia, karena suami aku, akan berada di sampingku, setiap waktu." Seru Vania.
Sam tersenyum. Dia duduk di samping Vania. "Aku yang sangat bahagia, karena kamu mau menerima kehamilan ini."
"Besok aku mau kedokter." Seru Vania.
"Aku temani ya," tawar Sam.
"Tidak perlu, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu."
"Baiklah, kalau itu kau kamu." Sam pasrah.
"Tapi, beri aku imbalan!" Rengek Vania.
"Imbalan?" Sam menyatukan kedua alisnya.
"Imbalannya, bubuhkan tanda tanganmu, di setiap sudut yang aku minta." Vania mengambil map yang dia simpan, di laci nakas, yang ada di sampingnya.
Ahahhhaaa, ini dia, akhirnya umpan itu keluar juga.
Gerutu Sam dalam hatinya.
"Dengan syarat! Jangan dibaca!"
"Kau ini, bagaimana aku tanda tangan, kalau tidak membaca isinya. Bagaimana kalau ini surat cerai? Aku tidak mau!"
Seperti biasa, Vania mulai melancarkan aksi mautnya. Dengan rayuannya dan sentuhan-sentuhan manja yang lain.
Sam tertawa dalam hati, ternyata Vania melakukan hal ini demi mendapatkan tanda tangannya. Sam menghentikan pergerakan Vania.
"Sebelum tanda tangan, aku ingin kamu tahu satu hal. Selama ini, aku sangat-sangat mencintai kamu. Jika suatu saat kita terpisah, itu karena keinginanmu, bukan keinginanku," ucap Sam.
"Aku tahu, kau sangat mencintaiku." Vania kembali melancarkan serangannya.
Sam melepaskan pangutan Vania, dia segera membubuhkan tandatangan di kertas yang Vania minta.
***
__ADS_1
Senangnya bisa up lagi, sampai jumpa besok lagi sobatku