
Tatapan sayu dari mata Resa membuat Sam kehilangan kendalinya. Kedua wajah itu semakin mendekat. Di luar kesadaran Sam. Dia mempertemukan bibirnya dengan bibir Resa. Pertemuan hangat dan lembut itu, semakin lama semakin dalam.
Ceklakkk!
Pintu kamar di buka seseorang.
"Resa bagaimaaaa---" orang itu tidak bisa melanjutkan perkataannya, saat matanya melihat dua orang yang ada di depannya larut dalam persilatan lidah.
Resa dan Sam sangat terkejut melihat kedatangan orang itu.
"Dirga?!"
"Sam?!"
Ucap Sam dan Dirga bersamaan.
Dirga langsung masuk kedalam kamar Resa, setelah masuk dia menutup pintu terlebih dulu. Resa berusaha santai. Tapi, batinnya sungguh ketakutan.
"Apa yang kau lakukakan?" Tanya Dirga.
Sam bingung, harus menjelaskan dari mana, perbuatannya barusan saja, di luar kendalinya. Sam berusaha menenagkan hatinya, dan menenangkan dentuman irama jantungnya.
"Aku ingin buka rahasia padamu. Tapi … bisakah kamu jaga rahasia ini?" Tanya Sam. Pada Dirga.
"Aku janji, aku akan jaga rahasia mu," jawab Dirga.
"Resa, istri keduaku, yang aku rahasiakan dari semua orang, hanya beberapa orang saja yang tahu, termasuk dirimu." Ucap Sam.
"Oh tidakkk!" Dirga terlihat frustrasi.
"Saat ini, bukan hanya Vania yang hamil. Tapi, Resa juga," ucap Sam.
Dirga menatap sayu kearah Resa. Napasnya terasa berat, terdengar hembusan napas yang kasar. "Kau wanita istimewa, kenapa kau mau jadi istri kedua, di rahasiakan pula! Kamu itu pantasnya menjadi istri satu-satunya." Gerutu Dirga.
Dirga menghempaskan tubuhnya di kursi yang ada di sampingnya. "Tuhan, kenapa engkau begitu baik pada Sam, apa karena dia bodoh! Sehingga kau kirim malaikat seperti Resa berada di sampingnya," keluh Dirga.
Resa bingung harus berbuat apa, dia hanya meremas jari jemari tangannya.
"Apa maksudmu?" Sam kesal di katai Dirga, bodoh.
"Semua kerabat dan teman kita mengatai dirimu bodoh! Hanya kamu yang mencintai dengan mata terpejam. Kamu bisa melihat sendiri kalau Vania, sedikitpun tidak mencintai kamu. Tapi, kamu mencintai dia seperti orang gila!" Hardik Dirga.
__ADS_1
"Logis saja Sam, tangan kita tidak selamanya hanya untuk melambai, ada kalanya untuk bertepuk, dengan Vania, tangan kamu tidak akan bisa bertepuk, karena bagi Vania hanyalah dirinya dan kariernya, orang lain tidak ada!" Dirga menoleh kearah Resa.
"Jika suatu saat permata seperti Resa, kamu abaikan. Aku pastikan, akulah pemulung yang paling beruntung, jika bisa mendapatkan Resa, suatu saat nanti." Sambung Dirga.
Ceklakkk!
Pintu terbuka kembali, terlihat Ramida datang bersama seorang pelayan.
"Dirga, Sam?" Raut wajah Ramida nampak heran, melihat dua orang laki-laki ada di kamar Resa.
"Resa, bagaimana keadaanmu?" Sapa Dirga.
Pertanyaan Dirga membuat Resa, tersadar dari lamunannya. "Sedikit lebih baik," jawab Resa.
"Ayoo kalian keluar dulu, izinkan Resa istirahat," pinta Ramida.
Dengan sangat terpaksa, Sam dan Dirga keluar dari kamar Resa. Sedang pelayan itu, langsung membawa nampan yang dia bawa kehadapan Resa. Selesai dengan tugasnya. Pelayan itu pergi dari kamar Resa.
"Jika kau merasa lebih baik, katakan ya, soalnya ibu mau bawa kamu pergi dari sini, masalah mamamu, jangan kau pikirkan, aku sudah beri dia uang yang banyak," ucap Ramida.
"Kenapa kita harus pergi Nyonya?"
"Aku takut, serangan jantung ibu kumat, kalau melihat kelakuan Vania yang sangat menyebalkan itu, kamu tahu? Dalam sehari ini, dia hanya mau makan sebiji buah apel dan segelas susu, dia bahkan lebih hina---"
Resa hanya diam, seminggu ini dia tidak bertemu siapapun, kecuali orang-orang yang masuk kedalam kamarnya.
"Demi kesehatan nenek, kita pindah ketempat baru, sampai kamu dan Vania melahirkan, baru kita kembali kesini," ucap Ramida.
*****
Flash back Ramida dan Marina.
Setelah sarapan pagi, wajah Marina nampak sedih. Ramida tahu, kesedihan Mertuanya adalah Vania. Bukan hanya Marina yang sedih melihat Vania makan sangat sedikit, bukan kurang lagi, tetapi sangat kurang. Bahkan wanita itu masih saja gila akan penampilannya.
"Resa mana bu?" Tanya Vania.
"Dia sakit, dia ibu suruh istirahat di kamar," jawab Ramida.
Setelah selesai dengan sarapannya, Vania langsung pergi menuju lantai atas. Marina memandangi Sam.
"Sam, istrimu sedang hamil, tolong bujuk dia agar makan dengan porsi yang benar," pinta Marina.
__ADS_1
"Aku bisa apa nek, apa yang Vania mau, maka itulah yang berlaku." Jawab Sam.
"Jena, antar aku ke kamar, percuma saja aku sarapan bersama kalian. Tapi, tenggorokkanku, terasa tercekik!" Gerutu Marina.
Jena segera mendorong kursi roda, Marina. Marina memberi isyarat pada Jena, agar berhenti mendorong kursi rodanya.
"Sam! Kamu itu laki-laki atau bukan? Kau tahu Sam. Aku sangat bahagia karena ayahmu sudah tiada, kalau dia masih hidup, aku yakin dia sangat malu punya putra sepertimu!"
Marina memberi isyarat agar Jena melanjutkan mendorong kursi rodanya. Jena segera mendorongnya menuju kamar Marina.
Ramida menatap tajam pada Sam. Dia ingin sekali memaki-maki putranya. Namun, dia tahan. Dia lebih memilih meninggalkan Sam, dan menyusul mertuanya kekamarnya. Sesampai di dalam kamar Marina. Ramida meminta Jena untuk melakukan pekerjaan lain. Hanya dia dan Marina di kamar itu.
"Bu, menurut ibu bagaimana, kalau kita pindah ke villa yang ada di desa, yang terletak di pinggir danau?"
"Kamu ingin mengusir ibu, karena menghina putramu?!"
"Tidak sama sekali bu, aku tidak ingin Resa tersiksa, karena melihat kemesraan Sam dan Vania, bagaimapun Resa juga istri Sam. Kita akan pindah berlima ke Villa itu. Aku, ibu, Resa, Jena dan bu Masri, bagaimana?"
"Kalau begitu, siapkanlah, ibu setuju."
Ramida tersenyum, dia memeluk erat mertuanya. Selesai bicara dengan mertuanya, Ramida segera menemui pelayan, untuk mengantarkan sarapan buat Resa. Dia dan pelayan itu berjalan ber iringan menuju kamar Resa. Saat sampai di kamar Resa, dia terkejut, melihat Sam dan Dirga ada di sana.
Flash back off.
******
Sam dan Dirga
Setelah keluar dari kamar Resa. Sam dan Dirga berjalan ber iringan menuju ruang tamu. Sam masih memandangi Dirga, dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Sedang yang di pandang sama sekali tidak perduli dengan tatapan yang ter arah padanya.
"Ngapain kamu kekamar Resa?!" Tanya Sam, nada suara nya terdengar sangat tegas.
"Santai, bro. Nggak perlu ngegas! Kale!" Balas Dirga.
"Ini masih pagi, kenapa kamu datang-datang langsung masuk kekamar pelayan nenek, mau apa kau?!"
"Setahuku, Resa sakit, lagian seminggu terakhir ini, aku selalu menemuinya. Tante saja tidak masalah, aku sering menemuinya." Jawab Dirga.
"Terus, mau apa kau, sehingga kau masuk begitu saja kedalam kamarnya?"
"Mau apa Dirga, itu bukan urusan kamu, Sam!"
__ADS_1
Sam dan Dirga sama-sama menoleh kearah sumber suara itu.