Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 44 Tidak Boleh


__ADS_3

Perjalanan pulang Marina dan Jena lancar. Tidak terkendala apapun. Akhirnya mereka sampai di rumah utama. Rumah yang berbulan-bulan mereka tinggalkan.


Para pelayan yang bekerja di bagian depan rumah utama. Langsung menyambut Nyonya besar mereka itu. Keadaan pun langsung heboh. Walau ada sedikit tekanan yang para pelayan rasa. Mereka sangat takut akan instruksi Pak Bim, beberapa jam yang lalu. Yang melarang keras semua para pelayan membuka televisi atau menonton berita online, atau bergosip tentang berita yang beredar. Apapun itu, tanpa terkecuali. Sampai batas yang ditentukan Pak Bim.


Tapi, mereka berusaha santai. Karena ancamannya lebih menakutkan. Apabila wajah mereka membuat Nyonya besar mereka, penasaran. Keadaan terasa sedikit santai. Mereka semua menyambut hangat kedatangan Nyonya besar mereka.


"Jena, kita langsung ke Paviliun belakang. Aku rindu semua pelayan di sana," pinta Marina. Jena segera mendorong kursi roda Marina. Menuju Paviliun belakang. Mereka pun menghabiskan waktu, bersama para pelayan, di Paviliun belakang. Sedang beberapa pelayan yang lain, menurunkan barang-barang majikan mereka.


*****


Di belahan lain.


Di Rumah Sakit itu, Resa terus berjuang. Ramida sangat merasa bersalah. Karena Resa terus meracau. Resa terlihat sangat tertekan karena menjadi istri kedua.


"Tolong Nyonya, selamatkan rumah tangga Tuan," pinta Resa.


"Kamu tidak bersalah, ayolah Resa, semangat! Demi anak kamu." Ramida memegangi tangan Resa memberi semangat padanya. Sesekali Ramida mengusap kepala Resa.


Dokter tidak mengerti arah pembicaraan dua orang itu. Dokter berulang kali menasehati Resa, dan memberi semangat padanya. Tapi entah kenapa, Resa merasa, rasa bersalah itu selalu muncul. Apalagi saat mengetahui Sam dan Vania akan berpisah. Hingga mengakibatkan tekanan batin yang cukup besar. Membuat Resa terpaksa melahirkan prematur.


Ketegangan kian meninggi di ruangan itu, akhirnya perjuangan Resa sampai di titik tertinggi. Bermacam rasa yang menghampiri sekujur tubuhnya. Kini, seakan lunas, saat mendengar lengkingan tangisan bayi itu. Ramida, akhirnya dia bisa bernapas lega. Saat melihat cucunya lahir dengan selamat. Walau ada kekhawatiran di hatinya. Karena bayi Resa lahir prematur.


"Selamat Bu, bayinya laki-laki," ucap dokter.


Ramida dan Resa, hanya memandangi tim dokter menangani bayi mungil itu. Bayi Resa sudah berada dalam inkubator, dokter terlihat masih memeriksa bayi itu.


Di luar ruangan,


Sam tiba di Rumah Sakit, di mana Resa melahirkan. Di lorong Rumah Sakit, Sam berpapasan dengan Mawan. Dia hanya melempar senyuman pada Mawan, dan kembali meneruskan langkahnya. Saat semakin dekat, dengan ruangan yang dia tuju. Terlihat Dirga duduk seorang diri disalah satu kursi yang berjejer, di depan ruangan. Sam menghampiri Dirga.


"Bagaimana Resa?" Tanya Sam.


"Sepertinya, bayinya sudah lahir, tadi terdengar suara tangisan bayi." Jawab Dirga.


Sam merasa lega, mendengar bayinya sudah lahir. Walau ada sedikit kekhawatiran, karena belum melihat keadaan Resa. Tak berselang lama, Ramida keluar dari pintu ruangan itu. Wajahnya nampak bahagia. Dia berjalan begitu semangat mendekati Sam dan Dirga.


"Apa yang terjadi pada Resa? Kenapa dia bisa tertekan seperti itu?" Tanya Ramida.


Dirga mulai menceritakan pembicaraannya dengan Resa sebelumnya. "Resa tidak ingin, hubungan Sam dan Vania ber akhir." Sambung Dirga.


"Ber akhir atau tidaknya hubunganku dengan Vania, tidak ada kaitannya dengan Resa," sela Sam.

__ADS_1


"Tapi, dia merasa bersalah." Ucap Dirga.


"Sepanjang waktu, dia terus meracau. Ibu kasihan padanya. Jika hal ini menyiksanya, lepaskan dia Sam. Dia tidak pantas menjadi istri kedua. Resa wanita baik-baik, dia berhak jadi ratu di sebuah singgasana." ucap Ramida.


"Bagaimana keadaan Resa?" Sam mencoba merubah topik pembicaraan.


"Resa dan bayinya selamat, anaknya laki-laki, bayinya sehat, walau harus dimasukkan dalam inkubator dulu. Resanya juga sehat. Kalian tunggu saja, sebentar lagi Resa akan dipindahkan keruangan perawatan. Kalau bayinya, akan di bawa keruangan khusus nanti, jangan khawatir. Ibu sudah pilih ruangan untuk Resa yang tidak jauh dari ruangan bayinya nanti." Ramida terlihat sangat bahagia.


*****


Waktu terus berjalan, Resa sudah di pindahkan keruang perawatan. Sedang Sam dan Dirga, mereka berada di depan ruangan khusus bayi. Sam memandangi bayinya yang lahir dari rahim Resa dari balik kaca. Dirga ikut bahagia melihat bayi kecil itu.


"Ayo kita kembali, beri semangat buat Resa," seru Dirga.


Sam dan Dirga melangkah menuju ruangan Resa. Terlihat Resa duduk bersandar di tempat tidur besi, milik Rumah Sakit itu. Dia melempar senyuman pada Sam dan Dirga. Sam terus melangkah mendekati Resa.


"Tante, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan, bisakah kita bicara di luar?" Tanya Dirga, pada Ramida.


Ramida segera pergi mendekati Dirga, mereka berdua keluar dari ruangan Resa. Sedang Sam terus mendekati Resa. Sam melepas jas yang dia kenakan. Melempar jas itu keatas kursi yang tadi di duduki Ramida. Sam terus mendekati Resa. Dia naik keatas tempat tidur Resa, dan berbaring di sisi Resa. Dia menarik Resa kedalam pelukannya.


"Terima kasih banyak atas perjuanganmu, maafkan aku, aku tidak berada di sampingmu." Sam mendaratkan ciumannya di pucuk kelapa Resa.


"Sudah, dan dia kekeh pergi dariku, dia juga memilih mengakhiri hubungan ini, lihat … jari manisku tidak memakai cincin lagi." Sam memperlihatkan jemari tangan kanannya.


"Beri dia satu kesempatan lagi," pinta Resa.


"Iya, aku memang memberinya satu kesempatan." Sam terus memeluk Resa.


"Aku memberinya satu kesempatan, agar hatiku mantap menutup lembaran ini, dan membuka lembaran baru, tanpa terbayang akan lembaran sebelumnya. Bersabarlah, sedikit lagi. Satu lagi, kamu tidak bersalah Resa," sambung Sam.


Resa berusaha menahan perasaan yang berkecamuk didalam dadanya. "Sudah, sana turun, nanti kalau ada dokter atau perawat yang masuk bagaimana?"


Sam tersenyum, dia segera turun dari tempat tidur tersebut. Dia melangkah menuju sofa panjang, yang ada di sudut ruangan itu.


Di luar ruangan.


Dirga terus menceritakan tentang rencana Vania. Ramida hanya bisa menahan sesak, mendengari semua cerita Dirga.


"Aku sudah membeli rumah, jadi nanti, bayi Vania di rawat di sana dulu setelah lahir. Aku yakin tante, Vania tidak perduli dengan bayinya, setelah bayi itu lahir."


"Apa rumah itu aman? Kalau Aman, sebaiknya Resa dan bayinya juga tinggal sementara di sana, setelah keluar dari sini."

__ADS_1


"Aman, tante, usul yang bagus, sebaiknya menunggu kedua bayi itu sehat baru di bawa pulang."


Selesai dengan obrolan mereka, Dirga dan Ramida segera kembali keruangan Resa. Mereka hanya tersenyum, melihat Sam yang asyik menatap layar ponselnya.


*********


Semakin hari, keadaan bayi Resa semakin membaik, tubuh bayi kecil itu, sudah bisa beradaptasi dengan suhu ruangan. di Rumah Sakit itu, hanya ada Sam dan Ramida. Sam belajar menggendong bayinya. Ada perasaan aneh dari dalam dirinya, saat menggendong putranya itu.


"Sam, berikan dulu pada Resa, putramu pasti lapar Sam," seru Ramida.


Sam berjalan kearah Resa, perlahan dia memberikan bayi itu kegendongan Resa. Mata Resa dan Mata Sam bertemu, Sam hanya melemparkan senyumannya. Sedang Resa, segera mengalihkan perhatiannya pada bayinya. Sam segera menjauh dari Resa. Hatinya selalu berdebar kuat, saat melihat Resa menyusui bayinya. Bukan iri dengan bayi itu. Bayi itu bisa menikmati benda itu. Sedang dirinya tidak. Tapi, ada ledakan yang aneh dari dalam dirinya.


Tokkk! Tok tok!


Suara ketukan pintu memecah keheningan di dalam ruangan itu. Sam melangkahkan kakinya menuju kearah pintu. Saat membuka pintu, terlihat sosok Dirga.


"Ada apa?" Sam menahan pintu sekuat tenaganya, agar Dirga tidak bisa masuk.


"Aku hanya ingin laporan padamu dan pada tante," jawab Dirga.


"Ya sudah, kita bicara di luar." Sam melangkah keluar ruangan sambil mendorong Dirga agar menjauh dari pintu.


"Hei, aku juga ingin menegok jagoan kecil tanpa nama itu," Dirga berusaha menerobos masuk.


"Tidak boleh! Resa tengah menyusui anak kami," Sam lagi-lagi mendorong Dirga.


Dirga tertawa mengetahui alasan Sam, mencegahnya masuk kedalam ruangan hanya karena Resa yang tengah menyusui bayinya. "Heleh, punya Vania dia expose semuanya, kenapa kamu biarkan? Mana pernah kamu marah melihat Vania memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya, oh … acara 7 bulanan seminggu yang lalu, dia memanen hujatan, karena--" Dirga tidak melanjutkan perkataannya, karena melihat raut bingung dari wajah Sam.


Sam tidak punya jawaban atas hal itu. "Kataku tidak boleh, ya tidak boleh!" Sam menarik tangan Dirga, agar menjauh dari ruangan Resa.


Langkah Sam terhenti, saat dia sadar, dia belum pamit pada Resa dan Ibunya. "Tunggu di sini, aku ingin pamit sama ibu dulu."


Dirga tersenyum melihat perubahan pada sepupu, sahabat, sekaligus bos nya itu. Dia memilih mengalah pagi ini. Tidak berselang lama, Sam terlihat keluar dari ruangan itu. Dia terus melangkah mendekati kearah Dirga. Mereka pun berjalan ber iringan, mencari tempat yang nyaman untuk bicara.


****


Bersambung.


****


Maaf ya sobat, aku telat, ini sudah di ketik dari pagi. Tapi, belum setor karena belum aku review.

__ADS_1


__ADS_2