
Author POV
*****
Mendapat izin dari Vania, kalau boleh melakukan panggilan video dengan mamanya, Resa begitu semangat mencari nama kontak Ayla, dengan tangan yang masih gemetaran, Resa menghubungi Ayla. Tidak berselang lama, terlihat wajah Ayla di layar ponsel Resa.
"Ada apa Nona Resa?" Tanya Ayla.
"Ay, aku mau kasih mama sesuatu, tolong kamu kasih ponsel kamu ke mama," pinta Resa.
Beberapa detik berlalu, wajah Hayati terlihat di layar ponsel. "Ada apa sayang? Kamu baik-baik saja kan, di sana?"
"Mama … aku baik mah, mama tahu, di rumah siapa aku bekerja, taraaaaa!" Resa merubah arah layar ponselnya.
"Hai mamanya Resa," sapa Vania.
"Astaga! Anakku bekerja di rumah seorang artis!" Teriak Hayati.
Obrolan ringan antara fans dan idola pun terus berlanjut. Wajah Resa begitu bahagia, melihat mamanya begitu ceria, melakukan panggilan video dengan artis favoritenya.
"Mah, sudah dulu ya, nanti kita video call lagi, Nona Vania baru pulang, dia pasti lelah," sela Resa.
"Iya, maaf ya Nona Vania, lupa waktu saya jadinya, terima kasih, saya sangat senang!" seru Hayati.
"Iya bu, sama-sama, seorang artis tidak berarti apa-apa, kalau dia tidak punya penggemar," balas Vania.
Panggilan video pun ber akhir.
"Kamu tadikan minta foto sama Nona Vania, sini kemarikan ponsel kamu, biar aku foto, Non Vania pasti lelah." Sela Nanaz.
"Oh iya, aku lupa," rengek Resa, dia mendekati Vania.
"Maaf ya Non, mungkin saya bau, karena berkeringat," rengek Resa.
"Sudah … santai saja, ayooo," seru Vania, Vania langsung menarik Resa ke hadapannya. Melihat dua orang itu berpose santai, Nanaz langsung mengambil foto dengan kamera ponsel Resa.
"Sini, yang terakhir, kamu mau peluk aku?" Tanya Vania pada Resa.
"Memang boleh?!" Resa nampak tidak percaya.
"Boleh …." Jawab Vania.
Pose terakhir, Resa memeluk Vania dengan gemas, bukan hanya memeluk, dia mendaratkan ciumannya di pipi Vania.
"Selasai!" Seru Nanaz.
"Aaakkkhhhhh!" Resa melompat-lompat kegirangan.
Sam menggeleng sendiri melihat kelakuan Resa. Entah kenapa senyuman tersungging begitu saja, melihat kekonyolan seorang fans pada idolanya. Marina juga tersenyum melihat tingkah Resa.
"Foto sama suaminya gak mau?" Goda Marina.
"Suaminya bukan artis, Nyonya besar," jawab Resa, langsung.
__ADS_1
"Justru foto bareng suami Vania lho yang sulit," seru Nanaz.
"Nenek juga apa-apaan," rengek Sam.
"Sini, aku kasih bonus, kita foto bertiga," seru Vania.
"Aku gak mau, sudah cukup!" Sela Resa.
"Ih … zombong!!! (Sombong)" ketus Nanaz.
"Bukan Zombong, tapi …."
"Sudah, sini!" Vania langsung menarik Resa mendekat padanya. Sesi foto bertiga pun berlangsung.
Sam memeluk Vania, sedang Resa hanya berdiri sambil di samping Vania.
"Sayang, kamu di tengah," pinta Vania.
Deggghhh! Jantung Sam seakan meledak, namun apa daya, dia hanya bisa menurut. Vania berdiri di samping kanan Sam, sambil bersandar di bahu Sam, sedang Resa, hanya berdiri di samping kiri Sam.
Tiga orang itu asyik melakukan foto-foto, Nanaz yang bertugas menjepret dengan mata kamera ponsel Resa. Di saat yang sama, Tony dan Mawan masuk kedalam rumah, mereka berdua tersenyum, melihat Resa berfoto, bersama Sam dan Vania. Mereka berdua terus berjalan mendekati orang-orang yang sibuk itu, masa bodoh dengan aktivitas orang-orang itu. Mawan dan Tony, menghempaskan tubuh mereka di sofa tamu.
"Senangnya dalam hateee! Kalau beristri limaaa, duniaaa syerasaaa ana yang … punya …." Mawan bernyanyi asal-asalan.
Sam menatap tajam pada Mawan. Namun, yang ditatap cuek saja, tidak merasa bersalah sedikitpun.
Mawan melanjutkan lagu asal-asalannya. "Lalaa lalaaa, lalalaaa la lalaa lalaaaaa, tetapi jangan sampai … nan nananaaa nannaa!" Senandung Mawan.
"Aku lama nikah, karena cari istri yang mau di lima in, kalau dua dan tiga itu sudah biasa," seru Mawan.
Vania menggeleng melihat perdebatan Mawan dan Nanaz, karena itulah yang terjadi, kalau Nanaz dan Mawab bertemu. "Kalau Nanaz dan mawan mulai bicara, tidak akan pernah ada habisnya, aku permisi dulu," seru Vania.
Vania berjalan ke arah Marina. "Maaf ya nek, dari tadi aku asyik sendiri, aku senang nenek sehat kembali," Vania mendaratkan satu ciuman lembut di pipi Marina.
"Iya sayang istirahatlah," ucap Marina.
"Naz, barang-barang yang di mobil, kamu antar ke laundry langganan kita saja, mobil aku, kamu bawa saja," seru Vania.
"Iya Non," jawab Nanaz,Nanaz pamitan pada orang yang ada, dia segera merubah arah tubuhnya dan berjalan menuju pintu.
"Aku juga permisi," seru Sam.
Sam langsung menggandeng Vania, mereka berdua berjalan menuju tangga. Sedang Resa langsung mendekati Marina.
"Samuel Astuge!" Teriakan seseorang membuat Sam dan Vania menoleh ke sumber suara tersebut.
Ck!
Samuel sangat geram, melihat siapa yang datang. Seseorang yang paling berani membuat onar dalam hidupnya.
"Apa Dirga!" Gerutu Sam.
"Sayang, aku duluan kekamar ya," sela Vania.
__ADS_1
"Iya sayang," jawab Sam.
Vania melanjutkan langkahnya menuju kamar, sedang Sam kembali berjalan kearah ruang tamu. Di sana Resa nampak sibuk bersiap untuk mendorong kursi Roda Marina.
"Sam---" Dirga tidak melanjutkan kata-katanya, saat melihat sosok perempuan yang baru berdiri, dan mulai mendorong kursi Roda. Dirga lupa akan maksudnya, dia terus memandangi Resa.
"Hei, kau ingin bicara dengan siapa!" Bentak Sam, entah kenapa dia tidak suka melihat Dirga memandangi Resa seperti itu.
Dirga melongos begitu saja melewati Sam, dia berjalan mendekati Resa. "Nenek, apa kabar?" Dirga menyapa Marina.
"Aku baik Dirga," jawab Marina.
"Siapa dia nek? Aku belum pernah melihatnya," tanya Dirga.
"Dia pelayan nenek," jawab Marina.
"Aku Dirga," Dirga mengulurkan tangannya pada Resa.
"Saya Resa. Tapi, maaf yaa, saya harus permisi, Nyonya besar pasti sudah lelah," ucap Resa, dia tidak menyambut uluran tangan Dirga, dia segera menjauh mendorong kursi roda menuju kamar Marina.
Sam tersenyum melihat Resa tidak memperdulikan Dirga. Sam melangkah kearah Dirga. "Ingat tanggal ini, karena hari ini pertama kalinya kamu di cuekkin sama seorang perempuan," bisik Sam.
Di depan sana.
"Resa, berhenti," pinta Marina. Resa pun berhenti mendorong kursi roda, Marina.
"Sam, kau bilang mau membantu nenek, ayooo kekamar nenek sekarang!" Pinta Marina.
Sam langsung berjalan kearah Marina. "Biar aku saja," seru Sam.
Resa langsung mundur dari posisinya saat ini, Sam langsung mendorong kursi Roda Marina, sedang Resa berjalan mengikutinya dari belakang. Sesampai di kamar Marina, Sam membantu neneknya berbaring di tempat tidur, selesai dengan tugasnya itu, Sam langsung izin menemui Dirga. Sedang Resa, melakukan tugasnya yang lain menemani Marina.
*****
Melihat Sam berjalan kearahnya, Dirga langsung mendekatinya.
"Sam! Yang tadi siapa?" Tanya Dirga.
"Namanya Resa, dia perawat nenek. Kamu mau apa kemari?" Tanya Sam.
"Ada yang penting, ini … baca dulu," Dirga memberikan berkas pada Sam.
"Ada yang istimewa dengan gadis itu," gerutu Dirga, matanya masih memandang kearah kamar Marina.
"Sana kamu pergi, nanti aku telepon!" Bentak Sam.
"Nanti dulu, kali aja itu Resa keluar lagi," tawar Dirga.
"Pak Bim, usir ini orang!" Pinta Sam.
"Astaga! Baik aku pergi," rengek Dirga.
Setelah Dirga pergi, Sam langsung beranjak menuju lantai dua. Dia menepis semua perasaan yang hadir. Perasaan senang yang tidak tahu sebab apa, apa sebab Dirga di abaikan wanita, atau senang Resa tidak memperdulikan godaan yang datang.
__ADS_1