Istri Kedua Yang Dirahasiakan

Istri Kedua Yang Dirahasiakan
Bab 47 Kenapa


__ADS_3

Luka Ceasar itu belum kering. Tapi, si pemilik diri sudah tidak sabar lagi untuk pergi dari negara ini. Berulang kali Arini memberi nasehat. Namun, percuma. Vania tetap pada keinginannya.


"Apa harus secepat ini Nona? Saya belum pamitan kepada kedua orang tua saya, kalau harus ikut Nona ke luar Negri." Nanaz nampak keberatan pindah secepat ini.


"Kalau kamu tidak mau, maka cepat kembalikan dana yang aku pinjamkan padamu beberapa bulan lalu!" Gertak Vania.


"Dana nya saya pakai buat membantu perusahaan ayah tiri saya, Nona." Nanaz sangat ketakutan karena di tagih oleh Vania.


"Pilihan ada di tanganmu, ikut aku keluar Negri, atau lunasi pinjamanmu." Vania memandang tajam kearah Nanaz.


"Saya mohon Nona, tolong seminggu lagi ya … izinkan saya melepas rindu saya pada mama saya," pinta Nanaz.


"Beri saja, Vania. Lagian kita keluar Negri bukan untuk seminggu atau dua minggu. Tapi, kontrak kerja bertahun-tahun. Memberi izin buat Nanaz juga bagus buat kesehatan kamu, itung-itung memulihkan keadaan kamu." Bujuk Arini.


"Oke, baiklah. Nanaz keputusan kamu kutunggu seminggu lagi, kamu bayar hutang kamu, atau kamu ikut kami keluar Negri." Ucap Vania.


Vania kembali berbaring ketempat tidur. Sedang Nanaz dan Arini hanya saling pandang.


"Vania, sejak bayimu lahir, kamu belum melihatnya, menurutmu, dia mirip siapa? Mirip kamu apa Sam? Atau perpaduan keduanya?" Tanya Arini.


"Aku tidak mau melihatnya." Jawab Vania dengan mudahnya.


"Apa? Kamu tidak ingin melihat bayi kamu?" Tanya Arini lagi.


"Itu bayi Sam, bukan bayiku, lagian aku dan Sam akan segera bercerai. Bayi itu tebusan agar Sam tidak mengganggu karirku," jawab Vania dengan entengnya.


Arini merasa kesal dengan sosok yang berada di depannya ini. Dia mengumpulkan energinya untuk melanjutkan perkataannya. Berbicara dengan Vania, sungguh sangat menguras energi.


"Vania. Uang, harta, jabatan, karir. Semuanya akan kita dapatkan kalau tidak hari ini ya besok. Kesempatan untuk hal itu selalu ada. Tapi, laki-laki setia dan penuh cinta seperti Sam. Kalau kau melepaskannya, kau tidak akan menemukannya lagi di luar sana." Arini berusaha menyadarkan Vania, betapa istimewanya Sam.


"Kalau kau mau, kamu saja sana. Sepertinya ... Sam butuh perempuan untuk pengasuh bayinya," jawab Vania.


"Ya sudah terserah kamu, ini juga hidup kamu, kamu yang menjalani. Hanya saja, saat kamu sadar. Sam tidak akan kembali lagi padamu. Wanita yang berada di sampingnya, adalah wanita yang paling beruntung. Kamu tahu Vania? Selama ini rekan-rekan Artis kamu, selalu berusaha mendekati Sam. Tapi, Sam sosok setia. Dia tidak pernah tergoda wanita manapun." Jelas Arini.


"Sam itu kenyang, dia tidak akan tergoda oleh wanita manapun, karena aku istimewa," jawab Vania.


"Hubungan kalian awet, bukan Sam kekenyangan atau puas dengan dirimu. Tapi, dia memang sosok lelaki setia. Terserah padamu, aku sudah lelah Vania, mengingatkan kamu betapa berharganya Sam. Kalau kau nanti menyesal, jangan datang padaku dengan air matamu!" Gertak Arini.


"Yang ada Sam yang menyesal karena melepaskanku. Ah sudahlah, ayoo tidur. Ini jahitan ceasar juga mulai terasa nyut-nyutan!" Gerutu Vania.


*******


Keesokan harinya. Nanaz izin pulang ke rumah orang tuanya. Dia pulang ke kota, bersama Arini. Sedang Vania masih diruang perawatannya, ditemani oleh seorang perawat.


Perjalanan pulang Arini dan Nanaz.


"Bekerja dengan Vania, hal apa yang membuat Mbak Rini betah?" Tanya Nanaz, dia membuka pembicaraan mereka.


"Gajih dan bonus yang besar, Vania juga tidak pelit. Dia bos yang baik, cuma satu kekurangan dia," jawab Arini. Namun, matanya masih fokus memandang jalanan di depannya.

__ADS_1


"Apa Mbak?"


"Dia tidak punya hati!" Arini berusaha menahan tawanya.


"Iya, Mbak. Aku juga merasa yang satu itu. Menurut aku. Nona Vania itu, majikan yang sempurna. Itu dia kekurangan dia. Kadang aku kasihan sama Tuan Sam. Dia sering di cuekkin gitu sama Nona Vania."


"Membicarakan Vania, aku nyesek Naz! Ayo ubah topik!" Seru Arini.


"Mbak Rini, gak keberatan pindah keluar Negri?"


"Aku di kota ini sendiri, Naz. Gak punya keluarga. Kedua orang tuaku juga sudah gak ada, kemanapaun dan di manapun, aku gak masalah. Kamu sendiri?"


"Aku rada takut Mbak. Aku dari kampung. Kekota ini juga baru. Pas mama aku bisa ngusir istri tua papa tiri aku, yang penyakitan itu, baru aku di bawa mama kesini dan gak lama aku ikut kerja sama Nona Vania."


"Oh, mama kamu istri muda?"


"Iya." Jawab Nanaz.


Tak ada lagi pembicaraan mereka. Hingga mobil mereka sampai di depan rumah orang tua Nanaz. Arini tidak lagi bicara. Nanaz langsung turun, dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama, rumah orang tuanya. Terlihat pembantu di rumah itu, tengan mengepel teras depan rumah.


"Siang Bi Minah," sapa Nanaz.


"Siang juga Non Nazla."


"Mama ada Bi?"


"Ada Non, langsung aja masuk."


"Papa nggak kerja?" Tanya Nanaz.


"Tadi papa tidak enak badan, Naz." Jawab mamanya.


"Ih, mama belain papa, mama tau gimana susahnya cari uang buat dana talangan perusahaan papa?!" Gerutu Nanaz.


"Maafkan papa, Nazla. Bukan maksud papa nggak kerja, beneran papa lagi kurang sehat."


"Ma, pah, aku di beri waktu tempo satu minggu, kalau papa nggak bisa balikin pinjaman, maka aku harus ikut majikan aku keluar Negri, Nona Vania menerima pekerjaan di luar negri." Terang Nanaz.


"Mama nggak rela kamu pergi jauh! Pah jual rumah ini! Atau papa lepas perusahaan papa!" Teriak Sri.


"Sri! Beri aku waktu untuk berpikir. Andai aku tahu syaratnya ini, aku juga tidak mau menerima bantuan Nanaz, lebih baik aku lepas saja perusahaan itu lebih dulu!"


Keadaan menegang. Nanaz hanya diam. Dia juga takut kalau harus ikut keluar negri. Tapi, dia tidak punya keberanian untuk memutuskan kontrak kerja dengan Vania.


"Bagaimana, kalau papa bicara pada Tuan Sam. Suami Nona Vania, kan yang aku pinjam uang suaminya." Usul Nanaz.


"Ayok kita ke rumah keluarga Ozage, semoga Tuan Sam, mau bermurah hati pada kita," seru Papa tiri Nanaz.


"Tapi, Tuan Sam tidak di sini, dia di pinggir kota, karena Vania melahirkan di Rumah Sakit wilayah itu." Sela Nanaz.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ayok kita berangkat," seru Papa tiri Nanaz.


Belum hilang rasa lelah Nanaz. Tapi, dia harus kembali ketempat di mana Vania di rawat. Mereka bertiga langsung masuk mobil. Mobil itu di kendarai oleh supir pribadi papa tiri Nanaz.


Perjalanan panjang mereka tempuh, hingga mereka sampai di sebuah Rumah Sakit. Nanaz berjalan di depan kedua orang tuanya, dia bertanya pada perawat yang bertugas. Menanyakan ruangan bayi Vania. Setelah mengatakan siapa dirinya, Nanaz pun di beri tahu, di mana rungan bayi Vania.


Mereka sampai di suatu ruangan. Nanaz mengetok pintu ruangan itu. Tidak lama pintu ruangan sedikit terbuka.


"Nanaz?" Sapa orang itu, suaranya terdengar kalau dia terkejut dengan kedatangan Nanaz.


"Nyonya, bisa saya bertemu Tuan Sam?" Tanya Nanaz.


"Apa berhubungan dengan Vania?" Tanya Ramida.


"Tidak, Nyonya. Ini untuk saya pribadi, ada sih terkait dengan Nona Vania.


"Masuklah." Ramida mempersilakan Nanaz dan kedua orang yang berdiri di belakang Nanaz untuk masuk.


Mereka bertiga masuk kedalam ruangan Resa. Di dalam ruangan nampak Sam memandangi bayi yang ada dalam inkobator, sambil menggendong satu bayi yang ada dalam gendongannya. Perhatian Sam ter alih, saat mendengar suara orang lain masuk kedalam ruangan itu.


Melihat ada orang lain yang masuk, Sam segera menaruh bayi Resa, ketempat tidur bayi yang ada di samping ranjang perawatan Resa.


Nanaz bingung, karena melihat ada dua bayi di ruangan itu. Tapi, urusannya saat ini bukan menanyakan bayi tersebut. Nanaz berusaha santai. Walau banyak pertanyaan dalam benaknya. Seorang laki-laki berjalan mendekat kearah Sam.


"Di sana saja, Pak." Sela Sam.


Langkah laki-laki itupun terhenti. Sam menghampiri mereka.


"Ada apa Naz?" Tanya Sam.


"Tuan, Tuan ingat kalau saya minjam uang pada Tuan, untuk perusahaan papa saya?" Tanya Nanaz.


"Iya, aku ingat." Jawab Sam.


"Oh ya kenalkan. Ini papa saya, dan ini mama Saya." Nanaz mengenalkan kedua orang tuanya pada Sam.


"Saya Sri." Mama Nanaz memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Sam.


Kini giliran papa Nanaz yang bersalaman dengan Sam.


"Saya Garie, Garie Harahap, papa tiri Nazla." Garie dan Sam berjabat tangan.


Saat yang sama, Resa perlahan membuka pintu kamar mandi. Namun, saat dia melihat sosok laki-laki yang bersalaman dengan Sam. Resa membatalkan langkahnya untuk keluar dari kamar mandi. Perlahan Resa menutup kembali pintu kamar mandi, dan mengurung diri didalam sana.


"Papa? Kenapa papa bisa ada di sini?" Gumam Resa.


*****


Bersambung.

__ADS_1


*****


__ADS_2